
Arka pun memesan beberapa makanan untuknya dan Aleta tentunya hingga beberapa saat kemudian, makanan yang ia pesan pun datang.
Arka pun mulai memakan makanan tersebut, sedangkan Aleta masih ragu untuk memakannya.
'Apa aku harus makan ini ya? tapi aku gak punya uang buat bayar Mas Arka,' tanya Aleta dalam hati.
Jujur saja Aleta masih ragu saat Arka mengatakan akan membiayai semua kebutuhannya.
"Kamu masih memikirkan biaya untuk makan kali ini, huh saya kan sudah bilang kalau kamu gak perlu khawatir. Saya yang akan membayarkan lagian saya ini suami kamu, mulai sekarang cobalah untuk menerima kenyataan kalau saya ini suami kamu dan saya akan melakukan apapun untuk kamu dan anak kita," ucap Arka dan Aleta pun menganggukkan kepalanya.
Beberapa saat kemudian, Aleta pun memakan makanan yang di pesan Arka. Setelah Aleta memakan makanan tersebut, mereka pun memutuskan untuk pergi dari restoran tersebut.
Mereka tidak langsung pulang, mereka terlebih dahulu pergi ke beberapa bahan makanan untuk di kos dan tentunya Arka lah yang membayar walaupun tadi Aleta sempat menolaknya, tapi akhirnya Aleta pasrah dan membiarkan Arka untuk membayarnya.
Mereka terus berada di supermarket hingga tanpa terasa hari mulai gelap dan akhirnya mereka memutuskan untuk pergi dari supermarket.
"Kamu mau kemana lagi?" tanya Arka.
"Gak kemana-mana, Mas," ucap Aleta.
"Kamu gak mau ke pasar malam?" tanya Arka.
"Pasar malam? emangnya di sini ada pasar malam?" tanya Aleta.
"Ya, tadi kevin lihat ada pasar malam di dekat sini," ucap Arka.
"Eh,m gak usah deh, Mas. Kita langsung pulang aja," ucap Aleta.
Lagi-lagi Aleta tidak berani jujur pada Arka jika ia sangat ingin pergi ke pasar malam karena memang sudah lama sekali ia tidak pergi ke pasar malam.
"Huh, bisa tidak kamu sekali saja jujur ke saya. Saya tau kalau kamu itu pengen ke pasar malam, tapi kenapa kamu berbohong sih?" tanya Arka dan Aleta tentunya terkejut dan bertanya-tanya bagaimana bisa Arka tau jika ia sangat ingin pergi ke pasar malam.
"Aleta gak bohong kok, Mas. Aleta memang gak pengen ke pasar malam," ucap Aleta.
"Jadi, gimana ini. Kita ke pasar malam atau langsung pulang?" tanya Kevin.
"Langsung pulang aja," ucap Arka dan diangguki Kevin.
Di perjalanan mereka ternyata melewati pasar malam yang tadi mereka bahas, jalanan di sana sangat ramai bahkan mobil yang mereka tumpangi pun ternyata imbasnya yaitu macet.
Banyak warga sekitar yang datang ke pasar malam dan juga banyak pengendara yang melewati jalan tersebut sehingga membuat jalanan padat.
Aleta pun menatap beberapa wahana yang ada di pasar malam tersebut dari jendela, 'Kayanya seru deh ya ke pasar malam, huh jadi inget waktu Ayah sama Bunda ajak aku ke pasar malam ya walaupun aku gak bisa naik wahana apapun, tapi aku bahagia saat itu. Aku pengen banget naik wahana di sana, seumur hidup aku gak pernah ngerasain gimana naik wahana yang ada di pasar malam,' ucap Aleta dalam hati.
Arka sendiri melihat bagaimana wajah sendu Aleta saat melihat beberapa wahana yang ada di pasar malam, baru saja Arka berucap tiba-tiba Aleta terlebih dahulu merintih kesakitan dan memegang perutnya dan sontak saja hal itu membuat Arka panik, bukan hanya Arka yang panik, tapi juga Kevin yang ada di kursi kemudi pun langsung panik saat melihat Aleta yang merintih kesakitan.
"Awsh," rintih Aleta.
