One Night Stand

One Night Stand
Wawancara


__ADS_3

Cuaca terasa hangat, musim panas telah dimulai. Kara telah menghubungi Paman Marco berkunjung ke restoran untuk interview liputan kuliner tabloid.


Kara menimbang nimbang ponselnya, ia ingin mengajak Kevin, namun di sisi lain dia merasa akan merepotkan. Kara menekan nomor Kevin. Dering pertama, Kara menunggu, dering kedua mulai gelisah, dering ketiga terdengar panggilan dijawab, "Ya Kara, ada apa?"


"Hmmmmm... Hari ini aku akan ke tempat Paman Marco, apakah kamu bisa menemani? Tapi jika kamu sibuk, tidak usah. Aku bisa sendiri," Kara berbicara cepat. Kevin yang baru tersadar dari tidur, mulai mencerna kata kata Kara.


"Tunggulah tiga puluh menit lagi ya, aku akan segera ke sana."


Ponsel dimatikan, Kara masih menatap ponselnya tak percaya.


Jumat malam mereka menghabiskan malam bersama, kini hari Minggu, ia mengajak Kevin untuk menemani ke restoran Paman Marco untuk liputan.


Aku seperti perempuan murahan saja


Kara menyesali keputusan mengajak Kevin.


Tiga puluh menit berlalu, pintu kamar diketuk, Kara segera membuka pintu.


"Tunggu, aku akan mengambil tas!"


Tiba tiba Kevin memegang lengan Kara, memeluk pinggang Kara dan mencium bibirnya. Kara tercengang dengan tindakan Kevin yang tiba tiba.


"Kevin?" Kara menyadarkan Kevin.


Kevin melepaskan pelukannya perlahan "Maaf, aku merindukanmu sejak kemarin," bisik Kevin tepat ditelinga Kara.


Kara memejamkan mata, telinganya menyentuh bibir Kevin. Kevin mencium telinga Kara, lalu lehernya, dan memeluk Kara dari belakang. "Apakah kita bisa menikmati kebersamaan sebentar saja?"


Kara membalik tubuh, menatap Kevin , dan mengangguk kan kepala, mengalungkan kedua tangannya ke leher Kevin.


Mereka bercumbu di sofa hingga meja makan. Setelah mencapai puncak kenikmatan, Kara memeluk tubuh Kevin.


"Apakah aku terkesan murahan bagimu?" bisik Kara


Kevin menggeleng menatap Kara, "Aku mencintaimu Kara! Aku ingin selalu bersamamu." Kara terdiam menatap Kevin. Ada rasa bahagia terselip dihatinya.


"Apakah aku terlalu cepat mengatakannya?" tanya Kevin hati hati.

__ADS_1


"Tidak."


Kara melepaskan pelukannya, lalu merapikan pakaiannya kembali. Kevin merapikan celana jeans-nya, sambil sesekali mencium Kara.


***


Kevin melajukan mobil ke tempat Paman Marco, sepanjang perjalanan mereka saling bercanda dan tertawa, tak jarang mereka menyanyi mengikuti lagu yang diputar di radio.


Kara menyandarkan kepalanya di bahu Kevin, Kevin memeluk bahu Kara dan mencium keningnya.


Kara merasa saat dengan Kevin berbeda dengan Josh. Josh selalu memberi perhatian kecil padanya, entah itu bunga atau bingkisan, bahkan memperlakukan Kara bak seorang putri. Sedangkan Kevin, memberikan perhatian, namun dengan caranya yang terkesan cuek.


Kara merasa nyaman bersama Kevin, entah mengapa dia lebih berbagi cerita bersama Kevin. Kara menghela nafas, merasa tak adil membandingkan kedua pria itu.


****


Kevin memarkirkan kendaraan di halaman rumah Paman Marco, aroma piza telah menyambut kedatangan mereka. Tampak kendaraan yang terparkir lebih banyak dari kemarin saat mereka datang.


Kara mengambil gambar tempat tersebut, dan mendokumentasikan dalam bentuk video.


Kara melirik tungku piza, yang tampak penuh loyang di dalamnya. Meja pengunjung juga penuh, beberapa ada yang menunggu di kursi halaman.


"Seperti nya saya datang tidak tepat waktu?" Tanya Kara.


"Tidak, Nak. Ini tepat jam makan siang, apalagi hari Minggu. Tunggu satu jam lagi, nanti akan lebih sepi!" jawab Bibi.


"Aku ingin mendokumentasikan pembuatan pizza dan area restoran. Bolehkah Bi?"


"Tentu saja anakku."


