
Kara berlari kecil menaiki tangga kantor, bergegas ke mejanya. Beberapa tugas menanti, divisi pemasaran memerlukan laporan keuangan untuk strategi pemasaran pagi ini.
Pagi tadi, dia pergi meninggalkan Kevin yang masih tidur di kamarnya. Kara meninggalkan secangkir kopi dan pancake untuk sarapan Kevin di meja makan.
Hari Senin pagi adalah hari paling sibuk bagi Kara setiap minggunya, beberapa divisi memerlukan laporan keuangan untuk review pekerjaan Minggu lalu. Kara mulai fokus di depan layar monitor.
****
Kevin membuka matanya, Kara sudah tidak ada di sampingnya. Dia segera bangun dan mandi. Selesai berpakaian, dia keluar dari kamar, aroma kopi membuatnya menoleh ke meja makan, ia menuju ke meja.
Ada pesan dari Kara 'happy breakfast' tertulis di selembar kertas note di samping piring pancake. Kevin menikmati sarapan, sambil memeriksa ponselnya. Ada seminar dan meeting dengan klien di New York besok pagi. Kevin segera menelepon asistennya untuk menyiapkan tiket mengurus perjalanan dinasnya.
Selesai membereskan meja makan, Kevin meninggalkan apartemen Kara dan menuju ke kantornya.
Beberapa pesan masuk dari Stella.
Kevin aku sedang dalam perjalanan ke Washington, aku di sana selama satu pekan ke depan. Bisakah kita bertemu?
Pesan dari Stella bertubi tubi masuk, Kevin menggeleng kepala sambil menghela napas, memasukkan kembali ponsel ke dalam sakunya.
Kevin menyiapkan data untuk projects klien di New York. Kevin adalah seorang ahli informatika, saat ini bekerja untuk perusahaan IT ternama. Tak jarang dia menjadi pembicara dalam kuliah terbuka, atau seminar, bahkan pemerintah terkadang menggunakan jasanya.
Kevin melihat jam tangannya, tak terasa hampir pukul 12 siang. Dia menutup laptopnya, keluar dari ruangan kerja.
" Nanti penerbangan ku pukul berapa?" tanya Kevin pada Henry, asistennya.
"Pukul 5 sore Pak, untuk penginapan nanti saya kirimkan bukti booking. Hotel tak jauh dari universitas," jawab Henry.
"Aku serahkan semua padamu. Aku mau keluar makan siang."
"Baik Pak."
Kevin bergegas berjalan kaki, menuju kantor Kara yang jaraknya dua blok dari tempat kerjanya.
Kara mengistirahatkan matanya dengan melihat keluar lewat jendela, dari jauh dia melihat Kevin berjalan cepat menuju ke arah kantornya.
__ADS_1
Segera Kara turun keluar mencari Kevin.
Saat Kara keluar dari kantornya, Kevin tepat berada di seberang. Kara melambaikan tangannya memberi isyarat jika ia yang akan ke seberang. Kevin menunggu sambil tersenyum.
"Terimakasih atas sarapannya tadi," ucap Kevin saat Kara sudah berada di hadapannya.
"Mengapa menemuiku siang ini?" tanya Kara sambil menyilangkan kedua tangan ke dada.
"Kita makan siang bersama, aku tau tempat enak di sekitar sini." Kara berjalan mengikuti Kevin. Tiba tiba Kevin menggenggam tangan Kara, menggandengnya.
Tak lama sampailah mereka di tempat yang Kevin rekomendasikan. Tempatnya tidak terlalu besar, aroma rempah tercium oleh Kara. Kara membaca papan menunya ada menu soto, sate, nasi goreng, mi goreng. "Restoran Indonesia?" tanyanya pada Kevin.
"Ya," jawab Kevin singkat sambil membimbing Kara masuk ke restoran. Kevin menuju bagian agak sudut di bagian dalam restoran. Seorang pelayan memberikan daftar menu untuk mereka pesan. Mereka memesan sate, mi goreng, nasi goreng, tahu isi, cendol, dan es teh.
"Bagaimana kamu bisa tahu tempat ini?" tanya Kara penasaran.
"Teman kuliahku pernah mengajakku kemari, dia orang Indonesia, awalnya aku tidak familiar, namun setelah dicoba, ternyata rasanya sangat enak. Aku ingin makan di sini bersamamu. Kamu tahu masakan Indonesia?" Kevin balik bertanya.
