One Night Stand

One Night Stand
Fandi


__ADS_3

Pagi harinya Aleta sudah bersiap-siap untuk berjualan di pasar yang kemarin ia datangi, Aleta memutuskan untuk datang lebih pagi karena yang ia tau pasar akan ramai saat pagi hari.


"Mau berangkat, Ta?" tanya Alma yang tengah duduk santai di kursi halaman kos.


"Iya, Mbak," ucap Aleta.


"Ini masih pagi banget loh malahan orang-orang pada tidur kali ya," ucap Alma.


"Ya, ma gimana lagi Mbak namanya juga usaha ya siapa tau kalau Leta berangkat pagi pelanggannya malah banyak," ucap Aleta.


"Ya, semoga aja ya," ucap Alma.


"Iya Mbak, oh iya kalau Mbak Alma kenapa di luar jam segini?" tanya Aleta.


"Aku tuh memang kalau jam segini udah duduk di sini mau cari udara pagi aja gitu," ucap Alma dan diangguki Aleta.


"Kalau gitu saya pergi dulu ya Mbak," pamit Aleta.


"Iya, hati-hati loh," ucap Alma.


Aleta pun berjalan menuju pasar dengan menenteng dua kotak plastik transparan berisikan roti yang sudah ia buat sejak tadi jam 3 pagi.


Sesampainya di pasar Aleta dapat melihat Bu Indi yang kemarin telah membantunya untuk dapat berjualan di sini.


"Selamat pagi, Bu," sapa Aleta.


"Pagi, kamu udah berangkat aja. Ibu kirain kamu berangkatnya nanti jam 9," ucap Bu Indi. "Gak, Bu. Saya berangkat jam segini ya karena saya pikir mungkin pembeli lebih banyak di pagi hari kayak gini daripada agak siangan nanti," ucap Aleta.


"Iya, sih. Biasanya itu kalau jam segini pasar ramai, tapi ya semoga aja sampai nanti siang tetep ramai ya," ucap Bu Indi dan diangguki Aleta.


Aleta pun mulai menyiapkan roti-rotinya di atas meja yang sudah ada di sana. Saat tengah menyiapkan dagangannya tiba-tiba seorang anak perempuan datang.


"Kak, mau beli roti," ucap anak kecil tersebut.


"Mau roti yang apa dek?" tanya Aleta.


"Roti ini yang rasa cokelat," ucap anak kecil tersebut.


"Iya, sebentar ya," ucap Aleta.


Aleta pun langsung mengambilkan roti yang ditunjuk oleh anak kecil tersebut, tapi belum sempat Aleta mengambilnya tiba-tiba seorang ibu-ibu datang dan menarik anak kecil tersebut.


"Jangan beli di sini, kalau mau beli di toko roti aja biar terjamin kualitasnya," ucap ibu tersebut.


"Roti saya kualitasnya bagus kok, Bu. Saya buatnya ini pun dari bahan-bahan yang kualitasnya juga bagus kok dan tempat penyimpanannya juga higienis," ucap Aleta.


"Heh, tetep aja ya yang namanya makanan di sini itu gak bagus apalagi buat kesehatan anak saya," ucap ibu tersebut.


"Ibu kalau gak mau beli jajanan di sini ke apa Ibu justru ke sini harusnya ibu itu beli di supermarket dan ayang harganya mahal-mahal bukannya di pasar yang harganya murah. Ibu ini ya udah uangnya pas-pasan mana tadi sempat nawar lagi, tapi sekarang aja sok kaya," ucap salah satu pedagang sayur yang ada di sana.


"Saya emang kaya ya, saya hanya kasihan aja kalau saya beli di supermarket terus siapa yang bakal beli di sini," ucap ibu tersebut.


"Banyak kok yang mau beli di sini lagian nih ya, Bu orang yang mau beli di pasar bukan hanya Ibu aja, tapi masih banyak kok. Saya juga gak akan rugi kalau Ibu gak belanja di sini," ucap pedagang sayur tersebut.


Ibu tersebut yang awalnya begitu sombong pun langsung menarik anaknya dan memilih pergi dari sana.


