
Sebulan kemudian
Kara menatap monitor laptop sambil menulis ulasan beberapa tempat yang telah dikunjunginya. Pembacanya memberi beragam komentar, baik pujian, ucapan terima kasih, kritik, maupun saran.
Sejenak Kara mengalihkan pandangannya ke luar melalui jendela, teringat akan Kevin. Dia merindukan Kevin, namun juga kecewa ketidakjujuran Kevin padanya. Noah!
Ya... Kara tiba tiba teringat akan bocah laki laki itu, wajahnya mengingatnya akan seorang yang sangat dia kenal. Matanya sangat mirip sekali. Kara berdiri di balkon sambil menikmati pemandangan kota, udara berhembus, dingin... ya... mungkin sedingin hatinya kini.
Kevin, Josh, Stella, dan Noah.. nama dan wajah mereka menari nari di kepala Kara.
Selama ini Kara menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Mengunjungi banyak tempat makan yang bervariasi, Jane sangat puas dengan kinerja Kara selama ini.
Kara mulai diberi kebebasan bekerja ke luar kota, jika ada pembukaan restoran untuk mengulasnya. Nama tabloid tempat Kara bekerja mulai merangkak naik penjualannya, demikian pula pembaca onlinenya.
Kara membantu Andy setiap akhir pekan, baik di kedai foodtruck, maupun di dapur restoran.
Kara mengetahui, jika Kevin sering mencarinya, bahkan hampir setiap hari mencarinya, namun Kara ingin menyendiri dahulu, menenangkan diri dari kegundahan hatinya.
Ponselnya berdering untuk kesekian kalinya dari Kevin.
****
Kevin mencari Kara ke kedai, namun kata Ben, Kara sedang tidak di kedai. Kevin menuju kantor Kara dengan pasrah.
Mike menemuinya di lobby kantor.
"Hai, aku Mike," Mike mengulurkan tangannya berkenalan.
"Kevin," Kevin menjabat tangan Mike sambil tersenyum.
Mike masih ingat, bahwa Kevin adalah lelaki yang sedang dekat dengan Kara saat ini.
"Mencari Kara?" tanya Mike.
"Ya, dia tidak ada di apartemen, di restoran kakaknya juga tidak ada. Apakah kamu tahu kira kira Kara ada di mana?"
"Sebenarnya saya tidak tahu Kara ada di mana tepatnya, sebulan yang lalu Kara pindah divisi. Kini dia dapat bekerja tanpa harus ke kantor. Pekerjaannya dapat dikirim melalui email atau langsung ke media online tabloid," terang Mike. Kevin menghela napas panjang mengetahui itu.
__ADS_1
"Terima kasih atas informasinya, mungkin sebaiknya aku menunggu balasan dari Kara saja." Kevin telah pasrah dengan apa yang terjadi.
"Mungkin Kara butuh waktu untuk menghubungimu lagi. Namun, sejak bertemu denganmu, dia tampak lebih ceria. Awalnya dulu tampak sangat menyedihkan." Mike mengedipkan sebelah matanya.
"Benarkah?"
"Ya, saya menjadi teman satu ruangan dengan Kara selama tiga tahun, dari mulai Kara yang sangat polos dan lugu, jarang mau bergaul dengan yang lain, hingga beberapa bulan terakhir ini sejak kembali dari pernikahan sepupunya Cindy, dia tampak lebih ceria."
Kevin mendengarkan cerita Mike tanpa ada yang terlewat.
Mike menceritakan Kara saat di kantor. Kevin merasa ada kesalahpahaman antara dirinya dan Kara, namun dia tidak tau akan hal apa.
Kevin mengucapkan terima kasih pada Mike, dan segera kembali ke kantornya. Nanti malam dia berencana menemui Andy untuk menjelaskan semuanya, seandainya tidak bertemu dengan Kara.
***
Sore menjelang malam, Kevin menuju kedai foodtruck dengan mengenakan celana jeans dan kaos santai. Kevin memesan waffle dan kopi untuk dinikmati sambil menunggu Kara.
Andy datang untuk membantu di foodtruck karena Kara sedang lembur pekerjaan kantor, dan kebetulan restorannya sedang libur.
Andy melihat Kevin duduk di bangku dekat kedai yang disediakan untuk karyawan saat beristirahat.
"Hai!"
