One Night Stand

One Night Stand
Bertemu


__ADS_3

Tak terasa sudah beberapa bulan berlalu dan kandungan Aleta pun sudah besar karena memang kandungan Aleta memasuki usia kehamilan 32 Minggu sehingga perutnya sudah kelihatan membuncit dan hanya tinggal menunggu kurang lebih satu bulan untuk proses lahiran nantinya.


"Baby kenapa hem? baby lagi main ya di dalam," ucap Aleta dengan mengusap lembut perutnya.


"Awsh," rintih Aleta saat merasakan tendangan dari anaknya.


"Sabar ya sayang, bentar aja kamu tenang ya karena ini Bunda mau bikin roti buat dijual nanti. Bunda janji besok Bunda bakal main sama kamu kok, kan besok Bunda gak jualan, jadi bisa main sama baby-nya," ucap Aleta.


Benar saja setelah mengatakan hal itu anak yang di kandung Aleta pun diam dan Aleta tidak merasakan sakit pada perutnya.


"Huh, ayo semangat Ta! masih ada hari ini buat ngumpulin uang untuk lahiran," gumam Aleta.


Setelah beberapa saat kemudian, roti buatan Aleta pun siap dan Aleta langsung mengemasi jualannya, tak lupa ia juga bersiap-siap dari pagi hari tentunya.


Tak sampai 15 menit Aleta pun siap dan ia segera keluar dari kamarnya dan menuju pasar, baru saja keluar dari gang kosnya tiba-tiba Aleta tidak sengaja berpapasan dengan Fandi.


"Mau kemana, Ta?" tanya Fandi.


"Mau ke pasar Fan, kalau gitu saya pergi dulu," ucap Aleta.


'Dasar Fandi bodoh, ngapain tanya kayak tadi sih kan jelas-jelas Aleta pergi pagi-pagi buat jualan,' ucap Fandi dalam hati.


"Mau saya anterin gak, Ta?" tanya Fandi.


"Gak usah, Fan. Saya bisa sendiri kok lagian kan masih ada angkutan umum," ucap Aleta dan setelah itu ia pun pergi meninggalkan Fandi.


Ya, selama beberapa bulan ini Aleta memang kenal dengan Fandi dan beberapa kali mengobrol itupun karena Fandi yang berusaha mengakrabkan diri dengan Aleta.


Walaupun begitu, Aleta tidak terlalu akrab dengan Fandi karena bagi Aleta Fandi tetaplah orang baru yang tidak perlu untuk terlalu dekat apalagi ia juga takut jika terjadi kesalahpahaman antara dirinya dan Fandi.


Entahlah Aleta tidak tau apakah Fandi mengerti maksud Aleta yang menghindarinya sejak dulu, tapi dilihat dari perlakuan Fandi pada Aleta seperti Fandi tidak tau jika Aleta tidak ingin berdekatan dengan dia.


Namun, Aleta tidak mempermasalahkan hal itu selama tidak ada yang dirugikan ataupun tidak ada kesalahpahaman yang terjadi antara keduanya.


Aleta yang saat ini berada di angkutan umum pun langsung berhenti tepat di depan pasar, "Makasih ya, Pak," ucap Aleta.


"Iya, sama-sama," ucap sang supir.


Aleta segera menuju tempat ia berjualan dan ternyata di sana sudah ada Bu Indi, "Pagi, Bu," sapa Aleta.


"Pagi juga bumil," ucap Bu Indi dan Aleta lun tersenyum mendengarnya.


"Oh iya, gimana sama anak kamu masih suka nendang gak?" tanya Bu Indi.


"Masih, Bum Malahan tadi pagi waktu aku bikin roti buat jualan, anaknya nendang nya kenceng banget sampai hampir teriak aku," ucap Aleta.


"Gak itu udah Baisa sih, Ta. Apalagi kan usia kandungan kamu udah 8 bulan kan ya jadi anak kamu itu lebih aktif di dalam," ucap Bu Indi.


"Iya, Bu. Makanya sekarang Lea coba buat ngurangin aktifitas Leta supaya gak capek-capek banget gitu," ucap Aleta.


"Iya, harus itu. Oh iya kamu selama hamil belum pernah ke dokter kan ya?" tanya Bu Indi.


"Iya, Bu. Leta belum pernah cek ke dokter," ucap Aleta.


"Ibu saranin kamu cek ke dokter deh soalnya kemarin ada tetangga Ibu yang hamil terus gak pernah di cek ke dokter tiba-tiba ternyata anaknya pas lahir punya cacat fisik gitu," ucap Bu Indi.


