One Night Stand

One Night Stand
Jagoan Tampan Arka.


__ADS_3

Vanya berhenti di depan ruangan yang entahlah Aleta tidak tau di dalamnya hingga tiba-tiba Vanya menarik Aleta masuk ke dalam ruangan tersebut.


Ternyata ruangan tersebut adalah ruangan kosong dan tidak ada apa-apa di dalamnya, "Dasar gak berguna, gara-gara lo, Kak Geo hancur," ucap Vanya.


"Ma-maksud kamu apa? Geo hancur?" tanya Aleta.


"Iya, gara-gara lo perusahaan keluarganya Kak Geo bangkrut!" teriak Vanya.


"Terus apa hubungannya sama saya? kalau emang keluarganya Geo bangkrut berarti emang mereka yang gak bisa ngatur keuangan perusahaan," ucap Aleta.


Plak


"Lo tau, suami miskin lo udah main-main sama keluarga Trimono," ucap Vanya.


"Kamu kalau bicara itu yang jelas, saya gak tau apa yang kamu bicarain," ucap Aleta.


"Suami lo udah ngerusak semuanya!" teriak Vanya.


Belum sempat Aleta berbicara tiba-tiba saja Vanya menarik rambut Aleta, "Van, sakit," rintih Aleta.


"Lebih sakitan gue daripada lo, gue harus nemenin Kak Geo mulai dari nol lagi padahal gue tinggal selangkah lagi dapat hartanya Kak Geo!" teriak Vanya.


"Itu urusan kamu bukan urusan saya," ucap Aleta.


Vanya semakin mengencangkan tarikan pada rambut Aleta dan dengan kasar Vanya mendorong tubuh Aleta hingga punggung Aleta menabrak dinding.


"Awsh," rintih Aleta karena punggungnya terasa sakit.


"Lo dan bayi lo harus mati," ucap Vanya.


"Gak Van, Kakak gak salah apa-apa. Kakak gak tau menahu soal Geo," ucap Aleta.


"Gue gak peduli," ucap Vanya.


Vanya menekan tangannya di perut Aleta hingga Aleta merasakan sakit pada perutnya.


"Van lepasin sakit," rintih Aleta.


"Gua gak akan biarin lo dan bayi lo hidup," ucap Vanya.


Vanya tidak tinggal diam begitu saja karena nyatanya Vanya juga mencekik leher Aleta, Aleta berusaha melepas tangan Vanya dari lehernya dan dari perutnya apalagi saat ini perutnya terasa sangat sakit.


Vanya semakin menekankan tangannya hingga akhirnya Aleta tidak kuat, namun saat Aleta mulai menyerah tiba-tiba pintu ruangan tersebut terbuka dan menampilkan Kak Sandra.


"Aleta!" teriak Kak Sandra.


Aleta tersenyum melihat Kak Sandra hingga akhirnya ia pun tidak sadarkan diri. Sedangkan, Kak Sandra mulai emosi saat melihat Aleta yang tidak sadarkan diri dan melihat darah yang mengalir dari paha Aleta.


"Dasar wanita gak tau diri!" teriak Kak Sandra lalu menghampiri Vanya dan menampar.


Bukan hanya menampar, Kak Sandra juga memukul Vanya dengan brutal bahkan hingga bibir Vanya berdarah dan baju yang ia kenakan tidak berbentuk.


"Gue gak akan maafin lo!" teriak Kak Sandra lalu mengikat Vanya.


Setelah itu, Kak Sandra menghubungi Arka dan tak berapa lama Arka dan Kak Tara pun datang dengan wajah khawatir.


"Aleta!" teriak Arka.


Bukannya menghampiri Aleta, Arka justru menghampiri Vanya dan menampar keras pipi Vanya.


"Dasar j*lang!" maki Arka.


Vanya hanya bisa pasrah karena ia memang tidak bisa berbuat apa-apa apalagi saat ini tubuhnya terasa sakit semua bahkan wajahnya sudah babak belur.

__ADS_1


"Ka, kamu bawa Leta dulu," ucap Kak Sandra yang berusaha untuk membangunkan Aleta.


