One Night Stand

One Night Stand
Masihkah ada Kesempatan untukku?


__ADS_3

Kara bertanggung jawab menjaga foodtruck saat akhir pekan karena Andy akan membuka restoran pop up di gudang milik Tante Mary.


Aroma kopi semerbak berhembus di sekitar foodtruck, ditambah aroma pancake dan waffle yang telah matang, benar benar sangat menggoda orang untuk mampir. Kara merasa nyaman sekali memasak, meskipun di dapur yang kecil. Kara tersenyum saat orang memuji masakannya. Ben melayani pembeli dengan sabar, sedang Kara menyiapkan pesanan yang mulai berdatangan.


Sabtu pagi area taman sangat ramai oleh orang, baik untuk berolahraga, berjalan jalan, hingga sekedar mencari sarapan.


Stella kembali menuju taman untuk memesan kopi dan waffle favoritnya.


Sesampainya di depan truk, Stella memesan kopi latte dan waffle,


"Silahkan ini pesanannya!" Kara memberikan kopi dan waffle pesanan Stella.


"Waffle di sini terasa berbeda dengan yang di LA?" Stella bertanya pada Kara.


"Oya?" Kara pura pura terkejut.


"Ya, saya langganan kedai ini di LA, hampir setiap pagi saya menikmati kopinya, dan setiap seminggu sekali, mengajak putraku untuk makan di kedai."


"Terima kasih menjadi langganan kami. Jadi anda dari LA?" tanya Kara.


"Ya, saya sedang ada pekerjaan di Washington, beruntung bisa menemukan kedai ini di sini."


"Kami hanya sebulan di sini, mengikuti festival kuliner," terang Kara, Stella menggaguk dan tersenyum.


"Baiklah, terima kasih untuk waktu mengobrolnya, bye!" Stella tersenyum sambil berlalu, Kara membalas dengan anggukan.


***


Bro Kevin, kami sedang membuka foodtruck di area taman kota. Jangan lupa nanti malam pembukaan restoran pop up di jalan 41, jika sempat datanglah.


Kevin membuka pesan yang dikirimkan oleh Andy.


Sejak bertemu di pernikahan Cindy, Kevin dan Andy saling berkomunikasi. Selain usia mereka yang sama, mereka juga memiliki kegemaran yang sama, menonton dan bermain basket.


Kevin berharap bertemu dengan Kara di sana, karena pagi ini Kara tidak ada di apartemen nya.


Sejak Kevin bertugas ke luar kota, Kara menjadi agak berubah, terlebih beberapa hari yang lalu. Kevin merasa Kara mulai menjaga jarak dengannya. Kevin tidak tahu apa salahnya, dan ingin penjelasan dari Kara.


Kevin menuju taman kota, berharap bisa bertemu Kara di sana.

__ADS_1


"Kevin !" Kevin menoleh ke suara yang memanggilnya, Stella berlari kecil ke arahnya.


Stella masih terengah-engah di depan Kevin, sambil berusaha mengatus nafasnya dia tersenyum.


"Akhirnya kita berjumpa di sini."


Kevin tersenyum tipis menatap Stella. Hampir tidak ada yang berubah dari perempuan yang pernah mengisi hatinya itu, masih kelihatan cantik dan energik.


"Apa kabar?"


"Seperti yang kamu lihat, aku baik baik saja. Kamu juga terlihat lebih gemuk sekarang, Kev, dan masih tampan," kata Stella sambil mendekat ke tubuh Kevin.


Kevin masih diam berdiri.


"Maaf aku tidak sempat membalas pesanmu kemarin, dan tidak sempat menghubungimu."


"Tidak apa apa, kamu terlihat sangat sibuk. Karirmu juga terlihat sangat maju."


"Masih sama saja, aku hanya menikmati setiap pekerjaan yang kulakukan," ucap Kevin sambil menatap Stella.


"Maaf atas semua yang pernah aku lakukan, aku telah menyakiti hatimu, menyia-nyiakan kepercayaan yang kamu berikan untukku," Stella menunduk, terdengar sangat menyesali akan semua perbuatannya pada Kevin.


"Sudahlah, aku sudah melupakan. Kita harus bisa move on, jika ingin maju," Kevin memegang lengan Stella.


