Obsesi Majikan Psychopath

Obsesi Majikan Psychopath
Kemurkaan Bintang


__ADS_3

🌺🌺🌺


"Sekarang kamar kamu disini ya, Clara." Papa Perkasa menunjukkan kamar anak tirinya kepada gadis muda tersebut, mereka masuk ke dalam kamar yang sangat bersih dan rapi, seprai kasur yang sudah Bibi ganti sebelumnya.


Clara menoleh menatap Ayah tirinya itu. "Yang benar? ini kamarnya gede banget." senyum cerah menghiasi bibirnya, tanpa sungkan Clara menjatuhkan bokongnya diatas kasur berukuran besar tersebut


"Empuk banget, Ma." hebohnya kepada Mama Anna


Guntur yang berada diambang pintu bersama sang istri, menggeleng-gelengkan kepala melihat adik tirinya tersebut.


"Dia senang banget." bisik Bulan dengan senyum manisnya, ia merasa gemas dengan wanita itu


"Norak lebih tepatnya." ketus Guntur


"Iya, kamar gede ini buat kamu." sahut Papa Perkasa


"Kalau nggak bisa gunakan kamar mandinya, minta tolong sama Bibi." seru Guntur menyela


Sorot mata gadis itu beralih menatap kakak tirinya yang mulai bersuara, ia tersenyum kecut.


Dikiranya gue nggak tau, tiap hari juga main di kamar mandi sama sugar gue. batinnya bermonolog


"Yasudah, Pa, kami balik dulu. aku harus terapi lagi." pamit Guntur, sebelah tangannya tak pernah melepaskan genggaman Bulan sedetik pun seolah takut jika gadis ini akan pergi


"Baiklah, hati-hati, makan siang nanti jangan lupa kemari." pesan Papa, diangguki oleh anak dan menantunya. Guntur dan Bulan mendekati orang tua mereka, menyalimi punggung tangannya lalu berlekas pergi dari sana.


Guntur dan Bulan telah tiba di Klinik terapi kejiwaan yang ditangani oleh Dokter Psikiater untuk mengobati masalah kejiwaan pasiennya. mereka masuk, langsung menghadap ke ruangannya untuk menjalani terapi. tidak perlu pakai antrian, karna sistemnya adalah membuat janji sebelum bertemu.

__ADS_1


***


Nyonya Vega tampak tidak bersemangat untuk mengerjakan pekerjaannya. mengingat kejadian tadi malam saat keadaan kedua anaknya terbongkar kepada Bintang. ditambah lagi pagi tadi, Bintang bahkan tidak keluar kamar untuk sekedar sarapan pagi bersama. keadaan rumah sungguh panas dan menegangkan, tiada lagi ketentraman saat kedua anak gadisnya menghilang.


"Tari, kamu di mana, Nak?" gumamnya, menatap video yang menampilkan keadaan anaknya


"Apakah Bulan juga disana?"


"Aaaaakh! ini sungguh membingungkan." Nyonya Vega menelungkupkan wajahnya diatas meja, tepatnya diatas dokumen yang ia anggurin.


Disisi lain, sebuah mobil sport berwarna merah menyala berhenti tepat dipelataran gedung Cakrawala yang menjulang tinggi menembus awan, seseorang keluar dari mobil dengan begitu gagahnya, lelaki tampan, mengenakan kemeja biru tua, kaca mata ia sampirkan dikerah baju, memberikan kesan wah kepada pria muda tersebut.


Siapa lagi kalau bukan Bintang, sesuatu yang penting menuntun langkahnya menginjakkan kaki digedung ini untuk bertemu dengan seseorang yang begitu penting. ia masuk melewati lobi, semua orang yang berpapasan dengannya tampak terpukau akan ketampanannya yang semakin bertambah setelah lama tidak bertemu.


"Siang, Tuan."


Bintang melangkahkan kakinya dengan cepat menuju lift, hingga ia terpaku melihat Mami Vega baru saja keluar dari benda pengangkut itu. keduanya saling bersitatap dalam diam, Bintang terus melangkahkan kakinya tanpa menghiraukan wanita jahanam itu. ya, Bintang sudah mengetahui segalanya. Kakak Bulan yang dijadikan pembantu, jabatan Presdir yang seharusnya dipegang Bulan malah diambil paksa oleh ibunya, bahkan--Bulan sengaja ingin kabur dari rumah sejak tiga bulan yang lalu. sungguh tragis, ia tidak menyangka ibu dan kakak pertamanya sejahat itu pada Bulan.


"Bintang, kamu kesini, Nak?" Mami Vega menyapa, menyentuh lengan putranya


"Lepas!" Bintang menghindar


"Kamu masih marah, Bin? ini bukan salah mami sepenuhnya, lho ... Mami sudah usaha mencari kakak-kakakmu."


Bintang menoleh menatap mata ibunya dengan sorot yang begitu tajam. "Mami mengira itu saja? Mami pikirkan kesalahan Mami yang lainnya!" geram Bintang, menghentakkan tangan ibunya dengan kasar.


"Jangan ikuti aku! Mami mau pergi, pergilah." usir Bintang, kembali melanjutkan langkahnya memasuki lift.

__ADS_1


Mami Vega terpaku menatap kepergian putranya hingga menghilang ditelan pintu lift.


Bintang telah tiba di lantai tujuannya, yaitu tempat Assisten Stev bekerja. ia melangkahkan kaki dengan tergesa-gesa, sapaan pegawai tidak ada bedanya seperti dilantai dasar. Bintang mengetuk pintu ruangan Assisten Presdir, setelah mendapatkan sahutan ia masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Tuan Bintang." Assisten Stev bangkit berdiri lalu membungkukkan setengah badannya memberikan hormat


"Kau sering menjemput Mami ke rumah, bukan?" tanya Bintang tanpa basa basi, mendudukkan tubuhnya diatas sofa dengan sebelah kaki bertumpu pada lutut


"Ya, Tuan."


"Jadi pasti kau sering melihat kak Bulan, kan?"


Stev tercenung mendengarnya, ia kembali mengangguk


"Apa benar kakakku dijadikan pelayan oleh Mami?"


"Tu-Tuan tau?"


"Tentu saja tau!" Bintang bangkit berdiri, sepertinya objek pemandangan diluar sana lebih enak dilihat untuk ia perhatikan. seketika saja tubuh Stev menegang.


"Kata Bibi, Kak Bulan kabur dari rumah karena tidak sanggup sama sikap Mami, kau tahu tapi kenapa tidak memberitahuku!!" geramnya, menoleh menatap tajam pada Stev yang menegang ditempatnya.


"Maaf, Tuan. sebelumnya saya tidak tahu Nona Bulan kabur dari rumah. saya hanya heran kenapa Nona tidak terlihat lagi. dan--beberapa hari kemudian, saya tidak sengaja bertemu Nona di Supermarket. saya sempat ajak mengobrol bahas perusahaan, tapi beliau malah kasih nomor ponselnya. sejak saat itu kami hanya berkomunikasi melalui pesan WhatsApp. dan kini--nomornya nggak aktif lagi." jelas Assisten Stev panjang lebar


Bintang tertegun mendengarnya, ia menyimak.


"Tapi---

__ADS_1


🌺🌺🌺


__ADS_2