
Kara sengaja tidak memberitahu karyawan di kedainya akan kedatangannya. Pagi pagi ia telah datang, Andy sengaja memberi kunci kedai padanya.
Ia membuka pintu belakang kedai, lalu melihat sekeliling. Tempat yang memberikan banyak kenangan baik suka maupun duka baginya.
Kursi kursi masih diletakkan terbalik di atas meja, dan lantai telah bersih.
Kara sengaja menuju dapur, ada sedikit perubahan untuk dapurnya, disesuaikan dengan banyaknya menu yang dijual saat ini. Dapur terasa lebih luas dan mirip dapur restoran papanya, namun lebih kecil.
Kara membuka ruang penyimpanan kedai, dan merasa takjub, semua bahan tersusun rapi dan ada keterangan.
Andy sangat pandai menata tempat ini. batin Kara.
Ia mengambil bahan bahan untuk menu waffle dan pancake.
Kara mengenakan celemeknya, lalu mulai mencampur bahan bahan pada wadah besar.
Pintu kedai dibuka, dan terdengar suara Matilda dan Ami mengobrol, lalu ada suara Ben, Timmy, dan beberapa orang sedang saling menyapa.
Matilda membuka pintu dapur dan...
"Nonna....!!" Matilda berteriak membuat semua karyawan berlari menuju dapur. Mereka semua terkejut dengan kedatangan Kara di kedai.
Kara memeluk satu per satu karyawannya,
"Surprise..!!" serunya sambil tersenyum.
Mereka semua tertawa senang menyambut kedatangan Kara.
"Hari ini spesial, jadi menu waffle dan pancake aku yang membuatnya. Aku juga akan membuat satu menu untuk anak anak, tapi tidak untuk dijual, karena aku akan mengadakan reuni dengan teman temanku di sini."
"Baiklah Nona, terserah baiknya seperti apa. Kami senang Anda di sini lagi untuk memasak bersama kami." ucap Matilda, disusul anggukan dari Ami dan Ben.
Ben menyiapkan menu kopi dan menyiapkan beberapa menu minuman.
Matilda sibuk membuat cake di dapur, Timmy menyiapkan bahan untuk menu makanan.
Pagi itu hiruk pikuk kota sudah mulai. Aroma kopi yang semerbak menyebar hingga luar kedai mengundang orang untuk masuk ke kedai dan menikmati sarapan di sana.
Andy telah datang dan sedang menyiapkan pesanan pengunjung. Kara pun telah siap di pos kudapan. Kedai tampak ramai pengunjung pagi itu.
Saat pengunjung mulai sepi, Kara masuk ke dapur dan mengambil air mineral dan meneguknya. Ia mengelap peluh yang membasahi pipinya, Andy tersenyum melihat adiknya.
"Bagaimana hari pertamamu?"
"Aku baik baik saja, cukup menyenangkan."
__ADS_1
"Ini untukmu!" Andy menyodorkan piring yang berisi menu buatannya.
Kara mencicipi nya, dan tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Sangat lezat!" Kara mengacungkan jempolnya.
Kara melihat bayangan Claire masuk ke kedai, lalu meninggalkan Andy menemui sahabatnya itu.
Claire tersenyum ketika melihat Kara, lalu mereka saling berpelukan melepas rindu.
Kara menyalami Kenny yang menggendong Nina putrinya.
"Mari ke sini!" Kara membimbing Claire dan keluarganya ke sudut ruangan, yang telah ia siapkan untuk berkumpul bersama teman-temannya.
Timmy meletakkan teko kopi dan teh di meja, lalu beberapa kue dan makanan lain di meja itu. Nina dengan senang segera mengambil Waffle yang ada di hadapannya.
"Mama, aku mau ini!" serunya pada Claire.
Claire membantu Nina menyiapkan di piring untuk disantap putrinya.
Kara membantu menyusun di piring Nina, dan tersenyum pada anak itu.
"Silahkan anak manis!"
"Terimakasih Tante." Nina menyantap waffle tanpa bersuara.
"Aku baik baik saja. Kali ini aku memutuskan untuk membantu Papa mengawasi restoran di San Fransisco dan Las Vegas."
"Wow. Jadi kamu benar benar kembali lagi terjun ke bisnis keluarga." ucap Claire.
"Apa kabarmu Kenny?"
"Aku baik baik saja, pekerjaanku juga lancar seperti biasa."
