
Disisi lain, Aleta yang saat ini berada di kamar kos sederhananya tengah bersiap-siap untuk keluar karena memang ia sudah mencari beberapa lowongan pekerjaan yang ada di sekitar desa tersebut.
Aleta keluar dari kamar kosnya dan langsung berjalan kaki melewati gang kecil yang menghubungkan jalanan utama dengan jalan menuju kosnya.
Baru saja keluar menuju jalan utama, Aleta dikejutkan dengan panggilan nyaring dari Bu Gita yang berada di depan rumahnya sendiri dimana rumah tersebut berada di depan kos.
"Aleta!" teriak Bu Gita.
Aleta pun menghampiri Bu Gita, "Iya, Bu. Ada apa ya?" tanya Aleta.
"Kamu mau kemana?" tanya Bu Gita.
"Saya mau cari kerja, Bu," ucap Aleta.
"Oh, jadi gini. Suami saya kan baru aja dapat bonusan lebih dari kantornya terus saya mau masak nanti malam. Jadi, usahain jangan beli makan malam ya buat nanti malam biar makanan saya habis dan gak kebayang sia-sia," ucap Bu Gita.
"Iya, Bu. Nanti saya gak masak kalau gitu," ucap Aleta.
"Yaudah, itu aja sih yang mau saya bilang ke kamu. Kalau gitu, sekarang kamu boleh pergi deh cari kerjaan, tapi saran saya kamu jangan berharap lebih ya sama lowongan pekerjaan di sini apalagi buat ibu hamil," ucap Bu Gita.
"Kenapa memangnya, Bu?" tanya Aleta.
"Kebanyakan orang di sini itu mau orang yang masih muda apalagi yang tubuhnya bagus," ucap Bu Gita.
"Kenapa gitu, Bu?" tanya Aleta.
"Kan di sini kebanyakannya itu rumah makan, itupun ada di pinggir jalan besar jadi banyak yang bakal mampir dong di sana. Tapi, kamu gak usah khawatir kalau di desa ini mah gak ada yang kayak gitu kan gak ada yang buka lowongan kerja hahaha," ucap Bu Gita dan tertawa.
"Terus saya ini kira-kira harus cari kerja dimana ya, Bu?" tanya Aleta.
"Saya mah gak tau, tapi biasanya kalau ibu hamil itu gak ada yang mau nerima karena dianggap merepotkan gitu belum nanti kalau sakit apalagi kalau mau lahiran," ucap Bu Gita.
"Makasih infonya ya, Bu. Tapi, saya coba dulu Bu kalau emang gak dapat nanti bisa saya pikirkan lagi," ucap Aleta.
"Yaudah, pokoknya saya udah kasih tau kamu loh ya," ucap Bu Gita dan diangguki Aleta.
"Kalau gitu saya permisi dulu ya, Bu," pamit Aleta.
"Iya, hati-hati," ucap Bu Gita.
Aleta pun pergi menuju jalan besar karena memang di sana banyak Resti ataupun warung yang mungkin saja membutuhkan jasanya.
Aleta menuju sebuah restoran sederhana dan bertanya pada salah satu karyawan yang menjaga di sana, "Maaf Mbak saya mau tanya, apa di sini ada lowongan pekerjaan ya, Mbak?" tanya Aleta.
"Gak ada Mbak kalau buat orang hamil, mendingan Mbak nyantai aja di rumah," ucap karyawan tersebut.
"Cuci piring pun gapapa Mbak," ucap Aleta.
"Gak Mbak, udah ada yang cuci piring kok di sini," ucap karyawan tersebut.
'Ayo semangat cari kerja Aleta,' ucap Aleta dalam hati.
Akhirnya Aleta memutuskan untuk pergi dari restoran tersebut dan kembali mencoba di restoran dan warung lainnya yang ada di sana, tapi hasilnya tetap sama Aleta tidak diterima dan justru diusir.
'Ini adalah tempat terakhir, kalau emang aku gak di terima itu artinya tuhan gak mau aku kerja di restoran atau di warung,' ucap Aleta dalam hati.
__ADS_1
Aleta pun masuk ke dalam restoran terakhir, "Maaf Mbak," ucap Aleta.
"Iya, Mau pesen apa ya?" tanya salah satu karyawan restoran tersebut.
