
πΊπΊπΊ
"Tuan memberikan kunci mobil milik Tuan Guntur beserta ponselnya kepada Nona, Nona berhak menggunakannya." ucap Bibi, menaruh kedua benda tersebut ditelapak tangan sang majikan mudanya
Bulan tertegun sebentar, kemudian ia tersenyum menatap wajah Bibi.
"Terima kasih, Bi." ucapnya, wanita berbadan dua itu langsung pergi meninggalkan rumah mewah tersebut. cepat-cepat ia mengambil mobil Guntur diarea tempat parkir mobil. Bulan yang pandai mengendarainya, tidak perlu membutuhkan supir untuk mengantarkan wanita itu. mobil melaju dengan cukup kencang, membelah jalanan aspal yang cukup sepi diarea perumahan yang ditempati sang mertua
Bulan melangkahkan kakinya dengan cepat, setengah berlari demi menemui keluarga barunya, khususnya Papa Perkasa yang sedang membutuhkan perawatan ekstra. derap langkah kakinya yang terburu-buru terdengar menggema di penjuru lorong rumah sakit tersebut, hingga mengalihkan perhatian Mama Anna dan juga Clara yang sedang menunggu didepan ruang UGD.
"Mama." Bulan langsung menghambur kepelukan Mama mertuanya, dengan nafas terengah-engah ia coba untuk menetralisirkannya.
"Kamu kesini?"
"Aku dengar Papa masuk rumah sakit, apa yang terjadi dengan Papa, Ma?"
"Papa terkena serangan jantung, sepertinya dia shock setelah melihat tablet ditangannya."
Bulan terperanjat, sontak ia langsung menghempaskan tubuhnya dengan kasar diatas jejeran kursi. Mama Anna menyusul, mengelus-elus punggung menantunya untuk sekedar ingin menenangkan gadis malang ini.
"Ingat janin kamu, jangan kecapekan, Bulan. Papa pasti baik-baik saja kok."
Bulan baru ingat jika ia mengandung makhluk bernyawa didalam rahimnya, hasil buah cintanya bersama sang suami walau awalnya dalam keadaan yang dipaksa. Bulan menunduk menatap perutnya, menyentuh perut datar itu sembari terkekeh kecil. ia tersenyum miris seiring air mata kembali jatuh, teringat bila sedari membuka mata hingga kini dirinya sibuk kesana kemari tanpa mengenal lelah sedikit pun. apalagi dengan diselimuti oleh emosi yang penuh amarah menghadap Maminya. bahkan ia bolak balik tanpa mengenal janinnya tengah membutuhkan asupan dipagi ini.
Ceklek
Pintu ruang UGD terbuka dari dalam, mengalihkan perhatian Bulan kepada pahatan pintu yang terbuka. sontak mereka bertiga langsung berdiri, mencerca banyak pertanyaan untuk Dokter yang menangani Papa Perkasa.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?"
"Apa yang terjadi dengan Papa, Dok?"
"Alhamdulillah, keadaan berangsur membaik dan bersyukur saja pasien dibawa tepat waktu. pasien sepertinya stress berat dan shock hingga aliran darah pada jantung menjadi tersumbat. kami sudah menanganinya dengan baik dan kini kondisi jantung dan kesehatan lainnya tetap diperiksa melalui monitor."
"Alhamdulillah, terima kasih, Dokter."
"Sama-sama, pasien akan dipindahkan dulu ke ruang rawat, ya, Nyonya."
Bulan, Mama Anna dan Clara mengangguk secara bersamaan. hingga perhatian mereka teralihkan kepada Sopir pribadi Papa Perkasa yang baru saja datang membawakan dua botol air mineral untuk majikannya.
"Ini, Nyonya."
"Terima kasih, Pak. Bulan, ini untuk kamu, pasti haus kan?"
"Kamu sudah sarapan?" tanya Mama Anna
Bulan menggeleng sembari terkekeh,
"Saya belikan, ya, Non ... Nona mau sarapan apa?" tawar Pak Sopir
"Hmmm, nasi goreng, boleh deh, Pak. kalau nggak ada, yang lain aja."
"Aku juga ya, Pak." sela Clara, diangguki oleh Pak Sopir
Melihat ranjang brankar Papa Perkasa diseret, Bulan dan yang lainnya pun mengikuti langkah petugas yang membawa Papa Perkasa. tibalah mereka di ruang rawat inap VIP yang biasanya ditempati Papa Perkasa kala penyakit ini kembali menyerangnya.
__ADS_1
Bulan menatap sendu sang Ayah mertua yang terbaring ditempat ini, sebuah alat infus tertancap dipunggung tangannya, dan kini Papa terlelap begitu nyenyak nya. Bulan menggenggam tangan sang mertua, mengelus punggung tangannya seolah ingin memberikan semangat untuk pria tersebut.
"Papa yang kuat, ya, Bulan janji akan berusaha mencari saksi pembullyan Guntur. Bulan yakin Guntur bisa bebas setelah pengadilan mengetahui siapa penjahat sesungguhnya. dan lagi pula, Guntur masih sakit dan masih ditangani Dokternya, Bulan yakin kalau Guntur tidak akan berlama-lama ditempat itu."
"Papa jangan stress, kita bisa lalui bersama-sama kok."
Mama Anna dan Clara yang mendengarkan kalimat pilu dari mulut Bulan, seketika keduanya terhanyut oleh suasana yang tengah dihadapi oleh mereka. ujian yang Tuhan berikan seolah menuntun mereka semua untuk menjadi pribadi yang lebih kuat lagi, menghadapi masalah dengan kepala dingin sampai semuanya tuntas dan terbereskan.
Mama Anna kagum melihat ketulusan wanita ini, begitu mencintai anak tirinya dan juga suaminya. sungguh, kedua lelaki tersebut pasti bahagia memiliki sosok seperti Bulan.
Tok tok tok
Ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka semuanya, Clara melangkah untuk membukakan pintu. terlihat seorang pria tampan datang dengan nafas yang terengah-engah setelah mengetahui kabar buruk ini dari kediaman Perkasa
"Gimana keadaan Tuan?" tanyanya pada Clara
"Baik kata Dokter, silakan masuk." ia membuka pintu lebar-lebar
Assisten Dika melenggang masuk ke dalam ruangan tersebut, tampak Bulan dan Mama Anna masih setia berdiri disamping Papa Perkasa
"Apa yang terjadi, Tuan Dika? kenapa Papa tiba-tiba terjatuh sakit? kata Mama karena melihat tablet sebelumnya." Bulan langsung menginstrupsinya
Assisten Dika menarik nafas dalam-dalam, kemudian ia hembuskan dengan kasar. "Seharusnya saya tidak mengirim informasi ini tadi, ah ya ampun, maaf, Nona." ia merasa bersalah
"Jangan bertele-tele! katakan ada apa?"
πΊπΊπΊ
__ADS_1