"Apa Kau sering pulang ke desa?" tanya Kara pada Kenny lagi.
"Saat libur kami sempatkan berkunjung ke tempat neneknya Claire. Ayahku telah tiada awal tahun kemarin." Jawab Lenny sambil menunduk, lalu menatap Kara.
"Aku turut berdukacita!" Kara menepuk pundak Kenny penuh simpati.
Tak lama Jeff membuka pintu disusul oleh Stella dan Noah di belakangnya.
Kara menyambut hangat kedatangan mereka.
Kara menatap lama Noah, putra Stella. Wajahnya terutama mata itu adalah milik Josh. Kara sangat mengenalnya.
__ADS_1
"Ayo kemari, silahkan menikmati sajiannya!"
Stella menyadari bahwa Kara sering memperhatikan Noah, bahkan mereka berdua saling mengobrol seakan telah lama mengenal.
"Ini pancake terenak yang aku makan!" seru Noah.
"Benarkah?" Ucap Kara pura pura terkejut.
"Mama sering mengajakku kemari, namun pancake yang ini berbeda, terasa lebih enak... Oh, apakah ini Bibi Kara yang membuatnya?" Noah seakan menyadari nya.
Kara tersenyum dan mengangguk. Noah menutup mulutnya terkejut, tapi gembira.
"Aku boleh berfoto denganmu?" tanyanya sopan.
"Tentu saja." Noah mengambil kamera kecil hadiah ulang tahunnya, dan berfoto selfie dengan Kara.
Semua tertawa gembira dan saling bersenda gurau menikmati hidangan di kedai.
Kevin menyaksikan Kara dan teman temannya bersenda gurau dari luar kedai, ia baru melihat jika ada Stella di dalam sana. Ia ingin mengurungkan langkahnya untuk masuk, namun di sisi lain hatinya ingin mengenalkan kekasihnya pada Stella supaya tidak salah paham.
Kevin memutuskan untuk masuk ke kedai dan bergabung bersama mereka semua.
Kenny melihat Kevin membuka pintu, ia lalu berdiri dan menghampiri sahabatnya. Mereka saling berpelukan dan berjabat tangan. Kenny dan Kevin menuju ke tempat berkumpul.
Kara menyiapkan satu piring lagi untuk Kevin dan bersikap biasa saja seperti tidak ada masalah.
Kevin menyapa Jeff dan mengobrol, meminta maaf atas kesalahan pahaman yang pernah terjadi.
Jeff menanggapi dengan tawa, "Tidak masalah buatku. Kara dan Claire adalah sahabatku. Aku sudah sering diancam oleh pacar mereka saat sekolah dulu, jadi sudah biasa dengan kesalahan pahaman." ucapnya. Kara dan Claire tertawa, mengingat kenangan saat mereka saat sekolah dulu.
Kevin menatap Stella yang terlihat kikuk di tengah tengah reuni ini.
"Aku senang sekali Claire, Kenny, dan Kara mendukung aku untuk berhubungan dengan Stella." lanjut Jeff, membuat Kevin terkejut, Stella hanya tersenyum malu mendengar Jeff menceritakan kisah awal mula hubungan mereka. Noah pun terkadang ikut menimpali. Noah sangat senang dengan kehadiran Jeff, seakan memiliki seseorang saat Mamanya tidak dapat membantunya.
Kevin menatap Kara, dan Kara hanya tersenyum. Ia tahu, Kara sengaja masih menutupi hubungan mereka, namun kali ini Kara ia yakin Kara tidak akan menyembunyikan lagi.
"Bagaimana kamu bisa kemari? Apakah sedang berlibur?" tanya Kenny, heran melihat kehadiran Kevin di kedai. Ia merasa sahabatnya itu tidak hanya kebetulan saja hadir di situ.
"Aku merayakan thanksgiving bersama keluarga besar di sini, sambil ingin mengunjungi teman temanku."
"Jadi kita benar benar reuni ya." Kenny menegaskan.
"Kara, sepertinya kamu telah move on dari kesedihanmu?" Claire menyadari jika Kara tidak lagi mengenakan cincin pertunangan dengan Josh.
Kara tersenyum sambil menatap Kevin, Claire, Kenny, dan Stella saling mengerutkan kening.
__ADS_1
"Apakah kalian..!?" Claire menunjuk Kara dan Kevin.
Kara menganguk mendekati Kevin, merangkul pundaknya, lalu mencium pipinya.