One Night Stand

One Night Stand
Pengakuan


__ADS_3

Kevin duduk di kursi sebelah tempat tidur pasien. Matanya masih menatap perempuan yang hampir dua bulan tidak dapat ditemuinya dengan mudah. Tubuhnya terlihat lebih kurus, tulang belikatnya terlihat, wajahnya tampak tirus dan kantong mata tebal di bawah matanya. Terlebih saat ini dia melihat Kara terbaring di ranjang rumah sakit dengan selang infus di tangannya. Kevin sedih melihat Kara.


Kevin menggenggam jemari Kara, dan menciumnya, Kara hanya diam mematung.


"Maafkan aku Kara! Sungguh aku tidak bermaksud seperti itu. Aku dan Stella memang pernah mempunyai kenangan, namun bukan berarti aku akan mengulang kembali bersamanya." Kevin menatap Kara dengan tulus.


Kara mengangguk lemah, "Apa kabarmu?"


"Seperti yang kamu lihat."


Kevin merentangkan tangannya, menunjukkan keadaan saat ini.


"Jambangmu terlihat tebal, mukamu tampak menyedihkan!" tangan Kara menyentuh wajah Kevin. Kevin tertawa mendengar ucapan Kara.


"Mengapa tertawa?" Kara mengernyitkan dahinya.


"Kita berdua terlihat menyedihkan ya? Kita sama-sama menyiksa diri kita masing masing. Bodoh sekali!"


"Kamu yang bodoh!" Kara melotot pada Kevin.


"Ini buktinya kamu sampai ambruk seperti ini," Kevin pura pura marah pada Kara.


"Aku seperti ini karena pekerjaannya, dan saat ini aku mulai belajar membuat blog pribadi untuk dokumentasi."


"Oya?" tanya Kevin, dijawab anggukan kepala oleh Kara.


Kara mengambil ponselnya yang diletakkan di meja samping tempat tidur, mengutak-atik ponselnya, dan menunjukkan pada Kevin.


Kevin memperhatikan dengan seksama video youtube Kara, dan dia bertepuk tangan setelah video berakhir.


"Bagaimana?" tanya Kara.


"Hmmm... untuk seorang pemula, itu sudah sangat bagus. Jumlah pengunjung, lalu tombol suka dan komentar saja sudah banyak. Kamu jangan terlalu sibuk, aku tidak mau melihatmu seperti ini lagi!" Kevin menatap penuh harap pada Kara.


"Apa kamu mau menceritakan tentang dirimu, Josh, Kenny, dan Stella?" Kara tidak mau menunggu lama lagi, hal inilah yang membuat nya mulai memikirkan kembali akan hubungannya dengan Kevin. Kevin tidak mau terbuka akan masa lalunya.


Kevin berdiri, lalu berjalan menuju jendela, memandang ke luar, dia diam sejenak menatap ke arah luar. Dia sedang merangkai kata untuk menjelaskan semua pada Kara.

__ADS_1


Dia tahu masalah sebenarnya adalah tidak berterus terang kepada Kara tentang masa lalunya. Maksudnya supaya Kara tidak tersakiti, namun ternyata pikirin Kevin salah. Kara ingin dia jujur.


Kevin menoleh ke arah Kara yang masih menunggu Kevin menjawab pertanyaan nya.


Kevin mendekati Kara, duduk kembali di sisinya sambil menggenggam tangan Kara. Dia mengambil napas dalam-dalam sebelum memulai bercerita.


"Aku akan menceritakan semuanya, namun tolong jangan membenci siapapun. Aku menyimpan semuanya selama ini, mengubur semua masa lalu, supaya tidak ada yang tersakiti lagi selain aku. Tapi, aku salah, semakin aku menyimpan sendiri semakin berat. Aku tidak banyak menyiksa diriku, tapi menyeretmu ikut tersiksa dengan keegoisanku."


Kara menepuk punggung tangan Kevin memberi dukungan.


Kevin tahu, sudah saatnya dia membuka semuanya pada perempuan di hadapannya itu.


"Aku, Josh, Kenny, dan Stella bersahabat sejak kecil, selain jarak rumah kami berdekatan, juga seumuran. Kami bersekolah di tempat yang sama sejak SD, hingga SMA. Josh adalah idola pada saat SMA, dia pemain soccer terbaik di sekolah. Banyak gadis gadis yang berlomba lomba mendekatinya, kecuali Stella."


Kevin tersenyum saat menceritakan kisah masa SMA nya.


"Mungkin, Aku dan Stella termasuk anak yang kutu buku pada masa itu, kami berdua lebih sering belajar bersama, kadang di rumahnya, atau di rumahku. Ayah Stella salah satu pejabat di kota kecil itu. Aku, Josh, dan Kenny sering menghabiskan waktu di rumahnya yang ada kolam renang dan fasilitas olahraga pribadi."