Arka pun lantas menoleh pada Kak Sandra dan segera menghampiri sang istri, "Aleta kenapa Kak?" tanya Arka.


"Nanti Kakak jelasin sekarang kita harus bawa Aleta ke rumah sakit kayaknya Aleta bakal lahiran," ucap Kak Sandra.


Arka pun menggendong Aleta menuju mobil dan diikuti Kak Sandra serta Kak Tara.


Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di rumah sakit Skywish salah satu rumah sakit ternama yang dimiliki oleh keluarga Andrean.


Saat Arka keluar dari mobil, semua petugas sudah siap dengan peralatannya.


Ya, karena memang Arka sudah menghubungi rumah sakit tersebut sebelumnya.


Mereka langsung membawa Aleta menuju ruang pemeriksaan, Arka dan yang lain menunggu di depan ruangan tersebut dengan harap-harap cemas.


"Mama udah kamu kabari sayang?" tanya Kak Tara pada Kak Sandra.


"Udah Yang, mungkin sebentar lagi Mama datang," ucap Kak Sandra dan diangguki Kak Tara.


Benar saja karena beberapa menit setelah itu Mama Febby dan Audy datang, "Gimana keadaan menantu Mama?" tanya Mama Febby dengan raut wajah khawatir.


Mama Febby bertanya pada Arka, tapi sayang Arka tidak bisa menjawabnya karena ia masih dalam keadaan khawatir dan takut terjadi apa-apa pada sang istri serta anaknya.


"Kita gak tau Ma, dokter belum keluar dari tadi," ucap Kak Sandra.


"Gimana ini bisa terjadi?" tanya Mama Febby.


"Nanti ya Sandra jelasin, sekarang kita tunggu kabar Aleta aja dulu," ucap Kak Sandra.


Mama Febby pun menghela napas panjang dan akhirnya menganggukkan kepalanya.


"Papa mana, Ma?" tanya Kak Sandra.


Beberapa saat kemudian, pintu ruangan tersebut pun terbuka dan menampilkan Dokter Gina yang merupakan Dokter keluarga Andrean.


"Gimana keadaan istri saya Dok?" tanya Arka.


"Nona Aleta mengalami pendarahan dan Nona Aleta harus segera melakukan persalinan untuk menyelamatkan nyawa Nona Aleta dan nyawa anak yang dikandung Nona Aleta," ucap Dokter Gina.


"Lakukan apapun yang terbaik untuk istri dan anak saya," ucap Arka.


"Tapi, Aleta pernah bilang kalau dia ingin melahirkan secara normal," ucap Mama Febby.


"Hal itu akan sangat sulit dilakukan apalagi saat ini kondisi Nona Aleta benar-benar tidak memungkinkan untuk melahirkan secara normal," ucap Dokter Gina.


"Bener kata Dokter Gina, Ma," ucap Kak Sandra.


"Kalau begitu lakukan apapun untuk menyelamatkan menantu dan cucu saya Dok," ucap Mama Febby.


"Baik, saya dan yang lain akan berusaha menyelamatkan Nona Aleta dan anak Tuan," ucap Dokter Gina.


Aleta pun di pindahkan ke ruangan operasi, sebelum suster menutup pintu tersebut Arka terlebih dahulu menghentikannya.


"Apa saya boleh masuk ke dalam untuk menemani istri saya?" tanya Arka.


"Silahkan, Tuan," ucap suster tersebut.


Arka pun masuk ke dalam dan melihat Aleta yang akan menjalani operasi caesar, saat Arka masuk ke dalam ruangan tersebut suasana pun berubah menjadi lebih menegangkan apalagi aura Arka yang sangat menakutkan bagi para tenaga medis yang ada di dalam ruangan tersebut.


"Lakukan apapun selama itu dapat menyelamatkan nyawa istri dan anak saya, kalau sampai terjadi sesuatu pada mereka berdua maka kalian yang ada di dalam ruangan ini akan menerima akibatnya," ucap Arka.


