
πΊπΊπΊ
"Dan pertanyaan kedua saya akan menjawab, karena suami saya, Tuan Guntur, dan mertua saya, Tuan Perkasa, adalah orang-orang baik yang begitu tulus mencintai saya dengan sepenuh hatinya. jadi masalah anjloknya saham, sangat tidak adil untuk Tuan Perkasa. dan saya disini akan memperjuangkan kepentingan kerja sama antar kedua belah pihak."
Bulan menjeda kalimatnya sejenak, ia meminta beberapa berkas penting kepada Assisten Dika. pria itu dengan gesit memberikannya kepada Bulan.
"Perusahaan ini bergerak di bidang property, bukan? setiap harinya fluktuasi didalam bidang mengalami penaikan hingga hari kemarin. tidak ada penurunan, yang menyebabkan perusahaan turun karena suntikan saham diambil kembali. saya tidak memaksa Tuan dan Nyonya untuk mempertahankan sahamnya di Perusahaan ini, namun alangkah baiknya jika kita melihat perubahan hingga minggu ke depan."
"Ada yang ingin menyampaikan sesuatu?" tanya Bulan kepada mereka
"Saya pribadi salut dengan usaha anda, Nona. anda tidak memandang sebelah mata atas apa yang terjadi dan masih membela suami anda hingga perusahaan ini. jadi, ada baiknya juga jika kita melihat perubahan hingga minggu ke depan. walaupun begitu, saya tetap mempertahankan saham pada perusahaan ini."
"Terima kasih, Tuan."
"Begitu pula saya yang akan tetap mempertahankan saham di perusahaan ini, bagaimana dengan yang lainnya?" tanya salah seorang investor
Mereka tampak menimbang-nimbang keputusan, apalagi bagi yang sudah mencabut sahamnya apakah mereka harus berpikir ulang? cukup lama mempertimbangkan antara kurva fluktuasi dan cerita sebenarnya tentang yang dialami Guntur, mungkin tidak ada salahnya untuk mencoba sekali lagi.
"Baiklah, saya akan menanam kembali saham kepada perusahaan ini. mari kita coba!"
__ADS_1
"Setuju!" teriak semua orang kecuali Mami Vega yang tampak diam sembari berpikir
"Nyonya Vega, bagaimana?" tanya seseorang disampingnya
Bulan masih menatap lekat ibunya, ia yakin wanita itu pasti tidak setuju. Bulan tersenyum miring, sifat ibunya benar-benar belum berubah. namun disisi lain ia juga memaklumi jika Mami Vega belum setuju atas penanaman saham di perusahaan ini.
Tapi ternyata--Mami Vega berkata lain.
"Saya setuju, bisnis tetaplah bisnis, tidak terpengaruh apapun akan kondisi putri saya. walaupun sang pewaris bersikap seperti itu, tapi pemilik perusahaan ini sudah sangat baik dalam memumpuni bisnis yang dikelolanya. saya tetap mempertahankan saham, semoga ini menjadi awal baik untuk kita." ujar Nyonya Vega panjang lebar
Prok prok prok!
"Berjiwa besar sekali anda, Nyonya." puji salah satu dari mereka, Nyonya Vega hanya mengulum senyum. sedangkan Bulan tersenyum miris, wanita itu pasti terpaksa demi percitraannya yang ingin dipandang baik.
"Mami tidak usah sok baik, Mami ingin mempertahankan hanya karena ingin dipandang baik oleh mereka, kan? tidak perlu, Mami cabut saja saham Mami." seloroh Bulan disela langkahnya
"Mami sadar Mami salah sama kamu, mereka sangat baik sama kamu, mencintai kamu sepenuh hati, tidak seperti Mami. Mami melakukan ini karena Tuan Perkasa sangat baik sudah mencintai kamu, maafkan Mami yang memperlakukan kamu dengan buruk dan membuat Mentari menjadi wanita angkuh sampai merendahkan suamimu di masa lalu. bisnis tetaplah bisnis, Mami tidak mencampurinya dengan urusan kehidupan kita."
"Sama sekali Mami tidak ada berpikir untuk dipandang baik oleh mereka, percitraan atau apapun itu. Mami tulus ingin membantu Tuan Perkasa yang sedang mengalami keterpurukan."
__ADS_1
"Bulan, bisa kamu maafkan Mami?" perempuan itu tampak berkaca-kaca memandang putrinya, kini keduanya berada didalam lift hanya berdua saja. sedangkan Assisten Dika tengah mengurus pekerjaan yang sempat ia tinggal.
"Ck! Mami seperti ini karena takut putri kesayanganmu kami tuntut balik."
Ting!
Pintu lift terbuka, Bulan kembali melangkah dengan cepat mendahului ibunya.
"Bulan, tunggu! Mami tidak berpikir seperti itu."
"Ohya?? Mami buktikan saja!" teriak Bulan sedikit menoleh ke belakang, kemudian ia berlari kecil ingin menghindar dari wanita tersebut.
Bulan melangkah cepat dengan mata yang mulai berkaca-kaca, pandangannya sedikit kabur, cepat-cepat ia seka sebelum air bening tersebut jatuh menyentuh pelupuk matanya. Bulan tak habis pikir, menurutnya Mami hanya takut jika pihak Guntur akan menuntut balik putri kesayangannya yang lebih berbuat hina dimasa lalu. dan lagi--wanita itu pasti mencari simpati dari para investor lainnya.
Entahlah, mengapa bisa Bulan berpikir suudzon seperti ini. rasanya sulit menerima jika memang benar Mami minta maaf padanya dan turut bersimpati kepada pihak Guntur. Bulan belum bisa mempercayainya, mungkin alangkah baiknya jika Mami bisa membuktikan niat baik tanpa embel-embel percitraan atau perhatian banyak khalayak
Bulan masuk ke dalam mobil milik Guntur, mobil yang diserahkan kepadanya hingga sang pemilik bisa menggunakannya kembali. wanita itu menatap jam dipergelangan tangan, telah menunjukkan pukul setengah dua belas siang. sontak saja ia teringat akan suaminya, apakah pria itu diberi makanan tepat waktu? mengingat pagi tadi entah apa yang mereka lakukan sebelum sarapan pagi.
Bulan menginjak pedal gas mobil setelah mesinnya ia nyalakan. melenggang laju membelah jalanan ibukota kala terik matahari semakin menyengat.
__ADS_1
"Tiba-tiba aku ingin makan nasi padang, Mas Guntur pasti juga ingin."
πΊπΊπΊ