
Perjalanan menuju kos Aleta pun hening hingga beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di depan rumah Bu Gita.
Mereka turun dari mobil karena memang jalan menuju kos Aleta hanya bisa diakses dengan jalan kaki atau menggunakan sepeda motor saja.
"Loh Mas Arka juga turun," ucap Aleta, yang cukup terkejut saat melihat Arka juga turun dari mobil bahkan sudah berada di sampingnya.
"Iya, memang kenapa kalau saya turun?" tanya Arka, dengan nada tidak suka karena Aleta mempertanyakan hal tersebut.
"Gak kenapa-napa kok, Kak," ucap Aleta.
"Yaudah, kalau gitu ayo kita ke kos," ucap arka dan diangguki Aleta.
Namun, sebelum itu. Arka mengambil tas kecil yang di pegang Kevin, tentunya tas itu berisikan pakaian yang akan ia kenakan besok.
"Loh Mas Arka bawa baju?" tanya Aleta.
"Iya, kalau saya tidak bawa baju terus saya harus pakai apa besok? memangnya kamu punya baju cowok?" tanya Arka.
"Gak sih, Mas. Tapi, Aleta kirain Mas Arka pulang," ucap Aleta.
"Untuk apa saya pulang, lagipula tidak ada yang mempermasalahkan saya ikut bukan karena kita sudah menikah. Sudah lebih baik kita segera masuk, udara mulai dingin dan sepertinya akan hujan jadi kita harus cepat masuk," ucap Arka dan diangguki Aleta.
Akhirnya mereka berdua pun berjalan masuk ke dalam gang tempat kos Aleta berada dan Kevin sendiri sudah mengemudikan mobil mewah tersebut dan tentunya kembali ke hotel tempatnya menginap.
Arka dan Aleta pun sudah masuk ke dalam kamar Aleta, "Kamu langsung istirahat, kamu pasti capek," ucap Arka.
"Leta gak capek kok, Mas. Mas Arka aja yang istirahat pasti Mas Arka yang capek karena sibuk dengan proyek baru Mas Arka. Mas Arka tidur di kasur aja nanti biar Leta tidur di karpet bawah aja," ucap Aleta.
Arka tentunya tidak terima dengan ucapan Aleta, "Untuk apa kamu tidur di karpet bawah, kamu bisa tidur dengan saya," ucap Arka.
"Tapi, nanti kalau ketahuan orang gimana, Mas?" tanya Aleta.
Lagi-lagi Arka dibuat gemas oleh sang istri, Arka pun langsung menghampiri Aleta dan memojokkan Aleta hingga dinding tentunya Arka memberikan jarak karena Aleta tengah hamil besar.
Arka menatap lekat wajah sang istri lalu mengecup bibir ranum Aleta berkali-kali dan lagi-lagi Arka dibuat gemas dengan tatapan terkejut nan polos dari Aleta. Akhirnya Arka pun langsung mencium bibir Aleta, tapi untuk kali ini bukan hanya sekedar kecupan seperti tadi karena kali ini Arka menciumnya bahkan **********.
Hingga beberapa saat kemudian, Aleta lun menepuk lengan kokoh sang suami karena ia mulai kehabisan napas dan Arka yang paham akan hal itu pun lantas melepaskan ciuman panasnya. Namun, sebelum mengakhirinya Arka kembali mengecup singkat bibir sang istri.
Arka menatap bibir bengkak Aleta dan tiba-tiba saja ia merasa bangga dengan apa yang telah ia lakukan dan setelah itu Arka pun mengusap lembut bibir Aleta yang bengkak karena ulahnya tadi.
"Ma-Mas Arka kalau cium kenapa lama banget sih hampir aja Leta gak bisa napas," ucap Aleta yang masih tersengal-sengal.
"Maaf sayang, saya gemas karena kamu. Kamu ingat bukan kalau kita itu sudah menikah dan kos kamu ini membebaskan pasutri untuk tinggal bersama, kalaupun ketahuan ya gak masalah. Saya bisa tunjukan buku nikah kita," ucap Arka.
"Ta-tapi...," ucapan Aleta terhenti lantaran Arka yang menyelanya.
"Udah gak usah tapi-tapian dan kamu juga gak usah khawatir karena kita ini pasangan yang sah," ucap Arka dan akhirnya Aleta pun diam karena memang apa yang dikatakan Arka benar adanya.
