
Malam harinya Arka pun sudah sampai di rumah setelah seharian ia sibuk dengan proyek hotel baru yang akan ia bangun.
Baru saja Arka masuk ke dalam rumah mewah tersebut dan ia cukup terkejut karena teriakan yang disertai tangisan dari Mama Febby.
Arka pun bergegas menuju ruang tamu dan benar saja ia melihat Mama Febby yang menangis di pelukan Papa Daffa.
"Mama kenapa?" tanya Arka.
Semua perhatian orang yang ada di sana pun beralih ke Arka, "Kamu kenapa gak angkat telepon dari Mama?" tanya Mama Febby.
"Hp Arka ketinggalan di ruang kerja soalnya tadi Arka sebelum berangkat ke ruang kerja dulu. Kenapa memangnya, Ma?" tanya Arka.
"Menantu Mama sama kamu?" tanya Mama Febby.
"Maksud Mama apa?" tanya Arka.
"Kamu daritadi bareng sama istri kamu?" tanya Mama Febby.
"Gak lah, Ma. Untuk apa Aleta ikut Arka, dia kan lagi di kamar," ucap Arka.
"Gak ada, Ka," ucap Mama Febby dan menangis lagi.
"Gak ada, mungkin dia ke temennya," ucap Arka.
"Kamu yakin kalau menantu Mama ke rumah temennya?" tanya Mama Febby.
"Ya, mungkin aja," ucap Arka.
"Tapi, kenapa hp nya ditinggal di rumah. Bukannya hanya hp nya, tapi juga perhiasan yang Mama kasih terus cincin pernikahan kalian berdua juga gak di pakai sama menantu Mama," ucap Mama Febby.
Setelah mendengar apa yang dikatakan Mama Febby, Arka sendiri pun mulai takut jika Aleta pergi. Padahal sejak tadi Arka meyakinkan dirinya jika Aleta pergi ke rumah Tami walaupun itu tidak mungkin karena Aleta tidak berpamitan padanya ataupun pada orang rumah.
"Kak Arka coba tanyain ke temennya Kak Aleta siapa tau emang Kak Aleta di sana," ucap Audy.
"Iya, Ka. Cepet tanyain menantu Mama di sana atau gak," ucap Mama Febby.
"Tapi, Arka gak punya nomornya," ucap Arka.
"Ini kan hp nya Kak Aleta ada di rumah," ucap Audy dan memberikan ponsel milik Aleta ke pada Arka.
Arka pun mencari nama Tami dan setelah menemukannya Arka langsung menelpon Tami hingga beberapa saat kemudian, Tami pun mengangkat sambungan telepon tersebut dan tak lupa Arka mengaktifkan pengeras suara itupun atas perintah Mama Febby.
Halo! kenapa, Ta?
Semua orang yang ada di sana saling pandang tanpa ada yang menjawab pertanyaan Tami.
Kenapa lo nelpon gue? btw katanya lo mau nitip sesuatu ke gue, emang apaan?
Ta! lo ada di sana kan?
Aleta lo kenapa nelpon gue?
Mama Febby langsung mematikan sambungan telepon tersebut, "Itu artinya menantu Mama gak ada di sana hiks hiks," ucap Mama Febby dan kembali menangis di pelukan Papa Daffa.
"Mana udah cek cctv?" tanya Arka.
"Udah dan menantu Mama pergi bawa tas," ucap Mama Febby.
"Apa Aleta gak bilang apa-apa ke kalian?" tanya Arka pada para pelayan dan juga penjaga di sana.
"Tidak Tuan, kami saat itu sedang membantu memindahkan bunga di taman belakang sehingga kami tidak tau kalau Non Aleta pergi dari rumah ini," ucap salah satu penjaga.
"Gimana ini, Pa?" tanya Mama Febby.
"Mama tenang dulu ya, Papa akan cari cara supaya menantu kita kembali pulang," ucap Papa Daffa dan diangguki Mama Febby.
Mama Febby pun menatap Arka lalu menghampiri sang anak, "Mama ingin bicara sama kamu," ucap Mama Febby dan masuk ke dalam ruang kerja Arka.
Arka pun menatap Papa Daffa yang menganggukkan kepalanya lalu Arka mengikuti Mama Febby ke ruang kerjanya.
"Ada apa, Ma?" tanya Arka.
"Apa kamu ada masalah sama menantu Mama?" tanya Mama Febby.
"Gak, Ma. Arka gak pernah ada masalah sama Aleta kalaupun Arka ada masalah udah Arka selesain kok," ucap Arka.
__ADS_1
"Terus ini kenapa menantu Mama pergi? gak mungkin menantu Mama pergi tanpa alasan tau," tanya Mama Febby dan mulai meninggikan suaranya.
