
"Apa anak kita selama ini nyusahin kamu selama saya gak ada di dekat kamu?" tanya Arka.
"Gak kok, Mas. Baby-nya gak nyusahin Leta sama sekali malahan baby-nya nemenin Leta," ucap Aleta dan mengusap lembut perutnya.
"Kalau begitu sekarang saya yang tanya sama kamu, kenapa kamu pergi?" tanya Arka.
Aleta langsung menunduk setelah mendengar pertanyaan Arka, "Jawab pertanyaan saya," ucap Arka.
"Se-sebenernya Leta pergi karena Mas Arka yang nyuruh," ucap Aleta.
"Huh, apa karena omongan saya waktu itu sampai kamu mikir saya nyuruh kamu pergi?" tanya Arka.
"Kan Mas Arka sendiri yang bilang kalau Aleta pergi aja dari rumah," ucap Aleta.
"Oke, maafin saya. Saya salah karena sudah mengatakan hal itu dan saya gak pernah bermaksud mengusir kamu, waktu itu saya hanya asal bicara tanpa tau kalau ternyata kamu menganggap serius apa yang saya katakan," ucap Arka.
"I-iya Mas, Leta juga minta maaf karena waktu itu gak tanya dulu ke Mas Arka dan langsung memilih pergi ninggalin Mas Arka," ucap Aleta.
"Tidak apa-apa yang penting sekarang kita bisa ketemu," ucap Arka.
Suasana kembali hening hingga tiba-tiba saja Arka memeluk Aleta dari samping dan tentunya sana aleta terkejut dengan apa yang dilakukan Arka.
"Mas Arka kenapa?" tanya Aleta dengan gugup.
"Biarkan seperti ini sebentar saja," ucap Arka dan semakin mengeratkan pelukannya pada Aleta.
Sudah 10 menit dan Arka tetap memeluk Aleta bahkan pelukan tersebut semakin erat, "Mas," panggil Aleta pelan.
Namun, tidak ada jawaban dari Arka. Aleta pun dapat merasakan hembusan napas Arka yang mengenai lehernya dan tentu saja hal itu membuat Aleta gugup meskipun ia dan Arka sudah pernah melakukan hal yang lebih dari ini, tapi tetap saja Aleta tetap merasakan gugup dan jantungnya pun berdetak kencang.
Aleta merasa pegal karena hampir 30 menit Arka tidur dalam pelukannya, bahkan pelukan tersebut tidak melonggar sama sekali sehingga membuat Aleta kesusahan untuk melepaskan pelukan Arka.
Namun, beberapa saat kemudian Arka pun membuka matanya dan langsung merubah posisinya hingga berhadapan dengan Aleta.
"Maaf, saya terlalu nyaman sampai ketiduran tadi," ucap Arka.
"I-iya Mas, gapapa kok," ucap Aleta.
"Apa ada yang sakit?" tanya Arka.
"Gak kok, Mas," ucap Aleta.
"Kamu lebih deketan sini," ucap Arka.
"Ada apa, Mas?" tanya Aleta.
"Sini," ucap Arka.
Mau tidak mau Aleta pun langsung menghampiri Arka dan tiba-tiba saja Arka memijat lembut pundak Aleta.
"Mas Arka ngapain pijat Leta? Leta gak ada yang sakit kok," tanya Aleta.
"Saya tau pundak kamu pasti sakit karena saya terlalu lama tidurnya tadi," ucap Arka.
"Gak kok, Mas. Pundak Leta gak sakit," ucap Aleta dan tentunya bohong karena memang pundak Aleta merasa sedikit nyeri dan kesemutan, tapi Aleta tidak mungkin mengatakannya pada Arka bukan sebab itu Aleta mengatakan jika ia tidak merasakan sakit.
"Yasudah gapapa anggap saja ini hadiah dari saya karena tadi kamu sudah berhasil membuat saya tidur nyenyak," ucap Arka.
"Emangnya Mas Arka kalau tidur gak pernah nyenyak?" tanya Aleta.
