
Saat ini Aleta sudah berada di kamar sendirian, 'Semoga apa yang aku lakukan ini bener,' ucap Aleta dalam hati.
Aleta mulai melepaskan semua perhiasannya lalu mengganti bajunya dengan pakaian yang lebih sederhana dan juga Aleta mulai mengemasi beberapa pakaiannya ke dalam tas kecil sehingga tidak akan ada yang curiga nantinya.
"Maafin Bunda ya baby, tapi Bunda harus melakukan ini. Bunda gak mau pisah sama baby dan juga Ayah udah ngusir Bunda, tapi Bunda percaya kalau Ayah itu sayang banget sama baby. Selama ini aja Ayah selalu khawatir kalau baby kenapa-napa," gumam Aleta dengan mengusap perutnya.
Aleta pun keluar dari kamar dan berjalan menuju kelaut rumah, memang di rumah saat ini tidak ada siapa-siapa karena Kak Sandra dan suaminya tengah berlibur di luar negeri, Audy tengah kuliah, Papa Daffa dan Mama Febby juga tengah pergi ke rumah Nenek Ara lalu Arka sendiri tengah sibuk dengan beberapa proyek barunya sehingga saat ini hanya Aleta sendirian serta beberapa pelayan tentunya.
Tapi, para pelayan pun tidak akan ada di dalam rumah saat ini karena mereka tengah berada di halaman belakang dimana mereka memperbarui beberapa tanaman yang sudah rusak itupun atas perintah Mama Febby.
Aleta dengan leluasa keluar dari ruang mewah tersebut, saat berada di gerbang pun Aleta lagi-lagi beruntung karena satpam saat ini juga tengah membantu membawa tanaman yang tadi di beli Mama Febby ke taman belakang sehingga tidak ada penjaga di gerbang.
Aleta memilih untuk melewati jalan kecil yang ada di sebelah pos satpam, di sana juga terdapat pintu dengan sandi yang tentunya Aleta tau sandi pintu tersebut karena beberapa kali ia menemani Bi Novi untuk keluar rumah.
Aleta berhasil membuka pintu tersebut dan dengan cepat Aleta pun keluar dari halaman rumah keluarga Andrean.
'Udah saatnya aku kembali jadi Aleta seperti dulu lagi,' ucap Aleta dalam hati.
Aleta memilih menaiki bus untuk menuju ke tempat kos yang sudah ia pesan sebelumnya, "Untung aja aku punya tabungan, jadi setidaknya aku pergi gak tangan kosong," gumam Aleta.
Ya, Aleta memang memiliki tabungan dari hasil kerjanya selama ini meskipun tidak terlalu banyak, tapi tabungan tersebut cukup untuk keperluan Aleta dan anaknya dalam beberapa hari.
"Setelah ini aku harus cari kerja, aku gak mungkinkan kerja di Axa grup soalnya kan Mas Arka itu pemegang saham tertinggi di sana pastinya Mas Arka dengan mudah bisa nemuin aku di sini," ucap Aleta.
Aleta memang ingin benar-benar pergi jauh dari Arka dan keluarganya bahkan Aleta sudah menyiapkan semuanya sejak kemarin dimana ia sudah menyewa kos yang jaraknya sangat jauh dari kota dan Aleta akan membeli handphone serta kartu baru ini nanti agar Arka tidak dapat menemukan keberadaannya.
Beberapa jam kemudian, Aleta pun sampai di daerah tujuannya, tempat tujuannya kali ini adalah sebuah desa yang sangat asri bahkan tempatnya sendiri sangat jauh dari kota dan Aleta sendiri harus menempuh perjalanan kurang lebih selama 8 jam menggunakan bus.
"Ini beneran tempatnya, wah bagus banget mana udaranya sejuk kayaknya aku bakal betah di sini deh," gumam Aleta.