Sudah malam dan Aleta masih belum bisa terlelap padahal Arka sudah terlelap di sampingnya.
Aleta sendiri tidak bisa tidur karena Arka memeluknya dari samping dan karena itulah Aleta merasa gugup hingga matanya tidak ingin terpejam.
__ADS_1
"Tidur," gumam Arka dan semakin mengeratkan pelukannya pada sang istri.
'Mas Arka gimana aku bisa tidur kalau Mas Arka tidurnya sambil meluk aku,' ucap Aleta dalam hati.
Meskipun Arka mengatakan hal itu, tapi tetap saja Aleta tidak bisa tertidur hingga tiba-tiba Arka bangun dan menindih tubuhnya bahkan Arka tanpa izin langsung mengecup bibirnya.
Arka tentunya tidak terlalu menindih Aleta apalagi menekan Aleta yang berada di bawahnya karena Aleta tengah hamil besar.
"Ma-Mas Arka," panggil Aleta dengan gugup.
"Kenapa gak bisa tidur hem?" tanya Arka.
"I-itu, Mas. Gapapa kok," ucap Aleta.
"Jujur sama saya, kenapa hem? apa karena ada saya?" tanya Arka.
"Gak kok Mas, bukan karena ada Mas Arka Keta gak bisa tidur. Tapi, Leta cuma gak nyaman tidurnya ya wajarlah Mas, kan Leta hamil besar jadi posisi tidurnya gak ada yang nyaman," ucap Aleta.
Aleta tak sepenuhnya berbohong karena memang nyatanya ia tidak bisa tidur karena kehadiran Arka apalagi Arka yang memeluknya dengan cukup erat. Tapi, Aleta juga tidak bisa tidur karena tubuhnya yang terasa sakit apalagi pinggangnya.
"Kalau begitu sekarang kamu tidur, ingat kamu lagi hamil besar jadi harus banyak istirahat," ucap Arka dan diangguki Aleta.
"Yaudah tidur," ucap Arka lalu kembali memposisikan dirinya seperti tadi.
Aleta berusaha untuk tidak memperdulikan itu dan ia mencoba memejamkan matanya, tapi lagi-lagi ia tidak bisa dan akhirnya Aleta pun merubah posisinya yang awalnya terlentang menjadi miring berhadapan dengan Arka.
Saat Aleta menatap wajah tampan sang suami tiba-tiba saja Arka membual matanya dan mereka pun saling menatap hingga akhirnya Aleta tersadar dan langsung memejamkan matanya agar tidak menatap mata tajam Arka.
Saat berusaha memejamkan mata, Aleta merasakan tangan seseorang yang memikat pinggangnya. Aleta pun membuka matanya dan mendapati sang suami yang tengah memijat pinggang Aleta.
"Saya tau pinggang kamu sakit kan," ucap Arka.
"Gak kok, Mas," ucap Aleta.
"Tong jangan berbohong pada saya," ucap Arka.
"Maaf," cicit Aleta.
"Pinggang kamu sakit?" tanya Arka.
"Iya, Mas," ucap Aleta.
Arka pun langsung menghela napas setelah itu ia duduk dan menatap Aleta, namun meskipun begitu Arka tidak melepaskan pijatannya di pinggang sang istri.
"Saya ingin jadi suami yang bisa kamu ajak cerita, kalau kamu ada masalah apapun mau itu cerita sedih atau cerita bahagia tolong kasih tau saya. Saya ingin membuat kamu nyaman berada di dekat saya, saya tidak ingin kamu berpikir yang bukan-bukan tentang saya apalagi kamu sampai memikirkan untuk pergi dari saya karena selama ini kamu seperti itu, kamu menganggap kalau saya tidak bisa menjadi suami dan calon Ayah yang baik untuk kamu dan anak kita. Kamu memilih pergi dan jujur itu buat saya sakit, saya tau saya tidak bisa seperti suami atau calon Ayah lainnya yang bisa lebih perhatian, tapi saya berusaha melakukan yang terbaik walaupun saya mengerti apa yang menurut saya yang terbaik itu belum tentu terbaik menurut kamu. Kalau saya ada salah atau kamu tidak suka cara saya berbicara atau bersikap ke kamu tolong tegur saya. Tapi, jangan pergi dari saya," ucap Arka.
