One Night Stand

One Night Stand
Pertemuan dan Perpisahan


__ADS_3

Stella nyaris tersedak mendengar pernyataan dari Kevin dan Kara, ada rasa cemburu di hatinya.


Ditambah Noah terlihat sangat akrab dengan Kara, bahkan sangat mengidolakannya. Channel Youtube Kara ditontonnya berulang kali. Saat itu Stella hanya geleng-geleng kepala saja melihat tingkah putranya, namun setelah mengetahui kenyataan Kevin dan Kara, ada rasa tidak terima akan semuanya.


Jeff menyadari perubahan wajah Stella, ia menggenggam jemari Stella menenangkannya.


Stella pamit ke mobil dengan alasan melupakan ponselnya yang tertinggal di mobil. Setelah Stella menutup pintu kedai, Jeff menyusulnya.


"Ada apa?" tanya Jeff pada Stella yang hanya duduk terpaku di bangku mobil.


Stella menatap lurus sambil menenangkan hatinya.


"Kenapa dia lagi?"


"Maksudmu?"


"Ya, Dia lagi sebagai pemenangnya." Stella terdiam sesaat. Jeff dengan tenang membelai rambut Stella dengan lembut.


"Dulu Josh, lebih memilih Dia daripada aku dan putranya, lalu kau lihat tadi, Noah sangat mengidolakannya. Kini, Kevin bersamanya." Stella terisak.


"Lalu aku apa bagimu?" Jeff menyentuh dagu Stella dan menatapnya. Lama mereka saling beradu pandang, lalu Stella jatuh dalam pelukan Jeff sambil menangis.


"Aku mencintaimu Stella, sungguh! Aku harus membuktikan seperti apa supaya kamu mengetahui perasaanku padamu? Aku tulus sayang padamu dan Noah!"


Stella makin terisak mendengar ucapan Jeff.


"Maafkan aku Jeff. Mungkin aku terlalu egois dengan perasaanku sendiri."


"Kamu masih mencintainya?"


Stella terdiam dengan pertanyaan Jeff, diapun bingung tentang perasaannya sendiri. Dulu ia memang mencintai Kevin, namun setelah bertemu Jeff, ia bisa melupakannya. Kevin seolah obsesinya saja, karena merupakan cinta pertama Stella.


Jeff dengan sabar membelai rambut Stella dan menunggu jawabannya. Stella menatap mata Jeff yang teduh, tidak tega rasanya meninggalkan lelaki baik ini.


Stella mencium bibir Jeff perlahan, Jeff membalasnya dengan lembut, hasrat mereka bergejolak seketika.


"Apa kita perlu pergi ke hotel untuk berduaan dan menitipkan Noah pada Claire dan Kenny?" tanya Jeff.


Stella menganguk dan tersenyum manja pada Jeff.


Jeff lalu menghidupkan mobilnya dan melajukan ke hotel untuk menikmati berduaan hanya dengan Stella.

__ADS_1


Claire melihat mobil Jeff pergi hanya menggeleng kepalanya, dia sudah hapal dengan kelakuan Stella dan Jeff.


Kara melongok mencari Jeff dan Stella dari jendela ke arah luar, namun ia tidak menemukan kedua orang itu.


"Ke mana Jeff dan Stella?" tanyanya pada Claire.


"Mereka sedang ingin berdua." Claire berbisik pada Kara sambil mengedipkan sebelah matanya.


Kara tersenyum mengerti maksud Claire.


Mereka menikmati hidangan sambil bersenda gurau satu sama lain.


"Bagaimana pekerjaanmu di Washington?" tanya Kenny pada Kevin.


"Baik, bulan depan aku akan pindah ke NY." ucap Kevin.


"Aku akan ke San Fransisco mengawasi hotel dan restoran di sana." Kara menimpali.


"Sebenarnya kalian sudah berhubungan berapa lama, Kara tak pernah menceritakan padaku?" tanya Claire penasaran.


"Kami sebenarnya sudah dari awal tahun yang lalu, kebetulan kami tinggal di kota yang sama dan tempat kami berdekatan." jawab Kevin sambil menatap Kara.