"Udah Nak gak usah di dengerin orang kayak gitu, di pasar kayak gini mah banyak yang kayak gitu," ucap Bu Indi.


"Iya, Bu," ucap Aleta dan mencoba untuk tersenyum.


"Bener kata Bu Indi, kalau ada yang kayak gitu gak usah dipikirin dan gak usah di ladenin biar kita aja yang ladenin orang kayak gitu," ucap pedagang sayur tadi.


"Iya, Bu. Makasih ya karena udah bantu saya," ucap Aleta.


"Iya sama-sama, Nak," ucapnya.

__ADS_1


"Kalau boleh tau Ibu namanya siapa ya?" tamat Aleta.


"Nama saya Vera, Nak. Atau kamu bisa panggil Bu Vera aja," ucap Bu Vera.


"Iya, Bu. Oh iya nama saya Aleta, tapi Bu Vera bisa panggil saya Leta aja," ucap Aleta.


"Iya, Nak Leta," ucap Bu Vera.


Mereka pun kembali berjalan seperti semula dan menganggap kejadian tadi tidak pernah terjadi.


Siang harinya lebih tepatnya jam 2 siang Aleta bersiap-siap untuk pulang karena memang rotinya sudah habis bahkan sejak pukul 11 rotinya.


Setelah rotinya habis tadi Aleta memang tidak langsung pulang karena Aleta keliling pasar untuk membeli beberapa keperluan di kos serta bahan-bahan membuat roti untuk ia jual besok, bukan hanya itu Aleta juga berkenalan dan bercengkrama dengan pedangan lainnya hingga jam 2 siang barulah ia selesai dengan kegiatannya dan langsung memutuskan untuk pulang bahkan Bu Indi sendiri juga sudah pulang sejak pukul 10 tadi karena dagangannya yang tinggal sedikit dan akan ia jual lagi di rumah.


"Pak, saya pulang dulu ya," pamit Aleta pada salah satu tukang parkir di sana yang bernama Pak Heru.


"Iya, Nak Leta. Hati-hati ya," ucap Pak Heru dan diangguki Aleta.


Aleta pun pulang ke kosnya dengan berjalan kaki, Aleta memang sengaja tidak menggunakan angkutan umum karena takutnya biayanya mahal apalagi Aleta juga membawa beberapa barang yang pastinya memerlukan tempat yang lumayan banyak sehingga Aleta hanya khawatir jika biaya tersebut dapat menguras kantongnya yang semakin menipis, ya meskipun biayanya memang tidak mahal seperti angkutan umum yang ada di kota, tapi tetap saja Aleta harus hemat untuk biaya melahirkannya nanti.


Baru saja Aleta memasuki gapura yang ada di desa tempat ia tinggal tiba-tiba saja seorang pria datang dan menghampiri Aleta.


"Maaf Kak mau tanya," ucap pria tersebut.


"Iya, ada apa ya?" tanya Aleta.


"Saya mau tanya tempat tinggal Bu Gita itu dimana ya?" tanya pria tersebut.


"Oh Bu Gita yang punya kos itu ya Kak?" tanya Aleta.


"Iya Kak, saya mau kos di sana soalnya," ucap pria tersebut.


"Saya juga kos di sana," ucap Aleta.


"Wah bagus dong kalau gitu gimana kalau Kakaknya bareng sama saya saja, jadi sekalian gitu," ucap Aleta.


"Itu lumayan jauh Kak, lebih baik Kakaknya bareng sama saya saja apalagi Kakaknya lagi hamil terus bawa barang-barang kayak gini lagi," ucap pria tersebut.


"Gapapa kok, Kak. Ini gak berat juga, jadi gak masalah," ucap Aleta.


"Anggap aja sebagai ucapan terima kasih saya karena Aidah ketemu sama Kakak dan udah ngasih tau saya dimana rumahnya Bu Gita," ucap pria tersebut.


Aleta ragu apakah ia ikut dengan pria tersebut atau tidak karena ini adalah pertama kalinya mereka bertemu dan Aleta pun belum kenal dengan pria tersebut, Aleta takut jika ternyata pria tersebut berniat jahat padanya.


