
Pagi harinya Aleta terbangun dan menoleh ke arah sang suami, tapi ia tidak menemukan Arka di sampingnya.
"Loh kok gak ada Mas Arka," gumam Aleta.
Aleta pun duduk dan menatap sekelilingnya hingga beberapa saat kemudian, pintu kamarnya terbuka dan menampilkan wajah tampan Arka.
"Kamu udah bangun," ucap Arka dan menghampiri Aleta.
"Iya, ini Leta baru aja bangun. Mas Arka kemana aja kok Leta gak lihat Mas Arka tadi waktu Leta bangun?" tanya Aleta.
"Ini aku beliin kamu bubur," ucap Arka dan menyerahkan bubur tersebut.
"Bubur? darimana Mas Arka bisa dapat bubur ini? Mas Arka nyuruh Kak Kevin buat beli ya," ucap Aleta.
"Enak aja, saya eh maksudnya aku beli bubur ini sendiri ya. Tadi itu di depan gang ada yang jualan bubur makanya aku beli," ucap Arka.
Arka tentunya tidak terima karena Aleta menuduhnya menyuruh Kevin untuk membelikan bubur.
"Maaf," ucap Aleta pelan.
Arka pun cukup terkejut karena melihat reaksi Aleta yang sepertinya takut.
"Astaga, kenapa kamu kayak takut segala sih. Aku gak akan marah kok apalagi cuma masalah sepele," Arka.
Namun, meskipun Arka mengatakan itu. Aleta tetap saja merasa takut pada sang suami.
"Oke, anggap aja tadi aku bercanda sekarang jangan takut lagi," ucap Arka dan diangguki Aleta.
Karen gemas dengan istrinya Arka pun mendekati Aleta dan langsung mengecup bibir Aleta.
"Jangan takut lagi ya, harusnya aku yang takut ke kamu," ucap Arka.
"Kenapa Mas Arka harus takut ke aku?" tanya Aleta.
Arka pun tersenyum, "Karena kamu yang boleh negor dan marahin aku, hanya kamu yang bisa buat seorang Arkana Andrean bertekuk lutut di depan seorang perempuan," ucap Arka.
Ucapan Arka tentunya membuat Aleta salah tingkah hingga pipinya memanas dan merah merona.
"Ini kenapa pipinya merah gini sih," goda Arka dan semakin membuat Aleta salah tingkah dan malu secara bersamaan.
"Mas Arka jangan kayak gitu, Leta kan jadinya malu," ucap Aleta.
"Hahaha, kenapa harus malu sama suami sendiri sih, oke sekarang kamu makan ya," ucap Arka dan menaruh bubur yang tadi ia beli di hadapan Aleta.
"Mas Arka gak makan juga?" tanya Aleta.
"Aku gak laper," ucap Arka.
"Mas Arka makan aja ini, nanti biar Leta beli di warung depan," ucap Aleta dan menyerahkan bubur yang tadi Arka belikan untuknya.
"Kamu itu memang gak peka banget ya, aku beli bubur ini emang buat kamu. Kalaupun aku laper aku bisa beli sendiri kok," ucap Arka dan Aleta lun menganggukkan kepalanya.
"Atau gak biar Leta beliin Mas Arka di warung depan," ucap Aleta.
"Gak usah, aku gak laper. Sekarang kamu makan aja terus habis itu siap-siap," ucap Arka.
"Siap-siap? siap-siap buat apa?" tanya Aleta.
"Ya, siap-siap buat pergi," ucap Arka.
"Pergi kemana?" tanya Aleta.
"Aku ada beberapa urusan hari ini dan aku gak mungkin ninggalin kamu sendirian di sini bukan karena itu aku mau ajak kamu ke hotel. Setidaknya kamu lebih aman kalau di hotel daripada di sini," ucap Arka.
__ADS_1
"Kalau aku ikut ke hotel sama Mas Arka terus jualanku gimana?" tanya Aleta.
Arka pun menghela napas dan menatap lekat wajah cantik nan chubby Aleta, "Aku udah bilang kan kalau kamu gak perlu jualan lagi karena aku yang akan membiayai semua kebutuhan kamu dan juga baby," ucap Arka.
Aleta tidak merespon perkataan Arka hingga tiba-tiba saja Arka menariknya dan mendekat padanya.
