
πΊπΊπΊ
Hari-hari terus berlalu, hubungan antar kedua belah pihak yang pernah berseteru kini telah membaik. keluarga Cakrawala dan keluarga Perkasa, tidak untuk Mentari yang masih memandang sengit kepada Bulan. terkadang Bulan mengira, apakah Mentari marah padanya karena berpikir jika ia bersekongkol dengan Guntur untuk menyiksa wanita itu? entahlah, perasaannya lebih dominan karena hal itu.
Ingin sekali rasanya untuk Bulan menjumpai saudari kembarnya, hanya sekedar meminta penjelasan, mengapa masih memusuhinya. tapi jika dipikir, memang watak Mentari yang selalu memusuhinya sejak dahulu.
"Ada apa denganku? bukannya dari dulu dia membenciku? ayolah, dia bukan Mami yang sudah membuka hati untukku." gumam Bulan saat itu
Malam ini, Bulan dan keluarga mertuanya akan bertandang ke kediaman Cakrawala untuk memenuhi undangan makan malam bersama. Bulan yang tampak bersemangat, telah selesai dengan dandanannya yang sederhana. dress simple nan anggun, menonjolkan perut buncit yang terus berkembang didalam sana.
"Kita ketemu Oma, Nak." ucap Bulan kepada sang jabang bayi
Usai berdandan, Bulan bergegas keluar dari kamar ingin menjumpai adik iparnya, Clara.
"Cie .... yang mau ketemu calon mertua," Bulan menggoda Clara, membuat wanita muda yang sedang berdandan didepan pantulan cermin merasa sebal.
"Apa sih, Kak! orang aku nggak ada lho, berhubungan lagi. komunikasi aja nggak ada." gerutunya
"Mau nggak, aku comblangi lagi, hmm?" Bulan menaikkan salah satu aslinya, senyumnya berusaha menahan tawa kala menatap ekspresi wajah wanita itu
"Kagak! gila ih, Kakak ini."
"Sekarang belum ada cowok, pasti belum bisa move on dari Bintang, ya, kan?"
"Ya! biar Kakak puas." dengusnya geram, Clara mengenakan sepatu high heels dan memgambil tas selempang miliknya, ia berjalan terlebih dahulu dengan perasaan kesal
"Yaaach, dia ngambek."
***
__ADS_1
"Selamat datang!"
Mami Vega menyambut besan dan putrinya dari ambang pintu, mengenakan kursi roda yang didorong oleh Mentari. sangat kesal bertemu orang-orang itu, keluarga dari sang psikopat yang sudah lancang menggoreskan benda tajam pada tubuhnya, bahkan bagian tubuhnya sudah dicocol beberapa kali oleh kedua anak buah psikopat tersebut.
Hati mana yang tidak sakit setelah diperlakukan seperti itu, jiwa dan batinnya sudah rusak dan tiada rasa untuk memaafkan. egois? ya, memang dirinya egois sampai tidak memikirkan kesalahan masa lalunya oleh psikopat itu.
"Mi." Bulan mencium punggung tangan ibu kandungnya, kemudian memeluk wanita parubaya terswbut, dengan sepasang mata mendongak ke atas menatap kembarannya yang hanya diam memasang wajah dingin
"Terima kasih udah mau datang, ya." ucap Mami pada Bulan
"Ini kan masih rumah Bulan, dan Mami orang tua Bulan, jadi Mami nggak perlu bilang terima kasih."
"Oh, putriku ..." lagi-lagi Mami terenyuh, air mata kembali menggenangi pelupuk matanya
Lebay! batin Mentari
"Heh! dorong nih!" bisik Mentari kepada Bulan
"Kakak nyuruh aku? dengan cara seperti itu??"
Mentari hanya memutar bola matanya, ia menjauh dari kursi roda dan membiarkan Bulan yang mendorong kursi roda ibunya. Bulan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihatnya
Sedangkan Mentari menyeringai dengan kedua tangan bersedekap didada. kemudian ia mengikuti langkah mereka semua yang berjalan menuju ruang makan.
Sebenarnya ia malas untuk ikut menjamu keluarga psikopat itu, tapi karena amarah Maminya ia pun terpaksa untuk menyanggupinya.
Kini kedua belah pihak keluarga sedang menikmati jamuan makan malam yang serba super lezat, tentu saja atas rekomendasi Rembulan yang memberitahukan lauk terfavorit keluarga Cakrawala, termasuk kesukaan Bulan yang menginginkan rendang.
Ah, rasanya sudah lama tidak menikmati rendang bersama pak suami.
__ADS_1
"Mas, ini banyak kesukaan aku." bisik Mama Anna kepada suaminya, Papa Perkasa hanya mengulum senyum sebagai tanggaoan.
"Kenapa, Mbak? masakanku kurang lezat, ya?" tanya Mami Vega
"Eh, bukan, Mbak. ini favorit kami, lho. saya sampai heran kok bisa, ya? hehehe." Mama Anna cengengesan
"Ada yang membocorkannya, Mbak." balas Mami Vega yang kemudian melirik putri kandungnya
"Hmm, ya ya ya, Rembulan memang pandai, hm?" kini Mama Anna tahu si biang keladinya, yang sudah membocorkan makanan favorit keluarga
"Hihihi, Mami lho yang pengen tahu, orang rumah sukanya apa." ucap Bulan
"Sudah-sudah, ayo kita makan! dasar emak-emak." akhirnya Papa Perkasa buka suara meleraikan ocehan para perempuan. perutnya yang tidak bisa diajak kompromi ingin sekali untuk menyikat seluruh makanan itu
"Ayo, Mas, Mbak. jangan sungkan-sungkan, kita makan sepuasnya." ajak Mami Vega yang begitu senangnya melihat wajah ceria dari besannya
Bagaikan di rumah sendiri, mereka begitu bersemangat untuk menyantap menunya tanpa sungkan. apa lagi Bulan, yang mengambil porsi nasi dua kali lebih banyak dari biasanya. lagi pula ia juga rindu masakan Bibi, ditambah ini adalah permintaannya kepada Mami.
"Makan kamu banyak banget, Lan, efek ada cucuku ya?"
"Enggak juga, Mi, karena lauknya kesukaan aku."
"Oalah." Mami Vega pun tertawa
Ah, rasanya senang mendengar tawa Mami kepada ku, aku bersyukur Mami sudah berubah dan memperlakukanku dengan baik. batin Bulan sembari mengulum senyum
Norak!
πΊπΊπΊ
__ADS_1