
πΊπΊπΊ
Apa aku salah, ya? pasti mereka cuma berteman doang. nggak mungkin Guntur macam-macam dibelakang ku. batinnya terus saja bermonolog
Bulan kembali merogoh ponselnya didalam tas, terpelongo menatap puluhan angka panggilan tak terjawab dari sang suami, ada pula hampir seratusan pesan yang masuk darinya
"Aish! aku benar-benar keterlaluan." gumam Bulan, rasa bersalah jelas memenuhi perasaannya. ia sangat egois dan terlalu posesif, mungkin saja efek hormon kehamilannya.
Disisi lain Guntur benar-benar malas untuk melakukan kegiatan selanjutnya. kegiatan pagi diawali dengan berolahraga , berkebun, melakukan kegiatan positif lainnya yang dapat menghibur pasien, seperti bernyanyi, berjoget, apapun yang dapat memicu sisi positif dan kepercayaan diri individu. dan kini--setelah jam istirahat selesai ia akan melakukan psikoedukasi, yaitu sebuah proses pemberian pemahaman atau pendidikan psikologis pada individu atau kelompok.
Ceklek,
Terdengar decitan pintu yang dibuka tanpa diketuk, Guntur menoleh ke bawah, ternyata teman sekamarnya yang datang mencari dirinya
"Gun, sebentar lagi mau konseling nih, ayolah!" ajak temannya
"Ck! lagi nggak mood."
"Semangat lah! mau sehat, nggak? ntar kambuh lagi penyakit lo menyendiri mulu disini."
"Is, iya iya!" Guntur menurut, ia bersiap-siap ingin turun dari ranjangnya dan mengikuti teman sekamarnya itu. mereka ditempati dalam satu ruangan karena memiliki penyakit yang sama, masing-masing setiap dua kamar membentuk satu kelompok untuk saling berpartisipasi dalam melatih komunikasi, melatih sosialisasi dan bekerja sama dalam melakukan aktivitas apapun.
Guntur menutup pintu kamarnya dan bersamaan dengan itu dering ponselnya berbunyi hingga beberapa kali.
"Ck! kenapa nggak diangkat? apa sedang sibuk?" gumam Bulan sembari berdecak. ia menatap jam dipergelangan tangannya, waktu menunjukkan pukul setengah dua siang.
__ADS_1
"Huuh ... aku telat, dia pasti sedang terapi lagi." ucapnya, dengan embusan nafas yang terdengar kasar
Bulan kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat ia hentikan.
***
Guntur baru saja usai menunaikan sholat ashar berjamaah, tanpa mempedulikan teman-teman dekatnya ia melenggang pergi menuju kamar. setelah ashar hingga maghrib menjelang, adalah waktu istirahat panjang untuk mereka semua setelah seharian mengikuti kegiatan yang tidak ada habisnya.
"Guntur!" panggil salah seorang temannya
"Aku duluan!" teriaknya menyahut, ia melenggang pergi tanpa banyak berkata
Pikirannya masih kalut, ia masih memikirkan sikap istrinya hingga saat ini. ia benar-benar tidak tenang, tak mengerti apa yang terjadi dengan istrinya. wanita itu bersikap dingin, bahkan enggan meluangkan waktu bersamanya walau sebentar saja. dan lebih herannya lagi, Bulan mengurungkan niat ingin makan bersama.
Guntur menggantung sajadah dan sarungnya ditempat yang telah tersediakan, kemudian menaiki tangga untuk mencapai ranjang miliknya. ia menghembuskan nafas dengan kasar, hatinya terasa beku dan hampa tanpa kekasih hati. Guntur mengambil ponsel yang selalu ia simpan dibawah bantal, menyalakan layarnya hingga sepasang netra itu membulat tak percaya.
"Bulan, Sayang! oh ...." hatinya terenyuh, tubuhnya yang layu kembali bermekar, ia bersemangat hanya karena melihat notifikasi yang tertera dilayar ponselnya.
"13.35, aih! aku bahkan baru keluar dari kamar. andai saja tuh orang nggak manggil, sudah ku angkat telpon istriku." gerutunya kesal, Guntur langsung menekan gambar video yang langsung terhubung pada istrinya
Bulan yang sedang merapikan meja kerjanya, tatkala waktu telah menunjukkan pukul empat sore, yang berarti sudah saatnya semua penghuni gedung ini menghentikan sejenak pekerjaannya hingga hari esok menjelang.
Bulan tersentak mendengar dering ponselnya berbunyi nyaring didalam keheningan ini. ponsel yang ia taruh diatas meja berhasil mengalihkan perhatiannya. Bulan bergegas mengambil benda pipih itu, seketika senyum mengembang terukir dibibirnya.
Buru-buru Bulan pindah ke sofa, ia tidak ingin Guntur melihat dirinya ada di Kantor. segera Ia mengangkat panggilan tersebut, tampaklah wajah yang ia rindukan selama ini.
__ADS_1
"Sayang!" terdengar rengekan dari mulut pria diseberang sana
"Maaf kalau aku ada salah, jangan diamin aku, Lan ..." ia memohon
"Enggak ... kamu nggak salah, aku yang salah sudah lebay banget. seharusnya aku nggak gitu," ucap Bulan
"Aku nggak ngerti kenapa kamu bersikap seperti itu, jika aku ada salah tolong katakan, jangan seperti ini."
"Iya, lain kali aku nggak gini lagi. aku hanya--
"Hanya apa?"
"Aku--jealous." Bulan menutup mulutnya rapat-rapat, menepuknya dengan cukup kuat
"Jealous karna?" Guntur tertegun mendengarnya
"Nggak apa-apa, ih! kamu kepo." Bulan merasa malu sudah keceplosan, pipinya terlihat merah merona bak kepiting rebus
"Hak aku dong harus kepo, ayo ... cemburu kenapa, hm?" entah kenapa, ada rasa senang yang hinggap dihati Guntur mendengar kata jealous. walaupun ia tak mengerti apa yang dicemburukan oleh wanita cantik itu
"Aku--is, jangan kepolah! aku tuh--" Bulan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lidahnya terasa kelu untuk berucap
"Apaan, Bulan??" geram Guntur, jelas ia tak sabar menunggu alasannya
"Aku cemburu lihat kamu tertawa dengan perempuan lain, walaupun ada laki-laki disisi kalian. pokoknya nggak suka aja, aneh rasanya, aku nggak biasa! biasanya kau cuma dekat sama aku, ramah sama aku, tapi sekarang--udah ada yang lain." jelasnya dengan lantang walau diakhir kalimat suaranya terdengar melemah
__ADS_1
Guntur tertegun mendengarnya, kemudian berpikir apa yang terjadi siang tadi saat Bulan menyapanya.
πΊπΊπΊ