"Aku ini suami kamu dan akan selamanya ke jadi suami kamu, udah seharusnya aku melakukan itu bukan, mulai dari menjaga dan juga membiayai semua kebutuhan kamu. Sama satu lagi yang harus aku lakukan yaitu menyayangi kamu, aku gak mau kamu dan baby-nya kekurangan kasih sayang dan kamu kembali berpikir untuk pergi dariku," ucap Arka.
"Aku gak bermaksud buat pergi lagi kok Mas," ucap Aleta.
"Iya, aku tau. Tapi, wajar kalau aku masih punya kekhawatiran itu," ucap Arka.
"Maaf," ucap Aleta pelan.
"Aku udah pernah bilang bukan, kalau kamu dalam kejadian ini itu gak salah sama sekali harusnya aku yang patut disalahkan. Jadi, mulai sekarang jangan lagi minta maaf oke," ucap Arka dan diangguki Aleta.
"Anggap aja semua itu pelajaran bagi hubungan kita ya," lanjut Arka dan lagi-lagi Aleta hanya menganggukkan kepalanya.
"Yaudah, kalau gitu sekarang kamu makan buburnya. Setelah itu, kita pergi," ucap Arka.
"Tapi, kamarnya masih berantakan Mas, masa ditinggal pergi sih," ucap Aleta.
Arka pun tersenyum dan menatap sang istri, "Nanti biar aku panggilin anak buahnya buat bersihin kamarnya ya," ucap Arka.
"Ta-tapi, ada barang pribadiku," ucap Aleta dan lagi-lagi Arka tersenyum.
"Aku panggilnya yang perempuan, jadi gak akan ada masalah. Lagipula aku juga gak mau laki-laki masuk ke dalam kamar kamu kecuali aku tentunya," ucap Arka.
Ucapan Arka tentunya membuat Aleta salah tingkah dan untung saja Aleta dapat mengendalikan dirinya hingga akhirnya ia pun mengambil buburnya dan mulai memakan bubur tersebut.
Sedangkan, Arka sendiri memilih untuk ke kamar mandi dan mulai membersihkan tubuhnya.
Beberapa saat kemudian, Aleta selesai makan dan tak lama Arka pun keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit dari pinggang sampai lutut saja.
Tentunya hal itu membuat Aleta terkejut bahkan Aleta yang tengah minum pun sampai tersedak.
"Gapapa kok, Mas," ucap Aleta.
"Gapapa gimana, kamu tersedia loh terus kamu sampai nangis ini," ucap Arka yang terlihat khawatir dengan keadaan Aleta.
'Kenapa Mas Arka kayak khawatir gitu? apa jangan-jangan Mas Arka khawatir sama aku? tapi, kayaknya gak deh. Pasti Mas Arka khawatir sam baby-nya, Mas Arka pasti takut kalau baby-nya kenapa,' tanya Aleta dalam hati.
"Mas Arka gak perlu khawatir, baby-nya gapapa kok. Aku juga minta maaf karena buat Mas Arka khawatir sama baby-nya," ucap Aleta dan Arka pun menghela napas panjang.
"Lain kali kamu harus hati-hati," ucap Arka dan diangguki Aleta.
"Kamu udah selesai?" tanya Arka.
"Iya, Mas," ucap Aleta.
"Kalau gitu kamu bersih-bersih dulu," ucap Arka.
Akhirnya Aleta pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, tapi sebelum itu Aleta mengambil baju yang akan ia gunakan nanti.
'Baju ini yang paling bagus, semoga Mas Arka gak malu nanti,' ucap Aleta dalam hati.
Selang beberapa saat, Aleta pun keluar dari kamar mandi dan hak pertama yang ia lihat adalah wajah tampan Arka yang tengah fokus pada layar ponselnya hingga tiba-tiba Arka langsung mendongak dan akhirnya netra mereka pun bertemu dan Aleta langsung membuang muka ke samping untuk menutupi salah tingkahnya.
"Udah selesai?" tanya Arka dan menaruh ponselnya di saku celana.
"Iya, Mas," ucap Aleta.
"Yaudah, sekarang kita berangkat soalnya Kevin udah ada di depan," ucap Arka.