"Terimakasih telah mampir ke kedai, besok mampirlah ke restoran pop up ku, cobalah menu menu andalan kami," Andy mempromosikan restoran.
"Iya, sama sama." Kevin terdiam, menyusun kata yang tepat untuk disampaikan pada Andy, dan Andy seolah dapat membaca pikiran Kevin akan kegundahan hatinya.
"Ada perlu apa mencariku?"
"Aku sebenarnya mencari Kara." jawab Kevin pelan.
Andy menatap Kevin.
Kevin menceritakan kedekatannya dengan Kara, hubungan, dan perasaannya terhadap Kara, hingga tiba tiba sebulan yang lalu setelah kembali dari perjalanan dinasnya, Kara seolah menghindar darinya.
Andy mendengarkan dengan seksama. Belum percaya dengan cerita Kevin karena Kara termasuk perempuan yang keras hati.
__ADS_1
Ben, yang tidak sengaja mendengar teringat kejadian saat Kara melihat pasangan berciuman lalu menangis.
Ben mendekati Kevin dan Andy, "Maaf saya tidak sengaja mendengar. Sebulan yang lalu Kara melihat anda berciuman di taman kota. Saat itu saya tidak mengerti mengapa Nonna Kara menangis, namun mendengar cerita anda barusan, meyakinkan saya, mungkin ini berkaitan dengan Anda dan Nona Kara."
"Astaga," Kevin menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia teringat pertemuan nya dengan Stella di taman kota. Dia menemani Stella, dan tidak menyadari jika kedai di depannya adalah milik Andy dan Kara. Kevin menenangkan dirinya, menyadari kesalahannya pahaman yang telah terjadi antara dirinya dan Kara.
Kevin berpamitan pada Andy, "Jika ingin meluluhkan hati Kara, cobalah menghubungi Cindy. Aku memang kakaknya, namun dengan Cindy dia lebih dekat. Semoga beruntung!" Andy menepuk pundak Kevin memberi semangat. Kevin mengucapkan terima kasih, dan segera berlalu.
Kevin menuju apartemen Kara, pintu balkonnya terbuka, ia yakin Kara ada di sana.
Kevin menghubungi Kara, tidak ada jawaban. Kevin mencoba terus, karena ia yakin Kara ada di dalam dan lampunya masih menyala.
Dering yang kesekian kali... Ponsel dijawab, namun hanya diam.
"Kara, aku tahu kamu bisa mendengarku di sana. Lihatlah, aku ada di bawah!"
Tidak ada suara dari tempat Kara, hening... Kevin tidak tenang, dia khawatir akan keadaan Kara.
"Kara, jawab aku! Kara!" panggil Kevin.
"Kev, aku baik baik saja. Aku ingin sendiri dulu untuk saat ini!" ponsel dimatikan.
Kevin diam... Dia tau Kara tidak baik baik saja. Dia ingin menjelaskan semuanya pada Kara. Kevin tidak ingin menyakiti perasaan Kara. Namun, mungkin semua perlu waktu. Kevin menatap balkon kamar Kara, berharap perempuan itu keluar sehingga Kevin dapat melihat nya.
Kesabaran Kevin membuahkan hasil, Kara menuju balkon sambil menyesap rokok.
Wajahnya terlihat kuyu dan lebih kurus. Rambutnya dikuncir, namun tampak berantakan. Kevin sungguh merindukan Kara.
Ingin rasanya dia terbang menuju kamar Kara dan memeluk perempuan itu.
Kevin masih menunggu hingga, Kara melihat ke arahnya.
Mata mereka saling bertatapan, saling rindu, namun Kara masih ragu.
Kara menutup pintu dan mematikan lampu kamar. Kevin berjalan menuju rumahnya dengan perasaan lebih tenang. Meskipun hanya melihat dari jauh, cukup mengobati rasa rindunya pada Kara.
***
__ADS_1
Jika ada situasi saat ini, andalah Kara adalah Cindy. Dia ingin menghubunginya, namun sudah malam. Dia ingin menceritakan semuanya, tidak peduli Cindy akan menertawakannya. Perasaan rindu pada Kevin ada, namun rasa kesal karena ketidak jujuran juga ada. Kara tidak tahu harus memulai dari mana untuk menjelaskan nya.
Malam semakin larut, Kara menatap gambar Josh, namun Kevin selalu ada di kepalanya.