"Jadi kamu tau tentang hubungan Jeff dan Stella?" Kevin bertanya pada Kara.


"Ya, sewaktu dia dinas di Washington. Jeff menceritakan semua padaku. Claire yang mengenalkannya pada Stella." jawab Kara sambil mengunyah cakenya.


"Apa kamu pernah bertemu orang tua Josh?" tanya Claire pada Kara.


"Belum, ada apa?"


"Beberapa pekan lalu mereka ke rumah sakit untuk pemeriksaan kesehatan, Ayah Josh terkena serangan jantung. Jeff yang menanganinya." Claire bercerita.


"Iya, Kakek bandel, selau meremehkan kesehatan. Waktu mereka mengunjungi kami, Kakek terkena serangan jantung karena kelelahan. Bukannya berlibur, tapi menginap di rumah sakit." Noah bercerita tentang orang tua Josh.


"Apa Tante teman papaku?" tanya Noah sambil duduk mendekat pada Kara.


Kara diam membisu, tidak tau harus menjawab apa pada bocah itu.


"Kami semua teman papamu." Kevin menjawab sambil mengacak rambut Noah.


"Bagaimana rupa papaku, Om?" lanjutnya bertanya.

__ADS_1


"Papamu dulu paling tampan di antara Aku dan Kenny, banyak gadis gadis yang tergila-gila padanya saat masih muda. Dia seorang kapten team soccer sekolah.." Noah mendengar Kevin bercerita dengan tatapan kagum akan Josh.


"Tapi, mengapa dia tidak pernah mencari Mama dan aku?"


"Papa mencari Kalian, namun Kalian tinggal berjauhan. Papamu harus bekerja untuk membiayai kebutuhanmu di sini." Kenny membantu memberi jawaban.


Noah mangut mangut mulai bisa menerima jawaban tentang Josh.


Kara hanya terdiam mendengar percakapan mereka tentang Josh, ada rasa sakit terselip di hatinya.


"Pernah mengunjungi Kakekmu di desa?" tanya Claire.


"Sering! Mama sering membawakanku ke tempat Kakek dan Nenek berlibur ke sana. Kakek sering membawaku ke tokonya, bahkan aku menemani Kakek mencari barang pesanan pelanggan. Aku sangat senang!" Noah bercerita dengan semangat.


Kevin, Kenny, Claire, dan Kara menyadari jika yang Noah maksud adalah keluarga Josh. Stella tidak pernah mengenalkan orang tuanya kepada Noah karena telah diusir oleh papanya. Kara bersimpati pada Stella akan hak itu, dan mulai memahami mengapa Kevin masih bersikap baik pada Stella meskipun telah menolak cintanya.


"Kamu tahu ladang gandum di desa tempat Kakek Nenek tinggal?" tanya Kevin pada Noah, dijawab anggukan oleh bocah 9 tahun itu dengan cepat.


"Itu milik keluargaku. Adikku tinggal di sana bernama Brian, kamu boleh mampir ke sana juga." ujar Kevin sambil tersenyum.


"Istri Paman Brian itu, sepupuku. Dia pandai membuat donat, muffin, dan aneka kue yang lezat." Kara menambahkan.


"Benarkah?" tanya Noah tak percaya.


Kara dan Kevin menganguk bersama menatap bocah itu.


Tak lama Claire mengajak pulang anak anak karena, Nina terlihat lelah dan mengantuk.


Claire dan Kenny berpamitan, tak lupa Kara membawakan makanan untuk Noah dan Nina supaya dapat dinikmati di rumah nanti.


Kini tinggal Kara dan Kevin duduk saling berhadapan, bertatapan tanpa mengatakan sepatah katapun.


Mereka tidak terganggu pengunjung yang datang silih berganti, karyawan kedai sibuk melayani pengunjung, tak ada yang memperhatikan Kara dan Kevin.


"Aku sudah menyiapkan semuanya untuk besok. Penerbangan pagi." ucap Kara memecah kebisuan mereka.


"Ya, kita akan berangkat bersama besok."


"Semoga kita dapat melalui ini semua."


"Aku percaya padamu Kara. Kita dapat melalui ini bersama sama." Kevin menggenggam jemari Kara.

__ADS_1


__ADS_2