"Kamu tau, setelah kamu pergi saya benar-benar hancur. Saya tau saya salah dan saya ingin memperbaikinya, tapi saya tidak tau kamu dimana. Kamu pergi seolah-olah kamu sudah merencanakan semuanya ini, saya juga tidak tau harus berbuat apa saat itu dan saat saya bertemu kamu, seolah dunia yang beberapa bulan terakhir gelap kembali terang. Saya tidak pernah bermaksud untuk mengusir kamu, karena saat saya menjadikan kamu istri saya maka saya akan berusaha untuk mencintai kamu dan membahagiakan kamu. Saya juga tidak akan pernah melepaskan kamu apapun itu alasannya," lanjut Arka.
Aleta yang mendengar perkataan panjang Arka pun tiba-tiba merasakan sakit di dadanya dan air matanya pun menetes tanpa ia sadari.
Arka yang melihat Aleta menangis pun langsung menghapusnya, "Maaf karena saya sudah buat kamu menangis," ucap Arka dan mengecup pelipis Aleta.
__ADS_1
Bukannya berhenti menangis, Aleta justru semakin terisak. "Hiks hiks hiks, harusnya Leta uang minta maaf karena Leta udah berpikiran buruk ke Mas Arka apalagi Leta sampai pergi dari Mas Arka, Leta sadar kalau Leta salah," ucap Aleta.
"Kamu gak salah, saya yang harusnya mengerti dengan semua ini. Harusnya saya yang memperbaiki sikap saya selama ini karena saya akui saya memang tidak tau bagaimana bersikap pada seorang perempuan. Kalau saya boleh jujur kamu adalah perempuan pertama yang pernah saya dekati," ucap Arka.
Aleta pun cukup terkejut dengan penuturan Arka karena seingat dia Arka pernah beberapa kali dikabarkan dekat dengan beberapa perempuan.
"Tapi, kata Tante Rita, Mas Arka pernah dekat dengan seorang model," ucap Aleta.
"Kamu percaya itu, saya dekat dengan dia hanya karena pekerjaan dan sisanya hanya perjodohan dari Tante Rita bahkan saya lupa namanya," ucap Arka.
Entahlah Aleta harus senang atau sedih, tapi perkataan Arka cukup membuatnya lega.
"Maafin saya ya, kita mulai lagi semuanya dari awal. Jadikan saya suami dan sahabat untuk kamu dan begitupun sebaliknya," ucap Arka.
"Iya, Mas. Aleta juga minta maaf karena seenaknya sendiri pergi dari Mas Arka, Aleta egois hanya memikirkan kepentingan Aleta aja," ucap Aleta.
"Iya, kita mulai cerita baru tentang kita ya," ucap Arka dan diangguki Aleta.
"Kalau gitu, sekarang kita mulai dengan hal paling sederhana," ucap Arka.
"Sederhana maksudnya?" tanya Aleta.
"Iya, mulai sekarang saya akan mencoba merubah gaya bicara saya ke kamu," ucap Arka.
"Maksudnya?" tanya Aleta.
"Jadi, mulai sekarang aku bakal berusaha jadi suami yang terbaik untuk kamu sayang," ucap Arka.
Rasanya Aleta ingin tenggelam saja setelah mendengar Arka yang memanggilnya dengan sebutan sayang bahkan pipinya sudah merah merona karena panggilan tersebut dan Aleta pun salah tingkah dibuatnya.
"Pipinya kenapa merah gini sih kan jadi gemes," goda Arka.
"Mas Arka," ucap Aleta karena ia merasa malu dan Arka sendiri tertawa melihat tingkah lucu sang istri.
"Mas Arka bisa ketawa," ceplos Aleta.
Arka pun menyentil dahi istrinya, "Aku ini manusia sayang, jadi bisa dong ketawa," ucap Arka.
"Tapi, ini pertama kalinya Leta lihat bagaimana Mas arka ketawa," ucap Aleta.
"Setelah ini, hanya kamu yang bisa lihat gimana aku ketawa," ucap Arka lalu mengecup bibir sang istri.
"Udah malam, sekarang tidur ya," ucap Arka dengan lembut.
"Iya, Mas," ucap Aleta.
Setelah itu, mereka berdua pun terlelap dengan Arka yang memeluk Aleta. Sedangkan Aleta berada di pelukan sang suami dan menghadap dada bidang Arka.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.