One Night Stand

One Night Stand
Membantu Justin


__ADS_3

Kara kembali ke rutinitas awalnya, mengurus restoran dan hotel. Ia berkeliling memeriksa area hotel yang akan digunakan untuk acara pesta pernikahan.


Dekorasi area taman hotel sedang dibuat, karena kliennya meminta tema outdoor. Di bagian tepi pantai terdapat sebuah tempat untuk pemberkatan pernikahan.


Matt menghampirinya, saat Kara memeriksa bagian tepi pantai.


"Rupanya kamu di sini?" Kara terkejut saat Matt tiba tiba ada di belakangnya.


"Kamu selalu mengejutkanku saja!"


Matt terkekeh mendengar ucapan Kara, lalu duduk di bangku tamu di area pemberkatan. Kara ikut duduk di sampingnya sambil menatap matahari yang mulai tenggelam di laut lepas.


"Dulu aku pernah bermimpi berdiri di depan sana." Ucap Matt perlahan.


"Mengapa hanya mimpi." Kara heran.


"Saat itu aku bermimpi dapat menikahi kekasihku. Namun, kenyataan kami harus berpisah secara tiba tiba. Mungkin dia akan sulit menerima penjelasan dariku."


Kara terdiam, dia tau yang dimaksud oleh Matt adalah dirinya.


"Mengapa tidak berusaha mencarinya?"


"Saat aku mencarinya, dan menemukannya, dia telah berbahagia dengan seorang Pria yang baik, bahkan orang tuanya sangat menyukai calon suaminya itu. Aku harus berbuat apa? Datang tiba-tiba di hadapannya?" Matt tersenyum kecut.


"Kamu masih mencintainya?" Kara menatap Matt.


"Aku selalu mencintainya sampai kapanpun. Aku tahu aku banyak kesalahan dengannya di masa lalu. Tapi, yang pasti aku ingin membawanya ke depan altar dan berjanji setia sehidup semati bersamanya." Matt menatap lekat Kara. Jantung Kara seakan berhenti berdetak saat Matt mengatakannya.


Ada keinginan hasrat untuk mencoba kembali dengan Matt, namun di sisi lain hatinya ia mengingat Kevin, yang selalu setia padanya meskipun berjauhan.


Kara berada di sebuah persimpangan, dia berhenti memikirkan mau ke jalan yang mana untuk tujuan hidupnya.


Matt menyadari ada keraguan di hati Kara.


"Apakah masih ada kesempatan untukku?" Tanya Matt pelan.


"Aku tak tahu." Kara menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Matt menatap mata Kara dan menggenggam jemari tangannya, lalu mengecupnya. Kara memperhatikan dan menikmati setiap perlakuan Matt padanya.


Lalu terdengar suara ponsel Matt berdering nyaring membuyarkan adegan romantis mereka, Matt berjalan menjauh untuk menjawab panggilan ponselnya. Kara hanya menatapnya dari kejauhan, Matt melambaikan tangannya memberi isyarat akan bekerja kembali.


Tinggallah Kara masih sendiri di bangku, menatap matahari yang benar-benar telah tenggelam, langit menjadi gelap, lalu ia berdiri, segera masuk ke hotelnya dan mengecek restoran.


****


Acara pemberkatan pernikahan berlangsung dengan khidmat, Kara menatap dari kejauhan. Ia membayangkan masa indah itu bersama Josh. Lalu tiba-tiba bayangan Matt dan Kevin menari nari di kepalanya, membuatnya melupakan impiannya.


Pesta pernikahan tampak meriah dan ramai, Kara teringat pesta pernikahan Cindy dan Brian. Ya karena pernikahan mereka, ia bertemu dengan Kevin. Entahlah mengapa Kara merasa rindu pada Kevin.


Kara masuk ke kamarnya yang ada di hotel, lalu menghubungi Kevin, tak lama Kevin menjawab panggilannya.


"Hai, ada apa Kara?" Tanya Kevin dengan heran.


"Kamu tidak suka aku hubungi?"


"Tidak tidak, sangat suka. Bagaimana harimu?"


"Seperti biasa. Kamu sudah mau tidur?" Tanya Kara.


"Beristirahatlah, aku hanya ingin melihat dan mendengar suaramu."


