
πΊπΊπΊ
Setelah makan siang selesai di kediaman Papa Perkasa yang sangatlah sepi itu, dilanjuti dengan sedikit obrolan. kini sepasang pengantin baru telah tiba di Apartement milik Guntur. Bulan memegang sebuah kado dari sahabatnya, terasa ringan dan membuatnya bertanya-tanya apa itu isinya. Guntur mendudukkan tubuhnya diatas sofa, ia merasa lelah seharian penuh mengurus pernikahan ini. Guntur teringat sama hasil potret yang mereka lakukan, ia mengambil kamera miliknya lalu melihat-lihat hasil potret tersebut. ia mengulum senyum, ia bagaikan bersama sosok bidadari. ya, tentu saja karena Bulan adalah bidadarinya.
"Sayang." panggilnya, namun tidak ada sahutan
Guntur menoleh ke sekitar, hanya ada dirinya dan tidak terlihat di mana sang istri. sekali lagi ia memanggilnya dengan sedikit nada suara yang ditinggikan. "Sayang!"
"Iya?? bentar!" sahut Bulan, ternyata asal suara itu ada di kamar wanita tersebut. Guntur bernafas lega dan kembali melanjutkan kegiatannya
Bulan datang mendekat, sudah mengenakan baju rumahan. "Ada apa? aku ingin cuci muka, tau!" menghempaskan bokong disamping sang suami
"Nanti saja, kenapa cepat sekali ganti baju." gerutunya
"Jengah pakai kebaya. lagian sudah selesai juga kan, saatnya bersantai." ucap wanita itu
"Hm. aku lagi lihat foto kita, menurut kamu foto yang mana untuk kita jadikan figura?" Guntur meminta pendapat
"Emang harus?" Bulan menatap lekat sepasang mata milik lelaki itu
"Tentu saja, pertanda kita sudah menikah. aku ingin memajangnya disini, didekat tangga sama di kamar kita."
"Kamu antusias sekali, ya ... aku yakin pasti kamu mencintaiku." goda Bulan seraya trsenyum menggoda
"Emang kenapa kalau aku mencintaimu?" Guntur memperbaiki posisi duduknya, menghadap kepada gadis disampingnya ini. menatap wajah cantik itu dengan lekat
Bulan tidak bisa berkata-kata, ia merasa aneh saja kenapa lelaki ini menjadikannya tawanan di Apartement ini. ia seolah sudah diincar sejak lama, sampai perihal keluarganya pun lelaki ini tahu. bagaikan tidak boleh lepas dari sangkar ini, melayani kebutuhan batinnya, Bulan berpikir jika Guntur diam-diam menyukainya. lagi pula seseorang akan terlihat lebih n*fsu jika melakukannya bersama yang dicintai. jika bersama wanita malam, pasti melakukannya bersama wanita yang berbeda.
"Nggak kenapa-napa, sih. aku sedikit heran saja." jawabnya
__ADS_1
"Kalau kamu, apa tidak ada rasa sedikit saja untuk mencintaiku?" tanya Guntur balik
Bulan terdiam sejenak, ia berpikir bagaimana perasaan cinta itu sebenarnya? kepedulian, perhatian, hanya sebatas kepada teman, baginya.
"Kita berteman, mana mungkin ada cinta." perempuan itu tergelak
Guntur merasa jengkel mendengarnya. "Kamu pernah jatuh cinta?" tanyanya
"Enggak. kagum, iya."
"Malahan dimasa sekolah banyak juga lelaki mengejarku, tapi aku tidak suka dan merasa risih." sambungnya
"Hah, ku rasa kau wanita yang tidak normal sampai tidak pernah jatuh cinta dengan lawan jenis." Guntur menerka-nerka, menunjuk wajah wanita itu dengan telunjuknya seraya tersenyum usil
"Mana ada kayak gitu!"
"Is, ternyata aku menikahi wanita les--"
"Gila kau ya! kalau aku les** pasti aku tidak pernah bisa melayani tongkat keriputmu tuh!" Bulan mulai naik pitam, membuat Guntur tertawa terbahak-bahak mendengarnya
Wanita ini mencebikkan bibirnya, menyedekapkan kedua tangan didada dan sepasang mata menatap sinis kepada Guntur yang tergelak. ia berdesah, segera ke kamar ingin membilas wajahnya hingga bersih. mengenakan riasan makeup tebal ini bagaikan banyak tumpukan debu yang melekat diwajah naturalnya.
***
Disisi lain, gedung Cakrawala Group yang menjulang tinggi, Assisten Stev mengajak sekretarisnya untuk memeriksa lokasi pembangunan yang berada di kawasan xxx. ia sudah terbiasa bepergian bersama Sekretaris jika menyangkut perihal kegiatan di luar. terlebih dulu ia meminta izin kepada Presdir Vega, seperti biasanya.
Tok tok tok
"Masuk!" sahut dari dalam
__ADS_1
Assisten Stev mendorong pintu, melangkahkan kaki memasuki ruangan tersebut. Assisten Stev terpaku ditempatnya tatkala melihat wanita itu terlihat fokus dengan tumpukan berkas diatas meja. tidak seperti biasanya, lebih banyak menghabiskan waktu dengan ponsel.
"Apa sekarang akan ke lokasi pembangunan?" tanya wanita tersebut, ia tahu schedule yang seharusnya ia jalani
"Iya, Nyonya."
"Yasudah, ayo!" perempuan parubaya itu bangkit dari duduknya
"Eh, tapi--"
"Ada apa?"
"Tidak, Nya. mari ...." Assisten Stev menyilakan perempuan itu untuk berjalan mendahuluinya.
Ia tampak bingung, tumben sekali wanita ini ikut berpartisipasi atas kegiatan diluar kantor. entah kesambet apa, biasanya wanita tersebut lebih banyak menghabiskan waktu dengan bersantai tanpa mempedulikan pekerjaan lainnya. Stev menoleh ke belakang, mengatupkan kedua tangannya kepada Sekretaris wanita itu lalu menunjuk dirinya dan juga sang Presdir. seolah paham, wanita itu mengangguk sembari tersenyum.
"Kak, nggak jadi pergi sama Assisten Stev?" seorang pegawai wanita menghampirinya
"Enggak, dia pergi sama bos."
"Lah--tumben?"
"Aku juga heran, tapi setelah ku amati beberapa hari ini, Nyonya sudah jarang keluar dan lebih banyak fokus sama pekerjaannya." ujar sang Sekretaris
"Semoga ini menjadi awal yang baik buat perusahaan, Kak. mudah-mudahan Nona Mentari juga secepatnya ketemu."
"Ya. tapi lebih mirisnya lagi Nona Rembulan belum juga kembali. entah kemana Presdir yang sesungguhnya itu." ucapnya dengan sendu
πΊπΊπΊ
__ADS_1