__ADS_1
Aleta pun mengambil barang yang sudah ia siapkan tadi, mereka berdua keluar dari kamar kos tersebut dan saat mereka melewati gang bertemu dengan Fandi yang baru saja lari pagi.
"Loh Leta, mau kemana kok pagi-pagi udah cantik aja? gak jualan emangnya?" tanya Fandi.
"Bukan urusan kamu, mau istri saya pergi pagi-pagi, cantik atau jualan," ucap Arka sewot.
Fandi pun menatap bingung pada Arka, "Dia siapa, Ta?" tanya Fandi.
"Kurang jelas ya tadi saya bicaranya, Aleta itu istri saya dan kamu lihat istri saya lagi hamil bukan dan itu adakah anak saya," ucap Arka lalu menarik pelan tangan Aleta hingga meninggalkan Fandi sendirian dengan raut wajah terkejut, tidak percaya bahan kecewa dan sedih bercampur jadi satu.
"Padahal gue udah suka sama lo, Ta. Gue rela jadi Ayah sambung anak lo, tapi ternyata Ayah dari anak lo udah dateng," gumam Fandi dan masuk ke dalam kamar kosnya dengan perasaan yang tak tentu.
Disisi lain, Arka terus saja bergumam tidak jelas bahkan tanpa terasa Arka menari tangan Aleta dengan kencang dan membuat tangan Aleta merah bahkan Aleta mulai merasakan sakit pada pergelangan tangannya.
"Mas Arka jangan kenceng-kenceng, tangan Leta sakit," ucap Aleta.
Arka tersadar dan langsung balik badan dan memastikan Aleta tidak terluka, "Maaf, aku tadi emosi sama cowok gak jelas itu," ucap Arka.
"Iya, Mas. Gapapa kok, itu Kak Kevin udah nunggu di depan mobil," ucap Aleta.
Akhirnya mereka pun menghampiri Kevin, "Astaga, Pak Bos sama Bu Bis udah akur, seneng deh kalau kayak gini," ucap Kevin.
"Masih pagi jangan buat gue kesel," ucap Arka.
"Serem amat, Bos," gumam Kevin.
Mereka bertiga pun masuk ke dalam mobil dan menuju hotel tempat arak menginap selama di daerah tersebut. Hotel tempatnya menginap tidak terlalu jauh, tapi karena jalanan yang macet sehingga perjalanan menuju hotel terkesan jauh dan selama perjalanan menuju hotel, Arka tak henti-hentinya mengusap lembut perut Aleta, hal itu karena sejak tadi Aleta mengatakan jika kepalanya pusing dan ia ingin muntah.
"Masih pusing?" tanya Arka.
"Masih, Mas. Tapi, gak terlalu parah kayak tadi," ucap Aleta.
"Vin, masih lama nyampe hotelnya?" tanya Arka.
"Ini masih 20 menit lagi," ucap Kevin.
"Kelamaan itu, coba lo agak ngebut," ucap Arka.
"Gak bisa, Ka. Lo lihat sendiri lah gimana kendaraan di depan kita yang bahkan gak bergerak dari tadi," ucap Kevin.
"Baby-nya gapapa kok, Mas," ucap Aleta.
"Gapapa gimana, muka kamu pucet banget gini," ucap Arka.
'Lihat sayang, Ayah kamu perhatian banget kan sama kamu, Ayah kamu gak mau kamu kenapa-napa,' ucap Aleta dalam hati.
Beberapa saat kemudian, mereka bertiga pun sampai di hotel dan saat turun dari mobil Arka langsung menggendong Aleta hingga menuju kamarnya.
"Mas Arka turunin Leta, banyak yang lihatin Mas," ucap Aleta.
"Udah, kamu gak usah mikirin itu, sekarang kamu harus banyak istirahat di kamar karena kamu lagi gak enak badan," ucap Arka.
Saat berada di kamar, Arka pun langsung membaringkan Aleta di kasur empuknya dan Arka pun duduk di sisi kasur.
"Istirahat, kalau ada apa-apa jangan lupa hubungi aku atau hubungi Kevin," ucap Arka dan diangguki Aleta.
"Aku masih ada urusan, aku pergi dulu ya. Gak lama kok," lanjut Arka dan mengecup kening Aleta.
Setelah itu, Arka pun keluar dari kamar hotelnya dan mulai melanjutkan kesibukannya mengurus proyek terbarunya.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.