
Beberapa jam dalam perjalanan akhirnya Arka, Aleta dan Kevin pun sampai di kediaman keluarga Andrean.
Aleta sendiri sejak tadi sudah gugup, ia takut jika dirinya tidak lagi diterima oleh keluarga Andrean.
"Ayo masuk," ajak Arka dan menarik lembut tangan Aleta.
"Mas, Aleta balik ke kos aja ya," ucap Aleta.
"Kenapa gitu?" tanya Arka.
"Ya, gapapa. Aleta cuma ngerasa nyaman di kos aja," ucap Aleta.
"Gak, aku gak akan biarkan kamu balik ke kos dan kalau sampai itu terjadi aku pastikan kos itu akan hancur," ucap Arka.
"Ta-tapi...," ucapan Aleta terhenti lantaran Arka yang menyela perkataannya.
"Kamu tau, dengan kembalinya kamu Mama pasti sangat senang," ucap Arka.
Aleta sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi dan yang dapat ia lakukan saat ini hanyalah mengikuti apa yang diinginkan Arka.
Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah mewah tersebut.
Baru saja Arka membuka pintu tersebut Aleta dapat mendengar suara Kak Sandra yang tengah berdebat dengan Mama Febby.
"Mama jangan kayak gini dong," ucap Kak Sandra.
"Mama kayak gimana emangnya? perasaan Mama gak gimana-gimana deh," tanya Mama Febby.
"Sandra tau Mama pasti kecewa sama Aleta yang pergi dan ninggalin Arka, tapi yaudah Mama harus terima karena itu memang keputusan Aleta. Kita juga harus bangkit setelah Aleta pergi bukan," ucap Kak Sandra.
"Mama tau, tapi Mama masih gak bisa terima kalau menantu Mama pergi apalagi menantu Mama lagi hamil, San. Mama juga yakin sekarang kehamilan menantu Mama pasti sudah besar karena memang sebentar lagi bakal lahiran," ucap Mama Febby.
"Mama masih nganggep Aleta menantu Mama setelah dia pergi gitu aja dan buat Arka kayak mayat hidup gitu," ucap Kak Sandra.
"Bagaimanapun Aleta itu masih menantu Mama karena Arka dan Aleta belum bercerai," ucap Mama Febby.
Aleta sendiri yang mendengar percakapan Mama Febby dan Kak Sandra semakin bingung untuk menuju ruang tamu.
'Apa keputusan aku untuk datang ke sini salah, pasti semua keluarganya Mas Arka berharap aku tidak kembali, dengan itu Mas Arka bisa segera bercerai denganku dan memilih perempuan lain yang pantas untuknya,' ucap Aleta dalam hati.
Aleta melepaskan tangan Arka dan sontak saja membuat Arka menoleh menatap bingung Aleta.
"Kenapa?" tanya Arka.
"Leta balik ke kos aja Mas, Leta tau Mas Arka pasti sibuk kalau gitu biar Leta balik sendiri aja Mas. Permisi," pamit Aleta.
Belum sempat Aleta keluar dari rumah tersebut, Arka kembali menahan tangannya.
__ADS_1
"Kenapa kamu pergi? apa karena perkataan Mama Febby dan Kak Sandra?" tanya Arka.
"Bu-bukan kok, Mas. Aku balik karena memang pengen balik lagian Leta juga udah bayar kos untuk beberapa bulan, jadi sayang kalau gak ditempati," ucap Aleta.
"Untuk kosnya nanti aku akan suruh orang lain untuk menepatinya dan kamu gak perlu khawatir untuk uang yang sudah kamu bayarkan beberapa bulan. Sekarang ayo kita temui Mama, Mama pasti seneng kalau tau kamu kembali," ucap Arka dan menarik lembut tangan sang istri menuju ruang tamu.
Sesampainya di ruang tamu, semua orang yang awalnya tengah berbincang-bincang pun menoleh pada Arka dan Aleta lalu mereka semua pun sontak terkejut melihat Aleta yang berdiri di samping Arka.
"Aleta!" teriak Mama Febby, yang masih tidak percaya jika menantunya yang selama ini ia tunggu-tunggu berada di hadapannya.
'Apa Mama dan Kak Sandra gak suka ya aku di sini?' tanya Aleta pada dirinya sendiri.
Aleta berpikir seperti itu karena raut wajah Mama Febby yang terlihat bingung dan diam saja serta tatapan tidak suka dari Kak Sandra.
"Sayang, ini beneran kamu kan?" tanya Mama Febby dan menghampiri Aleta lalu setelah itu Mama Febby memeluk Aleta.
"Mama seneng banget akhirnya Mama bisa ketemu sama kamu lagi, kamu jangan tinggalin Mama lagi ya. Mama gak bisa kalau gak sama kamu," ucap Mama Febby dan menatap hangat sang menantu.
"Mama gak marah sama Leta?" tanya Aleta.
"Gak sayang, Mama tau kok kalau kamu ngelakuin ini karena sebuah alasan dan alasan itu juga karena Arka yang gak bisa ngertiin kamu sebagai istri," ucap Mama Febby.
"Tapi, Mas Arka gak salah kok, Ma. Di sini emang Leta yang kekanak-kanakan," ucap Aleta.
