
Kara berlari kecil menuju mesin absen,
"Yes!" soraknya, rupanya masih ada waktu sekitar lima menit lagi.
"Halo, Nona cantik, bagaimana pestanya kemarin?" sapa Mike, teman sekantor Kara.
"Ya seperti pesta pernikahan pada umumnya, tidak ada yang istimewa," Kara menjawab sambil membuka komputer miliknya.
"Aku membacanya di media online, diliput juga oleh beberapa media sana," Mike menunjukkan ponsel berita tentang pernikahan Cindy.
Kara menghentikan pekerjaannya, membaca berita yang Mike tunjukkan, lalu tertawa terbahak-bahak.
"Astaga Mike, sepopuler itukah keluargaku?" tanya Kara menatap Mike.
Mike menggaguk, "Love Bakery, siapa yang tidak mengenalnya. Donat dan muffin nya benar benar terenak sedunia, orang rela antri saat membeli, apalagi jika sedang ada promo, antriannya benar benar seperti ular."
Kara masih tertawa mendengar cerita Mike. Memang benar donat dan muffin buatan Bibinya memang sangat lezat, dan saat ini menurun pada Cindy sepupunya, muffin buatan nya benar benar membuat Kara kalap jika memakannya.
"Ini untukmu!" Kara membawakan souvernir dari pesta pernikahan Cindy, sebuah mug yang lucu berlogo Love Bakery bertulis Cindy dan Brian di bagian bawahnya.
Mike bersorak gembira melihatnya dan segera menerima nya,
"Terimakasih cantik!" Kara hanya menggelengkan kepalanya.
Kara menuju ruang pemasaran untuk menyerahkan beberapa laporan, tak lupa membawa satu box donat untuk orang di ruangan tersebut. Semua bersorak gembira sambil menikmati donat bawaan Kara.
"Beruntung sekali dirimu, tidak perlu antre saat memesan donat ini," ucap Nindy, teman Kara di bagian penting pemasaran. "Tidak juga, aku juga antre saat membelinya, sama dengan yang lain," jawabnya sambil tersenyum.
"Ini , cobalah!" Nindy menyodorkan box makanannya. Kara dengan semangat menatap hidangan yang di sodorkan, aromanya kacangnya harum sekali. Kara mencoba makanan buatan Nindy, berisi sayuran disiram saus kacang, rasanya enak sekali.
"Habiskan lah! itu untukmu, punyaku sudah aku simpan di lemari pantri," Nindy tersenyum.
"Terimakasih, apa nama makanan ini?" tanya Kara, ia tak henti hentinya memakan makanan yang mirip dengan salad.
"Namanya gado gado," jawab Nindy.
Nindy adalah teman kantor Kara, yang berasal dari Indonesia. Kara pernah diundang ke rumahnya untuk makan bersama. Menu saat itu adalah soto, makanan berkuah dengan bumbu aromatik yang sangat lezat, Kara sangat menyukai nya. Kara bertanya resepnya pada Nindy, dan jawabannya di suruh mencari di google saja, namun Kara tetap memaksa, "Terkadang resep di google itu tidak sesuai dengan pembuatnya langsung!" jawab Kara saat itu.
Nindy juga pernah membuat bakwan dan perkedel, Kara suka sekali. Ia juga mengenal kan tempe pada Kara, dan ia sangat menyukai rasanya.
"Jika mau membeli bahannya cari di toko Asia saja, yang di blok sebelah lebih lengkap produk asianya," terang Nindy pada Kara saat bertanya tempat membelinya. Kara tak segan bertanya tentang beberapa resep masakan Indonesia pada Nindy. Kara belajar memasak dari beberapa negara lain, di waktu senggannya.
Sejak mempunyai teman di kantor, Kara sedikit melupakan rasa sedihnya, terkadang mereka kumpul bersama di kafe ataupun di rumah salah satu dari mereka.
****
__ADS_1
Siang hari jam makan siang, Kara masih berkutat dengan laporannya. Setelah selesai, ia pun melayangkan pandangan ke penjual hotdog di depan gedung seberang.
Sepertinya siang ini aku akan makan di sana lagi
Tunggu, pandangan Kara menangkap sosok yang dikenalnya di dekat penjual hotdog.
"Sedang apa dia di sana?" Kara bergumam heran sambil melihat ke seberang jalan. Mike yang melihat Kara seperti itu lalu melihat ke seberang jalan juga.
