
Kara, tertawa ketika menonton channel Youtube Cindy. Resep masakan, ataupun tips di dapur yang sangat bermanfaat untuk ibu ibu bahkan segala usia.
Terbersit di kepala Kara untuk membuat channel juga untuk mengulas tentang kuliner. Kara mencoba mengedit beberapa video yang pernah dia buat untuk bahan tulisan tabloid, kemudian mengunggah di Youtube. Kara tersenyum puas meski masih banyak yang perlu diperbaiki lagi untuk videonya.
Ponsel berdering dari Cindy.
"Hai sepupu tersayang! Apa kabarmu?" suara riang Cindy terdengar nyaring di telinga Kara, membuatnya harus menjauhkan sedikit ponselnya dari telinganya.
"Aku baik baik saja, apa kabarmu?"
"Aku dan Brian baik baik saja. Bagaimana channelku? sudahkah ditonton?"
"Sudah. Kamu terlihat sangat keren. Sudah seperti Ayesha atau Padma saat memberi tips dan resep," puji Kara.
"Aku merindukanmu Kara, maukah kamu merayakan Natal bersama kami di pedesaan?"
Kara terdiam mendengar pertanyaan Cindy. Dia sangat ingin berjumpa dengan Cindy dan menceritakan semuanya, namun di sana adalah rumah Kevin.
"Aku tidak bisa berjanji. Thanksgiving aku akan pulang, semoga kita bisa berjumpa."
jawab Kara lirih.
"Ya, kami mungkin juga akan pulang, aku akan usahakan kita berjumpa sepupuku. Hampir satu tahun kita tidak berjumpa, sejak aku menikah."
"Aku pun tidak sabar bertemu denganmu!" Kara tertawa.
"Hmmm... apakah dirimu sudah punya kekasih saat ini?" goda Cindy.
"Entahlah, besok aku akan ceritakan padamu."
"Tenang saja Kara, saat pria itu terus mengejarmu, nikmatilah masa masa itu. Kara, Josh telah tiada, kamu harus terus melanjutkan hidupmu. Tidak adil, jika terus menyiksa diri," Cindy seolah dapat membaca pikiran Kara.
Kara menceritakan tentang pekerjaan barunya, dan rencana membuat channel kuliner, ditanggapi dengan antusias oleh Cindy. Bahkan Cindy memberi tips dan informasi cara membuat channel untuk pemula, Kara sangat senang.
Mereka mengobrol hingga larut malam. Cindy mengakhiri percakapan karena Brian memanggilnya untuk menemaninya tidur, dan Kara hanya bisa tertawa.
Kali ini Kara merasa lega bisa mengobrol bersama Cindy meski hanya lewat ponsel.
Setengah beban pikirannya terasa lepas, Kara meneguk segelas air mineral, lalu menuju tempat tidurnya.
Kara mengambil kotak cincin pertunangan dengan Josh, memutar cincin di tangannya.
Kara penasaran dengan Noah, wajahnya sangat mirip dengan Josh saat kecil. Kara mengingat dengan jelas dari foto foto masa kecil Josh saat ditunjukkan oleh ibu Josh.
****
__ADS_1
Kara memesan burger di foodtruck, ia ingin membuat untuk dimasukkan ke channel-nya.
"Kara?" Seseorang menyebut namanya, Kara menoleh.
"Jeff...!" Kara memeluk Jeff dan meninju lengannya.
"Aku tidak menyangka kita bertemu di sini."
"Sedang apa di sini Jeff?"
"Aku sedang ada pekerjaan di sini, di Rumah Sakit Pusat. Aku bekerja di LA, di RS Kota, dan si RS khusus kanker." Kara menganguk angguk mendengar penjelasan Jeff.
"Aku traktir minum kopi, kita sudah lama tidak bertemu." Tawar Jeff dan diterima oleh Kara dengan senang.
Jeff adalah sahabat Kara sejak sekolah dasar, Jeff adalah mantan kekasih Cindy. Alasan Cindy mengakhiri hubungan dengan Jeff karena tidak bisa berhubungan jarak jauh. Saat itu Jeff mendapat beasiswa untuk mengambil spesialisasi di New York.
Di Cafe, Kara memesan kopi dan cake coklat, sedangkan Jeff memesan kopi dan burger.
Kara dan Jeff duduk berhadapan sambil menikmati makanan mereka.
"Aku turut berdukacita atas meninggalnya tunanganmu." Jeff membuka percakapan.
"Terima kasih."
