
πΊπΊπΊ
"Woi-woi, bangun, woi!" teriak beberapa tahanan di balik jeruji besi seberang mereka, merasa terganggu dengan banyaknya kegaduhan disekitarnya Guntur terbangun dari tidur panjang dalam dekapan sang istri. begitu pula dengan kedua anak buah Guntur yang berada didalam satu sel dengannya. ketiganya serempak bangun kecuali Bulan yang masih betah dibawah ketiak suaminya
"Walah ... didalam sel pun berani kumpul kebo juga! bangun! enak amat lu tidur-tidur!" teriaknya lagi seolah menyudutkan sepasang suami istri itu, banyak dari mereka yang dikeluarkan dari sel oleh beberapa petugas polisi untuk melakukan sesuatu dipagi hari begini.
"Diamlah! jalan!" titah Pak Polisi
Disisi lain, sel yang ditempati Guntur juga dibuka oleh sang petugas, menyuruh mereka semua untuk mengikutinya entah kemana itu.
"Ayo bangun! ikut kami." tItah Pak Polisi
Guntur mengguncang tubuh istrinya berniat untuk membangunkan wanita itu. Bulan mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, pandangan pertama saat mata terbuka adalah wajah tampan suaminya yang terlihat kusam. Bulan bangkit duduk setelah mendapati beberapa mata juga menatapnya
"Hmmm, udah pagi?" Bulan mengucek kedua kelopak matanya
"Sudah, ayo pulang, aku harus mengikuti mereka yang entah mau ngapain." suruh Guntur
"Tapi---
"Kesempatan anda untuk tidur disini sudah selesai, Nona, lebih baik anda pulang." sela Pak Polisi
Bulan mendesis, merasa malas sekali sebenarnya. ia begitu ingin dekat dengan sang suami.
"Pak, boleh nggak, kalau saya ikut di penjara?" permintaan konyol apa itu, ibu hamil ini memang benar-benar aneh.
"Anda konyol sekali, Nona. silakan pergi!"
__ADS_1
Bulan menatapnya dengan tajam, kesal sekali hatinya diusir seperti ini. ia menoleh menatap suaminya, Guntur mengangguk sembari tersenyum. kemudian berkata, "Pergilah, aku baik-baik saja, hm? do'ain di sidang nanti aku mendapatkan keringanan."
"Huuuff!" Bulan menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Kamu temui saja Kakakmu, pasti masih di Rumah Sakit." saran Guntur
"Iya deh." Bulan mengangguk, kemudian ia memeluk suaminya yang teramat ia sayangi. tak lupa Guntur meninggalkan kecupan didahi sang istri dan juga diperutnya, berharap janin yang sedang tumbuh bisa bersikap baik didalam sana.
"Dedek jangan nakal, ya? jangan susahin Mommy." lirih Guntur pada perut datar sang istri
"Iya, Daddy. Daddy juga baik-baik disini, jangan lupa minum obatnya yaa?" balas Bulan menirukan suara bayi
Setelah selesai dengan acara perpisahannya, Bulan mengambil travelbag yang isinya telah dibereskan oleh kedua anak buah Guntur yang tampaknya terlihat tulus ini. "Terima kasih." ucap Bulan, mereka mengangguk.
Bulan melangkah bersama suaminya, keluar dari sel tersebut. Pak Polisi begitu setia menanti sepasang sejoli yang teramat susah untuk dilepaskan walau terkadang ia sudah merasa jengah. Bulan melepaskan genggaman suaminya, ia beralih menatap Pak Polisi.
"Ya. tapi mereka harus kerja dulu, baru makan." jawabnya dengan dingin
"Kerja apa?" Bulan mengernyitkan dahinya
"Apa saja. kalian bertiga, ayo ikut saya!" titahnya
Guntur dan kedua anak buahnya mengangguk menuruti. Bulan menatap sendu kepergian suaminya, ia begitu sedih harus berpisah lagi dengan pria itu. pria yang sudah mengisi hari-harinya, pria gila pria psikopat yang sudah merengut keperawanannya, pria itu juga yang memberikannya banyak cinta atas perlakuan baiknya kepada Bulan.
Bulan menyeka air matanya kala tidak dapat melihat punggung Guntur lagi, ia bergegas pergi meninggalkan sel tahanan tersebut.
***
__ADS_1
"Sus, pasien atas nama Mentari kemana? kok nggak ada di kamarnya?" Bulan bertanya dengan suster penjaga
"Pasien sudah pindah ke Rumah Sakit xxx, Nona."
Ya, Bulan tahu itu, Rumah Sakit ternama di Ibukota yang baru dibuka beberapa tahun yang lalu. Dreka Hospital, yang memiliki pelayanan terbaik kepada pasien maupun pengunjung. tanpa banyak basa-basi, Bulan langsung keluar dari kantor polisi, bergegas menjumpai kakaknya yang menginap di Rumah Sakit Dreka.
Disisi lain, Guntur tertegun melihat penampakan didepannya. beberapa tahanan yang dijaga oleh petugas Polisi melakukan pekerjaan bangunan dan ada pula yang bergotong royong mencabut rumput yang sudah membumbung tinggi. ia masih terpaku, apakah pekerjaan ini yang akan ia lakukan? tentu saja, dari pada berdiam diri didalam sel lebih baik ia menguras tenaga dibawah terik matahari pagi.
"Mulailah bekerja, satu jam lagi baru dikasih makan!" titah Pak Polisi
"Oke." ia menurut, kemudian melangkah untuk melakukan tugas yang ia suka. sepertinya mencabut rumput adalah pekerjaan mudah, tidak perlu bersusah payah menjadi kuli bangunan. sepertinya para Polisi ini ingin menambah beberapa bangunan lagi untuk para calon tahanannya.
"Bos, anda tidak apa-apa melakukan ini?" tanya salah seorang anak buahnya
"Tidak masalah, aku hanya ingin menghindar dari banyak masalah dari pada penyakitku kambuh lagi. dari pada berkumpul bersama banyak orang mending kita disini cabut rumput." ujar Guntur
"Oh iya, aku juga minta maaf sama kalian telah terjerumus ke tempat ini. seharusnya hanya aku saja yang ketahuan." Guntur jadi merasa bersalah
"Sudahlah, Bos! memang sudah takdir kita seperti ini. lagi pula ada bagusnya kalau kami menjaga Bos dari beberapa tahanan yang mencoba mengusik."
Guntur mengulum senyum kepada mereka. "Kalian beruntung, pasti hanya dipenjara beberapa bulan."
"Anda yang lebih beruntung, Bos, jika saja penyakit anda masih parah."
"Maksudnya?"
πΊπΊπΊ
__ADS_1