
πΊπΊπΊ
"Jadi selama ini kakak menghilang dan mami nggak pernah bilang ke aku?" seorang pria muda tampak marah setelah mengetahui kedua kakak kembarnya tidak ada dikediaman mereka. ia adalah Bintang, anak bungsu keluarga Cakrawala yang sedang menempuh sekolah tinggi di luar negeri. Kini ia telah kembali ke tanah air tatkala libur semester telah tiba.
"Maafkan, Mami, Mami nggak mau menganggu sekolahmu disana, Bin." Mami Vega menggenggam kedua tangan putranya dengan wajah sendu
Bintang mendengus kesal, ia bangkit berdiri ingin pergi ke kamarnya untuk beristirahat. awalnya Bintang mengira kedua kakaknya sedang berliburan, seperti kata Maminya tempo lalu saat ia baru pulang ke rumah. namun--mendengar berita di televisi sungguh ia sangat tertegun mendengar nama Mentari yang menghilang beberapa minggu lalu.
"Kalau Kak Bulan tidak sama Kak Tari, berarti Kak Bulan ke mana?" gumamnya berfikir, siku ia tumpu dilutut dan jarinya menyentuh bibir sembari memikirkan kedua kakaknya
Tok tok
"Bintang ..."
Panggilan dari Maminya pun membuat pria muda itu mengalihkan perhatiannya ke pintu. "Aku ngantuk, mau tidur!" teriaknya
Mami yang berada dibelakang pintu pun menghembuskan nafasnya dengan kasar, kemudian ia pergi ke kamarnya pula.
"Aku tau mami kurang suka sama kakak, apa jangan-jangan--oh, ****!" Bintang bangkit, buru-buru ia keluar ingin bertemu seseorang disaat jam istirahat malam ini. pria tampan itu menuruni tangga dengan cepat, dengan langkah lebarnya ia menghampiri kamar Bibi yang berada disudut rumah.
Bintang mengetuk-ngetuk pintu kamar Bibi, mungkin mendapatkan informasi dari Bibi semuanya terkuak tentang kedua kakaknya, terutama Bulan yang menghilang terpisah dari kakaknya. apalagi membayangkan perlakuan Mami kepada Bulan, membuat Bintang berpikir yang tidak-tidak.
"Iya, Tuan? ada yang bisa Bibi bantu?"
__ADS_1
Bintang tidak menjawab, ia menyelonong masuk ke dalam kamar Bibi lalu menutup pintu kamar tersebut. Bibi mengernyit heran.
"Katakan padaku, Bi, Kak Bulan pergi ke mana? di berita itu tidak disebut nama kakak, jelas mereka juga tahu siapa kak Bulan walaupun Kak Bulan tidak suka terlalu dikenali publik."
"Tentu saja sama Nona Mentari, Tuan." ucap Bibi, ia merapatkan bibirnya merasa takut untuk jujur
"Ck! bohong! aku baru sadar mereka itu kurang akur jadi nggak mungkin Kak Bulan sama Kak Tari. bilang, Bi!! jangan ada yang disembunyikan!" gertak Bintang, emosinya semakin meningkat
Bibi terdiam beberapa saat. "Ta-tapi jangan beritahu sama Nyonya, ya, Tuan." pinta Bibi.
"Hm!"
***
Keesokan paginya, Bulan dan sang suami akan bersiap-siap untuk menghadiri akad nikah Papa Perkasa di Kantor Urusan Agama. pernikahan akan dilangsungkan pukul sembilan nanti, dan beruntungnya jadwal pekerjaan sedang kosong dalam beberapa jam ke depan.
"Yang ingin bobo, kan, kamu, biar aku mandi duluan." ketus Bulan, melepaskan lilitan tangan sang suami yang terus mengeratkannya di pinggul ramping gadis itu
"Nanti mandinya, bareng-bareng, bobo dulu aja."
"Ck! aku udah nggak ngantuk. siap mandi bakal masak lagi." gerutu Bulan
"Nanti kita telat! jam delapan aku udah dirumah Tante Anna, tau!"
__ADS_1
Guntur menghembuskan nafasnya dengan kasar, kemudian ia melepaskan lilitan tangannya dari pinggul tersebut dan membiarkan istrinya untuk pergi meninggalkannya diatas ranjang seorang diri.
Mobil yang membawa Bulan telah tiba kediaman sederhana milik Tante Anna dan putrinya, ia yang akan mengantarkan mereka ke KUA sekaligus menjadi pihak mempelai wanita. Bulan mengetuk-ngetuk pintu berulang kali, seorang gadis muda yaitu Clara menunjukkan jati dirinya dihadapan Bulan sembari tersenyum simpul.
"Masuk, Kak, Mama lagi siap-siap."
Bulan masuk ke dalam rumah tersebut, ia mengekori langkah Clara yang berjalan ke sebuah kamar. terdapat Tante Anna disana, yang sedang didandani oleh penata rias.
"Hai, Tan." sapa Bulan
"Eh, Bulan, udah datang? sebentar ya, ini belum siap, hehehe." ucap Anna yang duduk mematung, bulu matanya ditambahkan dengan bulu mata palsu
"Santai aja, Tan, satu jam lagi kok." Bulan terkekeh
πΏ
Guntur tersenyum-senyum memandang wajah istrinya diseberang sana, posisi keduanya berada ditengah-tengah sepasang calon pengantin ini. Guntur duduk disisi ayahnya bersama sang Assisten, Bulan dan Clara duduk disisi Tante Anna yang tampak gugup dengan prosesi pernikahan keduanya ini. ia menyimak nasihat dari pak penghulu, sedangkan sepasang suami istri muda itu malah saling melemparkan senyum satu sama lain
"Ehem!" deheman seseorang sontak menghentikan aksi Bulan kepada suaminya, ia melirik sekilas ke samping, wajah datar tanpa dosa itu bersikap santai setelah mengganggu tatap-tatapan kepada suaminya.
Akad nikah pun segera dimulai, Pak hakim mengulurkan tangannya kehadapan Papa Perkasa, disambut pula oleh pria parubaya itu dengan penuh semangat. Bulan, Guntur, dan semua yang menyaksikan mulai menyimak dengan khidmat prosesi ijab qabul.
Perasaan Papa Perkasa seketika telah lega usai mengucapkan kalimat ijab qobul dengan benar, sampai saksi menyatakan pernikahan ini telah sah. betapa gembiranya ia memiliki istri baru yang akan menemani masa tuanya bersama wanita disampingnya ini.
__ADS_1
Bismillah, semoga dia yang terbaik buatku, batinnya
πΊπΊπΊ