"Sedang melihatmu Nonna cantik," jawab Mike sambil berbisik di belakang Kara.
"Astaga!" Kara terkejut dan mendorong tubuh Mike.
"Apa yang kamu lakukan tadi,Mike?" tatap Kara tajam.
"Aku hanya mengikutimu saja, melihat pria di bawah sana yang juga sedang melihat kemari." jawab Mike sambil menunjuk ke arah Kevin.
Beep!
Turunlah!
Bunyi pesan dari sebuah nomor di ponsel Kara.
Kevin memberi isyarat, jika itu pesan darinya.
Kara tersenyum dan membalas pesan tersebut.
Tunggu sebentar.
"Akhirnya, Kara menemukan pangeran nya!" Mike berseru, membuat karyawan lain melihat ke arah mereka. Kara memukul pundak Mike.
"Aduh!" Mike meringis kesakitan. Kara segera bergegas turun dari ruangannya.
Kara menuju pedagang hotdog di seberang kantornya, Kevin sudah menunggu di situ.
"Bagaimana bisa kemari?" tanya Kara penasaran.
"Kebetulan sedang lewat, aku teringat kamu pernah mengatakan, jika sering makan siang hotdog di seberang kantor," jawab Kevin sambil memasukkan tangan ke saku celananya.
"Kapan aku pernah cerita itu?" Kara menggerutkan dahinya.
"Saat di bar malam itu," jawab Kevin santai. Kara tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya.
"Semoga tidak banyak rahasia yang aku ceritakan padamu saat itu." Kevin terkekeh mendengar jawaban Kara.
Penjual hotdog memberikan pesanan mereka, Kevin menyodorkan lembaran uang membayarnya.
__ADS_1
"Aku saja yang membayarnya."
"Terimakasih," ucap Kara sambil memakan hotdognya.
"Setelah acara pernikahan kemarin, aku pulang ke rumah. Sudah lama sekali aku tidak pulang," Kevin menghela nafasnya. Kara hanya diam mendengarkan Kevin.
"Maaf, aku meminta nomor ponselmu pada Cindy."
"Aku terkejut kamu kirim pesan padaku tadi."
Mereka menghabiskan makanannya siang itu.
"Kamu orang yang sangat sibuk ya?" tanya Kara.
"Tidak, hanya terkadang jadwal pekerjaan yang padat membuatku terlihat sibuk."
Kevin mengajak Kara ke sebuah kedai kopi di seberang jalan untuk menghabiskan jam istirahat mereka.
"Nanti pulang pukul berapa?" tanya Kevin sambil menatap Kara.
"Belum tau," jawab Kara sambil mengaduk kopi nya.
Mereka sejenak terdiam, "Sebenarnya aku menghabiskan waktu hanya sebagai pelarian," Kara menatap jalanan di depan kedai.
"Entahlah, sampai kapan aku akan seperti ini," Kara menunduk menatap cangkirnya.
Kevin hanya diam mendengarkan Kara.
"Aku turut menyesal atas kejadian yang menimpa Josh."
"Terimakasih. Apakah kamu ada masalah yang belum terselesaikan dengan Josh?" tanya Kara penuh selidik.
Kevin melayangkan pandangan ke jalan sambil menghela nafas panjang. "Entahlah," jawabnya sambil menghabiskan kopi dalam cangkirnya.
"Sepertinya jam istirahat sudah hampir habis, terimakasih telah menemaniku makan siang," seru Kevin sambil melihat jam tangannya.
Kara menggaguk dan tersenyum, senyuman yang manis membuat dada Kevin berdesir, entah mengapa, rasanya dia suka melihat senyum di wajah Kara.
Kevin mengantar Kara hingga lobby kantornya, mereka berpisah sambil melambaikan tangannya.
Kara kembali ke ruangan, dan meneruskan pekerjaannya.
Ada hal yang sedikit mengganjalnya saat bertanya mengenai Josh pada Kevin. Josh bercerita Kevin adalah sahabatnya juga selain Kenny, namun hanya Kenny yang sering berkomunikasi dengan Josh.
Kara merasa ada sesuatu yang terjadi pada hubungan persahabatan mereka, entah Kevin, Kenny, ataupun Josh. Kara menghela nafas panjang sambil menatap layar monitor, lalu melanjutkan kembali rutinitas menyelesaikan pekerjaan.
__ADS_1