
πΊπΊπΊ
Tok tok tok!
Ketukan pintu mengalihkan perhatian sepasang suami istri yang tengah asyik menonton tv di kamar, menghabiskan waktu didalam sana sembari beristirahat total. Guntur bahkan dengan setia menemani istrinya, sampai menolak perintah Nyonya Guntur itu untuk berangkat ke Psikiater
Guntur membukakan pintu, tampak Bibi berdiri tepat dihadapannya.
"Ada apa, Bi?"
"Ada seseorang yang mencari Nyonya, Tuan." jawabnya, menunjuk ke lantai bawah
"Siapa, Bi?" sela Bulan yang dapat mendengarnya dari atas ranjang, wanita cantik itu beranjak turun mendekati mereka berdua
"Nggak tau, Nya." Bibi menggeleng
"Baiklah, saya akan temui." ucapnya, yang kemudian melirik Guntur seakan ia masih takut jika yang menemuinya adalah orang-orang terdekat.
Tapi--siapa? Bulan tidak pernah memberikan alamatnya ke keluarga maupun orang terdekat. hanya Mama Anna dan Papa Perkasa lah yang mengetahui keberadaannya.
"Jangan pikir yang macam-macam, aku benaran nggak pernah ngasih tau tempat tinggalku sama siapapun, termasuk Assisten Stev." Bulan menundukkan kepala, memorinya kembali berputar mengingat ancaman suaminya yang sangat menyeramkan kala itu. namun ia masih bingung siapakah yang bertandang untuk mencarinya.
__ADS_1
Astaga! jangan sampai Stev menyuruh orang mencariku! batin Bulan, ia menggigit bibirnya kuat-kuat
"Sudahlah, aku percaya sama kamu, kok." Guntur mengelus-elus puncak kepala Bulan dengan penuh kasih sayang
"Benarkah?" Bulan mendongak, menatap nanar wajah itu, Guntur mengangguki.
Keduanya turun melalui tangga, dua pria tengah duduk memunggunginya. Bulan menyipitkan sebelah matanya, dalam hati penuh dengan rangkaian pertanyaan tentang siapa kedua pria itu. andaikan salah satu mereka menoleh ke belakang, mungkin saja segala pertanyaannya terjawabkan.
"Permisi." sapa Bulan
Kedua pria itu bangkit berdiri dan menoleh, sontak saja Bulan ternganga, kedua matanya membulat dan sebelah tangan menutupinya mulutnya yang terbuka. ia menatap tidak percaya dengan pandangannya kini, apakah ini nyata atau dirinya sedang bergelayut dalam mimpi? entahlah, Bulan mencubit pipinya untuk memastikan, ternyata sakit dan ini bukan mimpi.
"Bin-Bintang!" Bulan menyebut nama itu, sekilas melirik kearah Guntur yang menatapnya dengan datar.
Dirasa sudah cukup berpelukan, Bintang melonggarkan dekapannya. menatap lekat-lekat wajah cantik dihadapannya. "Kakak kenapa kabur, hah?" tanpa basa basi, ia langsung menginstrupsi sang kakak
"Kakak cuma ingin bebas dan lepas dari Mami, maaf!" Bulan kembali memeluk adiknya, sesekali ia sesenggukan, cairan didalam hidung pun mulai memenuhi indra penciumannya
"Kenapa nggak kasih tau aku kalau kakak diperlakukan seperti itu sama mereka, hah! aku bisa langsung pulang dari pada menyelesaikan sekolahku! aku bisa saja pindah sekolah ke sini." Bintang geram
"Kamu sekolah disana karena wasiat Papi dan kamu harus sukses dengan nilai tertinggi. ingat, kamu adalah pemegang sesungguhnya Cakrawala Group, mana mungkin kakak mengadu dan mengganggu konsentrasi mu."
__ADS_1
"Dan--sekarang Kakak sudah bahagia sama dia." Bulan mendekati Guntur, suaminya, merangkul pinggul pria itu dalam dekapannya
"Oh, ini rupanya Guntur Anderson?" Bintang menatap lekat lelaki itu dengan tatapan datar dan dingin
Bulan bergidik ngeri dengan tatapan adiknya pada suami. "Kamu jangan salahkan dia, bukan dia yang membawaku kabur, bukan dia pula yang mencuci otak kakakmu ini." Bulan melindungi Guntur, walau sebenarnya bukan sepenuhnya perkataan itu benar
"Tapi berani sekali kalian tinggal seatap. sudah diapain kakak sama dia?" Bintang beralih menatap Bulan, yang kemudian kembali lagi menatap tajam wajah Guntur
"Hmmm, duduk dulu sini! nggak enak ada Bibi kamu marah-marah." Bulan sedikit bernafas lega melihat Bibi telah datang membawa nampan berisi minuman untuk tamunya, ia meraih tangan sang adik, menyeretnya untuk membenamkan tubuh diempukan sofa itu. diikuti oleh sang Tuan rumah dan Assisten Stev.
Bulan menarik nafasnya dalam-dalam ingin mengambil oksigen sebanyak-banyaknya. kemudian ia berkata, "Mas Guntur tidak pernah menyentuh kakak, awalnya kakak cari pekerjaan dan tanpa sengaja ketemu Mas Guntur yang kebetulan cari pembantu. kita jadi dekat karna hari demi hari kami selalu bersama walaupun dalam status majikan dan pelayan. sampai--Mas Guntur menyatakan cinta padaku, apalagi dia baik banget orangnya, ya kakak terima. sekarang kakak bahagia sama dia." jelas Bulan sembari mengulum senyum, walau kenyataannya tidak seperti itu.
"Hmmm .... tapi kalian tinggal seatap! mana mungkin kalian tidak pernah melakukannya, apalagi mencintai, cih!" Bintang begitu jijik mengucapkan kata cinta
"Kau tak kenal aku, hm? kakakmu ini bukan wanita murahan."
"Tapi kau sangat lugu, Kak. pasti mau kalau dia ngajak."
Guntur masih betah tak melepaskan tatapannya kepada sang adik ipar, dalam hati ia sedikit kesal melihat lancangnya bocah ini mengata-ngatakannya dalam hal tak sopan. tapi ia juga senang karena Bulan menutupi kenyataan yang sebenarnya, bahkan berusaha melindunginya dari amukan adik iparnya ini. Guntur tersentak merasakan elusan dipunggung, ia menoleh ke Bulan, sepertinya wanita ini tahu dirinya hampir dibawa emosi.
"Ayo kita pulang!"
__ADS_1
"Hah??"
πΊπΊπΊ