"Jujur, aku hanya mencintaimu. Aku selalu gagal menjalin hubungan dengan orang lain. Kau tau Josh memilih perempuan itu, dan keluargaku menolakku. Aku membesarkan putraku seorang diri, berjuang seorang diri. Setiap hari aku memikirkan betapa bodohnya aku saat itu. Kenapa saat itu aku terlalu egois, tidak mau mendengarkanmu. Aku sangat menyesal Kev!" Stella berusaha menahan air matanya, namun bulir bulir air matanya telah jatuh di sudut mata.


"Masihkan ada kesempatan untukku,Kev?" tanya Stella.


Kevin diam, berusaha mencerna setiap kata kata yang keluar dari mulut Stella.Di sisi hatinya telah terisi oleh Kara, namun di sisi lain Kevin kasian melihat betapa perjuangan Stella menjalani semuanya selama ini.


Kevin masih terdiam memikirkan jawaban untuk Stella, tiba tiba bibir Stella mendarat di bibirnya, Stella meletakkan kedua tangannya ke leher Kevin. Sejenak Kevin terbuai.


Mereka tidak menyadari, sepasang mata mengawasi. Kara menyaksikan Stella mencium bibir Kevin, dan Kevin hanya diam seakan menikmati.


***


Kara meletakkan spatula dan buru buru keluar truk. Kara menangis di sudut truk, menumpahkan kesedihan nya. Dia teringat kata kata Claire, Stella akan menyusul cintanya, yaitu Kevin.


Ben terkejut saat Kara tiba tiba pergi begitu saja. Dia melihat dua sosok dikejauhan sedang berpelukan, namun dia tidak mengenalnya.

__ADS_1


"Silahkan!" Ben menyodorkan tissue pada Kara. Kara mengambil tissue dan menyeka air matanya.


" Silahkan kopinya, Nona!" Ben menyodorkan kopi untuk Kara.


Kara menyesap kopi perlahan dan menenangkan dirinya.


Ben meninggalkan Kara untuk melanjutkan pekerjaannya, dan memberi waktu bagi Kara untuk menenangkan diri.


Ingin rasanya dia menelpon Cindy dan menceritakan semua, namun Kara takut akan terjadi kehebohan dalam keluarganya jika dia menceritakan hubungannya dengan Kevin.


Hubungan mereka juga gara gara malam itu saat terlalu banyak minum, dan baru mengenal beberapa bulan saja. Mengapa aku harus sedih, pikir Kara. Dirinya sudah pernah kehilangan, dan masih hidup hingga saat ini. Bisa melewati semuanya, Kara menghela nafas panjang, dan meneguk kopi hingga habis, lalu membantu Ben melayani pembeli di truk kedai mereka.


Saat ini Kara mencoba untuk menikmati pekerjaan dan usahanya.


Pembelian datang silih berganti hingga siang hari. Kara dan Ben memutuskan untuk beristirahat sebentar untuk memulihkan tenaga mereka. Kedai akan buka kembali pada sore hingga malam hari untuk mengisi akhir pekan.


****


"Maafkan aku Stella, aku tidak bisa menerimamu. Saat ini aku telah bersama seseorang, kami saling mencintai. Aku tetap berteman denganmu, namun ada jarak diantara kita." Kevin melepaskan pelukannya dari Stella. Stella masih tertunduk sedih.


"Benarkah kamu sudah menemukan seseorang?" Stella bertanya untuk meyakinkan diri.


"Ya."


"Bukan untuk menghindariku kan?" Stella masih penasaran.


"Tidak. Aku serius Stell!" Kevin menegaskan.


"Baiklah. Kita masih tetap berteman kan?"


"Ya. Kamu juga bisa bercerita padaku, sama seperti pada Kenny."


Stella tersenyum mendengar nama Kenny.


"Aku menitipkan anakku pada Kenny saat ini."


"Oya? Pasti senang ada orang yang masih bisa membantu."


"Ya. Meskipun orang tuaku tidak menerimaku lagi, namun aku bersyukur masih mempunyai teman yang baik padaku."

__ADS_1


Kevin mengajak Stella untuk makan dan mengobrol bersama sebagai teman. Kevin bersimpati pada Stella karena dia tahu kisah hidup Stella dan perjuangannya.


Kevin akan menjelaskan semuanya ke Kara pada saat yang tepat.


__ADS_2