"Kenapa? apa perutnya sakit? kita langsung ke dokter ya periksa kandungan kamu, siapa tau kamu mau lahiran," tanya Arka.
"Leta gapapa, Mas. Kan Leta udah bilang kalau kayak gini ini udah biasa apalagi usia kandungan Leta kan udah delapan bulan dan satu bulan lagi mau lahiran, jadi wajar kalau anaknya nendang kayak tadi," ucap Aleta.
"Tapi, ini udah lebih dari tiga kali kamu merintih kesakitan karena tendangan anak kita," ucap Arka.
"Gapapa, Mas. Namanya juga hamil tua Mas, jadi sering banget kayak gini. Bahkan waktu masuk kehamilan tujuh bulan anak kita sering banget nendang, satu hari bisa lebih dari lima kali loh," ucap Aleta.
"Sebanyak itu," ucap Arka dan diangguki Aleta.
Mobil yang mereka tumpangi bukannya menuju kos Aleta, tapi mobil tersebut justru parkir di tempat parkir yang disediakan di pasar malam tersebut.
"Loh kenapa kita berhenti di sini? kita gak pulang, Mas?" tanya Aleta.
"Tidak, kita tidak pulang dulu. Saya ingin ke pasar malam karena istri saya yang tidak mau jujur ke saya kalau dia ingin pergi ke pasar malam," ucap Arka dan berhasil membuat Aleta malu.
"Ayo, Kevin udah beli tiketnya," ucap Arka dan menunjukkan dua tiket yang ada di tangannya.
"Loh, kok Mas Arka punya tiket ke pasar malam?" tanya Aleta.
"Kamu lupa siapa suami kamu ini," ucap Arka dengan percaya diri dan Aleta hanya tersenyum geli karena perkataan Arka.
__ADS_1
Ya, Arka memang sudah membeli tiket tersebut sebelumnya lebih tepatnya Kevin
"Ayo, nanti keburu malam pulangnya," ucap Arka.
Akhirnya mereka berdua pun masuk ke dalam pasar malam, sedangkan Kevin juga masuk ke dalam pasar malam hanya saja ia tidak mengikuti Arka dan Aleta tentunya karena jika ia mengikuti pasangan tersebut maka dapat di pastikan keadaan Kevin akan mengenaskan terutama mentalnya.
"Mau main wahana yang apa?" tanya Arka.
"Terserah Mas Arka aja, Aleta ngikut," ucap Aleta.
Arka pun menghembuskan nafasnya pelan lalu menggandeng tangan sang istri dan mengajaknya untuk memasuki permainan memanah dengan hadiah boneka.
Arka terlebih dahulu memainkan permainan tersebut dan dalam sekali coba Arka berhasil mendapatkan hadiah boneka jerapah dan langsung ia berikan pada Aleta.
"Mau coba?" tanya Arka.
"Ta-tapi, Leta gak bisa mainnya, Mas," ucap Aleta.
"Gapapa, kamu tinggal arahkan panahnya aja ke sana sesuai dengan insting kamu," ucap Arka.
Akhirnya Aleta pun mencobanya dan tentunya saja hasilnya beda dengan Arka karena tujuh kali lemparan tidak ada yang berhasil mengenai titik tengah papan panah.
"Ya, gagal Mas," ucap Aleta.
"Gapapa, namanya juga permainan gak semuanya harus berhasil bukan," ucap Arka dan diangguki Aleta.
"Udah gak usah dipikirin sekarang kita cari permainan lain aja yang mungkin kamu bisa," ucap Arka.
Mereka berdua pun mencoba beberapa permainan yang ada di sana dan hasilnya tetaplah sama hanya Arka yang mendapatkan hadiah dari permainan tersebut dan Aleta tentu saja mendapatkan hadiah sebuah gantungan itupun hadiah dari mewarnai.
"Mas, mau ke sana boleh?" tanya Aleta dengan menunjuk wahana yang ada di sana
Arka pun mengikuti arah telunjuk Aleta dan betapa terkejutnya ia saat melihat wahan tersebut, "Gak boleh, kita cari wahana yang lain aja," ucap Arka.
