One Night Stand

One Night Stand
Makan Bersama


__ADS_3

Udara terasa hangat, Kara menatap matahari yang bersinar. Banyak orang yang beraktivitas di luar, terutama di taman. Kara berhenti sejenak menyapa kawanan anjing yang lewat, bermain main sebentar, lalu melanjutkan perjalanan ke kantor.


"Selamat pagi Nona Kara," sapa Mike dengan senyum lebarnya. Kara geleng geleng kepala melihat ulang teman. Mike menyodorkan setumpuk berkas yang harus diperiksa hari itu, "Aku sangat senang bisa bekerja bersamamu, tidak banyak komplain, bisa bekerjasama, kerja yang rapi, dan yang pasti kamu cantik," cerocos Mike, membuat Kara menghentikan pekerjaannya dan menatap Mike penuh tanya.


"Maksudku, apa yang salah denganmu, mengapa kamu tidak pernah terlihat berkencan dengan seorang pria?" Mike menatap Kara. "Maksudmu aku lesbi?" Kara balik bertanya. "Ya, bisa saja," jawab Mike enteng, dibalas dengan pukulan gulungan kertas oleh Kara. "Aduh!" Mike meringis kesakitan. "Hei, dengar ya! Aku masih normal Mike, aku hanya malas berbasa basi dengan lelaki, aku lebih menikmati seperti saat ini," Kara menghela nafas memandang Mike. "Syukurlah! Aku kira kamu berubah orientasi nya setelah semua yang telah menimpamu," katanya lagi. "Terimakasih atas perhatiannya. Bagaimana denganmu? Apakah ada yang sedang dekat denganmu saat ini?" Kara balas bertanya. Mike menghela nafas panjang, menatap layar monitor nya "Aku menyukai guru dansaku, tapi tolong jangan disebarkan dengan yang lain!" Mike berbicara berbisik hampir tak terdengar. Kara nyaris tertawa mendengar cerita Mike, dibalas cubitan ringan oleh Mike.


"Lalu pria yang mengajak makan siang kemarin?" tanya Mike penuh selidik. "Dia mungkin bisa disebut keluarga baruku, kakak ipar Cindy." jawab Kara sambil terus melanjutkan pekerjaannya. Mike menganguk, melihat Kara sibuk dia tidak melanjutkan pertanyaannya lagi, lalu melanjutkan pekerjaannya kembali.


****


Sepulang kerja, Kara menuju toko Asia yang pernah diceritakan Nindy. Kara melihat lihat bahan makanan dan membaca keterangan label di kemasannya, banyak bahan bahan yang sudah pernah diketahuinya dari buku, namun baru kali ini dilihatnya. Kara juga menemukan tempe, dan beberapa bahan makanan yang ingin diolahnya.


Kara menangkap sosok dikenalnya di rak ujung. Merasa ada yang mengawasi, sosok itu mendekatinya. "Hai!" serunya "Astaga, Kevin!" Kara terkejut melihat Kevin. "Sedang berbelanja juga?" tanya Kevin, dijawab anggukan kepala oleh Kara. "Aku sering berbelanja di sini, aku suka masakan asia. Di dekat kantorku ada penjual masakan Asia yang enak, kapan kapan aku ajak kamu ke sana." Kara tersenyum mendengar penjelasan Kevin.

__ADS_1


Mereka memilih milih belanjaan bersama, terkadang Kevin menggoda Kara dengan menunjukkan wajah yang lucu atau menunjukkan beberapa bahan yang namanya lucu menurut nya. Setelah selesai mereka membayar belanjaan masing masing di Kasir.


"Mau langsung pulang?" tanya Kevin ketika keluar dari toko. "Ya, aku mau memasak ini," jawab Kara sambil menunjukkan kantong belanjaan. "Baiklah, aku antar ya!" Kevin menawarkan diri. "Boleh, jika tidak merepotkan." Mereka berjalan bersama sambil menenteng belanjaan, dan mengobrol sepanjang jalan. Kara merasa senang bisa bertemu teman bicara kembali, entah mengapa dia merasa nyaman berbicara dengan Kevin, meskipun belum lama mengenalnya, seakan semua mengalir begitu saja dari mulutnya saat bercerita dengan lelaki itu.