"Hem, saya mau tanya Mbak, apa di sini ada lowongan kerja ya Mbak?" tanya Aleta.
"Oh lagi cari lowongan kerja rupanya, di sini gak ada lowongan kerja lebih baik Mbak nya pergi aja deh ganggu banget tau gak kalau Mbak di sini. Lagian nih ya kita kalau mau cari karyawan juga gak bakal milih Mbak nya soalnya kita carinya yang masih seksi dan masih perawan gak kayak Mbak yang lagi hamil, mbak pergi aja deh jualan atau apa kek gitu jangan bikin usaha orang hancur deh," ucap karyawan tersebut.
"Maaf ya Mbak, walaupun saya hamil, Mbak gak bisa seenaknya bicara kayak tadi. Kalau memang restoran ini gak mau nerima saya ya gapapa, saya bisa ngerti kok dan gak perlu tuh sampai Mbak nya bicara yang bikin sakit hati saya dan lagian kalau saya hamil kenapa memangnya? apa saya salah kalau saya hamil, gak kan. Memang susah kalau bicara dengan orang yang gak tau apa itu sopan santun," ucap Aleta lalu pergi dari restoran tersebut.
Entahlah Aleta tidak tau bagaimana wajah karyawan tersebut setelah ia bicara tadi.
"Aku harus apa sekarang?" tanya Aleta pada dirinya sendiri.
"Apa aku jualan aja ya? tapi kalau mau jualan aku harus jualan di mana?" tanya Aleta pada dirinya lagi.
Aleta memutuskan untuk berjalan di sekeliling daerah tersebut dan Aleta dapat melihat sebuah pasar yang cukup ramai, Aleta pun memutuskan untuk menghampiri orang-orang yang tengah berjualan tersebut.
'Apa aku jualan di sini aja ya?' tanya Aleta dalam hati.
"Maaf, Bu. Saya mau tanya," ucap Aleta.
Aleta bertanya pada seorang ibu-ibu yang sudah sangat berumur, dimana ibu tersebut menjual cemilan serta minuman karena Aleta dapat melihat jika ibu tersebut memegang beberapa cemilan dan di gerobak sederhananya juga terdapat beberapa minuman dingin dan biasa.
"Iya, ada apa ya Nak?" tanya ibu tersebut.
"Hem, begini Bu. Saya kan mau jualan, tapi saya bingung mau jualan dimana, kalau seandainya saya jualan di pasar ini boleh gak ya, Bu?" tanya Aleta.
"Oh mau jualan, boleh Nak. Nanti kalau mau jualan, jualannya di sebelah Ibu aja soalnya orang yang biasa jualan di sebelah udah gak jualan lagi,m dari kemarin," ucap Ibu tersebut.
"Iya, beneran," ucap Ibu tersebut.
"Makasih ya, Bu. Oh iya kalau boleh tau nama Ibu siapa ya?" tanya Aleta.
"Nama saya Bu Indi," ucap Bu Indi.
"Kalau nama saya Aleta, Bu. Atau gak Bu Indi bisa panggil Leta aja," ucap Aleta.
"Namanya cangik kayak orangnya," puji Bu Indi.
"Terima kasih, Bu," ucap Aleta.
"Memangnya kamu mau jualan apa?" tamat Bu Indi.
"Saya juga gak tau, Bu. Kayaknya sih saya bakal jualan roti karena hanya itu yang saya bisa," ucap Aleta.
"Ya, gapapa. Siapa tau nanti jualan kamu laris," ucap Bu Indi.
"Iya, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu ya Bu soalnya saya belum beli bahan-bahan buat bikin rotinya," pamit Aleta.
"Iya, hati-hati ya," ucap Bu Indi dan diangguki Aleta.
Aleta pun memutuskan pergi ke toko bahan membuat roti terdekat membeli bahan-bahan yang ia butuhkan untuk membuat roti nantinya.
Setelah membeli bahan-bahan yang ia butuhkan, Aleta langsung pergi ke salah satu tempat penjual handphone untuk membeli handphone tentunya.
__ADS_1
Saat sampai di tempat tersebut Aleta langsung memilih handphone yang paling murah sesuai dengan uang yang ia punya lagipula handphone ini hanya Aleta gunakan saat ia butuhkan saja sehingga tidak perlu mahal-mahal seperti handphone yang pernah Arka berikan padanya.