Semua orang yang ada di sana menganggukkan kepalanya dengan ragu, ingin sekali mereka pergi dari ruangan yang terasa mencekam itu. Tapi, semuanya sudah terlambat yang harus mereka lakukan saat ini adakah menyelamatkan ibu dan bayinya.

__ADS_1


Arka memposisikan dirinya di samping Aleta lalu menggenggam tangan Aleta bahkan berkali-kali Arka mengecup tangan sang istri.


'Tolong bertahan, jangan tinggalin aku. Ayo kita rawat anak kita,' ucap Arka dalam hati.


Beberapa saat kemudian, suara tangis bayi pun terdengar. Arka melihat anaknya yang telah di gendong oleh suster, setelah melihat anaknya perasaan Arka berubah menjadi hangat bahkan tanpa sadar ia sudah berkaca-kaca dan mengusap air matanya.


"Selamat Tuan Arka, jagoan anda telah lahir dengan sehat," ucap dokter Gina.


Arka hanya mampu diam, ini adalah perasaan yang tidak pernah Arka bayangkan akan terjadi. Arka tidak dapat berkata-kata lagi selain tersenyum melihat jagoannya.


Lalu tatapan Arka beralih pada sang istri yang masih menutup matanya, "Istri saya bagaimana Dok?" tanya Arka.


"Pendarahannya sudah dapat di tangani dan Nona Aleta saat ini tidak sadarkan diri karena obat bius, Nona Aleta akan sadar sebentar lagi Tuan," ucap Dokter Gina dan diangguki Arka.


Arka pun keluar dari ruangan tersebut dan ternyata keluarganya sudah berada di depan ruangan tersebut termasuk Papa Daffa, "Gimana Ka keadaan menantu Mama?" tanya Mama Febby.


"Leta gapapa, Ma. Sekarang Leta sedang tidak sadarkan diri karena obat bius kok dan Aleta juga akan di pindahkan," ucap Arka.


"Terus cucu Mama gimana?" tanya Mama Febby.


"Cucu Mama sehat," ucap Arka.


"Cucu Mama cewek apa cowok?" tanya Mama Febby.


"Cowok," ucap Arka.


Mama Febby sudah tidak dapat lagi berbicara karena terlalu bahagia hingga menangis di pelukan Papa Daffa.


Beberapa saat kemudian, akhirnya Aleta pun di pindah ke ruang perawatan VIP begitupun dengan anaknya.


Semua orang sudah ada di ruang rawat Aleta untuk melihat jagoan tampan Arka, "Gila Kak, anak Kak Arka ganteng banget sih," ucap Audy.


"Iya dong, kamu gak lihat siapa orangtuanya," ucap Arka.


"Iya iya, tau," ucap Audy dan kembali menatap keponakan tampannya.


"Eungh, air," lenguh Aleta.


Arka yang sedari tadi berada di samping Aleta dan menggenggam tangan sang istri pun dengan sigap mengambilkan air untuk sang istri bahkan Arka juga membantu Aleta untuk minum.


"Ada yang sakit?" tanya Arka.


Aleta mencoba menyesuaikan penglihatannya dan hal pertama yang ia lihat adalah wajah tampan Arka, "Mas Arka," panggil Aleta pelan.


"Iya sayang, ini aku. Kenapa hem? ada yang sakit? mana yang sakit?" tanya Arka.


"Perut aku sakit, Mas," rintih Aleta lalu ia memegang perutnya.


Namun, betapa terkejutnya ia saat merasakan perut ratanya, "Mas," panggil Aleta dengan panik.


Arka tersenyum melihat wajah panik Aleta, "Kamu lihat itu," ucap Arka dan menunjuk box bayi yang berada tak jauh dari ranjang Aleta.


Aleta pun melihat box tersebut, "Mas, I-itu..," ucapan Aleta terhenti lantaran Arka yang menyelanya.


"Iya, itu jagoan kita sayang," ucap Arka dan mengecup lembut tangan Aleta.


.


.


.


Tbc.

__ADS_1


Cerita ini sepenuhnya karangan author, jadi kalau ada yang tidak sesuai harap dimaklumi


__ADS_2