
"Ini buahnya," ucap Kevin dan menyerahkan buah tersebut pada Arka.
Arka pun menerima buah tersebut lalu ia berikan pada Aleta, "Loh kenapa ini di kasih ke aku, Mas?" tanya Aleta.
"Buat kamu, saya tidak terlalu suka buah melon," ucap Arka.
Aleta pun menerima buah tersebut, "Saya kasih buah itu buat kamu makan bukan buat kamu bawa aja," ucap Arka.
"Beneran Mas gapapa?" tanya Aleta.
"Huh, iya gapapa kalau kamu mau lagi bilang nanti saya belikan," ucap Arka.
"Eh gak usah Mas ini aja udah cukup kok," ucap Aleta.
Aleta pun mulai memakan buah yang sejak tadi ia inginkan, 'Enak banget,' ucap Aleta dalam hati.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua pun sampai di depan tempat kos Aleta, "Kamu tinggal di rumah ini?" tanya Arka.
"Bukan Mas, ini rumahnya Bu Gita yang punya kos," ucap Aleta.
"Terus tempat tinggal kamu dimana?" tanya Arka.
"Tempat tinggal ku di belakang rumahnya Bu Gita," ucap Aleta dan diangguki Arka.
"Yaudah, ayo," ucap Arka.
"Ayo kemana?" tanya Aleta.
"Ke rumah kamu ah maksud saya tempat tinggal kamu," ucap Arka.
"Tap,u tempat tinggal Leta kecil Mas takutnya Mas Arka gak betah nanti di sana," ucap Aleta.
"Huh, saya aja belum lihat. Tapi, kamu udah bilang kayak gitu," ucap Arka.
"Tapi, Leta yakin Mas Arka gak akan suka di sana," ucap Aleta.
"Bawa saya ke tempat tinggal kamu dulu baru setelah itu kamu bisa menilainya," ucap Arka.
"Kalau gitu, ayo Mas," ajak Aleta.
Arka dan Aleta pun keluar dari mobil, saat mereka berdua keluar dari mobil bertepatan dengan Bu Gita yang keluar dari rumahnya lalu Bu Gita pun menghampiri Aleta.
"Siapa dia, Ta?" tanya Bu Gita.
"I-itu Bu i-ini...," ucapan Aleta terhenti lantaran Arka yang menyelanya.
"Saya suaminya Aleta, Bu," ucap Arka.
"Oh ini suami kamu, Ta. Ganteng ya, Ta," ucap Bu Gita.
"Eh, i-iya, Bu," ucap Aleta.
Saat Aleta dan Bu gita berbicara Arka menghampiri Kevin yang berada di samping mobilnya, "Gue nginep di sini dan lo balik aja ke hotel, sama satu lagi nanti kirimin baju ganti buat rapat besok," ucap Arka.
"Siap, Bos," ucap Kevin dan masuk ke dalam mobil lalu pergi dari tempat tersebut.
"Loh Mas kenapa Kak Kevin pergi?" tanya Aleta.
"Gapapa, dia ada urusan," ucap Arka dan untung saja Aleta percaya dengan apa yang dia katakan.
"Namanya suami kamu siapa, Ta?" tanya Bu Gita.
"Namanya Mas Arka, Bu," ucap Aleta.
"Hih namanya aja ganteng kayak orangnya," ucap Bu Gita.
Aleta hanya mampu tersenyum karena jujur saja ia sedikit takut Arka marah padanya.
"Bu," panggil Aleta.
"Iya, kenapa, Ta?" tanya Bu Gita.
'Hem, saya boleh bawa Mas Arka masuk ke dalam?" tanya Aleta.
"Oh boleh dong kan dia suami kamu kecuali dia bukan suami kamu gak boleh," ucap Bu Gita.
"Makasih, Bu," ucap Aleta dan diangguki Bu Gita lalu Bu Gita pun masuk ke dalam kamarnya karena suaminya yang memanggilnya.
"Ayo Mas," ajak Aleta.
Aleta dan Arka pun masuk ke dalam gang tempat tinggal Aleta, "Ini tempat tinggal kamu?" tanya Arka.
"Iya, Mas. Tempat tinggal Leta yang nomor 7," ucap Aleta dan diangguki Arka.
Mereka berdua pun memutuskan untuk menuju ke kamar Aleta, Aleta segera membuka kamarnya dan mereka langsung masuk.
__ADS_1
"Maaf Mas kamarnya sempit," ucap Aleta.
"Tidak apa," ucap Arka.
"Mas Arka duduk di kasur aja soalnya gak ada sofa di sini," ucap Aleta dan diangguki Arka.
Arka langsung duduk di atas kasur dan Aleta menaruh semua barang-barangnya di dapur. Setelah itu, Aleta pun langsung kembali dan duduk di lantai di dekat Arka.
"Jangan duduk di sana, duduk di sini aja," ucap Arka dan menepuk kasur di sebelahnya yang masih kosong.
"Gak, Mas. Aku di sini aja," ucap Aleta.