"Beneran, Bu?" tanya Aleta.


"Iya, makanya Ibu nyaranin kamu buat periksa kandungan kamu ke dokter deh," ucap Bu Indi.


"Iya, Bu. Nanti Leta usahain ke dokter buat periksa keadaan anak Leta," ucap Aleta dan diangguki Bu Indi.


'Gimana caranya aku punya uang buat periksa ke dokter, semua uangku untuk biaya persalinan ku nanti?' tanya Aleta dalam hati.


"Udah gak usah dipikirin nanti kalau saya ada uang, saya bakal bantu kamu kok," ucap Bu Indi.

__ADS_1


"Makasih ya, Bu," ucap Aleta.


"Iya, sama-sama," ucap Bu Indi.


Hari ini dagangan Aleta masih banyak tidak seperti biasanya padahal sudah jam 10, di hari-hari biasa dagangan Aleta bisa habis di jam setengah 9, tapi kali ini entah apa yang membuat dagangannya masih banyak bahan rotinya hanya terjual 7 saja.


Bahkan Bu Indi dagangannya sudah habis dan tempat Bu Indi juga sudah kosong karena Bu Indi pulang sejak pukul 8 pagi tadi setelah mendengar kabar saudaranya ada yang sakit.


"Ini gimana ya masa aku pulang sekarang, tapi Kaka aku pulang terus rotinya gimana. Ini rotinya masih banyak lagi," gumam Aleta.


Saat tengah bingung tiba-tiba saja seseorang berdiri di depan meja jualannya, Aleta pun lantas mendongak dan menatap orang yang berada di hadapannya.


Betapa terkejutnya Aleta saat melihat siapa yang ada di hadapannya, saat ini Aleta ingin sekali menghilang dari tempat tersebut. Aleta berusaha untuk tetap tenang dan mencari cara agar ia bisa pergi dari tempat tersebut.


"Ta, itu loh ada yang mau beli kok malah dilihatin kayak gitu," ucap Bu Vera dan mampu menyadarkan Aleta.


"Eh, i-iya, Bu," ucap Aleta.


"Mau beli yang mana, Mas?" tanya Aleta.


"Sepertinya ada hal yang harus kita bicarakan," ucap pria tersebut.


Ya, orang yang berada di hadapan Aleta adalah seorang pria dan Aleta tentunya mengenal pria tersebut.


"Maaf, sepertinya tidak ada yang harus kita bicarakan Mas," ucap Aleta.


"Kamu kenal sama Kakaknya, Ta?" tanya Bu Vera.


"Eh, I-itu, Bu...," ucapan Aleta terhenti lantaran pria tersebut yang menyelanya.


"Iya, saya suaminya," ucap oeia tersebut.


Ya, pria tersebut adalah Arka yang tak lain adalah suami Aleta.


"Ini suami kamu, Ta! ganteng banget, Ta. Suami kamu kayak model gitu tinggi, ganteng pokoknya enak aja kalau di lihat bikin mata sehat kalau tiap hari lihat yang kayak modelan suami kamu ini," ucap Bu Vera.


Bahkan Aleta sendiri tidak menyangka jika ia akan bertemu sang suami dalam keadaan dirinya yang seperti ini, dimana dengan pakai lusuh dan juga dengan ekonomi yang pas-pasan dari jual roti selama ini.


"Ayo kita bicara di rumahmu," ucap Arka.


"Aku gak punya rumah, Mas," ucap Aleta.


"Maksud saya di tempat tinggalmu," ucap Arka.


"Ta-tapi, saya tidak bisa lebih baik Mas Arka pulang aja," ucap Aleta.


"Kamu ngusir saya?" tanya Arka.


"Bu-bukan gitu maksud aku Mas, maksud Leta itu aku tidak bisa Adan takutnya Mas Arka bosan nunggunya kan lebih baik Mas Arka pulang," ucap Aleta.


"Kenapa tidak bisa?" tanya Arka.


"I-itu daganganku belum habis, jadi aku akan di sini sampai daganganku habis, jadi Mas Arka bisa pulang," ucap Aleta.


Arka memanggil Kevin dan tak sampai 1 menit Kevin sudah berada di belakang Arka.


"Beli semua roti ini dan berikan ke orang-orang yang ada di sini," ucap Arka.


"Mas, Aleta bisa kok jual rotinya sendiri," ucap Aleta.


