
Kevin menatap cermin di wastafel selesai mandi. Pertanyaan Kara mengenai Josh, membuatnya sedikit terusik, ingin sekali menceritakan semua kesalahpahaman yang terjadi selama ini, namun ia takut Kara terluka. Beberapa kali bertemu Kara, membuat Kevin merasa nyaman bersama orang lain, yang selama ini tidak ia rasakan. Dia senang mendengar Kara bercerita, atau hanya sekedar menemani nya. Entahlah, Kevin tidak ingin mengingkari perasaannya, ia ingin menikmati setiap kebersamaan dengan Kara.
Kevin melihat layar ponselnya, membaca beberapa pesan yang masuk, beberapa kali ada panggilan masuk dari Stella.
Minggu depan aku akan ada acara di Washington, bisakah kita bertemu?
Kevin membaca pesan dari Stella, lalu meletakkan ponselnya ke nakas, dan merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur, menatap langit langit kamar. Wajah Kara masih terbayang di benaknya. Teringat malam sebelum Brian menikah, saat di bar. Pertemuan pertama dengan Kara yang berujung hal yang memalukan, membuatnya selalu memikirkan perempuan itu. Kevin mengusap wajah dengan kedua tangannya, lalu mengambil ponsel, dia membuka pesan untuk Kara. Beberapa kali mengetik, lalu menghapusnya. Membacanya berulang-ulang kali, namun ia ragu untuk mengirimkan.
Terimakasih untuk hari ini.
akhirnya Kevin mengirim kan pesan tersebut.
****
Kara selesai mandi, sambil mengeringkan rambutnya, ia membaca pesan yang masuk dari Kevin. Senyum mengembang di bibirnya,
Sama sama, senang ada yang membantu menghabiskan masakan ku.
Apakah besok mau makan malam bersamaku lagi?
Kara menatap layar ponselnya, membaca berulangkali pertanyaan Kevin. Apakah Kevin mengajaknya berkencan? Setengah hatinya ingin menerima, namun setengah lagi masih teringat Josh.
Kara teringat pesan Matilda, aku pantas bahagia.
Josh adalah tunanganku yang telah meninggal, dan aku harus melanjutkan hidup ku. Baiklah, aku akan mencobanya, sekali lagi dengan Kevin. Jika aku tidak merasa nyaman, aku akan mundur saja.
Kara membalas pesan Kevin.
__ADS_1
Baiklah, sampai jumpa besok. Selamat malam.
Kara tersenyum tipis membaca balasan untuk Kevin, lalu menaruh ponsel di meja, dan segera menutup matanya untuk terbuai mimpi indah.
****
Lama, Kevin menunggu balasan dari Kara, ia sempat menyesali dirinya mengajak Kara untuk makan malam dengannya, takut Kara menolaknya. Nyaris Kevin memejamkan matanya, terdengar ponselnya berbunyi, dan masuk balasan pesan dari Kara. Kevin bersorak gembira saat membaca balasan dari Kara, ada rasa bahagia terselip dihatinya, seakan usianya masih belasan tahun hendak pergi prom night bersama pasangannya.
Kevin tak sabar menunggu hari esok, untuk bertemu kembali dengan Kara.
****
Kevin menunggu Kara di lobby kantornya, kira kira sepuluh menit menemuinya.
"Mari!" ajak Kevin, Kara mengikuti Kevin dari belakang. Kevin membukakan pintu mobil dan menutup nya setelah Kara masuk. Tak lama Kevin masuk dan segera berlalu dari kantor tempat Kara bekerja.
"Aku akan mengajak mu ke restoran Italia terenak."
"Lumayan jaraknya, kira kira satu setengah jam lagi," ucap Kevin. Kara memutar radio di mobil, menikmati alunan lagu yang diputar. Rambut Kara berkibar terkena angin, terlihat sangat cantik sekali.
Setelah satu setengah jam, mereka tiba di sebuah rumah sederhana, di halaman, terdapat beberapa mobil terparkir. Kara tertegun sejenak melihat pemandangan di depannya. Kevin membukakan pintu mobil untuk nya, Kara mencium aroma pizza saat pintu mobil terbuka.
"Tempat apa ini?" tanya Kara. "Sebuah restoran Italia bergaya rumahan. Menurutku sangat lezat, cobalah!"
Mereka berjalan menuju restoran, Kevin membuka pintu dan mempersilahkan Kara masuk. Dari jauh seorang perempuan paruh baya menyambut kedatangan mereka.
