
Kara terbaring di hotel setelah penerbangan yang melelahkan. Menatap langit langit hotel yang berhias lampu hotel. Ponselnya berdering untuk kesekian kalinya, dia merasa sangat lelah. Akhirnya dia mengambil ponsel di pouch hitam dalam tasnya.
"Ya.." jawabnya dengan malas.
"Astaga Kara, kau membuatku khawatir sekali! Bagaimana keadaanmu?" terdengar suara Kevin yang gusar.
"Suaramu sudah seperti mamaku saat aku tak mengangkat panggilan telponnya," jawab Kara sambil tertawa.
"Aku serius Kara, setelah kamu keluar dari rumah sakit, dokter berpesan, tidak boleh terlalu lelah, dan makan yang teratur." Kevin berbicara dengan nada serius.
"Aku membawa vitamin dan cemilan di dalam pesawat. Tenanglah Kev, aku akan baik-baik saja di sini. Selain mencari restoran untuk bahan tulisan, aku juga menghadiri pembukaan restoran papa di sini. Aku telah bertemu papa, dan telah terbaring di salah satu kamar hotelnya saat ini."
"Baiklah. Beristirahatlah dulu ya, nanti aku hubungi lagi, bye, " Kevin menghela napas lega mendengar penjelasan Kara.
Saat ini Kara sedang menjadi salah satu bintang tamu untuk sebuah acara kuliner di San Fransisco, yang kebetulan papanya memiliki hotel di sana. Besok adalah pembukaan restoran yang berada di hotel papanya. Kara ingin memberi dukungan untuk papanya dengan menghadiri pembukaan restoran tersebut. Sedangkan mamanya saat ini sibuk mengurus restoran yang berada di LA.
Kara memaksa tubuhnya untuk bangun dari kemalasan, menyeret kakinya menuju kamar mandi. Seperti biasanya dia menyalakan kran air panas dan dingin di bathtub, memasukkan sabun beraroma lavender kesukaannya.
Kara melepas pakaiannya, lalu menenggelamkan tubuhnya ke bathtub.
Kara membuka aplikasi Spotify di ponselnya, lalu memilih playlist favoritnya, memasang earphone di telinga, lalu memejamkan matanya menikmati alunan lagu di ponselnya.
****
Kara mengenakan dress vintage bermotif bunga bunga kecil berwarna salem, dengan kerah v, dipadukan dengan flat shoes berwarna cream. Tak lupa Kara menggelung rapi rambutnya yang panjang sebahu. Kara mematut dirinya di depan cermin, sambil menepuk saput bedak di wajahnya. Memadukan dengan lipstik mate berwarna nude favoritnya. Dalam hal berdandan, Kara tidak ingin terlalu glamor, cukup dandan minimalis, namun tidak terlihat kusam.
Kara menuju restoran papanya yang berada di bagian depan hotel. Beberapa pegawai menyapanya dan tersenyum.
"Kara, sayangku.." Papa menyambut kedatangan Kara dengan senyum lebar di wajahnya.
"Mari kukenal kan dengan beberapa teman teman papa!" Papa mengajak Kara untuk berkenalan dengan beberapa koleganya, sebagian ada yang Kara kenal.
Beberapa dari mereka terkejut ketika mengetahui Kara adalah putri papanya, karena pernah datang ke restoran untuk diulas di tabloid atau media sosial.
"Aku sungguh tak menduga, Kau seorang Jones, pemilik restoran yang terkenal ini!" ujar salah satu dari mereka. Kara hanya tersenyum mendengar keterkejutannya.
Kara memilih menuju meja kudapan, dia mengambil sepotong makanan one bite, lalu mengunyah nya sambil memikirkan semua rasa yang ada pada makanan itu. Lalu ia berlalu mencari makanan yang menarik untuk dimakan.
__ADS_1
Kara berkeliling restoran papanya, tiba tiba seseorang memanggil nya.
"Kara!"
Kara menoleh ke asal suara yang memanggilnya. "Matt...!" Mereka saling berpelukan sesaat.
"Astaga, apa yang kamu lakukan di sini Matt?" Kara menatap laki laki di depannya dengan penuh tanya.
Matt dulu pernah dekat dengan Kara saat kuliah, setelah lulus Matt tiba tiba menghilang tanpa kabar. Sejak saat itu Kara mulai melupakan Matt dan fokus kepada usahanya, sampai ia bertemu dengan Josh.
