
πΊπΊπΊ
Pesta semakin riuh setelah Papa Perkasa mengakhiri percakapannya lewat mikrofon yang menyatakan kehebatan menantunya dan juga mengalihkan jabatan CEO kepada putra semata wayangnya, Guntur Anderson. tak lupa memperkenalkan cucu pertamanya, Galaksi sang pewaris kedua, kepada seluruh tamu yang hadir agar mereka tahu jika Galaksi adalah anggota baru dari keluarga Perkasa.
Semua orang bertepuk tangan kala itu, raut bahagia jelas terpancar dari wajah mereka, dimana--mereka begitu bersyukur melihat Tuan Perkasa bisa memiliki menantu sehebat itu dan kesabaran mereka dalam melewati rintangan hidup yang dilukis sendiri oleh Guntur. dan kini--segalanya telah berakhir, sisalah kebahagiaan berkali-kali lipat mereka dapatkan dan berharap akan berlangsung selamanya.
Di lantai yang luas, semua orang tampak menepi demi menonton sebuah pertunjukan, dimana banyak beberapa orang sedang melakukan dansa bersama pasangannya. termasuk Rembulan dan Guntur, ikut meramaikan suasana di lantai dansa dengan diiringi musik syahdu yang cocok untuk dimainkan.
"Aku mencintaimu." lirih Guntur berbisik, menyeimbangkan langkah kaki mereka mendayu-dayu ke kanan-kiri, maju dan mundur, sedang kedua kepalan tangan mereka tengah menyatu di udara
"Apa??" Bulan tak mendengarnya
"Aku mencintaimu, Bulan."
"Apa nih?" ulang Bulan
"Aku mencintaimu."
"Is, suara kamu kekecilan, gedein ih!" gerutunya
Guntur mendengus pelan, pandangannya memerhatikan langkah mereka yang benar, jangan sampai karena hal ini konsentrasi keduanya buyar oleh ketulian wanita ini.
"Masa kamu nggak dengar? padahal ini musik dansa, lho."
"Iya, nggak dengar. aku sampai lupa ngorek tai telinga, jadinya tersumbat deh. emang apaan yang kamu bilang?"
Guntur memutar bola matanya, ia yakin ini pasti akal-akalan istrinya saja.
"Aku membencimu." tekan Guntur
"Apa!" dan Bulan menghentikan sejenak gerakan mereka
__ADS_1
"Nah, itu dengar, padahal suaraku seimbang." Guntur tergelak dalam hati
"Hmmm," bagaikan mati kutu, Bulan tak bisa berkutik, ia pun kembali melanjutkan gerakannya. "Kamu nggak peka banget sih, Yang, padahal aku pengen semua orang tau kalau kamu men--
"AKU MENCINTAI KAMU, REMBULAN!!"
Sontak saja Bulan membulatkan bola matanya, melotot menatap pria dihadapannya ini. sekilas ia melirik ke sekitar, banyak pasangan menghentikan gerakannya demi memerhatikan mereka berdua. juga para penonton yang seketika terdiam dari sedikit obrolan. Bulan menundukkan kepalanya, ia merasa malu telah menjadi sorotan publik. sedangkan Guntur malah tersenyum kepada semua orang.
"Kau gila! semua orang jadi lihat kita."
"Bukannya itu yang kamu mau?"
"Tapi nggak teriak juga sih!"
"Hhh ... serba salah, dasar wanita!"
"Lanjutkan, lanjutkan dansanya!" ucap Guntur kepada semua orang, kemudian Guntur beralih kepada sang istri yang masih tertunduk malu. "Bangkitlah, kita mulai lagi."
Bulan mendongak lalu menatap sekitar, hatinya merasa lega karena semua orang tidak lagi memperhatikannya. mereka pun memulai lagi dansa yang sempat terhenti oleh ulah keduanya dan ini terasa konyol sekali.
"Nggak ada."
"Kok nggak ada, hah?"
"Ya, nggak ada, mau bagaimana lagi." cebik Bulan
"Is, curang!" dengusnya
"Ayo kita pergi, kita menyelinap dari orang-orang." ajak Bulan dengan sejuta rencana didalam pikirannya
"Kemana?"
__ADS_1
"Udah, ayo buruan!" dan sepasang sejoli ini berusaha pergi meninggalkan keramaian dengan cara menyelinap menuju pintu keluar sisi lain. berharap tidak ada yang tahu akan ketidak beradaan mereka.
Bulan akhirnya bisa bernafas dengan lega setelah keluar dari acara pesta yang berlangsung cukup lama itu. melihat ke sekeliling yang tampak sepi, hanya sesekali melihat pekerja yang membawakan makanan ke dalam Ballroom ini.
Bulan ingat mereka berpijak di Hotel yang memiliki beberapa lantai, sontak saja ia langsung menyeret sang suami ke sisi lain menuju lift. sepertinya Rembulan akan membawa suaminya entah kemana itu.
"Kita mau kemana sih, Yang? nanti Papa cariin gimana?"
"Ssstt! jangan jadi anak Papa deh, udah jadi Papa juga kamu tuh." gerutu Bulan, Guntur memutar bola matanya dan ia lebih memilih diam mengikuti langkah sang istri
Keduanya masuk ke dalam lift, tombol angka di panel tak luput dari perhatian Guntur, ia tertegun melihat Bulan menekan tombol dua puluh dan itu lantai tertinggi di Gedung tinggi ini.
"Kamu yang benar saja kita pergi ke lantai tertinggi?"
"Iya, aku ingin menikmati udara di rooftop, semoga saja pintu keluar tidak dikunci." ujarnya
Dan disinilah mereka, lantai dua puluh yang terlihat sepi tak berpenghuni. Bulan dan Guntur mencari pintu keluar menuju rooftop yang berada entah di mana. mereka menelusurinya hingga dapat menemuinya di ujung lorong. ternyata tidak sulit, Rembulan bersorak ria kala pintu besi bisa ia buka dari dalam.
Semilir angin begitu kencang dari atas sini langsung menyambut mereka dengan terpaannya. rambut Bulan yang tertata rapi seketika mengayun-ayun tertiup angin. Bulan kembali menarik tangan suaminya, mengajaknya ke pembatasan untuk melihat hiruk pikuk Kota yang begitu ramai dengan banyaknya kendaraan menyala dibawah sana, kendaraan itu sudah seperti semut dalam pandangannya saking tingginya tempat ia berpijak.
"Kamu tau, aku kemari ingin membalas sesuatu." ucap Bulan, memegang kedua tangan suaminya dalam posisi mereka yang berhadapan
Guntur terkesiap memandang wajah cantik ini. "Balasan apa?"
"Kalau aku--juga mencintaimu!" teriak Rembulan dengan sekencang-kencangnya, kemudian ia tertawa setelah semuanya lepas
Guntur menatapnya tak percaya, ia terkesima melihat antusiasnya wanita ini.
"Kamu tau, aku yakin kalau kamu mau balas dendam supaya aku membalas cintamu dengan cara berteriak. yasudah aku bawa kesini deh, nggak ada yang dengar, kan?" ia terkekeh
Guntur geram melihatnya. "Pandainya kau!" ia mencubit ujung hidung istrinya
__ADS_1
πΊπΊπΊ
...Hadiah dan Vote dong π biar aku semangat! tak lupa like dan koment nya π...