Obsesi Majikan Psychopath

Obsesi Majikan Psychopath
Surat Pengadilan


__ADS_3

🌺🌺🌺


Ting tong!


Bunyi bel dikediaman Perkasa mengalihkan perhatian Bibi yang sedang mengepel pada pagi itu. segala pekerjaan rumah harus diselesaikan untuk menyambut sang tuan rumah yang kabarnya akan pulang saat menjelang siang nanti.


Bibi melangkahkan kakinya dengan cepat menuju pintu utama, memutar kunci kemudian menarik pintu untuk melihat siapa yang bertamu.


Seorang kurir, menyodorkan sebuah amplop kepada sang penghuni rumah.


"Selamat pagi, dengan kediaman Perkasa?"


"Iya, Den. saya pekerja di rumah ini."


"Ini ada kiriman dari Pengadilan, Bu."


Bibi mengambilnya. "Terima kasih, Den."


Kurir itu menganggukkan kepala, kemudian ia melenggang pergi tatkala urusannya telah selesai. sedangkan Bibi menatap lekat amplop itu, sepertinya Tuan muda Guntur akan melakukan persidangan, entah kapan itu. Bibi kembali masuk ke dalam rumah, menyimpan amplop tersebut ke dalam kamarnya untuk sementara waktu.


Disisi lain, Guntur menjadi lebih sering mengonsumsi buah-buahan dan makanan vegetarian dibandingkan dengan nasi dan kandungan protein. ia benar-benar mual akan makanan yang biasa ia santap. setelah diperiksa oleh Dokter, ternyata ia mengalami kehamilan simpatik. apa yang seharuskan dirasakan oleh istri sedang mengandung, dalam kasus ini suamilah yang merasakan efek dampak dari kehamilan tersebut. merasakan mual, penciuman tajam, terkadang mengalami ngidam, dan ingin melihat wajah istrinya terus menerus. mengingat Bulan tidak boleh lagi menginap di tempat ini, mengharuskan mereka melakukan video call.


Beruntung saja Guntur membolehkan Bulan membeli ponsel baru, dan ponsel suaminya dikembalikan Bulan kepada Guntur, alih-alih agar keduanya bisa lebih sering berkomunikasi melalui via video call. dan terkadang Bulan sangat gemas dengan rengekan suaminya, tentu saja bawaan sang jabang bayi.


'Sayang, aku ingin kinderjoy sama jeruk limau. sama salad buah dan sayuran jangan lupa'


Begitulah rengekannya khas anak kecil yang ingin meminta mainan. terdengar menggelitik ditelinga Bulan, suaminya yang kejam telah berubah menjadi suami yang manja.


Dan kini pria malang tersebut tengah menikmati jeruk limau yang asamnya terkandung tinggi. namun Bulan hanya memberikannya satu buah, mengingat pria itu tidak pernah lagi menyantap nasi dan ia takut jika akan mempengaruhi lambungnya.

__ADS_1


"Enak?" Bulan bergidik ngeri melihatnya, kini mereka sedang berkomunikasi melalui video call


"Enak banget, Yang. tapi sayangnya kau cuma kasih satu biji!" sungutnya


"Tadi hampir ingin ku kasih separohnya, tau kamu! itu tuh asam banget lho, Yang, nanti lambungmu perih dan luka. mana nggak mau makan nasi pula." gerutu wanita tersebut


"Nggak kok, kalau luka mah, Rumah Sakit ada disini, hehehe." Guntur malah cengengesan, membuat wanita itu merasa gemas


"Hedeeeuh!" Bulan memutar bola matanya


"Hmmm, Yang, Papa mana, ya? tadi kamu nunjukin Mama Anna mulu."


Bulan terdiam, tidak mungkin ia mengarahkan kamera ke arah Papa yang sedang diurusi Mama Anna. hingga saat ini Guntur belum mengetahui suatu hal jika Papa Perkasa masuk rumah sakit selama empat hari ini.


"Papa tentu saja kerja, dia pria yang sibuk. aah, sudah dulu ya, Sayang, aku sesak berak."


"Yaaach ... bawa aja deh hpnya." pinta Guntur


Belum sempat Guntur membalas ciuman onlinenya, wanita diseberang sana langsung memutuskan panggilan mereka secara sepihak. membuat Guntur menghembuskan nafas dengan kasar.


"Huuh! mungkin sesak banget kali ya." gumamnya


Guntur kembali melanjutkan kegiatannya, menikmati jeruk limau yang teramat enak dilidahnya sembari menunggu waktu makan siang tiba.


***


Bulan dan kedua mertuanya baru saja tiba di kediaman Perkasa, ketiganya langsung disambut oleh Bibi dengan senyum cerah secerah mentari yang terik disiang hari ini.


"Selamat siang, Tuan, Nyonya." sapanya, mengambil alih travelbag dari tangan Nyonya Anna

__ADS_1


"Siang juga, Bi."


"Bibi udah siapkan pesanan Bulan, kan?" tanya Bulan, wanita itu merequest masakan kepiting saus padang yang terlihat menggiurkan saat ia tengah menonton acara mukbang disalah satu channel dalam negeri.


Dan ia sangat ingin menyantapnya saat ini.


"Sudah, Non. sesuai selera Nona Bulan."


"Aaakh, aku jadi pengen makan sekarang." gumamnya sembari membayangkan makanan itu


"Yasudah kita makan sekarang, kebetulan sudah jam makan siang." sahut Papa Perkasa


"Yes!" wanita itu berjingkrak kegirangan


Melihat Nyonya dan Tuan besar melangkah lebih dulu menuju ruang makan, Bibi bergegas mendekati Bulan yang begitu gembira.


"Non, tadi ada kiriman." ujarnya


"Kiriman apa, Bi?" Bulan mengernyitkan dahinya


"Surat pengadilan sudah tiba, sepertinya Tuan muda akan melakukan sidang."


"Benarkah? berikan sama saya, Bi."


Bibi mengangguk, ia cepat-cepat melangkah menuju kamarnya, diikuti oleh Bulan yang sangat penasaran sama surat penting tersebut. hatinya merasa deg-degan, apakah keputusan nanti suaminya akan dipidana hingga bertahun-tahun, ataukah dipindahkan ke Rehabilitasi untuk mengobati psikisnya? entahlah, semua ada ditangan Dokter kejiwaan yang menangani suaminya, dan rekam medis akan menjawab segalanya.


Bulan selalu memanjatkan do'a, berharap bila sang suami akan ditempati ke Rehabilitasi. ia hanya bisa bersabar dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama.


"Ini, Non."

__ADS_1


Bulan langsung menyambar amplop tersebut, membuka isinya dan membentangkan selembar kertas putih tersebut. ia membacanya dari awal hingga akhir, tiba-tiba sepasang netra miliknya melotot.


🌺🌺🌺


__ADS_2