Obsesi Majikan Psychopath

Obsesi Majikan Psychopath
Mencari Bulan Yang Hilang


__ADS_3

🌺🌺🌺


Bulan terlebih dahulu ke ruangan Dokter untuk mengambil surat rujuk beserta resep obat milik Guntur. merasa malas untuk bertemu dengannya, Bulan lebih memilih ke kantin untuk sarapan pagi sebelum menebus obat di Apotik. Bulan membenamkan bokongnya pada sebuah kursi yang masih kosong, meraih selembar daftar menu yang sengaja ditaruh diatas meja dan memilih makanan apa yang sedang ia inginkan. dan saat itu pula salah seorang pelayan datang menghampirinya.


"Bubur ayam dan coklat hangat." pintanya, diangguki oleh pelayan tersebut


Sembari menunggu, pandangan Bulan menyapu setiap area taman yang terdapat cukup banyak pasien sedang berjemur dengan ditemani oleh orang-orang tercintanya. ada yang duduk dibawah terik mentari sembari mengobrol, ada yang berjalan-jalan untuk menghilangkan kesuntukkan, semua tak luput dari kebosanan setelah terkurung lama di ruang rawatnya.


Bulan teringat pada Guntur, apakah lelaki itu masih didalam ruangannya untuk merenung, ataukah--sedang mencarinya entah kemana? Bulan mengendikkan bahunya, sedikit mengangkat sebelah sudut bibir. seolah untuk apa ia mempedulikan lelaki psikopat itu. lebih baik ia disini berdiam diri di Kantin sembari memandang area taman.


"Permisi, ini pesanannya, Non."


"Ah iya, terima kasih." sahut Bulan sambil tersenyum


Disisi lain, Guntur baru saja selesai merenungkannya, ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh Bulan jika ia harus melanjutkan pengobatan terapi kejiwaan demi masa depannya yang cerah bersama istri dan anaknya kelak. tapi--untuk menghentikan aksi pembalasan dendam, ia benar-benar tidak bisa menurutinya. ia sudah jalan terlalu jauh, dan sekarang giliran tawanan terakhir yang ingin ia siksa untuk menyadari mereka akan kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat.


Guntur menggeleng, mengusap wajahnya dengan kasar. sungguh, ia benar-benar dalam keadaan dilema.

__ADS_1


"Maaf, pembalasan dendam tetap berlanjut walaupun aku menjalani terapi pengobatan seperti semula. pendirian ku tidak akan pernah tersingkirkan sampai itu selesai. masalah hukum, aku jamin perbuatanku selama ini tidak akan pernah tercium jika saja mereka tidak buka mulut dan mengetahui sosok dibalik topeng." Guntur tersenyum seringai dengan tatapan tajam mematikan ke arah lain


"Beruntung untuk hari ini bagi kalian yang tidak mendapat siksaan dariku." gumamnya, membayangkan sosok wajah kembaran Bulan beserta teman-temannya


Guntur tersentak setelah cukup lama berlabuh ke dalam fantasi liarnya, ia menyapu ruangan sekitar yang sangat hening, hanya ada dirinya yang masih betah duduk diatas ranjang brankar. ia teringat saat beberapa menit yang lalu, sosok tawanan spesialnya telah menghilang ditelan pintu ruangan. Guntur bangkit berdiri, mengambil botol infus dari penyangganya dan mulai melangkah keluar kamar.


"Ck! lebay sekali. untuk apa gunakan cairan ini kalau tubuhku saja sudah jauh lebih baik!" gerutunya menatap botol infus yang ia genggam, membawanya kemana pun untuk mencari Bulan


Guntur mendengus sebal melihatnya.


Disisi lain, Assisten Stev bersama atasannya, Nyonya Vega, telah berada di kantor polisi. Stev menunjukkan sesuatu dari layar laptop yang menampikkan rekaman cctv milik sebuah ruko yang kebetulan para wanita muda tersebut menyelonong masuk ke dalam mobil seseorang. mobil melancong pergi hingga jejak tersebut tidak diketahui lagi. dan hasil pelacak terakhir, ponsel Mentari terhubung ke sebuah TPU. hingga setelahnya mereka tidak bisa mendapati keberadaan para gadis-gadis itu


"Apa penculik itu membawa anak-anak ke kuburan? untuk apa?" gerutu Mami Vega


"Tidak, Nyonya, itu hanya trik untuk menggelabui saja. sudah banyak kasus seperti ini yang terjadi, tapi mereka benar-benar licik untuk menutupi jejaknya." sahut Polisi


"Kalian tahu, tapi kenapa masih diam saja, penculik itu benar-benar merajalela diluar sana!" omel Mami Vega

__ADS_1


"Kami sudah mencari ke pelosok Kota, Nyonya, bahkan sampai ke keluar kota."


Mami Vega hanya bisa menghembuskan nafas dengan kasar. ia benar-benar lelah dan tidak bisa berpikir jernih lagi. perempuan parubaya tersebut mendudukkan tubuhnya dengan kasar disebuah kursi.


***


Guntur menelusuri taman Rumah Sakit, sepasang mata miliknya membidik jauh untuk mencari sosok Bulan namun tidak ia temui. di sisi lain, Bulan yang telah selesai sarapan segera membayar pesanannya. setelahnya ia akan ke Apotik untuk menembus resep milik Guntur.


Guntur berdesah frustasi, sorot matanya beralih ke arah kantin yang ada diseberang sana. cukup jauh memang, namun sepasang matanya tetap memperhatikan pengunjung satu persatu.


"Aish! kemana anak itu!" geramnya, hingga bunyi perut mengalihkan perhatiannya. para cacing sudah meronta-ronta ingin meminta asupan gizi dari Tuannya. wajar saja, tadi Guntur hanya mencicipi makanan hanya beberapa sendok.


Bulan sedang mengantri untuk mengambil obat, beruntung tidak banyak pengunjung yang mengantri di sekitarnya hingga dirinya tidak perlu menunggu lama. Bulan merasa sedikit jenuh, pandangannya beralih menatap televisi yang menyiarkan berita terkini.


Para pengantri saling bersahut-sahutan, mereka pada heboh karena kasus lama kembali disiarkan. yaitu tiga orang wanita telah menghilang tanpa jejak sejak malam kemarin, dan saat itu pula nama Guntur dipanggil, Bulan bangkit berdiri menghampiri meja Apotik. gadis itu tidak mempedulikan berita tersebut, sepasang telinga miliknya begitu fokus mendengarkan perkataan apoteker.


"Terima kasih." ucap Bulan, ia berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut.

__ADS_1


🌺🌺🌺


__ADS_2