Arka pun ikut duduk di samping Aleta, "Loh Mas Arka kenapa duduk di sini?" tanya Aleta.
"Karena kamu gak mau duduk di sana tadi," ucap Arka dan Aleta pun terdiam mendengarnya.
Suasana menjadi hening dalam beberapa saat hingga akhirnya Aleta memberanikan diri untuk mengeluarkan suaranya, "Mas Arka kenapa bisa ada di sini?" tanya Aleta.
# Flashback On #
"Ka, besok kita ada uji lapangan ke daerah A buat meriksa langsung tanah yang mau dibikin hotel," ucap Kevin.
"Jam berapa?" tanya Arka.
"Ya, mungkin jam 8 malam nanti kita berangkat terus kita istirahat dan besok jam 10 kita mulai uji lapangan," ucap Kevin.
"Hem, kalau gitu kita selesain semuanya yang ada di si i biar kita bisa periksa di sana," ucap Arka dan diangguki Kevin.
Malam harinya setelah Arka menyiapkan semuanya, Kevin pun datang ke rumah keluarga Andrean dan setelah itu mereka pergi ke daerah A.
Sesampainya di daerah A, Arka dan Kevin langsung ke kamar hotel mereka masing-masing untuk beristirahat.
Pagi harinya setelah mereka semua selesai bersiap, Arka dan Kevin langsung menuju tempat yang akan ia gunakan untuk pembangunan hotel yang merupakan proyek baru dari Rean grup.
Seharian itu Arka gunakan untuk melihat bagaimana tempat serta membahas mengenai apa saja yang akan dibutuhkan nanti jika proyek ini berhasil dan kegiatan hari ini selesai pukul 5 sore.
"Udah gak ada agenda lain kan selama di sini?" tanya Arka.
"Gak ada, mungkin besok pagi kita bisa pulang," ucap Kevin.
"Kita pulangnya lusa aja jangan besok," ucap Arka.
"Lah kenapa gitu? bukannya lo sendiri yang mau langsung pulang setelah kegiatan hari ini selesai?" tanya Kevin.
"Ya, iya juga sih. Kalau gue mah ikut lo aja, jadi sekarang lo istirahat aja soalnya gue juga mau istirahat," ucap Kevin dan diangguki Arka.
Pagi harinya Arka dan Kevin sudah bersiap-siap sejak pagi tentunya untuk berkeliling di daerah tersebut, entahlah ini adalah permintaan Arka dan Kevin tentunya harus mengikuti apa yang diinginkan Tuannya bukan.
"Kita ke pasar itu," ucap Arka.
"Ngapain ke pasar?" tanya Kevin.
"Ya, gue pengen lihat-lihat aja di dalam pasar ada apa aja gitu," ucap Arka.
"Di dalam pasar ya ada banyak, ada penjual, terus juga ada kebutuhan pokok kayak beras, lauk pauk terus juga ada yang jualan baju...," ucapan Kevin terhenti lantaran Arka yang menyelanya.
"Gak usah banyak bicara bisa gak sih, kita ke sana aja gue tiba-tiba pengen ke sana," ucap Arka.
"Tapi, Ka. Lo kan gak pernah ke tempat kayak gini," ucap Kevin.
"Nah maka dari itu, gue sekarang ke sini," ucap Arka.
Mau tidak mau Kevin pun mengendarai mobilnya menuju pasar dan setelah sampai di pasar Arka langsung mengelilingi pasar tersebut, mereka berdua hanya berkeliling tanpa membeli apapun tentunya karena memang baik arak ataupun Kevin tidak membawanya uang tunai.
"Kita ke sini cuma buat keliling doang nih, Ka," ucap Kevin.
"Iya, emangnya lo bawa uang tunai?" tanya Arka.
"Hehehehe, enggak. Gue lupa gak bawa," ucap Kevin.
Saat tengah berkeliling tiba-tiba saja ponsel Kevin berdering dan Kevin langsung mengangkat sambungan telepon tersebut, tak sampai 10 menit Kevin pun memutuskan sambungan teleponnya dan langsung menghampiri Arka yang tengah melihat ke sekelilingnya.
"Kenapa?" tanya Arka.
"Kata Pak Rafli kita bisa lihat gimana design hotelnya serta membahas semuanya besok," ucap Kevin.
"Besok?" tanya Arka.
"Iya, besok," ucap Kevin.
"Bukannya kemarin katanya satu bulan lagi," ucap Arka.
"Nah itu gue juga gak tau, tapi kayaknya mereka langsung mempercepat semuanya setelah tau keluarga lo deh," ucap Kevin.
"Memang keluarga Andrean sangat berperan besar ternyata," ucap Arka.
__ADS_1
"Iya lah, siapa juga yan gak tau keluarga Andrean. Kalau sampai ada yang gak tau siapa keluarga Andrean, gue yakin dia itu mata-mata di negara A," ucap Kevin.
"Selalu berlebihan," gumam Arka dan masih dapat di dengar Kevin karena memang Arka bergumam dengan cukup keras.
"Gue gak berlebihan ya," ucap Kevin yang tidak terima.