"Kamu sudah menikah?" tanya Kara penasaran karena tidak terlihat cincin di jari Jeff.
Jeff menunjukkan jarinya dan tertawa.
"Belum Nona, aku belum menemukan yang cocok."
"Cindy telah menikah."
"Ya, dan itu membuatku patah hati. Aku pikir dengan menyelesaikan kuliahku dengan cepat aku dapat bersama Cindy lagi." Jeff terdiam menyesap kopinya, Kara menepuk pundak Jeff memberi simpati.
"Aku sedang dekat dengan seorang rekan dokter di LA, tapi sepertinya dia terlalu banyak pertimbangan dalam masalah berhubungan asmara," Jeff melanjutkan.
Kara dengan sabar mendengarkan Jeff bercerita.
"Dia mempunyai seorang anak laki laki, aku tidak tahu dia telah menikah atau belum, namun dia tampak tertutup untuk menceritakan keluarganya."
Jeff menunjukkan gambar di ponselnya.
Foto Jeff bersama seorang perempuan dan anak lelaki. Betapa terkejutnya Kara, anak lelaki di foto yang Jeff tunjuk adalah Noah.
"Dia, perempuan itu kah?" Kara menunjuk gambar perempuan di foto.
__ADS_1
"Ya, namanya Stella, dan ini adalah putranya, Noah. Foto diambil oleh staf saat ada acara gathering di rumah sakit. Stella adalah sahabat suami Claire, mereka sangat dekat. Putranya sering dititipkan di rumah Claire."
"Sejauh mana hubunganmu dengan Stella?" Kara penasaran.
"Aku hanya mengobrol, beberapa kali makan malam dengannya, namun aku masih belum berani bertanya lagi, setelah dia menolakku, dengan alasan belum siap untuk berkomitmen."
Ya, karena Stella masih mengejar Kevin, batin Kara.
"Apa Claire mendukung hubungan kalian?"
"Claire sangat mendukung hubungan kami. Aku sempat menemani Stella, menonton Noah saat bertanding sepakbola di sekolahnya. Noah, senang saat bertemu denganku, kata Claire."
"Hai, teman, berjuanglah terus! Berilah perhatian padanya, mulai dekati putranya. Semoga berhasil!"
Jeff tertawa melihat Kara yang begitu antusias mendukung nya.
"Terima kasih. Kamu memang sahabat terbaikku untuk masalah seperti ini. Beruntung diriku berjumpa dengan dirimu."
Kara menghabiskan waktunya dengan Jeff dengan mengobrol banyak mengenang masa masa sekolah dulu.
"Kau memang payah dalam masalah percintaan!" ejek Kara, Jeff tertawa mendengar nya.
"Ya, jika tidak ada kamu, aku tidak akan mengenal Cindy. Sekarang, karena Claire aku bisa dekat dengan Stella."
"Kau tahu, dulu sempat dikabarkan gay oleh teman teman yang lain. Karena itulah aku mengenalkanmu pada Cindy."
"Benarkah?" tanya Jeff sambil tertawa tak percaya.
"Bulan depan aku berencana pulang, semoga kita bisa berkumpul lagi."
"Ya, aku akan ajak Claire. Semoga hubunganku dan Stella juga ada perkembangan."
"Aku mendukungmu Jeff, jangan lupa mengenalkannya padaku!" Kara menepuk pundak Jeff.
Lalu Jeff berpamitan karena ada panggilan tugas. Mereka berpelukan dan berpisah di persimpangan jalan.
Kara menyeberang jalan menuju kantornya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan.
Kara tidak menyadari, jika sepasang mata menatapnya dengan tatapan cemburu. Ya, Kevin melihat Kara bersama Jeff.
Kevin hendak menuju kantor Kara mencarinya, untuk menjelaskan semua kesalahan pahaman yang terjadi, di tengah jalan ia melihat Kara sedang berbincang dengan akrab bahkan tertawa bersama seorang lelaki. Kevin penasaran, mengikuti mereka, hingga berpisah di persimpangan jalan. Jeff menuju rumah sakit, sedangkan Kara menuju kantornya.
Kevin benar benar hampir gila tersiksa oleh Kara. Ingin rasanya dia memeluk Kara, saat melihatnya tadi, namun diurungkannya. Karena dia masih waras.
Kevin menatap ponselnya, ada pekerjaan menantinya segera. Kevin menghela napas panjang dan memejamkan matanya sejenak. Lalu ia kembali menuju kantornya, dan berencana mengunjungi Kara nanti setelah pekerjaan selesai.
__ADS_1