"Tapi, aku pengen yang itu Mas. Aku kan gak pernah ke pasar malam dan aku denger wahana itu salah satu wahana yang paling disukai orang-orang," ucap Aleta.
"Salah satunya, Mas Arka ya," ucap Aleta.
"Saya, saya biasa saja dengan wahana itu. Tapi, yang saya pikirkan adalah kamu, kamu sekarang lagi hamil besar dan saya juga yakin kalau di sana kamu tidak akan berani," ucap Arka.
"Enak aja Mas Arka bilang gak berani. Aku itu berani ya, kalau gitu ayo kita ke sana," ajak Aleta.
"Gak, kamu lagi hamil dan ibu hamil gak boleh masuk ke sana," ucap Arka.
"Ayo Mas, itu lihat ada ibu hamil yang sama kayak Leta masuk dan gapapa kok," ucap Aleta.
"Gak, saya gak akan izinkan kamu masuk ke sana," ucap Arka.
"Mas Arka lupa, tadi kan Leta bilang kalau Leta gak pernah main wahana yang ada di dapat malam karena kalau ke pasar malam Leta hanya nemenin Vanya atau Gladis yang pengen ke pasar malam. Masa sekarang Leta juga gak boleh sih Mas," ucap Aleta dengan sendu.
Arka memang lemah terutama mengenai Aleta, buktinya saat ini ia sudah bimbang untuk memperbolehkan Aleta masuk ke dalam wahana yang sejak tadi Aleta inginkan.
Aleta tidak masalah jika Aleta ingin masuk ke wahana tersebut, tapi yang menjadi permasalahan adalah saat ini usia kandungan Aleta sudah delapan bulan dan Arka tidak bisa bayangkan bagaimana jika Aleta masuk ke dalam wahana tersebut.
Wahana yang sejak tadi Aleta inginkan adalah rumah hantu dan tentunya Arka tidak kan membiarkannya bukan karena terlalu bahaya bagi Aleta yang saat ini tengah hamil anaknya.
"Mas, boleh ya. Tadi kan ada ibu hamil yang juga masuk bahkan perutnya lebih besar dari Leta," ucap Aleta.
Akhirnya Arka menyerah karena tidak tega niat wajah Aleta, "Yaudah iya, tapi dengan saya dan jangan jauh-jauh dari saya. Saya yakin kamu akan takut saat masuk ke dalam, pokoknya kamu jangan jauh dari saya udah itu aja," ucap Arka.
Ucapan Arka tentunya di sambut baik oleh Aleta dan Aleta pun langsung tersenyum setelah mendengar hal tersebut.
"Kalau gitu, ayo Mas," ajak Aleta.
Merek sudah berada di depan pintu rumah hantu tersebut dan menunggu antrian untuk masuk ke dalam, "Mbak, ini ibu hamil beneran gapapa masuk?" tanya Arka.
"Iya, Kak. Ibu hamil boleh masuk karena di dalam tidak seram dan hanya pengenalan saja, jadi ibu hamil diperbolehkan masuk," ucap penjaga pintu rumah hantu tersebut.
Baru saja Arka dan Aleta masuk, mereka sudah disuguhi sebuah gambar tengkorak dan hal itu langsung membuat Aleta histeris.
__ADS_1
Arka langsung membawa Aleta di samping kirinya agar tidak berdekatan dengan tengkorak tersebut dan tak lupa Arka pun memeluk Aleta dari samping.
"Kan sudah saya bilang sebelumnya, kamu pasti takut," ucap Arka.
"Mas gak Leta gak berani, kita keluar aja ya," ucap Aleta.
"Gak bisa, kamu lihat pintu di belakang kita udah di tutup. Jadi, otomatis kita harus keluar dari pintu keluar dan kalau mau ke pintu keluar kita harus masuk ke dalam," ucap Arka.
"Tapi, Leta gak berani Mas," ucap Aleta.
"Kamu di samping saya, kamu pegang jas saya. Kalau kamu takut kamu bisa luapkan ke saya," ucap Arka.
"Tapi...," ucapan Aleta terhenti lantaran Arka yang menyelanya.
"Ini bukan saatnya bicara, kamu harus cepat keluar dari tempat ini sebelum kamu semakin takut," ucap Arka dan diangguki Aleta.
