Obsesi Majikan Psychopath

Obsesi Majikan Psychopath
Kau, Aku Hukum


__ADS_3

🌺🌺🌺


"Kakak nggak bisa pulang." Bulan menurunkan tangannya dari tarikan sang adik yang ingin membawanya pergi


Bintang mengernyitkan dahinya. "Kenapa lagi? ini bukan tempatmu. apa Kakak masih dijadikannya pembantu?"


"Dia istriku!" untuk pertama kalinya Guntur berbicara setelah cukup lama diam menyimak interaksi kakak adik dihadapannya ini. sontak saja Bintang dan Assisten Stev menoleh menatap pria tampan tersebut dengan penuh keheranan


"Ya, kami udah menikah, Bin. jadi kakak nggak boleh pergi dari sini." sela Bulan


"Apa???" Bintang tercengang, kembali menghempaskan bokongnya dengan kasar, ia tidak percaya akan hal ini. bagaimana bisa? pikirnya


Bulan dan Guntur mengangguk bersamaan. "Maaf, kalau saya menikahinya tanpa restu kamu, keluarganya, karna--" Guntur bingung memberi alasan apa. "Karna Kakak nggak mau Mami sampai tahu, apalagi datang ke pernikahan Kakak. apalagi kamu, yang sedang fokus belajar." sambung Bulan, sontak diangguki Guntur


Bintang menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Kakak dosa menikah tanpa restu orang tua, apalagi seharusnya aku yang menjadi wali kau. tapi yasudahlah!" pria muda ini tampaknya masih sedikit kesal


Deg!!


Kata-kata itu sungguh menohok hati Bulan, memang benar seharusnya mereka minta restu dan Bintanglah yang akan menikahinya. namun mau bagaimana lagi, keadaan tidak mendukung kala itu, apalagi pernikahan itu sangat mendadak.


"Jaga kakakku baik-baik! jangan kau sakiti dia! sempat sekali saja kau membuatnya menangis, sedih, habis kau!" ancam Bintang, menjulurkan kepalan tangan dihadapan sang kakak ipar


Bulan menjengit, begitu pula Guntur.


"Tenang saja, aku akan membuatnya bahagia." ucap Guntur dengan nada dingin


"Baiklah. aku pulang dulu, Kak." Bintang mendekat, kembali memeluk kakak tersayangnya


"Disini dulu, kita makan siang bersama."


"Lain kali saja, Kak."


"Hmm, padahal banyak yang akan kita obrolkan." Bulan berdesah kecewa

__ADS_1


"Aku ada janjian sama teman sekolahku, Kak, biasalah ngumpul setelah lama berpisah." Bintang terkekeh, melepaskan pelukannya


"Ck! kita juga lama berpisah, tau!" gerutu Bulan


"Ntar malam deh, aku kemari lagi."


Mata Bulan membulat, kilatan cahayanya berbinar-binar. "Sungguh??"


"Ya."


"Tapi sebelum maghrib kamunya kesini, ya?"


"Oke. aku pergi dulu, bye!" pamitnya, Bulan mengantarkan kepergian sang adik yang teramat ia rindukan itu.


Hatinya menghangat memerhatikan punggung kokoh sang adik yang kini telah besar, pria kecil itu semakin tampan dan sangar dipandangannya. Bulan terus mengukir senyum mengantar kepergiannya, ia masih tak percaya akan bisa berjumpa dengan Bintang, satu-satunya keluarga yang sayang padanya. ternyata Bintang tak marah dengan statusnya kini, hanya saja tampak guratan kecewa diraut wajahnya. apakah lelaki itu ingin pergi tanpa menerima tawarannya, karena sangat kecewa? entahlah, akal sehatnya hanya menangkap alasan Bintang ingin berkumpul dengan teman sekolahnya.


"Dia sudah pergi, siapa lagi yang mau kamu lihat?" Guntur menyadarkannya


"Eh, iya kah? ah, aku melamun." Bulan terkekeh


"Tentu saja senang. tapi benar lho, aku nggak tau dia ada di Indonesia, apalagi memberi alamat kita."


"Hm, ku rasa dia menyuruh anak buahnya untuk mencari tahu tentang kamu." ujar Guntur


"Ya, yang jelas bukan aku." Bulan mengulum senyum


Guntur menatap wajah ceria itu dengan wajah dinginnya. "Karna dia sudah tahu keberadaan kamu, kau aku hukum!" bisiknya, seketika bulu kudu Bulan meremang


"A-apa???"


Tanpa banyak kata Guntur langsung merengkuh tubuh mungil itu dalam gendongannya, ala mengangkat karung beras ia membawa sang istri ke lantai atas. Bulan meronta-ronta, kedua tangannya memukul-mukul punggung sang suami, sedang kedua kakinya juga turut memberontak


"Lepas! aku capek, tau! kan masih demam."

__ADS_1


***


"Tuan, anda nggak bilang keberadaan Nona Mentari?" tanya Stev disela langkahnya menuju mobil


"Hmmm ... nggak ada waktu, Stev, lagi pula belum saatnya Kakak tahu. dia baru saja bahagia sama seseorang, aku nggak mau dia ikut khawatir tentang Kak Tari." ujar Bintang


Assisten Stev mengangguk paham, ia membenarkan alasan itu. keduanya pun masuk ke dalam mobil setelah tombol kunci ia bunyikan.


Bintang merogoh ponselnya membuka aplikasi hijau untuk memeriksa pesan grup sahabat sekolahnya yang terdiri empat anggota itu.


[Bro, kau di mana? lama banget!] pesan salah seorang temannya memanggil Bintang


[Ini mau otewe, njir! sabar!] balas Bintang


"Antar aku ke Karaoke xxxx."


"Baik, Tuan."


🌿


Guntur menyesap habis bibir manis milik Bulan yang menggiurkan ini, sungguh menggoda imannya. kedua tangannya tak tinggal diam disatu tempat, terus bergerilya menyentuh setiap lekuk tubuh Bulan yang dirasa sangat berisi. meremat bokongnya, mengelus perutnya, memelintirkan anak bukit dengan jemarinya sampai gadis itu berdesah menahan sensasi nikmat didadanya. pagutan keduanya semakin dalam, seiring gairah hasrat yang mulai membuncah, meningkat dengan drastis. aliran darah pun ikut berdesir merasakan dua sensasi berbeda pada dirinya atas perlakukan Guntur.


"Oh, Gun ..." Bulan melenguh saat bibir seksi itu menyapu ceruk leher jenjangnya, dirinya seakan dibawa melayang oleh lelaki gila ini, yang tak ada lelah-lelahnya menggerayangi tubuhnya.


Puas menikmati tubuh Bulan dengan sentuhannya, bibirnya, Guntur pun menghentikan kegiatannya


"Sudah, kamu harus istirahat sampai makan siang tiba. aku tahu kamu masih demam, Sayang." Guntur dengan rasa tak bersalahnya, merapikan tatanan rambut Bulan yang berantakan.


Wanita itu terdiam, ia tercengang. "Terus, nggak jadi?" ia kecewa


"Aku sesak berak." Guntur melenggang pergi menuju kamar mandi, ia cekikikan tanpa suara tatkala mendengar rengekan kesal dari mulut istrinya.


"Itulah hukumannya." gumam Guntur, dibelakang pintu yang telah ia tutup.

__ADS_1


🌺🌺🌺


__ADS_2