"Teman kantorku ada yang berasal dari Indonesia. Aku sering mampir ke tempatnya, bahkan tak jarang ia membawakan ku makanan Indonesia buatannya."
Pesanan mereka telah tiba. Kara dan Kevin segera menyantap hidangan itu.
"Iya, dulu sewaktu kuliah, temanku itu juga sering memasak makanan Indonesia, dan aku termasuk yang sering ia bagi," cerita Kevin. Kara menganguk angguk sambil memakan sate.
"Kara, nanti sore aku akan pergi ke New York, pulang jumat. Aku ada pekerjaan di sana. Jujur aku sangat rindu padamu." Kevin menggenggam tangan Kara.
"Sejak aku bertemu denganmu, aku tidak ingin jauh darimu. Kamu membuatku merasa selalu bahagia Kara," lanjut Kevin.
"Ya, mungkin kita harus segera menghabiskan makanan ini secepatnya, supaya kamu bisa bersiap siap."
Kevin tertawa melihat Kara yang mulai panik.
"Tenanglah, Henry asistenku telah menyiapkan semuanya. Pakaianku juga telah aku siapkan, nanti tinggal berangkat saja. Aku sudah sering menjalani ini sebelum bertemu denganmu," terang Kevin.
Mereka menyelesaikan makan siang, Kevin mengantar Kara ke kantornya. "Sampai jumpa akhir pekan ini, aku pasti sangat merindukanmu," Kevin memeluk Kara dan menciumnya. Kara tersenyum menyeberang ke arah kantor. Kara berbalik dan melambaikan tangan pada Kevin saat hendak masuk ke kantor. Kevin menatap Kara hingga sampai di ruang kerjanya. Kevin dapat melihat Kara dari jendela. Kara menuju ke jendela tersenyum pada Kevin, lalu ia berlalu menuju tempat kerjanya.
__ADS_1
***
Kevin dan Henry bersiap siap untuk perjalanan dinas mereka. Setelah makan siang Kevin pulang ke rumahnya untuk mengambil tas pakaiannya, begitu juga dengan Henry. Mereka bertemu di bandara. Kevin menyelesaikan beberapa pekerjaan di lounge bandara. Pesawat datang tepat waktu, mereka berangkat ke New York.
***
Stella menginjakkan kakinya di kota Washington dengan muka bahagia. Stella adalah mantan kekasih Kevin, yang masih menaruh harapan untuk kembali pada Kevin. Stella adalah seorang dokter ahli penyakit dalam. Kini dia bekerja di sebuah rumah sakit di LA. Stella berasal dari kota yang sama dengan Josh, Kevin, dan Kenny.
Stella mencari nama perusahaan Kevin, dan mencatat nomor telepon nya saat berada di taksi. Taksi berhenti di sebuah hotel berbintang, Stella menarik kopernya masuk ke dalam hotel. Seorang bellboy menyambutnya, membantu mengangkat koper ya. Stella menuju resepsionis untuk check in.
Ponsel berdering
"Ya sayang?"
"Ma, berapa lama mama pergi?"
"Minggu depan mama pulang, Noah dengan Bibi Ruth dulu ya."
"Apakah aku boleh menginap di rumah Paman Kenny?"
"Tentu boleh, tapi mama akan tanya dulu pada Paman Kenny, merepotkan atau tidak."
"Baiklah, Ma."
"Jangan nakal ya, nanti mama tidak telpon setelah minta ijin Paman Kenny ya!"
Stella menutup telpon, dan menghubungi Kenny.
"Hai, Kenny maaf mengganggu. Apakah Noah boleh menginap di tempatmu. Saat ini aku sedang di Washington."
"Oh, Stell, tentu boleh. Kami dengan senang hati menerima Noah di rumah. Nanti aku jemput dia ya."
"Oh, terimakasih banyak Kenny."
Stella menghubungi putranya, Noah mengabarkan jika dia bisa tinggal di rumah Kenny selama Stella pergi. Noah sangat gembira mengetahuinya.
__ADS_1
Stella masuk ke kamar hotel, meletakkan kopernya di dekat lemari, lalu berdiri di dekat jendela melihat pemandangan di luar.
"Aku merindukanmu Kevin."