Mereka berdua pun menyusuri ruang hantu dan benar saja setiap kali ada hantu yang terlihat Aleta langsung histeris sedangkan Arka hanya diam dan menenangkan istrinya yang sangat ketakutan tersebut.
Padahal dari sudut pandangan Arka, hantu-hantu tersebut tidaklah menakutkan dan hampir semua hantu di sana hanya berlumuran darah tidak seseram yang ia bayangkan, tapi entah mengapa Aleta begitu takut hingga membuat telinga Arka sakit.
Jika saja Aleta bukan istrinya, sudah Arka pastikan ia menampar mulut Aleta karena telah membuat telinganya sakit, tapi lagi-lagi kenyataan jika Aleta adalah istrinya yang membuat Arka pun diam untuk menahan emosinya.
"Mas Arka!" teriak Aleta dan tiba-tiba saja ia berlari ke samping kanannya hingga tubuhnya hampir terhuyung bahkan lebih parahnya Aleta hampir terjatuh jika saja Arka tidak sigap langsung menangkap tubuh istrinya yang tengah hamil itu.
"Kenapa?" tanya Arka.
"Di-di bawah ada yang pegang kaki Leta," ucap Aleta dengan suara seraknya dan disertai tangisan.
Arka pun melihat ke bawah dan yang ia temukan hanya tangan tengkorak yang memang terlihat, tapi sangat tidak menakutkan dan lagi-lagi Arka di buat bingung oleh istrinya itu karena bagi Arka, Aleta terlalu penakut dalam hal ini.
Udah jangan nangis, gak ada apa-apa kok. Di bawah sana itu hanya tengkorak buatan, sekarang kita harus keluar dari sini," ucap Arka.
"Awsh," rintih Aleta.
Arka sendiri yang mendengar rintihan Aleta langsung berubah menjadi panik dan menatap lekat sang istri, "Kenapa? ada yang sakit?" tanya Arka.
'Kayaknya tadi pinggangku kena pembatas besi ini deh soalnya setelah pindah tempat tadi kok tiba-tiba pinggangku sakit gini ya dan lumayan perih,' ucap Aleta dalam hati.
"Gapapa kok, Mas. Ayo kita cari jalan keluarnya," ucap Aleta.
Selama mencari jalan keluar dari wahana tersebut, Arka tak pernah melepaskan pelukannya dari sang istri. Arka benar-benar tidak memberikan Aleta untuk jauh darinya bahkan jika ada hantu yang memegang Aleta, Arka langsung menepis ya dan akan berkata jika Aleta istrinya dan hanya ia yang bisa menyentuhnya.
Tentu saja hal itu membuat Aleta malu dan salah tingkah tentunya untung saja keadaan di dalam sana gelap sehingga Arka tidak dapat melihat bagaimana rona merah yang ada di pipi Aleta, jika arak tau pasti Aleta akan malu jika berhadapan dengan Arka.
Hingga beberapa saat kemudian, Arka dan Aleta pun berhasil keluar dari wahana tersebut, "Bagaimana? apa kamu pengen masuk ke sini lagi?" tanya Arka dan mendapat gelengan kepala dari Aleta.
"Gak mau, udah ini aja yang terakhir. Leta nyesel udah pengen ke sini tadi," ucap Aleta.
"Kamu tau tidak kalau di dalam tadi sangat membosankan," ucap Arka.
"Hah, membosankan, Mas Arka ini tadi gak lihat apa hantunya menakutkan gitu," ucap Aleta.
"Kayak gitu menakutkan bahkan lebih menakutkan teriakan kamu tadi waktu di dalam daripada suara hantunya," ucap Arka.
"Mas Arka," ucap Aleta lalu ia memukul lengan Arka dan Arka langsung menatap tajam wajah Aleta.
Seakan sadar jika ia telah membangunkan singa tidur, Aleta pun langsung meminta maaf.
"Maaf, Mas. Tadi Leta gak sengaja mukul Mas Arka," ucap Aleta.
"Hem," Arka hanya berdehem saja dan hal itu membuat Aleta semakin merasa bersalah dan takut.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1