"Arka juga gak tau, Ma. Aleta gak pernah mau ngasih tau ke Arka apa yang dia pikirkan soal Arka," ucap Arka.
"Harusnya kamu lembut sama istri kamu, Ka. Kasih dia perhatian, perlakukan istri kamu seperti istri-istri pada umumnya," ucap Mama Febby.
"Arka udah coba yang terbaik, Ma," ucap Arka.
"Menurut kamu itu yang terbaik, tapi menurut menantu Mama apa itu yang terbaik, Ka?" tanya Mama Febby dan Arka hanya diam tidak mampu menjawabnya.
"Kamu juga harus memikirkan gimana menantu Mama, Ka. Mama dari dulu takut kalau istri kamu tertekan dengan sikap kamu selama ini yang terlihat dingin dan cuek," ucap Mama Febby dan tidak mampu lagi membendung tangisannya.
"Arka salah, Ma," lirih Arka.
"Iya, kamu memang salah. Tapi, bukan hanya kamu, Mama juga salah karena Mama masih belum mampu jadi mertua yang baik untuk menantu perempuan Mama hiks hiks hiks," ucap Mama Febby.
Akhirnya setelah obrolan singkat tersebut Arka dan Mama Febby pun keluar dari ruang kerja Arka, Arka memilih untuk masuk ke dalam kamarnya. Saat masuk ke dalam kamarnya, ia memang merasakan sesuatu yang berbeda tidak seperti biasanya.
"Apa bener Aleta pergi?" tanya Arka yang masih tidak percaya jika Aleta pergi meninggalkannya.
Arka pun mengambil teleponnya dan menghubungi Kevin.
Kenapa?
Lo cari dimana Aleta.
Lah kan lo istrinya, lagian Aleta ya pasti ada di rumah lo lah masa ada di rumah gue, emang kadang-kadang ya nih orang.
Huh, Aleta gak ada di rumah dia pergi.
Oh, mungkin dia pergi ke rumah temennya kali.
Gak ada, gue udah hubungin temennya dan dia bilang gak tau dimana Aleta.
Beneran lo?
Iya, gue ini serius.
Berarti wakti lo gelisah di kantor tadi bisa jadi karena Aleta pergi.
Siap, Bos.
Setelah Kevin mengatakan hal itu, Arka pun langsung memutuskan sambungan telepon tersebut.
"Aish, kenapa dia pergi sih? apa dia sengaja melakukan ini?" tanya Arka pada dirinya sendiri.
Meskipun begitu Arka tentu saja merasa tidak senang jika Aleta pergi bahkan ia merasa tidak ada semangat.
"Apa dia tidak tau kalau aku sangat mengkhawatirkannya," gumam Arka.
"Arka!" panggil Papa Daffa.
"Iya, Pa," ucap Arka.
Tak lama setelah itu, Papa Daffa pun membuka pintu kamar Arka.
"Kamu kenapa?" Tanya Papa Daffa.
"Arka salah, Pa. Gara-gara Arka, Aleta pergi ninggalin Arka," ucap Arka.
"Gak ada yang salah di sini, anggap aja ini pelajaran penting bukan hanya buat kamu, tapi juga buat Papa dan yang lainnya. Kita gak tau apa yang dipikirkan Aleta apalagi Aleta sendiri saat ini hamil. Jadi, wajar jika pikirannya sensitif," ucap Papa Daffa.
"Tapi, Arka yang salah, Pa. Arka udah bilang kasar sama istri Arka sendiri," ucap Arka.
Setelah itu, Arka lun mulai menceritakan semua kejadian dimana ia yang tidak sengaja mengusir Aleta dari rumah ini, padahal maksud Arka bukan itu.
"Jadi, kamu bilang kayak gitu ke menantu Mama, kamu bener-bener keterlaluan, Ka!" teriak Mama Febby yang baru saja masuk ke dalam kamar tersebut.
"Maafin Arka, Ma. Arka gak bermaksud buat bilang kayak gitu, Arka hanya spontan saja dan gak pernah bermaksud buat ngusir Aleta karena bagaimanapun Aleta itu istrinya Arka dan akan selamanya begitu," ucap Arka yang benar-benar menyesal karena telah mengatakan hal itu pada Aleta.
"Kenapa kamu bilang kayak gitu sih, Ka? kamu udah buat menantu Mama sakit hati, jadi wajar kalau Aleta pergi!" tanya Mama Febby dan meninggikan suaranya.
"Ma, sabar. Jangan kepancing emosi," ucap Papa Daffa.
"Maafin Arka, Ma. Arka tau kalau semua ini salah Arka," ucap Arka.