"Saya tidak pernah merasakan tidur nyenyak setelah istri saya pergi dari rumah tanpa penjelasan apapun," ucap Arka dan berhasil membuat Aleta terdiam tidak mampu merespon ucapan Arka.
"Tapi, itu dulu. Sekarang setelah saya bertemu dengan istri saya, saya bisa tidur nyenyak lagi," ucap Arka.
"Maafin Leta ya, Mas. Leta udah keterlaluan sama Mas Arka dan keluarga Mas Arka, Leta harusnya gak pergi dan ninggalin Mas Arka," ucap Aleta, dengan merasa bersalah tentunya.
"Sudah tidak usah dipikirkan soal itu, yang terpenting sekarang kita bisa bertemu lagi," ucap Arka dan diangguki Aleta.
Sitemap harinya Aleta baru selesai membereskan barang-barang yang tadi ia taruh di dapur tentunya di bantu Arka, setelah membereskan barang-barangnya Arka dan Aleta langsung membersihkan tubuh mereka.
Beberapa saat kemudian, mereka pun selesai membersihkan tubuh mereka.
"Ini sudah sore dan kamu belum makan, ayo kita keluar buat cari makan," ajak Arka.
"Gak usah Mas, Aleta di sini aja. Kalau Mas Arka mau cari makan Mas Arka bisa ke rumah yang di depan tadi nah di sebelahku ada warung," ucap Aleta.
__ADS_1
"Kamu belum makan siang loh," ucap Arka.
"Iya, Mas. Leta masih kenyang soalnya," ucap Aleta.
Tentunya Aleta berbohong karena sebenarnya ia sangat lapar, tapi ia harus berhemat untuk biaya melahirkannya.
'Gapapa, Ta. kamu udah biasa gak makan siang, jadi kamu pasti bisa,' ucap Aleta dalam hati.
"Kamu lagi hamil, mau lapar atau gak kamu harus tetap makan supaya bayinya juga mendapatkan asupan makanan," ucap Arka lalu menarik lembut tangan Aleta.
"Ta-tapi, Mas...," ucapan Aleta terhenti lantaran Arka menyelanya.
"Kamu juga harus mikirin anak kita," ucap Arka.
'Aku lupa kalau Mas Arka sayang dan khawatir banget sama anak yang saat ini aku kandung, Mas Arka pasti marah kalau tau aku jarang makan,' ucap Aleta dalam hati.
"Saya bilang kayak gitu juga berlaku buat kamu, kamu juga harus mikirin kesehatan kamu," ucap Arka.
Arka dan Aleta pun langsung keluar kamar dan saat mereka baru saja keluar kamar tiba-tiba Bu Mila juga tengah menjemur bajunya.
"Siapa tuh, Ta? pacar baru ya?" tanya Bu Mila.
Namun, belum sempat Aleta menjawab pertanyaan Bu mila, tiba-tiba saja Bu Mila langsung bersuara hingga membuat Aleta diam.
"Oh atau pelanggan baru kamu, wajar sih ya kalau orang yang lagi hamil terus gak ada suaminya, jadi gak bisa muasin nafsunya makanya nyewa orang buat muasin nafsu situ," ucap Bu Mila.
"Maaf, Bu. Saya rasa Bu Mila tidak perlu berbicara se-kasar itu, lagian mau saya sama siapapun itu gak ada hubungannya sama Bu Mila dan Bu Mila juga gak dirugikan karena saya kan. Saran saya harusnya Bu Mila lebih menjaga perkataan Bu Mila karena perkataan Bu Mila bisa saja menjadi boomerang bagi Bu Mila sendiri," ucap Aleta.
"Dasar j*lang, harusnya situ sadar ya kamu dan anak haram kamu itu sama-sama beban di sini tau gak bikin malu aja," hina Bu Mila.
Arka tidak terima dengan apa yang dikatakan Bu Mila pada istrinya, Arka langsung menghampiri Bu Mila.
"Siapa anda sampai berani-beraninya menghina istri saya? apa anda merasa pantas menghina istri saya?" tanya Arka dengan meninggikan suaranya.