"Udah ya sayang, jangan bahas itu pokoknya semuanya itu salah Arka dan kamu gak perlu nyalahin diri kamu," ucap Mama Febby.
"Ma, suruh Kak Leta duduk dulu dong, kasihan Audy lihat Kak Leta yang kayak capek berdiri gitu," ucap Audy.
Sebenarnya ia sangat capek karena memang di dunia kehamilannya yang akan memasuki 9 bulan membuatnya harus ekstra dalam menjalankan kegiatannya termasuk saat berdiri dimana beban tubuhnya juga bertambah.
"Mama lupa, kalau gitu ayo sayang kita duduk dulu ya. Kamu kan lagi hamil besar, jadi harus istirahat yang banyak," ucap Mama Febby dan menuntun Aleta untuk duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
Arka sendiri tidak membiarkan Mama Febby menuntun Aleta sendirian karena ia masih takut jika Mama Febby merasa berat akhirnya Arka pun ikut menuntun Aleta dan setelah mendudukkan Aleta di sofa, Arka pun ikut duduk di samping sang istri.
Aleta sendiri sejak tadi tidak berani melihat Kak Sandra, Aleta hanya merasa jika Kak Sandra tidak menyukainya sejak kehadirannya tadi apalagi Aleta juga mendengar perkataan Kak Sandra pada Mama Febby tentang dirinya hal itu tentunya membuat Aleta menjadi takut pada Kak Sandra.
"Mau makan apa hem nanti biar Mama ambilin?" tanya Mama Febby.
"Ga-gak usah, Ma. Leta masih kenyang kok, lagian tadi sebelum ke sini juga udah makan," ucap Aleta dan diangguki Mama Febby.
"Tapi, nanti kalau butuh apa-apa kamu harus kasih tau Mama loh ya," ucap Mama Febby.
"Iya, Ma," ucap Aleta.
"Aduh, lihat perut kamu udah besar ya pasti kamu susah ya karena gak ada Arka," ucap Mama Febby dan mengusap lembut perut Aleta.
Aleta hanya tersenyum menanggapi perkataan Mama Febby karena memang apa yang dikatakan Mama Febby benar adanya, ia cukup kesusahan terutama beberapa Minggu setelah ia tinggal di kos, tapi semuanya dapat Aleta lalui.
__ADS_1
"Kamu itu harus berterimakasih sama Aleta karena menantu Mama ini banyak mengalami hal yang mudah bagi ibu hamil, awas aja kalau sampai Mama dengar kamu bikin menantu Mama sedih," ucap Mama Febby pada Arka.
"Iya, Ma," ucap Arka.
"Kak, Audy boleh pegang perutnya Kak Leta gak?" tanya Audy.
"Boleh dong," ucap Aleta.
Audy pun memang pelan perut Aleta karena ia takut menekan baby yang ada di dalam perut Aleta.
Semua orang bahagia melihat hal itu hingga tiba-tiba Kak Sandra berdiri dan pergi dari ruang tamu menuju kamarnya.
Kak Tara yang melihat hak itupun lantas menyusul sang istri, "Pa, Ma. Tara ke Sandra dulu ya," pamit Kak Tara.
Aleta semakin merasa bersalah melihat Kak Sandra yang pergi dari ruang tamu, "Udah gak usah dipikir," bisik Arka dan Aleta pun tersenyum.
Namun, meskipun begitu. Aleta tetap saja merasa bersalah pada Kak Sandra.
'Apa iya, kembalinya aku ke rumah ini buat Kak Sandra benci sama aku,' ucap Aleta dalam hati.
"Sayang, sayang. Leta sayang!" panggil Mama Febby dan mampu membuat Aleta tersadar dari lamunannya.
"Kamu kenapa hem kok ngelamun gitu sih sayang?" tanya Mama Febby.
"Leta gapapa kok, Ma. Mungkin Leta sedikitpun pusing aja, tapi gak masalah kok Ma," ucap Aleta.
"Ka, bawa istri kamu ke kamar dan istirahat. Mama gak mau menantu Mama ini sakit," ucap Mama Febby.
"Tapi, Leta gapapa kok, Ma," ucap Aleta.
"Gak sayang, kamu memang harus ke kamar buat istirahat. Ingat loh kamu itu sekarang lagi hamil besar dan harus banyak istirahat, kalau gerak besok pagi ya Mama bakal panggil instruktur olahraga yang udah berpengalaman lah di bidang olahraga untuk ibu hamil," ucap Mama Febby.
"Tapi, Ma...," ucapan Aleta terhenti lantaran Mama Febby yang menyelanya.
"Udah sayang, kamu gak usah nolak ya pokoknya Mama bajak hubungi sekarang. Ka, bawa menantu Mama ke kamar," ucap Mama Febby.
Arka pun menarik pelan tangan sang istri lalu menuntun Aleta menuju kamar, "Pa, Mama seneng banget karena akhirnya Mama bisa ketemu lagi sama menantu perempuan kesayangan Mama," ucap Mama Febby.
"Iya, Ma. Papa juga seneng lihat Aleta di sini," ucap Papa Daffa.
"Mau kemana kamu?" tanya Mama Febby.
"Mau ke kamar ngehalu dulu," ucap Audy lalu pergi menuju kamarnya.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.