__ADS_1
"Ya, semua ini memang salah kamu!" teriak Mama Febby.
"Ma," tegur Papa Daffa.
"Mama kecewa, Pa. Mama gak bisa bayangin gimana perasaan menantu Mama sekarang, kalau Mama udah pasti sakit hati karena diusir sama suami Mama sendiri hiks hiks. Apalagi saat ini menantu Mama lagi hamil, kalau kamu udah gak sanggup sama menantu Mama harusnya kamu bilang ke Mama biar Mama yang akan urus menantu Mama hiks hiks hiks," ucap Mama Febby dan akhirnya tidak bisa menahan tangisannya.
.
Pagi harinya Arka sudah berada di kantor dan langsung menghampiri sang sekretaris yaitu siapa lagi jika bukan Kevin, "Gimana?" tanya Arka.
"Astaga, Ka. Kaget gue," ucap Kevin.
"Gimana?" tanya Arka lagi.
"Gue gak bisa nemuin Aleta, gue udah coba lacak ponselnya, tapi gak bisa dan gue juga udah lacak kartu identitas dia dan tetep aja gak bisa. Gue gak tau, dia ada dimana," ucap Kevin.
"Lo gue bayar buat cari Aleta gitu aja gak bisa," ucap Arka.
"Gue tau lo pasti sekarang lagi panik banget karena istri lo gak ada kabar, tapi ya emang gue gak bisa dapat info soal Aleta," ucap Kevin.
"Gue bakal kasih lo satu milyar kalau lo bisa dapat info dimana Aleta," ucap Arka.
"Siap!" ucap Kevin.
'Gue bakal ngelakuin apapun demi istri gue meskipun nyawa gue sendiri,' ucap Arka dalam hati.
"Kalau gitu sekarang kita ke Axa grup," ucap Arka.
"Ngapain kita ke Axa grup?" tanya Kevin.
"Istri gue kan kerja di sana, jadi siapa tau dia sekarang di sana," ucap Arka.
"Eh, iya juga ya," ucap Kevin.
Setelah itu, Arka dan Kevin pun menuju Axa grup. Selang beberapa saat kemudian, mereka berdua sampai di Axa grup.
Arka yang keluar dari mobil langsung di sambut oleh para petinggi di sana.
Arka memutuskan untuk ke ruangannya dan tak lupa Arka juga memanggil direktur di sana, "Iya, Tuan Arka," ucap direktur tersebut.
"Panggilkan karyawan bernama Aleta sekarang!" perintah Arka.
"Aleta, tapi maaf Tuan Arka. Karyawan yang bernama Aleta setau saya baru saja mengundurkan diri," ucap direktur tersebut.
Arka pun cukup terkejut dengan apa yang dikatakan oleh direktur tersebut, "Dari mana kamu tau kalau dia mengundurkan diri?" tanya Arka.
"Saya dengar dari karyawan lain kalau karyawan yang bernama Aleta itu menitipkan surat pengunduran dirinya ke rekan kerjanya," ucap direktur tersebut.
"Panggil rekan kerja yang membawakan surat pengunduran diri Aleta!" perintah Arka.
"Baik, Tuan," ucap direktur tersebut.
Setelah itu, direktur tersebut pun keluar dari ruangan Arka dan tak sampai 10 menit direktur tersebut kembali masuk bersama dengan Tami.
"Ini Tuan rekan kerja yang membawakan surat pengunduran diri karyawan yang bernama Aleta," ucap direktur tersebut.
"Hem, sekarang kamu bisa pergi," ucap Arka dan diangguki direktur tersebut.
Arka menatap tajam pada Tami, "Kenapa kamu bisa bawa surat pengunduran diri istri saya?" tanya Arka.
"Saya juga tidak tau, Tuan. Tapi, kemarin siang itu Aleta bilang kalau dia mau nitip sesuatu sama saya, tapi dia gak bilang apa yang bakal dia titipkan terus paginya ada paket dan ternyata dari aleta waktu saya buka paket itu saya juga kaget karena isinya ternyata surat pengunduran dirinya. Saya udah coba hubungin Aleta, tapi gak bisa bahkan saya sampai berkali-kali nelpon Leta, tapi tetep aja gak bisa," ucap Tami.
Arka pun menghela napas panjang setelah mendengar cerita Tami, "Memangnya Aleta Tuan?" tanya Tami.
"Nanti kamu juga tau, sekarang kamu bisa pergi," ucap Arka.
"Baik, Tuan," ucap Tami.
Sebenarnya Tami masih penasaran, tapi melihat wajah tidak bersahabat Arka akhirnya Tami memutuskan untuk pergi.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.