Aleta pun berjalan menyusuri sepanjang jalan di desa tersebut, lalu Aleta berhenti tepat di depan sebuah rumah sederhana dimana rumah tersebut adalah rumah pemilik kos yang akan Aleta tempati.
"Permisi," panggil Aleta hingga beberapa saat kemudian keluarlah seorang wanita berumur dengan dandanan menor.
"Siapa ya?" tanya wanita tersebut.
"Saya Aleta, Bu. Di sini saya mau bertemu dengan Bu Gita," ucap Aleta dengan ramah.
"Oh, kamu yang mau nyewa kos itu ya," ucap wanita tersebut.
"Iya, Bu," ucap Aleta.
"Saya pemilik kos ini," ucap wanita tersebut yang tak lain adalah Bu Gita.
"Jadi ibu ini Bu Gita?" tanya Aleta.
"Iya, kalau gitu ayo kita lihat dulu gimana kamarnya," ucap Bu Gita dan diangguki Aleta.
Mereka berdua pun masuk ke dalam gang yang cukup sempit dan hanya bisa dilewati oleh sepeda motor saja.
Tak sampai 5 menit Aleta dan Bu Gita pun sampai di depan sebuah rumah sederhana yang terlihat beberapa pintu dimana itu adalah kamar kos yang akan Aleta tempati.
"Ini, kamar yang kamu pesen," ucap Bu Gita.
"Jadi, ini nanti memang langsung halaman gitu, Bu?" tanya Aleta.
__ADS_1
"Iya, jadi semua kamar di sini luarnya langsung halaman, jadi bisa ngobrol bareng gitu," ucap Bu Gita dan diangguki oleh Aleta.
Bu Gita pun mulai menjelaskan semua fasilitas yang ada di kamar tersebut, dimana di kamar tersebut sudah ada tempat tidur seperti kasur, bantal serta selimut. Untuk fasilitas lainnya juga ada kipas angin, toilet, dapur serta meja dan almari.
"Oh iya, untuk makanan di sini kamu bisa beli sendiri atau masak sendiri karena saya tidak menyediakan makanannya," ucap Bu Gita.
"Iya, Bu," ucap Aleta.
"Oke, karena kamu udah bayar kemarin, jadi sekarang gimana kamu mau atau gak kamar ini kalau kamu gak mau uang kamu yang kemarin saya balikin kalau kamu mau kamu tinggal bayar sisanya aja?" tanya Bu Gita.
"Mau kok, Bu. Jadi, sekarang saya tinggal bayar sisanya aja kan," ucap Aleta.
"Iya, kamu tinggal bayar enam ratus ribu aja," ucap Bu Gita.
"Iya, Bu. Ini untuk sisanya," ucap Aleta dan memberikan uang tersebut.
"Yaudah, kalau gitu kamu udah bisa nempatin kamar ini, kamu juga gak perlu khawatir karena kamarnya sudah saya bersihkan kemarin," ucap Bu Gita.
"Iya, Bu. Terima kasih," ucap Aleta dan diangguki Bu Gita.
Bu Gita pun keluar dari kamar kos Aleta, "Akhirnya kita bisa istirahat ya sayang," ucap Aleta dengan mengusap lembut perutnya.
.
Disisi lain, Arka yang baru saja selesai rapat pun langsung menuju ruangannya dengan perasaan gelisah, "Lo kenapa sih, Ka? perasaan dari tadi waktu rapat lo itu kayak gak konsentrasi sama sekali," tanya Kevin.
"Gue juga gak tau, tapi kok perasaan gue gak tenang gini ya," ucap Arka.
"Lo mau buang air besar kali makanya perasaan lo gak tenang," ucap Kevin dan mendapatkan tatapan tajam dari Arka.
"Gue ngerasa gue kayak kehilangan sesuatu, tapi perasaan gue. Gue gak kehilangan apapun," gumam Arka.