"Ya," jawab Arka.
Arka sengaja menjawab seperti itu karena ia tidak ingin memperpanjang masalah yang tidak penting dengan Kevin.
"Jadi, kita besok mau bahas itu apa kita pulang?" tanya Kevin.
"Besok kita bahas proyek itu aja," ucap Arka.
"Siap," ucap Kevin.
"Sekarang kita pulang aja," ucap Arka.
"Lah kok udah pulang aja kayaknya kita di sini belum ada 1 jam deh," ucap Kevin.
"Gue udah gerah," ucap Arka.
"Lagian lo jalan-jalan malah paket kemeja sama jas udah kayak mau rapat aja," ucap Kevin.
"Terserah gue," ucap Arka.
Iya, deh terserah lo," ucap Kevin.
Akhirnya mereka berdua pun sampai deket pintu keluar dan menuju tempat parkir.
Tapi, belum sempat mereka keluar dari area pasar tiba-tiba saja Arka mendengar suara yang tidak asing baginya, suara yang sudah sangat kama ia cari dan ia rindukan.
Arka pun berhenti dan tentunya hal itu membuat Kevin bingung karena Arka berhenti padahal sejak tadi arak ingin cepat keluar dari area pasar tersebut.
"Kenapa lo berhenti?" tanya Kevin.
Arka tidak menjawab dan Arka justru memilih mencari suara yang sangat ia ingin dengar.
"Lah tuh anak kenapa lagi?" tanya kevin pada dirinya sendiri.
Setalah mendengar suara tersebut dari dekat Arka pun yakin lalu ia langsung melihat ke sekelilingnya dan benar saja apa yang sejak tadi ia pikirkan jika suara yang sejak tadi ia dengar adalah suara orang yang sangat ia rindukan.
Tanpa basa basi Arka pun langsung berdiri tepat di hadapan orang tersebut dan setelah orang tersebut melihat Arka. Arka dapat melihat wajah terkejut orang tersebut, ya orang tersebut adalah Aleta yang merupakan istrinya sendiri.
Kevin sendiri juga tentunya terkejut saat melihat Aleta, tapi ia berusaha menutupinya. Meskipun begitu Kevin sangat senang karena akhirnya Arka bertemu dengan Aleta.
Karena jika tidak, Kevin dapat pastikan jika Arka akan menjadi orang yang lebih kejam, bayangkan saja baru seminggu ia tidak bersama Aleta, jiwa iblis Arka muncul dan langsung memberikan surat peringatan pada setiap karyawan yang melakukan kesalahan meskipun itu hanya kesalahan kecil.
Apa yang dilakukan Arka tentunya sama persis sebelum ia bertemu dan menikah dengan Aleta bahkan dulu Arka bisa langsung memecat orang yang membuat suasana hatinya buruk.
# Flashback Off #
"Jadi, sebenarnya Mas Arka gak sengaja ketemu sama Leta?" tanya Aleta.
"Iya," jawab Arka.
'Jadi, Mas Arka gak sengaja ketemu sama aku, aku kirain Mas Arka bisa ketemu sam aku karena Mas Arka nyariin aku. Tapi, aku juga siapanya Mas Arka sampai Mas Arka nyariin aku,' ucap Aleta dalam hati.
Seolah mengerti apa yang ada di dalam hati sang istri, Arka pun merasa jika jawabannya tadi salah dan ia pun langsung mengatakan hal lain untuk membuat Aleta tidak berpikir yang tidak-tidak.
"Tapi, meskipun begitu saya tetap mencari kamu bahkan setelah kamu pergi. Saya menyewa beberapa orang untuk mencari keberadaan kamu, takut tidak ada yang tau kamu dimana," ucap Arka.
"Mas Arka nyariin Leta?" tanya Aleta.
"Iya, kamu itu istri saya dan akan selamanya begitu. Jadi saya harus cari kamu," ucap Arka.
"Berarti kita gak sengaja ketemu di pasar tadi ya, Mas," ucap Aleta.
Lama-lama Arka pun kesal dengan sikap polos Aleta. Bukan hanya Arka, tapi Aleta juga karen ia merasa setelah hamil otaknya semakin lama untuk memikirkan apapun.
"Iya, sepertinya itu semuanya karena baby-nya yang pengen," ucap Arka lalu menyamakan wajahnya dengan perut buncit Aleta.
"Halo baby! kenalin ini Ayah. Maafin Ayah ya karena Ayah masih belum bisa jadi Ayah yang baik buat baby, Ayah gak bisa ngasih apa yang baby inginkan waktu di dalam perut Bunda. Tapi, baby gak perlu khawatir karena nanti setelah baby lahir, Ayah akan mengabulkan semua keinginan baby ya," ucap Arka dan setelah itu ia pun mengecup perut buncit Aleta secara bertubi-tubi.
"Udah Mas, geli," ucap Aleta dan setelah itu, Arka pun berhenti lalu menatap Aleta.
"Ke-kenapa, Mas?" tanya Aleta dengan gugup.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1