"Astaga, putraku Kevin! Mengapa tidak memberi kabar jika ingin kemari? Oh, tunggu, aku sepertinya mengenalmu Nonna cantik!" Perempuan itu memeluk Kevin, lalu mengalihkan perhatiannya kepada Kara, matanya menatap wajah Kara mencoba mengingat.
__ADS_1
"Astaga, Kau putri Bobby?" Mendengar nama papanya disebut, Kara menganguk sambil tersenyum.
"Marco, kemarilah, lihat siapa yang datang!" perempuan itu memanggil suaminya yang sedang sibuk di depan tungku pizza.
"Ini adalah Paman Marco dan Bibi May," Kevin mengenalkan mereka kepada Kara.
Paman Marco memeluk Kevin dan menatap Kara, "Kau putri Bobby?" Kara menggaguk, Paman Marco memeluknya.
"Astaga, kamu sangat cantik sekali, dulu aku sering menggendongmu mengambilkan bahan bahan di atas rak, karena tidak sampai," kenang Paman Marco, Kara tertawa terbahak-bahak mengingat kenangan masa kecilnya bersama Paman Marco.
"Mari duduk di sini!" ajak Bibi May. Kevin dan Kara mengikuti Bibi May, sedang Paman Marco kembali ke depan tungku.
"Bolehkan saya melihat Paman membuat pizza?" tanya Kara pada Bibi May. "Tentu saja, silahkan nak!" Kara segera berdiri menuju ruang masak yang ada tungku.
Kara melihat setiap proses pembuatan pizza, dari melebarkan adonan, kemudian pemberian toping, hingga memasukkan pizza ke tungku api tradisional. Saat adonan mulai matang aroma saos berpadu dengan aneka toping mulai terasa harum membuat Kara menelan ludah.
Paman Marco adalah sahabat Papanya, dulu sering membantu di dapur restoran sebelum memiliki tempat sendiri. Setelah menikah dengan Bibi May mereka pindah ke negara bagian lain, sejak itu Kara tidak pernah mendengar kabarnya lagi.
"Sejak kapan kamu berkencan dengan dia, nak?" tanya Bibi May pada Kevin di bangku sudut ruangan. "Aku baru mengenal nya beberapa waktu yang lalu," jawab Kevin, sambil menatap Kara yang masih serius melihat proses pemanggangan pizza. "Lupakan Stella, jalani hidupmu yang baru dengan bahagia. Bibi yakin, Kara bisa menjadi teman hidupmu." Kevin mengerutkan keningnya mendengar kata kata Bibi May. "Bibi mengenal keluarga nya, Kara anak yang baik." Bibi May meyakinkan Kevin.
"Dia tunangan Josh," Kevin berkata lirih. Bibi May menatap Kevin tajam, "Kamu menyukai gadis itu?" sambil menoleh ke arah Kara. "Entahlah!" Kevin menaikkan kedua bahunya. "Dengar! Jangan sampai kamu kehilangannya, baru menyesal, Nak!" Bibi May menepuk pundak Kevin, meninggalkan nya sendiri. Kevin terdiam dan menoleh ke arah Kara, yang membalasnya dengan senyuman sambil membawa pizza yang telah matang ke meja mereka.
"Hmmmmm.... Baunya sangat harum. Jujur perutku sangat lapar mencium aroma pizza buatan Paman Marco," ucap Kara sambil mengambil potongan pizza dari loyang. Kevin masih menatap Kara, sungguh menggemaskan.
Bibi May datang membawa minuman untuk mereka, meletakkan di meja, lalu membawakan pasta untuk mereka. "Wow, terimakasih banyak Bibi!" Kara menatap hidangan di mejanya sambil tersenyum. "Aku pasti akan menghabiskannya!" Bibi May tertawa melihat Kara yang bersemangat, lalu menoleh ke arah Kevin, menepuk pundaknya memberi isyarat untuk mendekati Kara.
Kara adalah perempuan cantik yang lincah, beberapa orang telah menceritakan tentang Kara padanya. Kevin melihat jari Kara, tidak ada cincin yang melingkar di jemarinya lagi, seperti yang beberapa waktu lalu saat bertemu Kara di dekat kantor nya.
__ADS_1
Apakah Kara memberi tanda jika dirinya sudah bisa menerima orang lain?
Kevin meneguk minumannya, lalu memakan pizza, sedangkan Kara terlihat menikmati pasta dan pizza secara bergantian seperti anak kecil yang menemukan makanan favoritnya.