
πΊπΊπΊ
"Aku mencintaimu, Guntur." lirih Bulan, menatapnya dengan penuh cinta, kedua tangannya mengatup pipi sang suami hingga jarak keduanya sangat dekat saat ini. beruntung saja hanya ada mereka berdua di ruang rawat tersebut, membiarkan percakapan penting sedang berlangsung diantara sepasang anak manusia yang tengah diuji sang Kuasa.
"Kamu juga?" lirih Guntur, melakukan hal yang sama dengan Bulan. gadis itu mengangguk, dan seketika itu wajah chubby wanita ini ia tarik hingga tak meninggalkan jarak antara mereka. keduanya saling memagut dalam-dalam, menyesap satu sama lain menikmati sensasi indah didalam ciumannya. saat-saat seperti inilah yang akan mereka rindukan, saling menyentuh, saling memberikan cinta dan perhatian, dan saling memberikan kehangatan yang akan keduanya impikan dimasa depan kelak.
Guntur membuka kelopak matanya ketika merasakan sesuatu yang begitu asin menyentuh bibirnya, ia sesap dan mendapati rasa yang berbeda. Guntur memerhatikan Bulan dengan lekat didalam pagutannya, setetes air bening jatuh berseluncur dipipinya hingga kembali mengenai indra perasanya.
"Kamu nangis?" Guntur menyudahkan perpagutan itu, kedua ibu jarinya terulur ingin menghapus air mata berharga yang menetes beberapa kali ini
"Hmmm .... aku bakal kangen kamu, Gun." Bulan tak bisa lagi membendung air matanya, seketika menyembur deras keluar dari pelupuk sepasang netra. Bulan memeluk, tubuhnya berguncang dan tampak bergetar seiring suara sesenggukan terdengar dari pundak belakangnya.
Guntur menatap sendu ke arah pintu masuk dengan pandangan kosong, tangannya mengelus-elus punggung Bulan untuk menenangkannya. ia tahu ini sulit, keduanya benar-benar diuji oleh buatan tangannya sendiri. menyesal memang datang diakhir, tak ayal rasa lega juga sudah memenuhi setengah hatinya membalas mereka. andai waktu bisa berputar, mungkin ia akan menuruti Bulan untuk menghentikan aksi yang hampir dua tahun ini ia lakoni.
"Bersabarlah ... aku pasti akan bebas." ucap Guntur, ia berusaha untuk tegar demi istrinya
"Lama, dan aku nggak sabar. apalagi ada dedek disini." Bulan menyentuh perutnya
Guntur mengernyitkan dahinya, ia bingung dengan perkataan barusan. pria itu melepaskan pelukan mereka dan menatap lekat wajah Bulan yang terlihat sembab. "Maksudnya?"
__ADS_1
"Disini," Bulan mengambil satu tangan sang suami, menaruhnya dipermukaan perut yang masih datar. "Ada bayi kita, anak kita." Bulan mengulum senyum manisnya
"Ba-ba-bayi??" Guntur terlonjak kaget, sudut bibirnya sedikit mengembang mendengar kabar itu
"Iya, anak kita sudah tumbuh disini."
"Oh ya ampun!" Guntur membungkukkan tubuhnya ingin mencium permukaan perut sang istri yang terlihat menggemaskan. benihnya sudah tumbuh menjadi bayi, makhluk yang ia idamkan selama ini telah tercapai. puas mengecup perut Bulan, ia kembali bangkit menangkup kedua pipi sang istri.
Cup!
"Berjanjilah untuk mempertahankan bayi kita, dan bersabar menanti aku, Bul."
Guntur terharu, matanya berkaca-kaca, ada secercah cahaya menyemangati kehidupannya dibalik jeruji nanti. memiliki istri yang mencintainya, ditambah pula ada sang jabang bayi telah tumbuh didalam sana. namun sayang, mereka akan berpisah dalam kurun waktu yang cukup lama.
"Aaakh! aku benar-benar menyesal tidak menurut denganmu. sekarang, aku tidak bisa menemani masa-masa kehamilan mu dan bahkan mungkin tidak bisa menikmati pertumbuhan anak kita kelak." Guntur tertunduk lesu, rasa bersalah terus saja menyeruak didalam hatinya
"Kami akan kemari setiap hari melihat daddy." ucap Bulan
***
__ADS_1
Bulan, Bintang, dan kedua mertuanya melangkah keluar melewati lobi kantor polisi setelah mengantarkan Guntur untuk kembali ditahan di jeruji besi yang mengurungnya. awalnya Bulan enggan untuk pergi, ia sangat ingin berada disamping suaminya dalam bentuk keadaan apapun. bahkan ia rela tidur dilantai nan dingin dibalik jerusi asalkan bersama sang suami. namun sayang sekali, itu hanyalah angan-angannya saja dan pasti pihak berwajib melarang orang lain terlalu lama merujuk tahanan.
Sedangkan Bintang akhirnya mengijinkan sang kakak untuk tinggal bersama Papa Perkasa, setelah beberapa kali ia merengek bahkan menangis kepada pemuda tersebut demi membujuknya. sungguh, Bintang sangat marah kepada kakak iparnya yang sudah berbuat suatu kejahatan pada Mentari dan masih men-cap pria itu sebagai pria terkejam. sulit untuk menerimanya kembali sebagai kakak ipar, apa lagi membayangkan Bulan hidup bersamanya.
Percayalah, mereka keluarga yang sangat baik dan peduli kepadaku, begitu pula Guntur.
Kalimat itu terlalu sering diutarakan Bulan saat meminta izin kepadanya. hingga suara riuh diluar sana membuyarkan lamunan pria muda tersebut.
"Pa, ada apa ramai-ramai?" Bulan mencengkram lengan Mama Anna yang masih setia menemaninya, dari kejauhan ia melihat puluhan orang dengan kamera ditangannya tengah memanggil nama Tuan Perkasa dan Nyonya Vega, selaku CEO di Perusahaan masing-masing
"Para wartawan, mereka ingin meliput kita." jawabnya, menatap para pemburu berita itu diluar gerbang
"Gimana ini?" Bulan panik
"Kakak disini saja, emang nggak kangen sama Kak Mentari? disini lebih aman, di Rumah Sakit itu." Bintang mrnunjuk Rumah Sakit yang bersebelahan dengan Kantor Polisi
Bulan terdiam.
πΊπΊπΊ
__ADS_1