Obsesi Majikan Psychopath

Obsesi Majikan Psychopath
Tidak Tahu Tempat!


__ADS_3

🌺🌺🌺


"Selamat siang Tuan, Nona." sapa beberapa pegawai yang berpapasan dengan mereka


"Siang." sahut Guntur dan Bulan


Sepasang insan ini pun menerobos masuk ke ruangan Papa Perkasa yang mungkin masih ada disana. namun ternyata tidak, Papa belum ada ditempat ruang kerjanya ini.


"Nggak ada Papa." ucap Bulan


"Yaudah kita disini saja, mungkin Papa masih makan siang." ujar Guntur, mendudukkan tubuhnya diatas sofa lalu berselonjor santai diatasnya.


"Sayang, kemarilah." pinta Guntur mendongak ke atas ingin melihat sang istri yang duduk di sofa tunggal.


"Apa? kan aku disini."


"Bangkitlah! sini dulu." titahnya, Bulan mendengus kasar, tak urung ia menurutinya.


"Apaan??" Bulan berkacah pinggang dihadapan sang suami


Guntur menyeringai didalam hati, ia raih tangan wanita itu lalu menariknya hingga tubuh mungil tersebut terjatuh tepat diatas tubuhnya. Bulan terhenyak, ia sangat terkejut dengan serangan mendadak itu. tanpa berlama-lama Guntur langsung menyambar bibir manis itu kedalam pagutannya.


"Eeeemh!" Bulan berusaha menarik dirinya kembali, namun sialnya lelaki ini malah menahan kepalanya dengan sekuat tenaga hingga ciuman mereka semakin dalam.


"Tenanglah! santai dan balas ciumanku." Guntur melepaskan pagutannya sejenak


"Tapi ini di Kantor."


"Hanya sebentar, Sayang." Guntur kembali menekan kepala Bulan, perpagutan bibir terus berlangsung begitu hangat dan buas. Bulan membalasnya, dan ini benar-benar lebih nikmat dari pada tadi.


"Sudah, ya?" Bulan melepaskan pagutan mereka setelah beberapa saat. Guntur tak lagi memaksanya

__ADS_1


"Baiklah. terima kasih, Sayang." Bulan hanya tersenyum kecut, ia bangkit lalu merapikan pakaian dan tatanan rambutnya yang berantakan oleh lelaki gila tersebut


"Kita telpon Assisten Cakrawala, ya?" tawar Guntur merujuk pada Assisten Stev


"Emang tahu nomor ponselnya?" tanya Bulan


"Nggak tau. tapi lewat telepon itu, nomor kontaknya bisa cari tahu lewat buku, kan?" Guntur mengingatkan, diangguki oleh wanita tersebut


"Kenapa nggak kesana aja sih? aku kangen tau sama Cakrawala Group." sungut Bulan


Guntur tercenung mendengarnya.


Kalau kamu kesana pasti pada heboh, Bul. aku tidak ingin kau mengetahui keadaan kakakmu. apalagi kalau kita berpapasan dengan Mamimu. batin Guntur


"Kapan-kapan, ya?"


Bulan mendengus kasar, ia membuang wajahnya ke arah lain merasa malas dengan lelaki ini. ah, ia ingat, dirinya kan seorang tawanan juga yang tidak bisa bebas kemana pun tanpa pengawasan suaminya. sekali dibilang tidak, ya tetap tidak. sontak ia pun ingat akan posisi sebenarnya, bukan hanya istri tapi juga tawanan.


Disisi lain, Assisten Stev baru saja kembali dengan Sekretarisnya dari kantin untuk menikmati makan siang yang hampir terlambat. dan pemandangan itu menjadi bual-bualan beberapa pasang mata yang melihat. Assisten dan Sekretaris itu tampak semakin dekat, bahkan sekedar makan siang saja keduanya terlihat berbarengan. ada sedikit keganjalan, dan pasti mereka semua merasakan satu pemikiran, yaitu mungkin saja mereka punya hubungan spesial


"Iya, kamu juga." sahut Sekretaris tersebut, pipinya merona merah merasakan sentuhan hangat pada lengannya. tatapan matanya mengantarkan kepergian Assisten Stev hingga tak terlihat lagi


Assisten Stev terkesiap mendengar deringan telepon yang terletak diatas meja kerjanya itu. entah sejak kapan berbunyi, dengan langkah cepat pemuda itu menghampiri meja kerjanya.


"Selamat siang, dari Assisten Stev Peru--


"Kok lama banget ngangkatnya, Stev?"


Assisten Stev mengerutkan dahinya. "Maaf, ini siapa?"


"Bulan. kamu tidak kenal suaraku?"

__ADS_1


"Oh, Nona ... maaf. Nona apa kabar? saya hubungi juga nggak bisa."


"Maaf, Stev. ponselku rusak jadi kita belum bisa berhubungan lewat ponsel. ah iya, bagaimana keadaan perusahaan?"


"Sudah membaik, Non. Nyonya Vega juga sudah mulai serius menata perusahaan." ujarnya, kemudian Stev mengernyitkan dahi tatkala sedikit mendengar kegaduhan diseberang sana. dan bersamaan dengan itu suara Bulan muncul untuk menyadarkannya


"Serius kamu??"


"Serius, Nona. perusahaan semakin berkembang atas kerja keras Nyonya Vega."


"Ah, syukurlah. terima kasih ya, Stev."


"Sama-sama, Non. oh iya, ada kabar bu--


Tit tit tit tit


Saluran panggilan telepon pun telah diputuskan secara sepihak. padahal dirinya belum selesai berbicara untuk mengatakan kabar buruk perihal Nona Mentari. ia pun mengendikkan bahunya, mungkin belum saatnya memberitahu hal itu. Assisten Stev kembali menaruh gagang telepon pada tempatnya.


Bulan mendengus kesal tatkala Guntur langsung mematikan panggilan yang belum usai itu. padahal ia sempat mendengar bila pria diseberang sana masih mengoceh. Guntur cekikikan melihat raut wajah sang istri, ia yang memeluk Bulan dari belakang langsung menenggelamkan wajahnya diceruk leher mulus itu. Bulan mendesah, geli ini sungguh menyenangkan. namun akal sehatnya kembali menyadarkan bila ini bukanlah tempat yang tepat untuk bermesraan


"Gun, lepas!"


"Enggak mau." lirihnya, kedua tangan lelaki tersebut menyelinap lewat ketiak Bulan lalu meremat-remat payudara wanita itu dengan penuh hasrat. Bulan mengerang sekaligus mendesah, lelaki ini begitu tidak tahu malunya membuatnya melayang ditempat yang salah.


"Oh, Guntur ..."


"Kirimkan berkas-berkasnya pada saya, ya?" itu suara milik Tuan Perkasa yang sebelah tangannya mendorong pintu. sedangkan wajahnya menatap Assisten yang turut pergi ke ruangannya. saat ia ingin melangkahkan kaki memasuki ruang kerjanya, Tuan Perkasa terpaku menatap sepasang sejoli tengah bermesraan didepan kursi kebesarannya.


Ya ampun! bahkan mereka tidak tahu kedatanganku. batinnya


"Ehem!!"

__ADS_1


🌺🌺🌺


Ampun dah! sembarang tempat banget 🀦


__ADS_2