"Ya saya tau dan saya yang beli roti kamu," ucap Arka.


Kevin pun langsung melakukan apa yang dikatakan Arka, setelah itu Arka langsung menarik lembut lengan sang istri menuju mobil.


"Awas hati-hati jalanan di sini licin," ucap Arka.

__ADS_1


Ya, selama di perjalanan menuju mobilnya. Arka selalu mengatakan hal itu apalagi saya terdapat genangan air ataupun lumpur yang ada di sana, Aleta pun sedikit terkejut dengan sikap perhatian Arka padanya karena ia tidak pernah mendapatkan perhatian Arka seperti saat ini.


Setelah membagikan foto jualannya, Kevin pun masuk dan langsung mengendarai mobil tersebut, "Dimana tempat tinggalmu?" tanya Arka.


"Leta kos Mas," ucap Aleta.


"Iya, dimana?" tanya Arka.


Aleta pun menyebutkan alamat dimana ia tinggal selama beberapa bulan ini, tapi saat di pertengahan jalan tiba-tiba saja Aleta melihat penjual melon dan ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari penjual melon tersebut apalagi saat ini bertepatan dengan lampu merah sehingga mobil yang Aleta tumpangi pun tidak bergerak.


Aleta berusaha untuk menghiraukan keinginannya, tapi sepertinya ini bukan keinginan Aleta saja. Tapi, ini juga keinginan anak yang tengah ia kandung karena tiba-tiba saja anaknya menendang cukup kuat hingga membuat Aleta merintih kesakitan dan ia pun langsung mengusap lembut perutnya berusaha untuk menenangkan anaknya.


"Awsh," rintih Aleta.


"Kenapa?" tanya Arka, yang berubah menjadi panik saat melihat raut wajah kesakitan sang istri.


"Gapapa kok, Mas. Ini udah biasa," ucap Aleta.


"Gapapa kamu bilang, takut kamu tadi sampai kesakitan loh. Sekarang kita ke dokter aja ya buat periksa kamu dan anak kita," ucap Arka.


"Gak usah, Mas. Dia cuma nendang aja kok di dalam dan bukan masalah yang serius," ucap Aleta.


Mau tidak mau pun Aek menganggukkan kepalanya, tapi ia tetap memperhatikan Aleta hingga tatapan berubah menjadi bertanya-tanya karena sejak tadi Aleta terus menatap ke luar mobil.


Arka pun mengikuti arah pandang Aleta hingga ia melihat penjual buah yang sejak tadi Aleta lihat.


"Panas ya," ucap Arka.


"Hah, padahal ini dingin banget loh," ucap Kevin.


"Masa sih kok gue panas banget gini ya," ucap Arka.


"Mau di buka aja jendelanya, Mas?" tanya Aleta.


"Gak usah, kayaknya makan buah gini enak kali ya. Kira-kira buah apa ya yang cocok di makan?" tanya Arka.


"Kayaknya lebih enak minum deh," ucap Kevin.


"Hush, diem gak usah ikut campur," ucap Arka dan Kevin langsung menutup rapat mulutnya.


"Gimana menurutmu buah apa yang enak dimakan sekarang?" tanya Arka pada Aleta.


"Terserah, Mas Arka. Sekarang Mas Arka buah apa emangnya?" tanya Aleta.


"Gak tau, kalau kamu sekarang pengen buah apa?" tanya Arka yang berusaha menebak Aleta dan sepertinya jebakannya berhasil karena Aleta tidak curiga sama sekali dengan apa yang baru saja ia tanyakan padanya.


"Kayaknya buah melon enak deh Mas," ucap Aleta dan tanpa sadar ia mengusap lembut perutnya.


Tentunya tindakan Aleta menarik perhatian Arka, Arka terus menatap perut buncit sang istri.


"Vin," panggil Arka.


Mengerti dengan apa yang dimaksud Arka Kevin pun langsung mengiyakannya bahan sebelum Arka mengatakan apa yang ingin ia katakan.


"Siap, akan gue laksanakan," ucap Kevin kalau keluar dari mobil dan menuju penjual buah.


"Mas Arka nyuruh Kevin beli buah, kalua tau gitu tadi harusnya Leta aja yang beli, Mas,* ucap Aleta.


"Kamu diem aja, Kevin saya gaji tinggi untuk itu," ucap Arka dan Aleta pun menganggukkan kepalanya.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


Maaf ya kalau banyak typo, author masih ada beberapa urusan jadi masih belum bisa review ulang.


__ADS_2