
πΊπΊπΊ
Bulan mondar mandir di ruang tamu menanti kepulangan suaminya. sudah jam enam sore namun pria itu belum juga kembali. entah kenapa perasaannya sungguh tidak enak sedari tadi, membuatnya resah tak karuan memikirkan tentang suaminya diluar sana.
"Keep calm, Bul! katanya pas maghrib sudah sampai disini, kan? lalu kenapa kau sepanik ini?" Bulan berbicara dengan dirinya sendiri, mondar mandir bak strikaan sejak sedari tadi
Bulan mendudukkan tubuhnya diatas sofa dengan kasar, sial sekali dirinya tidak memegang ponsel sama sekali. kini ia hanya di Apartement seorang diri, Bibi telah pulang seusai pekerjaannya selesai.
Ting tong!
Bunyi bel mengalihkan perhatiannya, dengan sigap ia bangkit dari duduknya kemudian membuka pintu Apartement. senyum manis terlukis dibibirnya, ia pasti yakin bila yang datang adalah Guntur. sontak saja senyum itu memudar tatkala melihat siapa yang sesungguhnya datang. ia berdesah kecewa, ternyata bukan Guntur.
"Papa, Mama."
Bulan tertegun melihatnya sepasang suami istri yang baru saja menikah beberapa hari yang lalu, memasang wajah sendu menatap dirinya. belum ada kata yang tercuat, membuat Bulan menatapnya secara bergantian seiring dengan rasa heran dan penuh tanda tanya. ada apa ini? suasananya begitu tegang ia rasakan. apakah perasaannya sedari tadi yang benar-benar tidak nyaman akan terjawabkan? entahlah, Bulan terhenyak mendapati tubuhnya didekap oleh Mama Anna
"Ma."
"Kamu yang sabar, ya?" Mama Anna mengelus rambut halus sang menantu, buliran air mata seketika lolos dari pelupuk matanya
Bulan bingung, sabar kenapa? ia menatap ayah mertuanya seakan bertanya-tanya. Bulan melonggarkan pelukannya. "Ada apa ini? sabar apa, Ma!"
"Kita pulang ke rumah Papa, ya?" ajak Papa Perkasa, ia tidak tega mengajak Bulan ke tempat yang sesungguhnya
__ADS_1
Bulan semakin bingung, ini ambigu sekali dan penuh teka teki. "Kenapa harus pulang? lagi pula Mas Guntur bentar lagi datang." ia menolak
"Guntur nggak pulang kesini, ayo kita ke rumah Papa."
"Ke-ke---
"Kakak saya tidak akan pernah kembali ke kediaman anda, Tuan Perkasa yang terhormat! dan tidak akan pernah berurusan dengan keluarga anda, apalagi sama pembunuh itu!"
Suara itu, Bulan jelas mengenal siapa dia. wanita ini pun sedikit memiringkan kepala untuk melihat sang pemilik suara yang berjalan di lorong Apartemen menghampirinya. dan benar saja, itu adalah Bintang.
"Bintang!" Bulan terhenyak, begitu pula sepasang parubaya tersebut
"Kau harus pulang, Kak! tidak ada lagi hubunganmu sama pembunuh itu!" Bintang menunjuk pintu seolah ada Guntur yang berdiri disana
"Oh, ternyata mereka tidak memberitahu mu?" Bintang memiringkan bibirnya menatap Tuan Perkasa, menatapnya dengan sinis
"Beritahu apa? Pa, Ma?"
"Ck! ayo ikut aku, kau akan tau nanti!" Bintang menyeret kakaknya sendiri melewati lorong itu, meninggalkan orang tua Guntur yang terpaku dengan keadaan ini.
"Pa!" Bulan berteriak memanggil mertuanya, tangan kanannya terulur kebelakang seolah meminta bantuan. Papa Perkasa merasa iba, ia tak menyangka akan terjadi hal seperti ini. pria parubaya itu pun mengikuti sang menantu dengan langkah lebarnya, diikuti oleh sang istri yang berlari kecil mengejar ketiga orang tersebut.
Bulan termanggu menatap Kantor Polisi yang ramai akan kendaraan di pelatarannya, seketika tubuhnya bergetar dan menegang, pikirannya langsung tertuju pada Guntur yang mungkin saja berada didalam sana. Bulan menoleh menatap Bintang, seketika saja pria tersebut kembali menarik tangannya dengan kasar untuk memasuki tempat mengerikan itu
__ADS_1
"Bin, ke-kenapa kesini?"
Pria muda itu tak menjawab, ia mempercepat langkahnya untuk mencapai tempat tujuan. Bulan semakin bergidik ngeri, pria ini terlihat seperti bukan adiknya, sangat dingin dan menakutkan terhadap dirinya.
Hingga keduanya tiba disebuah ruangan yang memiliki beberapa jeruji besi, tampak sosok sang suami bersama dua pria pria lainnya didalam sana dengan pakaian berwarna navy mereka kenakan. Guntur terlonjak melihat sang istri, ia bangkit berdiri dan berjalan mendekati besi.
"Bulan."
"Guntur! ke-kenapa? ada apa? bagaimana bisa disini?" Bulan menatapnya dengan sendu, ia tak kalah kagetnya seperti Guntur. buliran air mata akhirnya jatuh juga membasahi kedua pipinya, kedua tangan mereka saling menggenggam, seolah tak ingin dilepaskan sampai kapan pun jua
"A-aku ketahuan, tadi aku ke Markas, maaf ..." Guntur tertunduk lesu, ekor matanya menangkap dua pasang kaki juga berjalan mendekatinya. Guntur mendongak, ternyata Papa dan Mama tirinya.
"Pa, maaf ... aku diam-diam melakukan kejahatan." lirihnya, Bulan menghapus buliran air mata yang menetes dikelopak mata suaminya, ia tidak ingin pria ini terlihat menyedihkan
Prok prok prok!
Tepukan tangan memeriahkan suasana yang tengah berduka ini, derap langkah beberapa pasang kaki terdengar menggema seiring dengan tepukan tangan yang berhasil mengalihkan perhatian semua orang.
Bulan terpaku, ia tak kalah terkejut melihat penampakan yang datang mendekat dengan wajah yang tak pernah ia duga.
"Keren! dan sangat hebat!!"
πΊπΊπΊ
__ADS_1
Huaaaa!!! kok bisa sih, thor??? ππ