"Astaga Kara...aku juga sangat merindukanmu!" Kevin menatap Kara lekat seolah berada di hadapannya.


Kara terdiam, lalu tersenyum menatap Kevin. Ia sangat merindukannya, ingin rasanya ia berpindah tempat menembus layar ponselnya ke tempat Kevin.


Mereka hanya saling berpandangan tanpa mengatakan apapun, lalu Kevin menceritakan pekerjaannya, bahkan sempat menghubungimu Nenek yang sedang sakit. Menceritakan kehebohan Cindy saat merawat bayi nya yang mulai belajar berjalan, menumpahkan tepung saat Cindy membuat kue. Ternyata Kevin sering menghubungi sepupunya itu, dibandingkan dirinya yang terlalu sibuk dengan pekerjaan, bahkan hanya meratapi nasib saja.


Hingga larut malam mereka mengobrol, hingga mata Kara sedikit terpejam, yang membuat Kevin mengakhiri teleponnya.


***


Kara kembali ke LA dengan menggunakan pesawat. Sesampainya di sana, ia langsung menuju restoran Papanya. Ia ingin menyampaikan pesan dari Justin kepada Anne.


Papa dan Mama menyambut kedatangan Kara. Memberi laporan usahanya yang ada di San Fransisco dan kemajuan restoran yang dipimpinnya. Papa tersenyum bangga melihat Kara.

__ADS_1


Kara mencari Anne si ruang staff, ia sedang membaca kertas yang menumpuk di mejanya. Kara mengetuk pintu sebelum masuk.


"Hai Kara, masuklah!" Ajak Anne dengan ramah. Kara masuk dan duduk di hadapannya Anne


"Apa kabarmu?" Tanya Kara berbasa basi.


"Kondisiku baik baik saja." Ia tersenyum.


"Aku dengan hotel di San Fransisco sangat mengalami banyak kemajuan. Restoran yang di Vegas, meski banyak persaingan, namun pengunjung silih berganti.


Kara tersenyum menanggapi sanjungan Anne.


"Bagaimana kabar putrimu? Sudah besar ya saat ini?" Tanya Kara.


"Menjelang remaja, penuh dengan drama. Terkadang akupun harus instrospeksi diri juga saat ia mulai sedikit melawan kata kataku." Anne mencurahkan isi hatinya.


"Teringat masa muda kita dahulu. Apakah Justin pernah menemuimu?"


Anne terdiam, seolah ada yang ditutupi olehnya.


"Ya, Justin pernah ke mari mencariku, namun dia tak berani macam-macam. Hanya menanyakan kabar saja. Lalu datang ke rumah mencari putriku. Untung saja ayahku segera mengusirnya.


"Justin ingin menemui putri kalian."


"Setelah sekian lama akhirnya dia ingat jika memiliki anak." Anne tersenyum sinis.


"Lebih baik ingat, daripada tak ingat sama sekali. Ucap Kara sambil tersenyum.


"Anne, saat ini Justin sedang sekarat, namun dia menyembunyikan dari media dan dirimu. Ia ingin menikmati sisa hidupnya bersama putrinya. Jika kamu tak keberatan, ini kartu nama Justin. Itu alamat agensi tempatnya bekerja. Kamu bisa menghubungi atau menemuinya saat sudah siap. Tapi, tolong jangan sampai terlambat. Keberadaan dirimu atau putri kalian mungkin bisa memberi semangat supaya dia dapat sembuh." Kara menyampaikan semuanya pada Anne.


Anne mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Kara.


Selesai menyampaikan maksudnya Kara berpamitan dan meninggalkan Anne yang masih merenungkan semua ucapan Kara padanya.


Ada rasa kasihan pada Justin, namun ia merasa Justin pantas menerimanya.


Putrinya besar tanpa kehadiran ayahnya, dan mulai sedikit melawan. Kadang ia sering bertanya mengenai ayahnya. Anne dan keluarganya selalu menutupi semuanya, dan menceritakan, jika ayahnya seorang tentara yang meninggal saat berperang.

__ADS_1


Anne merasa saat ini waktunya untuk membuka lagi hatinya, menerima Justin untuk bertemu dengan putri mereka. Berharap Justin sembuh lagi, meski pun dahulu dia gak menerima Anne.


__ADS_2