
πΊπΊπΊ
Guntur menarik mundur salah satu kursi untuk sang istri tersayang, dengan senang hati Bulan membenamkan bokongnya diatas sana seraya mengulum senyum. kemudian Guntur beralih membenamkan tubuh di kursi miliknya berseberangan dengan sang istri. Pemain biola atau disebut Violinis itu pun memainkan alat musiknya dengan begitu syahdu.
"Selamat makan." ucap Guntur, menyentuh pisau dan garpu untuk memulai santapannya
"Terima kasih, ya ... aku suka sama suasananya." sahut Bulan, pandangannya masih menatap ke sekeliling
"Ya, tapi kamu harus bayar ini berkali-kali lipat."
Bulan tercengang. "Hah?"
Pria itu malah tersenyum-senyum. "Seperti biasa." Ia mengerlingkan sebelah matanya. membuat Bulan memutar bola matanya, sudah jelas ia tahu apa yang dimaksud suaminya itu
Sepasang suami istri ini pun memulai santapannya dengan tenang, tidak ada obrolan yang mampu mengganggu acara makannya. Guntur mengulurkan sepotong steak ke arah Bulan, wanita itu mengangkat bola matanya seraya menatap heran.
"Aaak!"
Bulan membuka mulutnya, sepotong steak pun lolos memasuki mulutnya. sedikit senyuman kecut ia lemparkan kepada Guntur yang berhasil membuatnya heran kenapa pria ini melakukan hal romantis kepadanya.
Steak telah ludes tanpa sisa di piring lebar dihadapan mereka, tersisa ada beberapa makanan lagi yang tak kalah menggiurkan. ada dimsum, spagethy, dan masih ada beberapa lagi. melihatnya saja membuat Bulan menelan salivanya dengan kasar.
"Kamu sengaja ingin membuat tubuhku menggemuk, ya." racaunya
Guntur tersenyum simpul. "Supaya kamu kuat sama malam pertama kita."
"Is!" ia berdecak, selalu membahas hal itu
"Malam pertama kita tidak berkesan." seloroh Bulan, mengunyah spagethy yang telah berhasil masuk ke dalam mulutnya
__ADS_1
"Kenapa?" sahut Guntur
"Karna kita sudah melakukannya duluan." ucapnya
Guntur mengangguk paham. "Kamu salah. malam ini akan berkesan karna aku sudah mempersiapkan banyak gaya untuk kita lakukan."
"Ck! memalukan! gaya gimana lagi? sudah banyak kita coba."
"Itu baru empat gaya. sekarang ini ada lebih sepuluh gaya." Guntur tersenyum miring, tidak sabar akan melakukannya. ia sudah mencari referensi di banyak media untuk mengetahui gaya apa saja untuk bercinta
"Kau gila!"
"Lah--aku kan emang gila." Guntur menjulurkan lidahnya, mengejek wanita dihadapannya ini.
"Gilamu sudah parah! besok kita mulai therapy. kebetulan obat terakhirmu malam ini." Bulan menunjuk tas selempang yang ia kenakan, terdapat beberapa obat milik Guntur didalam sana.
"Kau ini benar-benar nggak sayang sama diri sendiri!" decak Bulan
"Wah, berarti kamu yang sayang sama aku, kan? sampai seperhatian itu." ledeknya, entah kapan suapan selanjutnya akan masuk ke dalam mulut mereka. terlalu sering dianggurin makanan menggiurkan itu mending kasih ke mimin dan netijen saja. auto tepok jidat!
"Hello!! jangan pede amat lu! gue kan pelayan, yang sudah seharusnya ngurus lo." gerutu Bulan, ia sungguh merasa jengah, Bulan lebih memilih kembali fokus sama acara makan malamnya sembari mendengarkan musik yang dimainkan Violinis. lebih menentramkan dan terdengar syahdu, dari pada mendengar ocehan Guntur tanpa henti
"Pelayanku istriku, ah, cocok untuk judul novel." gumam Guntur terkekeh
Bulan membersihkan area mulutnya dengan kain yang telah dipersiapkan, pandangannya menatap ke meja bundar itu tatkala sudah banyak makanan yang telah mereka santap. sendawa pun berbunyi dengan tidak tahu malunya, tak luput hal itu menjadi sorotan mata pria dihadapannya. Bulan terkekeh, merasa malu sendiri.
"Kamu suka bernyanyi? gimana kalau kita duet? disini itu untuk kita melepaskan semua beban yang ada dihati kita. seperti yang pernah kamu katakan, kalau permasalahan yang aku hadapi jangan disimpan sendirian. aku ingin kita bersenang-senang diatas sini." Guntur berucap dalam mode serius, menggenggam kedua tangan sang istri
Bulan mengangguk mengiyakan. "Boleh. aku juga ingin berteriak, meluapkan segala cobaan yang sudah ku hadapi."
__ADS_1
"Hah, ternyata nasib kita sama, kita memang benar-benar berjodoh." Guntur tergelak
"Apakah aku harus senang atau sedih?" seru Bulan, menampikkan deretan giginya yang bersih
"Tanyakan pada hatimu, kalau mencintaiku berarti hatimu senang."
Guntur menyuruh pemain biola itu untuk pergi dari sisi mereka, ini adalah moment untuk berdua saja tanpa adanya orang lain. pria itu meraih remote, mulai menyetel lagu yang telah mereka putuskan. sepasang suami istri ini menyanyikan lagu rock, sepertinya dengan berteriak mampu menentramkan hati keduanya. Guntur sangat bakat sekali menyanyikan lagu rock, sedangkan Bulan, tenggorokannya terasa ingin keluar karena memekik. terkadang wanita itu terbatuk-batuk dengan suara tinggi.
"Ahahahaha! cemen kamu, Sayang." Guntur menepuk-nepuk punggung sang istri
"Sudah ah, mending lagu yang lain aja." Bulan menyambar remote, mencari lagu yang lebih romantis sepertinya.
"Ini deh." wanita itu tersenyum lebar
"Indah cintaku?"
Bulan mengangguk, ia ingin musik yang selow dan pembawaannya lebih mengena ke hati.
"Yasudah, apapun itu terserahmu." Guntur langsung mengecup bibir manis sang istri, lalu melepaskannya kembali. sungguh, membuat Bulan bersemu merah.
Beberapa jam keduanya menghabiskan waktu di Rooftop Hotel, dinner, berkaraoke, menatap hingar bingar suasana dibawah sana dan bahkan menikmati semilir angin yang menerpa keduanya. sempat-sempatnya Guntur menyelipkan kedua tangannya diantara ketiak milik Bulan yang kebetulan tangan itu terentang. kecupan hangat ditengkuk leher Bulan membuatnya berdesah geli hingga dengan gampangnya tongkat keriput menegang dari dalam sangkarnya.
Guntur menggendong sang istri dan melangkah dengan cepat menuju kamar keduanya. hamparan kelopak mawar merah telah memenuhi ranjang dengan suasananya remang-remang dan cahaya lilin yang cukup menerangi. Guntur menghempaskan tubuh Bulan diatas ranjang, dengan tidak sabarnya ia langsung menanggalkan celana dal*m wanita tersebut.
Tanpa aba-aba ia bersiap memasukkan tongkatnya kedalam sana. tapi niatnya terurungkan tatkala melihat sesuatu berwarna merah menempel dimilik Bulan yang mulus itu.
"Kenapa diam?"
πΊπΊπΊ
__ADS_1