
Kara menyusuri jalan menuju mobil pagi itu. Ia sengaja pergi pagi supaya dapat menikmati perjalanannya nanti.
Ia menikmati pemandangan sepanjang perjalanan, sambik mendengarkan siaran radio yang dia putar.
Kepalanya mengingat kenangan beberapa tahun silam saat ia dan Josh melalui jalan ini, sambil bernyanyi dengan nada masing masing, lalu menikmati popcorn atau sambil mengunyah hotdog yang dibeli di dekat pom saat mengisi bahan bakar.
Kara merindukan Josh. Entahlah, meskipun dia telah bertemu banyak lelaki dalam hidupnya, hanya Josh yang memberikan kesan mendalam dalam hidupnya.
Terkadang ia berandai-andai jika Josh masih ada, dan mengetahui kenyataan bahwa ia memiliki putra dari perempuan lain, dan Kara bertemu dengan Kevin.
Ah... Aku terlalu banyak berhalusinasi mengingatmu Josh.
Kara meminum kopinya sambil terus fokus menyetir.
Kara mengingat semua kenangan bersama Kevin, pertemuan pertamanya, lalu perbuatan bodohnya bersama Kevin di malam sebelum pernikahan Cindy. Kara berpikir seandainya ia melakukannya saat masih bersama Josh, mungkin mereka akan saling benci satu sama lain hingga tua. Kara tersenyum geli membayangkan pikirannya sendiri.
Keluarga Kevin yang sangat baik padanya, namun keluarga Josh juga menerimanya.
Sudah empat tahun lebih ia tidak berkomunikasi dengan orang tua Josh. Kara pernah sekali mendatangi makam Josh, namun tidak berkunjungan menemui mereka.
Kara memikirkan ucapan Mamanya tentang silahturahmi dengan keluarga Josh.
Kara telah memasuki wilayah kota kecil itu. Ia sengaja menuju ke pusat kotanya untuk membeli bunga dan buah tangan untuk orang tua Josh.
Kara memarkir mobil di depan toko bunga, ia memilih buket bunga untuk berziarah ke makam Josh.
Setelah itu ia berjalan ke sebuah toko kue di seberang jalan. Aroma kue dan roti tercium menggodanya. Kara menyetel kameranya untuk membuat footage video-nya.
Kara masuk ke toko itu, tidak terlalu ramai, tapi selalu ada orang yang datang untung membeli.
Kara tertarik mencoba donat dan muffin sambil mencoba coklat panas andalan toko roti itu. Kara duduk di kursi yang letaknya di dekat jendela sambilmenunggu pesanannya tiba.
Beberapa orang yang masuk memperhatikan Kara yang terlihat asing bagi mereka, namun yang lebih mencolok adalah saat Kara sibuk memfoto dan membuat video.
Selesai menikmati pesanannya, Kara memesan beberapa donat, muffin, dan roti manis untuk oleh oleh.
Kara menuju ujung desa di mana area pemakaman tempat Josh dimakamkan.
Udara dingin berhembus seolah menyapa Kara, membuatnya membenarkan mantelnya. Kara berjalan di jalan setapak, menuju peristirahatan terakhir Josh.
Kara meletakkan buket bunganya di atas makam Josh, sejenak berdoa untuknya.
Kara menatap pusara Josh untuk beberapa saat. Dia merasa saat ini Josh berada di sampingnya, menemani.
__ADS_1
Kenangan bersama Josh kembali terlintas di kepala Kara, bagaikan slide video yang terputar. Kara telah memaafkan Josh, tentang masa lalu Josh dan Stella.
Kara merasa bebannya seakan terlepas dari kepalanya. Tubuhnya terasa ringan dan hatinya lebih bahagia.
Kara berbalik untuk melanjutkan ke rumah orang tua Josh dengan perasaan lebih bahagia dan tak ada beban.
Kara melewati perkebunan milik keluarga Kevin, dan ada rasa rindu menyeruak di dadanya. Rasanya ia ingin berlari menemui Kevin dan memeluknya erat, meminta maaf atas sikapnya selama ini yang membingungkan.
Kara menghentikan mobil di halaman yang luas itu. Ia turun dari mobil, gak lupa membawa bingkisan, dan menuju ke pintu.
Kara mengetuk pintu, tak lama terdengar langkah kaki menuju pintu, dan pintu terbuka.
"Kara..?" Ibu Josh terkejut melihat Kara telah berdiri di hadapannya.
Kara tersenyum, lalu memeluk Ibu Josh, lalu menyerahkan oleh olehnya.