"Aku sudah sampai." Kevin menatap Kara, mereka saling beradu pandang, seolah ada hal yang ingin Kevin sampaikan. "Mau mampir ke tempatku?" tanya Kara, dan detik itu juga dia menyesalinya. Menawarkan seseorang yang baru dikenal untuk mampir ke tempat tinggalnya, bodohnya aku, rutuk Kara dalam hati, berharap Kevin menolaknya. "Boleh, jika tidak merepotkan," jawab Kevin sambil tersenyum.


"Mari!" Kara memimpin masuk ke ruangannya, dan dalam hati masih menyesali keputusannya.


Kevin masuk ke apartemen Kara, "Duduklah! Aku akan menyiapkan makanan, kamu pasti belum makan!" Kara dengan cekatan membereskan belanjanya, dan menyiapkan bahan bahan untuk membuat spaghetti. Kevin meletakkan kantong belanjanya di meja sambil mengamati apartemen Kara. Ruangan yang tidak terlalu besar, ditata dengan rapi dengan barang yang minimalis, namun mempunyai dapur yang lengkap meskipun kecil. Kevin berdiri menuju dapur melihat Kara memasak. Kara terlihat sangat cantik menurut Kevin dengan menggunakan celemek, rambut di kuncir, dan tangan yang cekatan memotong bumbu dan bahan masakan.


Kara menata spaghetti yang telah matang ke piring, lalu meletakkan di depan Kevin.


"Astaga! Seperti makan di restoran, sangat cantik sekali menatanya!" Kevin kagum dengan cara menata spaghetti yang Kara buat, sangat rapi,bersih, dan menggugah selera. "Silahkan!" ajak Kara sambil tersenyum.

__ADS_1


"Keluarga Jones memang sangat ahli dalam bidang kuliner, kamu yang seorang akuntan, bisa memasak seenak dan secantik ini!" Kevin memuji Kara sambil menyantap spaghetti nya, dibalas senyuman oleh Kara.


"Aku hanya bisa memasak yang sederhana saja, sejak kecil mama mengajariku memasak. Ketika aku berusia 10 tahun, Papa menyuruhku membantu di restoran, dari cuci piring, menjadi pelayan, hingga memasak di dapurnya. Hingga aku diberi kepercayaan membuka kedai sendiri, yang saat ini aku serahkan pada Andy." Kevin mendengar kan cerita Kara dengan seksama. "Mengapa kamu serahkan pada Andy?" tanya Kevin heran. Kara terdiam, menundukkan kepalanya, lalu menatap Kevin. Kevin menatap Kara, lalu menggenggam jemari Kara. "Karena Josh? Maafkan aku," ucap Kevin, yang akhirnya menyadari alasan Kara menyerahkan kedainya kepada Andy. "Sudahlah, kini aku telah menikmati kehidupan di tempat ini. Meskipun jauh dari keluarga, namun aku memiliki punya teman di tempat kerja." Kara mencoba tersenyum.


"Terimakasih atas makan malamnya, sangat lezat sekali. Sudah lama aku tidak makan makanan yang fresh seperti ini." ucap Kevin dengan mata berbinar-binar. Kara tertawa, "Sama sama, kadang beberapa teman juga sering kemari untuk makan bersamaku."


"Hmmmmm... Aku tidak akan pernah menolak, jika kamu mengajakku makan lagi," ucap Kevin sambil membereskan peralatan makannya. "Biar, aku bantu mencuci piringnya." Kara membiarkan Kevin membantu nya mencuci piring, ia berdiri di samping Kevin membantu mengeringkan piring dengan lap.


Kara sesekali melirik ke arah Kevin, entah mengapa dia merasa selalu nyaman berada di dekatnya.


"Sudah selesai! Terimakasih sudah membantu." ucap Kara. "Sama sama, lain kali aku akan membalasnya," jawab Kevin, membuat Kara mengerutkan keningnya.


"Aku akan mengajak mu makan malam. Bolehkah?" tanya Kevin menatap Kara. "Ya, boleh, dengan senang hati." Jawaban Kara membuat Kevin tersenyum lebar, membuat Kara tertawa kecil.

__ADS_1


Setelah Kevin pulang, Kara termenung di dapur, memikirkan yang telah terjadi, mencoba memahami semuanya. Apakah ia mencoba untuk membuka hati untuk orang baru, atau bertahan dulu. Dia masih takut untuk kehilangan lagi.


__ADS_2