Kara mendokumentasikan setiap kegiatan di restoran baik berupa foto maupun video, mulai dari area pengunjung hingga dapur. Kara mewawancarai beberapa pelanggan yang datang. Ia merekam dan mencatat hal hal yang berkaitan dengan usaha Paman Marco.


Hidden gem mungkin itu bisa menjadi istilah untuk restoran ini. Kara melihat banyak potensi yang dapat dikembangkan lagi dari usaha Paman Marco. Ia menunggu pelanggan sepi, baru dapat berbincang lebih lama dengan Paman dan Bibi.


Hampir dua jam mereka menunggu restoran agak sepi pengunjung, Kara dan Kevin telah menghabiskan dua loyang pizza, spaghetti, dan pasta. Kara benar benar sangat menikmati semua yang Paman dan Bibi hidangan kan. Mereka makan di teras di belakang restoran, tempat tinggal Paman dan Bibi.


"Maaf menunggu lama," ucap Paman Marco.

__ADS_1


"Tidak masalah, Paman. Maaf menyita waktunya di hari Minggu ini." Kara merasa tidak enak pada Paman Marco karena menggangu jam kerjanya.


"Tidak Nak, aku sangat senang kalian datang lagi."


"Bagaimana Paman memulai tempat ini?" tanya Kara memulai wawancara.


"Seperti yang kamu ketahui, Paman dulu bekerja dari satu restoran ke restoran lain. Suatu hari, Bibi May mengatakan bahwa sahabatnya sedang berulang tahun. Dia ingin membuatkan makanan istimewa untuknya. Lalu aku, membuat pizza dan pasta, lalu Bibi membuat pancake dan salad. Ternyata sahabat dan keluarganya sangat menyukainya, bahkan mereka hendak memesan menu yang sama untuk makan malam berikutnya. Awalnya tidak langsung, kami menerima pesanan setiap akhir pekan saja. Lama kelamaan pesanan banyak, bahkan ada yang request untuk hari biasa. Akhirnya kami kewalahan, aku berhenti bekerja di restoran, dan membuka kedai kecil di Boston."


"Saat kami sedang merintis kedai pizza, kebetulan Kevin mendapat beasiswa S2 di MIT. Dia tinggal bersama kami selama masa kuliahnya," Bibi May menimpali sambil menatap Kevin.


"Kevin sering membantu kami untuk mengantar pizza pesanan pelanggan di waktu luangnya, meskipun imbalan dapat memakan pizza sepuasnya." Lanjut Bibi May, diikuti tawa oleh Kevin.


"Lalu bagaimana sampai kemari?" Kara menyelidik.


"Kami menerima kabar, ayah Bibi May meninggal dunia, dan Bibi mendapat warisan dari ayahnya. Rumah ini yang bagian belakang restoran salah satunya. Kami tinggal di sini sambil tetap menjual pizza. Rumah yang sekarang untuk restoran, adalah milik tetangga yang telah meninggal dunia, karena tidak ada keluarga yang datang untuk mengurus rumah ini, kami bertanya pada pemerintah daerah. Ternyata masuk dalam aset lelang." Paman Marco berhenti sejenak mengambil nafas.


"Paman dan Bibi ikut lelang dan akhirnya mendapatkan dengan harga murah karena memang letaknya yang jauh seperti ini," lanjutnya.


"Untuk pegawai, Paman mencari di mana?"


"Aku merekrut pemuda di sekitar sini saja, yang mau bekerja silahkan mendaftar. Untuk upah tidak sebesar di kota, namun bisa untuk hidup sehari hari," jawab Paman Marco.


"Apa Paman tidak ingin mengembangkan bisnis, misal dengan memakai foodtruck, untuk memasarkan atau mengenalkan pizza ini?"


"Hmmmmm... Sempat terpikir, namun kami juga perlu menyiapkan truk, dan mencari karyawan lagi." Paman tampak memikirkan ide dari Kara.


"Sebenarnya, Paman bisa mencari di tempat mobil bekas, biasanya jika jeli mencari akan dapat harga yang murah. Untuk modifikasi truk, Paman bisa menghubungi Paman Frank, ini kartu namanya. Dia langganan keluarga kami dan tentunya Paman telah mengenal nya bukan?"


Paman Marco menatap Kara sambil tersenyum lebar, "Astaga Kara, ternyata darah bisnis ayahmu menurun ke kamu!"


Paman Marco menerima kartu nama tersebut dan melihat lagi.


"Aku akan menghubungi nya!" seru Paman.


Kara menyelesaikan wawancara, kemudian bersiap untuk berpamitan. Paman dan Bibi memeluk Kara dan Kevin saat berpisah, mereka berjanji akan datang kembali.


Kara juga akan mengirimkan tabloid, jika tulisannya telah terbit.

__ADS_1


__ADS_2