Obsesi Majikan Psychopath

Obsesi Majikan Psychopath
Pengintaian Pertama


__ADS_3

🌺🌺🌺


Selama seminggu ke depan Guntur akan menyelidiki wanita parubaya yang akan merangkap menjadi ibu tiri pilihan ayahnya. tak lupa sang putri yang akan menjadi adik tirinya. ia memerintahkan salah seorang anak buahnya untuk menguntit kedua wanita tersebut dalam kesehariannya. mulai dari tempat tinggal, pekerjaan, status sebenarnya, hingga kelakuan diluar sana tanpa sepengetahuan ayahnya. sang anak buah pun menuruti perintah tersebut, bukanlah hal yang susah untuk melaksanakannya.


Anak buahnya yang bernama Riki itu pun sudah mengetahui kediaman buronannya sejak tadi malam ia menguntit Tuan Perkasa mengantarkan kekasihnya ke kediaman. Ia baru saja tiba di depan rumah bulatan sederhana tersebut. perhatiannya teralihkan kepada pick up pengangkut galon yang berhenti tepat di depan rumah tersebut. sontak saja ia menyeringai, ia tahu apa yang seharusnya ia lakukan.


"Mau antar galon kesini, Bang?"


"Iya, Bang."


"Saya saja yang antar, Bang." tawar Riki


"Ah, tidak perlu. ini pekerjaan saya." tolaknya


Riki berdecak, ia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. "Nih uang untukmu, saya saja yang bawain." ia memberikan selembar uang seratus ribu kepada kang galon tersebut, sepertinya dengan cara menyogok membuat pekerjaannya menjadi lebih mudah.


"Ah, gini mah dari tadi, Bang." ia tersenyum senang menerimanya. Riki memutar bola matanya dengan lelaki itu. ia bergegas mengangkat galon ke pundaknya, kemudian berjalan menuju kediaman buronannya tersebut.


"Eh tunggu!" cegah kang galon, Riki menoleh. "Galonnya ada dua ya, galon kosong didalam rumahnya bawa lagi kemari." peringatnya. Riki mengangguk dan kemudian melanjutkan langkahnya


"Permisi!" teriaknya


"Ya! bentar!" sahut dari dalam. tak butuh waktu lama pintu pun terbuka dari dalam oleh wanita parubaya yang masih cantik ini


"Ah, ayo masuk! seperti biasa ya, tolong pasangkan ke dispensernya."


"Baik." turut Riki, ia masuk ke dalam rumah tersebut dengan tatapan yang terus mengekori kemana wanita itu pergi. ternyata ia masuk ke kamar, tampaknya tengah bersiap-siap berdandan.


Riki menyeringai, berharap ia berhasil memasang kamera dan alat perekam suara ke tempat yang tersembunyi. ia bersyukur, letak dapur tidaklah payah ia cari.

__ADS_1


Sebelum menaruh galon ke atas dispenser, ia celingak-celinguk mencari tempat yang aman untuk mengintai penghuni rumah ini. ia menganggukkan kepala, sepertinya telah menemui tempat yang cocok untuk memasang alat yang ia bawa. ia tanam di area ruang dapur sekaligus meja makan berada, setelah selesai perihal galon ia beralih kepada ruang keluarga dan ruang tamu dengan langkahnya yang gesit tanpa dicurigai sedikit pun. rumah ini sangat sepi sekali, entah kemana anak perempuan yang seperti dikatakan bosnya.


Riki kembali keluar untuk menjemput galon yang lainnya, sembari berpikir gimana caranya agar alat perekam suara bisa dibawa-bawa oleh kedua wanita tersebut. dan kebetulan sekali saat dirinya tiba di ruang keluarga ia berpapasan kepada wanita muda yang baru keluar dari kamar sembari menguap dan menenteng handuk dipundaknya.


"Permisi, Kak, mau antar galon."


"Hm." jawabnya dengan cuek, Riki menggeleng-gelengkan kepala melihatnya


***


Riki kembali masuk ke dalam mobilnya yang terparkir cukup jauh dari rumah tersebut. ia merogoh ponsel didalam saku celananya untuk menghubungi sang bos.


Guntur yang sedang mengenakan pakaian, perhatiannya teralihkan kepada ponsel yang berdering. ia mendekat dan mengambil ponselnya diatas nakas.


"Gimana?"


"Lancar, Tuan. tapi saya tidak berhasil menaruh alat perekam didiri wanita parubaya itu."


"Baik, Tuan."


Guntur langsung memutuskan panggilan secara sepihak. sedikit mendengus kesal dengan pekerjaan anak buahnya itu.


"Kenapa mukamu ditekuk gitu, hm?" tanya Bulan yang sedang menyajikan sarapan pagi untuk mereka


"Anak buahku kurang becus, tapi lumayanlah di rumah wanita itu sudah dipasang kamera." ujar Guntur, langsung melahap sandwich buatan sang istri


"Setidaknya dia sudah berusaha, tidak gampang lho jadi penyusup." ucap Bulan


"Dari pada ketahuan, kan?" sambungnya

__ADS_1


"Hm." Guntur mengangguk paham


Setelah selesai sarapan tanpa banyak bicara, pria itu tergopoh-gopoh kembali ke kamar untuk memeriksa Cctv dan penyadap suara tersebut. ia memasuki ruang kerja yang sudah tidak pernah ia kunjungi lagi setelah dipecat oleh sang ayah. ia membuka laptop yang terhubung pada kamera tersembunyi dan juga alat penyadap suara.


Ia memperhatikan dengan lekat kekasih ayahnya bersama putri tunggal yang cukup cantik, tapi tidak mengalahkan kecantikan sang istri yang teramat ia sayangi.


"Mama nggak jadi nikah lusa esok." ucap perempuan parubaya tersebut sembari menikmati nasi goreng yang ia masak ala kadarnya


"Lah, kenapa?" sahut putrinya


"Anaknya belum setuju."


"Idih! sok banget anaknya. kurang apa coba mamaku ini." gerutu wanita berwajah judes itu


Tampak Tante Anna mengulum senyum. "Wajar kok anaknya belum setuju, ini kan kabar mendadak yang memang harus dipikirkan."


"Iya sih, Ma."


"Yasudah, Mama berangkat dulu ya." perempuan itu bangkit berdiri dan mengenakan tas selempang berukuran medium yang bergelayut dipundaknya


"Hmmm, masih kerja? bukannya calon Mama orang kaya, ya? ngapain kerja lagi." ketus putrinya


"Nggak boleh ngomong gitu. Mama berangkat dan kamu belajar yang benar."


"Hm."


Tante Anna melenggang pergi keluar dapur, menyisakan putri semata wayangnya yang masih dapat diperhatikan oleh Guntur dari seberang sana.


"Huh! uang gaji Mama mana cukup untuk kehidupan kita, untung aja aku punya sugar daddy." ia menyeringai

__ADS_1


🌺🌺🌺


__ADS_2