
πΊπΊπΊ
"Bulan!" suara bariton terdengar menggema dari lantai atas hingga ke indra pendengarannya. Bulan tersentak kaget dan langsung membalikkan badannya ke belakang. pandangannya mengarah ke lantai atas yang menampikkan sosok sang suami dengan tubuh kotak-kotak pada perutnya
"Ya?" Bulan mengikat rambutnya
"Tidak usah masak, ya ... kita makan malam diluar." ujarnya
"Hah??" Bulan terperangah, bola matanya membulat mendengar hal itu
"Apa kau budeg?" Guntur bersedekap, cepat-cepat wanita itu menggelengkan kepalanya
"Bersiap-siaplah." ucapnya, kemudian ia melangkah memasuki kamar.
Bulan masih terpaku mengikuti kepergian lelaki itu, ia begitu heran tumben-tumbenan sekali mengajaknya makan malam diluar. cukup lama ia berpikir, Bulan pun mengendikkan kedua bahunya.
"Aw ah! kapan lagi coba." gumamnya, Bulan kembali masuk kedalam kamarnya yang masih berpisah dengan Guntur walau keduanya sudah sah menjadi sepasang suami istri.
Beberapa menit kemudian, sepasang pengantin baru ini telah siap dengan segala persiapan tatanan penampilan yang telah terlihat membahana. Bulan yang cantik dengan dress kesukaannya, tatanan rambut ia biarkan tergerai menjuntai menyentuh punggungnya, sisi kanan kepalanya terdapat jepitan rambut yang berwarna senada dengan dress, sepatu pansus berwarna putih menghiasi kaki mulusnya. Guntur yang memerhatikan penampilan gadis dihadapannya sampai terpukau, terpesona, seolah aura kharisma dari diri sang istri langsung terpancar dikilatan matanya
"Cantik." puji Guntur mengulas senyum manis kepada Bulan
"Kenapa warna pakaian kita sama?" Gadis itu malah bingung, karena Guntur mengenakan kemeja biru muda, begitu pula dengan dirinya
"Karena kita memang berjodoh." bisiknya, langsung mengecup pipi Bulan dengan mesranya.
__ADS_1
"Ada-ada saja. ini kebetulan!" pukas wanita itu
"Kau memang suka menghindar dari kenyataan ya, pantasan saja waktu itu kabur dari rumah." ledek Guntur mengingat pertemuan pertamanya
Bulan merasa jengah, memutar bola matanya menatap lelaki itu. "Sekarang anda mau bawa saya kemana, Tuan Guntur?" Bulan mengingatkannya
"Ah iya, ayo berangkat. kau pasti suka!" Guntur menggenggam tangan mungil sang istri dan ingin membawanya ke sesuatu tempat
"Jangan bawa aku ke tempat yang mengerikan!"
"Bawel! kita cuma makan malam saja."
Bulan pun terdiam, terus melangkah mengikuti langkah kaki pria disampingnya ini. keduanya masuk ke dalam lift yang akan mengantarkannya langsung menuju basement di lantai dasar. Guntur membuka pintu bagian jok depan untuk sang istri, kemudian ia beralih mengitari mobil menuju jok kemudi. kendaraan roda empat itu pun melesat melewati kendaraan lainnya yang terparkir ditempat.
"Apa kita makan di Kafe atau Restoran?" tanya Bulan
"Yaiyalah."
"Penasaran aja atau penasaran banget?" godanya lagi, iseng sekali memang
"Banget! nget nget nget!" geram Bulan, entah punya keberanian dari mana sampai ia berani menjawab lelaki ini tanpa rasa gugup seperti dulu. jiwa keduanya benar-benar sudah tertukar. tapi akan kembali menciut jika mendengar kata ancaman.
"Bukan tempat romantis sih, tapi bisa menghibur kamu."
"Jangan bilang klub!" Bulan mengacungkan jari telunjuknya setelah meresapi kalimat itu
__ADS_1
Guntur sedikit mengernyitkan dahinya, sebelah sudut bibirnya sedikit tertarik ke atas. "Pikiranmu!" ia mengacak-acak rambut Bulan yang sudah tertata rapi, membuatnya mendesis kesal.
Tidak terasa selama diperjalanan yang diselingi dengan sedikit candaan, mobil yang mengangkut sepasang insan ini telah tiba di sebuah Gedung Hotel ternama yang ada di Ibukota. Bulan menatap heran, mengapa pria ini membawanya ke Hotel? apa setelah makan mereka akan melakukan malam pertama? membayangkannya saja ia bergidik ngeri
"Kenapa makan disini? mending makan di Apartement kalau ujung-ujungnya bakal tidur juga." gerutu Bulan.
Lelaki ini sungguh tidak ada romantisnya, entah kenapa ia sempat mengira akan diberi surprise dinner disebuah taman atau pantai seperti di novel-novel yang pernah ia baca. sungguh malu sekali, dirinya merasa malu dengan dirinya sendiri.
Sadarlah! mana mungkin pria gila ini membawamu ke tempat yang romantis. batinnya, sedikit sebal
"Diamlah! nanti kau tahu sendiri."
Bulan tidak menggubrisnya, tatapan matanya menangkap sesosok wanita yang sudah menanti diluar pintu Hotel berseragam waitres Restoran
"Selamat malam, Tuan."
"Malam." sahut Guntur
"Tempatnya sudah saya persiapkan, Tuan."
"Baiklah." Guntur dan Bulan mengikuti langkah kaki wanita ini yang akan membawanya entah kemana. Bulan merasa jika wanita tersebut akan membawa mereka ke Restoran hotel ini yang diperkirakan terletak di pertengahan lantai.
Mereka bertiga masuk ke dalam lift, Bulan memperhatikan jari wanita tersebut yang menekan tombol 20. ia tercengang, itu kan lantai paling tertinggi. Bulan menoleh menatap Guntur yang tersenyum kepadanya, seolah tahu apa yang dipikirkan Bulan.
Beberapa menit kemudian, mereka bertiga telah tiba di Rooftop Hotel ini yang telah disediakan untuk sepasang suami istri itu. Bulan tampak takjub, tempat teratas ini telah disulap semenarik rupa untuk pemesan khusus yang dilakukan oleh Guntur. kelap-kelip lampu tumbler, layar kaca khusus untuk karaoke, dan ada pula seorang violinis yang memainkan alat musik biola. semuanya telah disiapkan sebaik-baiknya.
__ADS_1
Bulan menatap sang suami, binar-binar kagum terlihat jelas dikilatan netranya. tidak menyangka bila pria kejam ini bisa bersikap romantis dengan caranya yang sederhana.
πΊπΊπΊ