"Tuan Jones mengundangku untuk mereview makanan di restoran nya ini. Saat ini aku bekerja di salah satu restoran. Beberapa menu restoran ini aku yang membuat, Tuan Jones meminta pendapatku tentang menu."
"Kamu chef konsultan ?"
Matt tersenyum dan mengangguk, Kara menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Aku tak sengaja menemukan channelmu di Youtube, sangat bagus sekali penyampaianmu, dan beberapa rekomendasi tempat rupanya bukan hasil bayaran."
"Aku mengulas tempat bukan karena dibayar, tapi sebagai informasi untuk semuanya, yang baik akan disampaikan baik, jika buruk, aku pun tetap mengatakan kekurangan dan memberi sedikit saran untuk kemajuan kedepannya."
"Kau bisa memasak?"
"Kara, rupanya kamu di sini," Papa Kara mendekati Kara, dan tersenyum saat melihat Matt.
"Oh, kalian sudah saling mengenal?" Papa Kara heran.
"Matt, ini putriku Kara. Sebenarnya ini kupersiapkan untuknya, tapi sepertinya dia lebih menyukai tinggal di Washington."
Matt terkejut menatap Kara dan papanya.
"Oh, aku sungguh tidak tau, jika Kara adalah putri anda, Pak. Maafkan saya!" Papa Kara terkekeh mendengar pengakuan Matt.
"Tidak masalah, dia memang keras kepala. Restoran yang dikelola Andy, adalah miliknya pada awalnya."
Matt menatap Kara kagum.
Kara tetap mengagumkan di matanya. Tak banyak yang berubah dari Kara, kecuali tubuhnya yang terlihat lebih kurus.
__ADS_1
"Baiklah, silahkan kalian nikmati hidangan di sini, aku akan berkeliling menemui tamu yang lain."
"Papa, jangan terlalu lelah. Aku tidak mau papa sakit," Kara mengecup pipi papanya.
"Sudahlah jangan berlebihan seperti mamamu. Bersenang-senang lah!" Papa berlalu meninggalkan Kara dan Matt yang masih berhadapan.
"Apa...?" ucap Kara dan Matt bersamaan.
"Silahkan kamu dulu!" pinta Matt, Kara tersenyum.
"Apa kabarmu?" tanya Kara menatap Matt.
"Aku saat ini tinggal di sini. Mari kita berbincang di luar saja, " Matt membimbing Kara di halaman belakang restoran, bersebelahan dengan area kolam renang dan taman hotel.
"Maafkan aku yang pergi tanpa memberi kabar!" Matt menggenggam jemari Kara.
Kara menatap Matt, menunggu Matt melanjutkan ucapannya.
"Ibuku sakit dan membutuhkan ku saat itu. Saat kelulusan pun aku tak menghadiri wisudaku, karena merawat ibuku."
"Mengapa tidak mengabariku?"
"Aku menjual ponselku untuk biaya kemari, di sini aku bekerja di restoran sebagai pelayan saat sore hingga malam hari." Matt tersenyum, namun terdengar sedih.
"Maaf, aku tak tau hal itu!" Kara menepuk punggung tangan Matt.
"Setiap malam sebelum pulang aku selalu memasak untuk makanku. Beruntung hari itu chef kepala ke dapur melihatku memasak dan mencicipi buatanku, dia menyukainya. Dia mengajariku beberapa resep dan tehnik memasak. Aku pun akhirnya harus banyak membaca dan belajar secara otodidak cara memasak." Matt mengenang masa lalunya.
"Bagaimana ibumu saat ini?"
"Tuhan memanggil nya, sehari setelah aku dipercaya menjadi asisten chef "
"Matt, aku turut berduka!" Kara memeluk Matt.
Kara menatap Matt setelah melepas pelukannya. Ada rasa rindu terselip di dadanya, ingin dia mengenang masa lalu, namun Kara sadar telah memiliki Kevin.
Matt hendak mencium Kara, Kara tersadar dan menghindar sedikit, sehingga Matt mencium pipinya.
__ADS_1
"Maafkan aku Kara! Ini kartu namaku. Selamat malam!" Matt menyerahkan selembar kartu namanya, lalu bergegas meninggalkan Kara.
Kara menatap kartu nama Matt dan menyimpannya. Lalu ia masuk ke restoran kembali.