Bu Mila langsung takut saat melihat bagaimana marahnya Arka, "Jawab pertanyaan saya!" teriak Arka.
Setelah teriak arak tersebut banyak penghuni kos yang keluar dari kamar kosnya dan menyaksikan bagaimana pertengkaran antara Arka dan Bu Mila lebih tepatnya marahnya Arka yang sungguh mengerikan jika dilihat secara langsung.
"Suami saya itu yang jaga pasar ya, jadi jangan sok sama saya. Saya tinggal bilang ke suami saya untuk usir Leta dan dalam sehari Leta langsung tidak bisa jualan di pasar," ucap Bu Mila.
"Saya bukan orang yang mudah memaafkan asal anda tau, saya sangat tidak suka jika ada orang yang mengganggu keluarga saya bahkan berani menghina keluarga saya dan yang anda lakukan barusan adalah menghina keluarga saya lebih tepatnya istri saya bahkan anda juga menghina anak yang selama ini saya tunggu. Bukankah itu sudah paket lengkap untuk membalaskan dendam saya atas hinaan anda pada keluarga saya," ucap Arka dan Bu Mila lebih memilih pergi lalu masuk ke dalam kamarnya.
"Ayo," ajak Arka dan menarik lembut lengan Aleta.
Mereka pun keluar dari gang kos tempat Aleta tinggal lalu di sana sudah ada Kevin dengan mobil mewahnya yang terparkir rapi di depan rumah Bu Gita.
"Loh kita mau kemana, Mas?" tanya Aleta saya melihat Arka yang membuka pintu mobil untuk Aleta masuk ke dalam.
"Kita mau makan," ucap Arka.
"Bukannya kita makan di sana aja," ucap Aleta dengan menunjuk warung makan yang ada di sebelah rumah Bu Gita.
"Kamu tau siapa saya bukan, saya tidak mau anak dan istri saya makan di tempat yang belum tentu higienis," ucap Arka.
"Tapi, aku biasanya makan di sana kok dan sampai sekarang gak kenapa-napa kok, Mas," ucap Aleta.
"Kamu berharap kamu kenapa-napa," ucap Arka.
"Eh, gak gitu maksudnya," ucap Aleta.
"Lebih baik kamu ikut saya saja," ucap Arka dan Aleta pun menganggukkan kepalanya.
Mereka bertiga pun masuk ke dalam mobil, ya bertiga karena ada Kevin di sana. Saya keluar dari desa tersebut banyak warga yang keluar rumah dan melihat mobil Arka dengan rasa kagum yang terlihat jelas di wajah mereka.
Bahkan tak jarang warga yang rela panas-panas berada di seberang jalan agar lebih dekat dengan mobil Arka.
"Wah gila, Ka. Kita udah kayak artis aja sampe di kepung kayak gini," ucap Kevin.
"Udah lo diam dan fokus buat nyetir aja," ucap Arka.
"Ish, iya-iya. Dasar Bos bucin," gumam Kevin pada akhir kalimatnya dan tentunya Arka masih dapat mendengarnya.
"Gue masih denger," ucap Arka.
"Hehehe, iya bercanda bos," ucap Kevin.
__ADS_1
'Harusnya gue bawa orang lain tadi kalau tau gue bakal jadi obat nyaman kayak gini,' ucap Kevin dan sesekali menatap kursi belakang dimana tempat Arka dan Aleta duduk.
Bayangkan saja, saat ini Arka terus menempel pada Aleta bahkan saat ini mereka masuk ke dalam mobil saja Arka sudah duduk berdekatan dengan Aleta dan tanpa basa basi langsung memeluk pinggang Aleta hingga tubuh mereka benar-benar berdempetan.
Aleta sendiri hanya pasrah meskipun jantungnya tidak mau di ajak kerjasama dan Aleta hanya berharap Arka tidak mendengarnya dan jika Arka mendengarnya dapat akrab pastikan jika ia akan malu seumur hidupnya.
Beberapa saat kemudian, mereka bertiga pun sampai di salah satu restoran ternama di daerah tersebut, saat Aleta keluar dari mobil ia benar-benar tercengang.