Pria tersebut tau jika Aleta tidak berani ikut dengannya karena terlihat jelas dari wajahnya yang ketakutan dengan ajakannya.


"Saya gak bakal ngapa-ngapain Kakaknya kok, kalau gitu kenalin dulu nama saya Fandi. Saya ini guru baru di sekolah dasar di desa A," ucap Fandi.


"Saya tidak tanya itu," ucap Aleta.


"Iya, saya tau. Tapi, saya ingin memperkenalkan diri saya supaya Kakaknya tidak takut dengan saya," ucap Fandi.


"Saya tidak takut kok," ucap Aleta.


"Kalau begitu Kakaknya mau bareng sama saya ke rumah ya Bu Gita ya sekalian Kakaknya pulang gitu?" tanya Fandi.


Akhirnya setelah mempertimbangkan semuanya, Aleta pun memutuskan untuk ikut bersama Fandi.


"Yaudah, saya ikut Kakaknya," ucap Aleta.


"Silahkan Kak," ucap Fandi.


"Tapi, barang-barang saya," ucap Aleta.


"Taruh di bagasi aja Kak," ucap Fandi.

__ADS_1


"Setelah menaruh barang-barangnya Aleta pun masuk ke dalam mobil sederhana milik Fandi.


"Oh iya nama Kakaknya siapa ya kayaknya tadi Kakaknya belum bilang siapa nama Kakak?" tanya Fandi.


"Nama saya Aleta," ucap Aleta.


"Nama yang cantik seperti orangnya," gumam Fandi.


"Terimakasih," ucap Aleta.


"Hah, oh anda dengar ya," ucap Fandi dan tersenyum begitupun dengan Aleta.


"Hem, kalau boleh tau Kakak tinggal dengan suami Kakak ya?" tanya Fandi.


"Panggil Leta aja jangan Kakak," ucap Aleta.


"Ah iya maksud saya Leta dan anda panggil saya Fandi aja biar sama," ucap Fandi.


"Iya," ucap Aleta.


"Jadi gimana dengan pertanyaan saya tadi?" tanya Fandi.


"Oh itu, saya tinggal sendiri," ucap Aleta.


"Maaf," ucap Fandi.


"Tidak apa-apa kok," ucap Aleta.


Suasana pun hening hingga beberapa saat kemudian, mereka berdua pun sampai di depan rumah Bu Gita.


"Terima kasih karena sudah memberikan saya tumpangan," ucap Aleta.


"Tidak masalah, saya juga terima kasih karena telah memberitahu saya dimana rumah Bu Gita," ucap Fandi.


"Siapa itu? incaran baru lagi ya?" tanya Bu Mila.


"Udah sih gak usah kayak gitu sama Leta," ucap Bu Gita.


"Ini Bu tadi ada yang nyari rumah Bu Gita, kalau gitu saya permisi," ucap Aleta dan pergi dari sana.


.


Disisi lain, Arka saat ingin tengah uring-uringan karena Kevin belum bisa menemukan keberadaan Aleta. Entahlah apa yang dilakukan Kevin sehingga ia tidak bisa menemukan sang istri.


"Sabar, Ka. Gue ini udah berusaha sampai mata gue hitam kayak gini," ucap Kevin.


"Mau kemana lo?" tanya Kevin, saat melihat Arka yang berdiri dari kursi kebanggaannya.


"Kalau lo gak bisa biar gue yang cari sendiri," ucap Arka.


"Eh! jangan biar gue aja, lo tenang aja gue bakal berusaha sebaik mungkin buat dapat info soal keberadaan istri lo," ucap Kevin.


"Gue tunggu kabar itu," ucap Arka.


"Pasti, tapi sekarang lo harus rapat soal hotel baru itu," ucap Kevin.


"Oke, sekarang kita rapat. Gue mau semuanya cepet selesai dan gue tinggal fokus sama istri gue," ucap Arka.


"Gampang kalau itu," ucap Kevin.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2