"Mungkin aja lo tadi ngejatuhin uang 100 juta jadinya lo gelisah gitu," ucap Kevin dan lagi-lagi ia mendapatkan tatapan tajam dari Arka.
"Lah kenapa natap gue kayak gitu, kan bisa aja sih lo gelisah gara-gara uang 100 juta lo hilang. Kalau gue sih udah pingsan bahkan sekarat kali ya, uang 100 juta hilang, tapi gak bisa bayangin sih gue kalau itu terjadi," ucap Kevin.
"Ya lo gak bisa bayangin lah, orang lo aja gak punya uang segitu," ucap Arka.
"Astaga Ka, lo kalau ngomong kok suka bener banget. Lagian darimana coba gue uang segitu kalau gak dari lo itupun buat beli barang-barang lo bukan beli barang gue," ucap Kevin.
"Gak usah sok melas karena gue gak bakal ngasih lo uang segitu, inget gue omongan gue yang waktu itu kalau gue bakal ngasih lo satu milyar asalkan lo nikah dan punya anak," ucap Arka.
"Iya Pak Bos, anak buah mu ini mengerti dan saat ini tengah mencari pendamping hidup," ucap Kevin dan Arka hanya memutar bola matanya malas dengan sikap Kevin yang sangat berbanding terbalik dengannya.
"Gue ini lagi serius, gue ngerasa gak tenang, Vin," ucap Arka dengan serius.
"Tapi, gak tenang kenapa? coba lo pikir apa ada yang kelewatan atau apa gitu," ucap Kevin yang akhirnya berubah menjadi serius karena melihat Arka yang juga serius dengan ucapannya.
"Gak ada," ucap Arka.
"Coba lo telepon orang rumah siapa tau ada apa-apa di rumah," ucap Kevin.
Arka pun mengikuti apa yang dikatakan Kevin, Arka mencari keberadaan ponselnya namun ia tidak dapat menemukannya.
"Kenapa?" tanya Kevin.
__ADS_1
"Ponsel gue kok gak ada," ucap Arka.
"Lah mana gue tau, mungkin di laci sih lo coba cari lagi," ucap Kevin.
Arka pun kembali mencari keberadaan ponselnya, tapi lagi-lagi ia tidak menemukannya.
"Apa jangan-jangan hp lo ketinggalan di mobil?" tanya Kevin.
"Gak mungkin kalau di mobil karena gue gak buka hp waktu di mobil," ucap Arka.
"Coba deh lo inget-inget lagi dimana lo naruh hp lo," ucap Kevin.
"Hp gue kan lagi di atas meja," ucap Arka..
"Mana gak ada gini?" tanya Kevin dan minat meja kerja Arka.
"Bukan di meja ini, tapi di meja kerja gue yang ada di rumah," ucap Arka.
"Berarti hp lo ketinggalan dong," ucap Kevin.
"Iya, hp gue ketinggalan. Gue habis baca berkas yang lo kirim ke gue tadi," ucap Arka.
"Kalau kayak gini, lo gak bisa nelpon orang rumah," ucap Kevin.
"Kan masih bisa pake hp lo, jadi mana hp lo?" tanya Arka.
"Hehehehe, gue gak bawa hp," ucap Kevin.
"Gak bawa hp," ucap Arka.
"Iya, kan hp gue lagi di benerin," ucap Kevin.
"Terus tadi lo kirim berkasnya pake apa?" tamat Arka.
"Kan ada laptop," ucap Kevin.
"Kalau gitu gue pulang duluan," ucap Arka.
"Gak bisa," ucap Kevin.
"Gak bisa kenapa?" tanya Arka.
"Bentar lagi kan kita mau bahas soal proyek pembangunan hotel bar mu Rean Grup," ucap Kevin.
"Huh, yaudah kapan kita bahas nya?" tanya Arka.
"Bentar lagi kok soalnya arsitek nya udah ada di bawah tadi," ucap Kevin.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1