Obsesi Majikan Psychopath

Obsesi Majikan Psychopath
Calon Mama Baru


__ADS_3

🌺🌺🌺


Ting tong!


Suara bel berbunyi namun tidak menghentikan kegiatan panas yang menggebu diatas singgasana surga. berusaha menulikan telinga dan tetap melanjutkan hentakan demi hentakan yang begitu kencang dibawah sana. Bulan mengerang dan mendesah, miliknya berdenyut merasakan pergerakan yang cukup kasar dibawah kuasa sang suami


Ting tong!


Lagi-lagi bel berbunyi, Bulan mengerjap-ngerjapkan kedua matanya dan berusaha mengumpulkan kesadarannya yang terbawa melayang oleh lelaki ini. biar pun Guntur tak mempedulikan bel yang berbunyi, namun Bulan mulai merasa kegiatan ini harus dihentikan


"Stop! ada tamu." lirih Bulan


Guntur tak menanggapi, ia menenggelamkan wajahnya dibelahan dada sang istri, menyesapnya disana lalu beralih memelintirkan puncak mungil yang begitu imut itu.


"Aaaaah ...."


Ting tong!


Ting tong!


"Ngh .... ada tamu, Gun." Bulan berusaha menahan pinggul suaminya


"Nanti kita lanjutkan ya, ada tamu yang bunyiin bel beberapa kali." ia memberi pengertian


Guntur mendengus kasar, pasalnya ini sudah hampir mencapai puncak. tepaksa ia mencopot miliknya dari dalam sangkar kenikmatan itu dengan hatinya yang terus mengumpat si pengganggu dibawah sana. cepat-cepat mereka mengenakan pakaian yang diambil dari dalam lemari, pasalnya setelah membersihkan diri seusai berenang tadi, kegiatan panas pun berlangsung dengan penuh gairah.


"Ayo, cepatan!" desak Bulan yang berjalan duluan mencapai pintu kamar

__ADS_1


"Tamu brengsek! pengganggu!" umpatnya kesal, mengekori langkah Bulan yang hampir menginjak anak tangga


Ting tong!


"Sebentar!!" teriak gadis itu yang melangkah cepat menuruni tangga. hingga dirinya tiba diambang pintu, Bulan langsung membuka benda pelindung tersebut.


Alangkah kagetnya ia mendapati Papa Perkasa bersama seorang wanita disisinya, ia terpaku cukup lama karena merasa tidak enak sudah membiarkan Papa mertuanya menunggu diluar sana. pria parubaya itu pun menyadarkan gadis ini, Bulan tersentak kaget dan langsung menyalimi punggung tangan mertuanya dengan takhzim. begitu pula dengan wanita disisinya.


"Papa, ma-maaf Bulan lama banget bukain pintu." ia merasa bersalah, disusul Guntur yang baru datang menghampiri tamunya. melihat kedatangan sang Papa sontak saja ia mendengus kasar dengan tatapan sinis bin kesal


"Tidak apa-apa, mungkin kalian sedang sibuk." Papa Perkasa sedikit melihat keringat yang membasahi dahi menantu dan putranya, seolah ia tahu apa yang baru saja terjadi


"Ah, mari masuk." Bulan menyilakan kedua tamunya untuk masuk ke dalam Apartement mereka. Papa dan wanita tersebut mengekori langkah menantunya


Bulan langsung berjalan ke dapur untuk membuat minuman, sedangkan Guntur yang masih diselimuti kekesalan menjatuhkan tubuhnya dengan kasar diatas sofa. tatapannya mengarah kepada wanita disisi Papanya, wanita parubaya yang sepertinya hampir berusia dengan sang ayah.


"Oh iya, kenalin ini Anna."


Guntur mengangguk paham, ia bersikap cuek saja walau penasaran apa hubungannya dengan sang ayah.


"Saya Anna, Tuan." ia mengulurkan tangan kepada pemuda ini


Guntur menyambut uluran tangan itu. "Guntur."


Lalu Bulan datang mendekat dengan membawa nampan berisi juice jeruk untuk tamunya. ia menyilakan mereka untuk minum lalu Bulan menjatuhkan bokongnya disamping suami.


"Bulan, perkenalkan ini Anna."

__ADS_1


Bulan mengulum senyum kepada wanita cantik itu. ia menyambut uluran tangan wanita tersebut. "Saya Bulan, Tante." ucap gadis ini yang kemudian menarik tangannya kembali


"Nah ... Anna ini calon Mama kalian, jadi mulai sekarang panggil Mama saja, oke? usianya empat lima , selisih lima tahun sama Papa." jelas Papa Perkasa


Sontak saja kedua mata Bulan dan Guntur membulat mendengarnya. "Maksud Papa dia calon istri Papa gitu?" tanya Guntur


Pria parubaya itu menganggukkan kepalanya. "Ya, tentu saja. Mama Anna punya anak perempuan berumur dua puluh tahun yang akan menjadi adikmu."


"Astaga, Pa." Guntur mengusap wajahnya dengan kasar, pria tua itu ternyata tidak mau kalah dengannya


Papa Perkasa menyeringai menatap putranya.


Emangnya kamu saja yang memiliki gairah menggebu-gebu? Papa tidak akan melajang lagi setelah ini. batinnya


"Jadi kapan, Pa?" tanya Bulan yang tampak bersemangat akan memiliki mertua baru


"Tiga hari lagi kami akan menikah." jawabnya, menggenggam tangan sang istri dengan lembut


"Alhamdulillah, akhirnya sudah ada yang menemani masa tua Papa." ucap Bulan tersenyum manis kepada dua parubaya itu


Guntur memicingkan matanya menatap sang istri, bisa-bisanya malah gembira dengan adanya anggota baru di keluarga mereka. Guntur merasa kurang suka dengan wanita itu, pasalnya ada rasa takut yang menjalar dihatinya jika saja perempuan itu memiliki rencana busuk kepada sang ayah. ia masih trauma dengan pengkhianatan ibu kandungnya yang memilih lelaki lain. dan--bagaimana dengan orang luar ini, apakah nanti akan meninggalkan Papa bersama pria lain juga? atau yang lebih parahnya lagi, perempuan itu berusaha merebut harta mereka? Guntur mengepalkan kedua tangannya, pikiran buruk tengah bergelayut didalam akal dan hatinya.


"Aku belum menyetujui pernikahan itu, tapi Papa sudah memilih waktu?? Papa nggak anggap aku anak, apa? seharusnya minta restuku dulu baru nentuin kapannya!"


Emosi lelaki itu tengah menggebu-gebu, ia bangkit berdiri dan melangkah cepat meninggalkan mereka menuju kamarnya berada. gemuruh hatinya kian meningkat, pikirannya masih kalut jika mengingat pengalaman rumah tangga Papanya yang hancur dalam sebuah pengkhianatan.


🌺🌺🌺

__ADS_1


Apa yang terjadi selanjutnya? πŸ™„


__ADS_2