Setelah membeli handphone, Aleta pun memutuskan untuk pulang karena memang hari mulai mendung dan takutnya Aleta terjebak hujan nantinya.
Namun, sayang belum sempat Aleta sampai di kosnya tiba-tiba saja Aleta merasakan air dari langit dan benar saja tak berselang lama hujan pun langsung mengguyur tanah di sana.
Aleta memilih meneduh di salah satu warung yang untung saja sudah tutup sehingga Aleta dapat leluasa untuk meneduh di sana.
Aleta meneduh di sana sendirian karena memang orang-orang lebih banyak memilih meneduh di restoran yang tidak jauh dari tempat Aleta meneduh. Orang-orang yang meneduh di restoran tersebut tentunya tidak hanya meneduh, mereka juga memilih untuk makan di dalam restoran tersebut sehingga restoran tersebut ramai.
Aleta hanya mampu melihat orang-orang yang menyantap makanan mereka dengan lezat di dalam restoran tersebut dari kejauhan. Bohong jika Aleta tidak iri, Aleta tentunya merasa iri apalagi Aleta ingin seperti orang-orang yang amsuk ke dalam restoran tersebut. Tapi ia juga tidak mungkin masuk ke restoran tersebut karena ia tidak memiliki uang jika harus makan di sana.
"Baby pengen ya, nanti ya kalau Bunda punya uang," gumam Aleta dengan mengusap lembut perutnya.
Hujan tersebut cukup lama bahkan semakin deras hingga hati mulai gelap barulah hujan tersebut mulai reda dan akhirnya Aleta pun memutuskan untuk pulang karena udara di sana juga semakin dingin.
Beberapa saat kemudian, Aleta sampai di kos dan ia melihat jika rumah Bu Gita terbuka dan di sana juga ada beberapa penghuni kos lainnya.
"Leta, ayo makan di rumahnya Bu Gita," ucap Alma salah satu penghuni kos di sana.
"Iya, Mbak, tapi saya taruh barang-barang saya duku ya," ucap Aleta.
"Iya, nanti langsung ke sini loh ya soalnya daritadi Bu Gita cerewet banget takut anak kosnya udah makan diluar," ucap Alma.
"Iya, Mbak," ucap Aleta.
Aleta langsung menuju kamar kosnya dan setelah itu ia pun ke rumah Bu Gita dan ternyata memang semua penghuni kos sudah ada di sana.
"Sini Ta," ucap Alma.
Aleta pun duduk di samping Alma, setelah makan mereka semua tidak langsung pergi. Mereka mengobrol terlebih dahulu agar akrab tentunya.
"Leta ini kan hamil nih terus suaminya mana ya kok saya gak pernah lihat suami kamu sih?" tanya Bu Mila.
"Aleta aja masih baru di sini Bu, mungkin aja kan suaminya lagi sibuk iya kan, Ta," ucap Bu Gita.
"Iya, Bu. Suami saya sedang sibuk di luar kota dan mungkin untuk beberapa tahun ke depan tidak bisa menemui saya," ucap Aleta.
"Tapi, kan takutnya kalau Leta ini wanita gak baik-baik gitu, Bu. Terus ternyata anak yang dikandung Leta ini anak haram kan gimana ya nanti malah kos Bu Gita dianggap sebagai kos buruk lagi dan warga juga gak terima dan ngelarang Bu Gita buka kos," ucap Bu Mila.
"Gak akan kok, saya percaya sama Leta," ucap Bu Gita dan membuat Bu Mila diam dan memilih pergi dari rumah Bu Gita.
"Kalau gitu saya pergi dulu ya, Bu," ucap Bu Mila dan pergi.
"Udah, Ta. Kamu gak usah dengerin apa kata Bu nial, Bu Mila itu orangnya emang kayak gitu sukanya ngomongin orang terus pantes aja suaminya gak betah terus selingkuh," ucap Alma.
"Hush, gak boleh kayak gitu. Tapi, apa yang bilang Alma bener sih kalau Bu Mila itu orangnya suka ngomongin orang, tapi dia nya gak sadar kalau hidupnya yang pantas buat di omongin," ucap Bu Gita.
"Aku itu orangnya gak terlalu mikirin omongan orang sih selama orang itu gak bikin masalah," ucap Aleta.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.