Ibu Josh mempersilahkan masuk, Kara mengikuti dari belakang. Kara duduk di ruang dapur yang menghadap sungai.
"Bagaimana kabar Ibu dan Ayah?" tanya Kara.
"Sejak kepergian Josh, ya seperti inilah kehidupan kami. Ayah, selalu menyibukkan dirinya di toko." ucap Ibu.
Kara menganguk angguk memahami keadaan Ibu dan ayah.
Kara menikmati teh yang dibuatkan oleh Ibu sambil mengobrol tentang pekerjaannya.
Tak lama terdengar mobil tiba. Ayah masuk ke rumah, terkejut melihat kedatangan Kara di rumahnya.
Ayah memeluk Kara dengan rasa sayang dan memuji channel youtube miliknya, ternyata Ayah salah satu penggemar acaranya.
"Aku akhirnya menemukan Marco temanku yang telah lama menghilang saat mengadu nasib si kota besar. Berkat Kamu aku bisa menghubunginya lagi dan dapat mendengar suaranya kembali."
"Paman Marco?"
"Ya, dia adalah sahabatku semasa sekolah, lalu dia bekerja di restoran Papamu, lalu dia pergi mengadu nasib ke kota besar itu. Sejak itu aku tak pernah mendengar kabarnya, hingga aku tak sengaja melihat channelmu dari Noah." Ayah memelankan suaranya saat menyebut nama Noah. Ia menyadari akan kesalahannya, namun Kara bersikap biasa saja dan mengalihkan pembicaraan dengan bercerita tentang Paman Marco dan restoran pizza nya.
Terdengar pintu diketuk, lalu dibuka.
"Kakek, Nenek..!" panggil seorang anak lelaki.
Lalu anak itu berdiri mematung ketika menatap Kara.
"Tante Kara..!" Noah berlari menuju ke arah Kara dan memeluknya erat.
__ADS_1
Stella bergegas masuk dan terdiam melihat pemandangan itu.
"Hai Noah, apa kabarmu? Bagaimana sekolahmu?" tanya Kara setelah melepas pelukan Noah.
" Kini aku jadi ketua kelas. Aku tidak masuk team sepakbola sekolah lagi saat ini. Aku mencoba ikut basket saja." cerita bocah itu.
"Oh, basket juga baik."
"Bagaimana Tante bisa kemari?" Noah penasaran.
"Aku sengaja menunggumu di sini." Kara mengedipkan sebelah matanya pada Noah.
Noah melihat bungkusan muffin, lalu ia melahapnya. Noah menceritakan sekolah, teman temannya, hingga gurunya pada Kara. Kara mendengarkan dengan sabar, terkadang menimpali.
Stella sudah pernah melihat keakraban Kara dan Noah, jadi dia bersikap biasa saja, namun bagi orang tua Josh ini sangat membingungkan.
Stella mengajak Kara berjalan jalan ke luar rumah sore itu.
Noah ikut kakeknya ke toko.
"Bagaimana hubunganmu dengan Jeff?" Kara memulai pertanyaan.
"Entahlah, kami dalam masa introspeksi diri kami masing-masing."
"Kalian berpisah?"
"Tidak, namun kami jarang bertemu. Aku sibuk dengan pekerjaan, begitu pula dengan Jeff."
"Mungkin kalian perlu sedikit refreshing."
"Ya, sepertinya benar ucapanmu." Stella tersenyum gamang.
"Jeff itu setia, dia tidak pernah aneh aneh, dia tulus saat menyukai seseorang."
"Ternyata kamu lebih mengenalnya daripada aku." ucap Stella.
"Kami bersahabat sejak kecil, bahkan dia selalu mengikuti aku dan Claire kemana pun." Kara tertawa mengenang masa sekolahnya dulu. Stella ikut tertawa mendengar cerita masa sekolah Jeff bersama Kara dan Claire.
"Kau tahu, terkadang aku iri denganmu." ucap Stella, membuat Kara terkejut.
"Ya, dulu Josh lebih memilihmu, lalu Kevin. Tak usah ditanya lagi, Kevin telah melabeli dirinya dengan namamu. Lalu kini lihatlah Noah. Dia begitu mengidolakanmu." lanjut Stella.
Kara hanya diam mendengarkan Stella hingga selesai.
__ADS_1
"Aku ingin bersahabat denganmu Stell. Lupakan masa lalu kita, dan mari kita menatap masa depan kita masing masing. Kamu dan aku juga punya hak bahagia."
Stella tak menyangka Kara akan berbicara seperti itu. Ia memeluk Kara, ia merasakan jika Kara tulus dengan semua ucapannya