'Aduh, gimana ini. Kalau makan di sini uangku pasti berkurang dan biaya lahiranku juga bakal berkurang. Sekarang aja banyak lahiranku masih kurang apalagi harus makan di sini,' ucap aleta dalam hati.
"Ayo, masuk," ajak Arka.
"Mas Arka masuk aja, Leta biar di mobil aja," ucap Aleta.
Melihat ada tanda-tanda perang dunia, Kevin pun memilih pergi dari sana. "Gue ke dalam duluan ya kalau gak jadi makan kalian panggil gue soalnya kunci mobilnya udah gue bawa," ucap Kevin dan pergi dari tempat tersebut.
Arka pun mengerutkan keningnya lalu menatap bertanya-tanya pada sang istri, "Kenapa gak masuk?" tanya Arka.
"Gapapa, Leta di mobil aja," ucap Aleta.
"Saya tidak terima penolakan, saya sudah bilang kan kalau kamu juga harus mikirin kondisi kamu dan bayinya," ucap Arka.
"Ta-tapi, Mas. Uang Le-Leta gak cukup buat lahiran kalau makan di sini," ucap Aleta dengan gugup.
Arka sendiri benar-benar tercengang mendengar perkataan Aleta, "Maksud kamu apa? kamu berpikir kalau kamu makan dan lahiran dengan uang kamu sendiri iya?" tanya Arka.
"I-iya, Mas," ucap Aleta.
"Saya gak nyangka kamu mikir kayak gitu, tapi saya tidak mempermasalahkannya. Mulai sekarang, uang itu buat kebutuhan kamu dan untuk seterusnya bahkan untuk selamanya kebutuhan kamu dan anak-anak kita nanti saya yang akan tanggung," ucap Arka dan mengusap lembut perut Aleta.
"Ta-tapi, nanti uang Mas Arka habis biar Leta bayar sendiri aja," ucap Aleta.
"Saya kerja juga untuk kamu dan anak-anak kita sayang," ucap Arka dan mengecup bibir Aleta lalu Arka menarik lembut pinggang Aleta dan menuntun sang istri masuk ke dalam restoran tersebut.
Sedangkan, Aleta masih membeku di tempat bagaimana tidak, setelah mendengar Arka memanggilnya dengan panggilan sayang dan setelah itu Arka langsung mengecupnya di depan umum. Aleta juga yakin di sana ada orang lain yang melihat Arka menciumnya tadi ya walaupun hanya sekilas.
"Sadar sayang," ucap Arka dan berhasil membuat Aleta tersadar.
"Hah, apa Mas? Mas Arka tadi bilang apa ke Aleta?" tanya Aleta.
"Saya hanya bilang sadar sayang," ucap Arka.
"Kenapa Mas Arka panggil ketua kayak gitu?" tanya Aleta.
"Panggil kayak apa?" tanya Arka.
"Panggil yang kayak tadi," ucap Aleta.
"Kayak tadi? iya yang kayak apa?" tanya Arka.
"Sayang," ucap Aleta.
"Iya sayang," ucap Arka dan tersenyum manis pada Aleta.
Ini adalah pertama kalinya Arka tersenyum begitu manis pada Aleta dan hal itu menambah ketampanan Arka bahkan Aleta tidak pernah melihat Arka tersenyum seperti tadi pada siapapun bahkan pada Mama Febby, Papa Daffa, Kak Sandra ataupun pada Audy.
"Nyesel gue tadi ikut ke sini," gumam Kevin.
"Vin," panggil Arka.
"Kenapa?" tanya Kevin.
"Lo pindah ke kursi yang ada di sana," perintah Arka dengan menunjuk kursi kosong yang ada di pojok.
"Sabar, sabar. Emang kayak gini ya kalau jadi obat nyamuk, untung lo sahabat sama bos gue kalau gak, udah gue patahin leher lo," ucap Kevin dengan kesal.
Meskipun kesal, tapi Kevin tetap menuruti apa yang dikatakan Arka buktinya Kevin langsung duduk di kursi yang tadi di tunjuk Arka.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1