"Kalian sering berenang bersama sama?" tanya Kara.


"Ya, selain kami, ada teman teman perempuan juga yang di undang oleh Stella."


"Aku kurang ingat kapan tepatnya, mungkin saat Josh mulai sibuk dengan latihan soccer, Kenny mulai aktif bermain basket, sedangkan aku dan Stella sering bersama karena ikut ekskul MIPA. Team MIPA sekolah kami saat itu sering ikut kejuaraan, jadi aku dan Stella sering bersama. Mulai dari saat itu kami jadi dekat, hingga kuliah kami masih menjalin hubungan." Kevin mengambil jeda sejenak.


"Sejauh apa hubungannya kalian saat itu?" tanya Kara penasaran.


"Maksudmu?"


"Hmmm... Apa kamu pernah tidur dengannya?"


Kevin tertawa mendengar pertanyaan Kara. Kara menatap Kevin dengan tatapan heran.


"Kamulah yang mengambil keperjakaanku Nona cantik!" seru Kevin sambil mengecup hidung Kara. Kara masih terbengong-bengong menatap Kevin.


"Lalu selama itu kalian melakukan apa saja? Maksudku masa masa itu gejolak jiwa muda kalian, apakah tidak ada hasrat untuk mencoba?" Kara serba salah dengan pertanyaan nya sendiri.


"Mencintai seseorang bukan berarti harus tidur bersama, itu menurutku. Ayahku mengajariku menghormati perempuan. Memang ciuman pertamaku dengannya, kami hanya sebatas berciuman dan flitring saja, tidak pernah sejauh itu."

__ADS_1


"Mengapa kalian berpisah? Bukankah kau mencintai nya?"


"Stella berhasil lulus masuk kedokteran, sedang aku masuk tehnik di universitas yang sama. Josh dan Kenny di universitas yang sama dan satu jurusan, namun terpisah dari aku dan Stella. Kami berhubungan hingga tingkat empat atau lima saat itu." Kevin terdiam sesaat.


"Hari itu Stella diundang acara ulangtahun salah satu temannya, seharusnya aku menemaninya. Tapi, malam itu Kenny terlibat pengeroyokan, aku menolong Kenny, menemaninya malam itu, karena orang tuanya sedang keluar kota. Aku telah meminta maaf pada Stella, menjelaskan aku tidak menemaninya ke pesta temannya. Rupanya Josh juga diundang oleh teman Stella. Mungkin saat itu Stella kesal padaku, lalu menumpahkan semua pada Josh," lanjut Kevin.


"Lalu...?"


"Beberapa bulan kemudian, Stella diusir oleh orang tuanya, lalu dia ke rumahku. Dia mengaku, bahwa pada malam setelah pesta ulangtahun temannya, dia tidur dengan Josh....," Kevin diam menatap Kara.


"Noah?" Kara berusaha merangkai semua cerita Kevin dan menyimpulkannya.


Kevin berdiri memeluk Kara yang tertunduk.


Kara tidak menyangka jika Josh menyembunyikan semua ini selama itu.


"Stella berjuang sendiri, meskipun orang tuanya masih membiayai kuliahnya. Dia tinggal bersama neneknya selama itu."


"Mengapa Josh tidak mau bertanggung jawab?"


"Stella tidak mau menikah dengan Josh, meski Josh pernah berkata ingin bertanggung jawab. Stella ingin bersamaku. Setelah mengetahui semuanya aku mulai menjauhi Stella dan Josh. Namun masih berhubungan dengan Kenny."


Kara mengangguk angguk.


"Stella adalah perempuan tangguh, ayah ibunya merasa malu karena hal itu, hingga saat ini mereka tidak mau menerima cucunya. Ayahnya pernah datang ke rumah memintaku untuk menikah dengan Stella."


"Oya, lalu?"


"Jelas aku menolaknya."


"Aku kecewa pada Stella dan tidak akan Meu kembali lagi padanya, lalu melampiaskan dengan belajar, hingga bisa lulus dengan cepat, lalu aku mendaftar beasiswa di MIT, dan akhirnya lulus."


Kara mendengarkan cerita Kevin dengan. tenang.


Kara merasa jika dia harus bisa menerima semuanya dan membuka hatinya dengan. tulus untuk Kevin.


Kara membenamkan kepalanya di dada Kevin yang masih bercerita saat dia berkuliah hingga bekerja saat ini.

__ADS_1


Hingga mata Kara terpejam mendengarkan cerita Kevin seolah mendongeng untuknya.


Kevin perlahan meletakkan kepala Kara di atas bantal, dan menyelimuti dadanya, lalu menuju sofa di ruangan itu untuk beristirahat juga.


__ADS_2