
Aku pulang ke kota ini lagi, Sabtu besok ajak keluarga datang ke kedai ya..
Miss you,
Kara
Claire membaca pesan dari Kara, senyum terlukis di wajah. Kenny menghentikan membaca surat kabar, mengambil kopi di meja makan dan menyesapnya perlahan.
"Ada kabar baik apa hari ini?" tanyanya penasaran.
"Kara mengajak kita berkumpul di kedai besok Sabtu. Ia mengundang anak anak juga."
"Horee... Tante Kara mengundang aku dan Noah untuk menikmati waffle dan pancake buatannya yang lezat!" Nina, putri Claire dan Kenny bersorak kegirangan mendengar kabar tersebut. Kenny hanya tersenyum menyaksikan putrinya gembira.
"Apakah Jeff juga diundang?" tanyanya.
"Aku belum tau, nanti aku tanyakan. Hari ini dia ada jadwal di rumah sakit."
"Noah boleh ikut?"
"Kara berjanji mengundang Noah, tempo hari. Dia ingin berkenalan dengan anak itu."
"Apakah kau sudah menceritakan Noah padanya?" tanya Kenny.
"Belum. Semoga Kara berbesar hati menerima kabar itu." Claire berkata sambil mengoles roti dengan selai.
Mereka segera menghabiskan sarapan, lalu Kenny mengantar Nina ke sekolah, selanjutnya mengantar Claire ke rumah sakit.
"Sampai jumpa nanti sore sayang!" Claire mencium bibir Kenny, lalu keluar dari mobil. Claire melambaikan tangannya pada Kenny hingga mobilnya tak terlihat lagi.
Claire berpapasan dengan Stella di koridor rumah sakit saat selesai melakukan absensi. Mereka saling bertegur sapa dan mengobrol tentang pekerjaan mereka.
"Apakah Noah ada acara hari Sabtu besok?" tanya Claire setelah menyelesaikan laporan pasien.
"Aku tidak tahu, ada apa?"
"Aku ingin mengajak Noah ke kedai pancake. Kara mengundang kami."
"Oh, apakah ini yang dimaksud Jeff?" gumam Stella.
"Kara juga mengundang Jeff?" tanya Claire.
__ADS_1
"Tadi pagi Jeff sepertinya mendapat pesan dari Kara, namun dia ada panggilan mendadak, jadi belum sempat membaca dengan jelas." terang Stella.
"Baiklah, nanti kita bicarakan lagi, aku akan menemui pasienku dulu." pamit Stella.
"Baiklah, selamat bekerja!"
Claire melanjutkan pekerjaannya, memeriksa pasien satu persatu.
****
Kara dan Kevin meletakkan barang-barang mereka di teras, sebelum memencet bel, Kara mengehela napas panjang sambil menatap Kevin yang wajahnya masih terlihat tegang.
TING TONG !!
Kara mundur selangkah setelah memencet bel villa. Tak lama terdengar langkah kaki menuju pintu.
"Kara...!!!" ternyata Cindy yang membuka pintu untuk mereka. Cindy langsung memeluk Kara, dan Kara pun membalas pelukan Cindy. Mereka saling berpelukan dan tertawa cekikikan seperti anak kecil yang baru bertemu setelah lama berpisah.
"Oh, iya ada Kakak ipar," Cindy melepaskan pelukannya dan beralih memeluk Kevin.
Pandangan Kara tertuju pada perut Cindy yang terlihat membuncit.
"Rahasia apa?" Cindy balik tanya keheranan.
"Apakah sebentar lagi aku akan mempunyai keponakan?"
Cindy mengelus perutnya sambil tersenyum.
"Surprise!" serunya.
Kara menyilangkan kedua tangannya di dada pura pura kesal, Cindy mengelus punggung Kara mencoba merayunya. Kevin yang menyaksikan kedua sepupu itu hanya tersenyum geli.
"Kapan kita boleh masuk ke dalam?" tanya Kevin yang mulai merasa lelah tubuhnya.
"Oya, ayo masuklah, nanti aku suruh pelayan membawa barang kalian."
Cindy masuk diikuti Kara dan Kevin.
Kara yang telah terbiasa di vila dengan tenang menatap sekeliling vila yang masih terlihat sama seperti saat mereka sering berkumpul, sedang Kevin terlihat kagum menatap vila yang besar itu sambil mengikuti Cindy ke bagian tengah vila.
Cindy menyuruh dua orang pelayan memasukkan barang barang kara dan Kevin ke kamar.
__ADS_1
"Kalian mau tidur bersama atau terpisah? Eh, kalian belum resmi kan, jadi terpisah saja ya. Kamar kalian bersebelahan." Cindy berkata sambil mengedipkan sebelah matanya pada keduanya.
Mereka berjalan ke ruangan tengah yang biasa di gunakan keluarga besar Kara berkumpul.
Tampak Nenek Kevin ada di sana sedang mengobrol bersama keluarga besar Kara.
"Cucu cucuku!" Nenek menyambut Kara dan Kevin, menghampiri keduanya lalu memeluk bergantian.
Kara memeluk semua keluarga satu persatu, diikuti oleh Kevin.
"Sudah lama kalian bersama?" tanya Mama Kara secara langsung.
"Kami belum terlalu lama saling mengenal, Tante. Tapi, saya serius dengan Kara." jawaban Kevin membuat jantung Kara berdetak dua kali lebih cepat.
Mama menganguk angguk menatap Kara dan Kevin bergantian.
"Kalian beristirahat lah dahulu. Besok kita lanjutkan lagi mengobrolnya!"
Kara dan Kevin menuju kamar mereka masing masing. Kara menuju kamar mandi ingin membersihkan diri dan berendam di bathtub seperti biasanya.
***
Kevin masuk ke kamarnya, namun hatinya gelisah, hasratnya ingin bersama Kara. Dia hanya duduk di tepi tempat tidur, menimbang ke kamar Kara atau tetap di kamarnya. Sekitar lima belas menit kepalanya dipenuhi pilihan itu, dan akhirnya Kevin berdiri, beranjak keluar kamar, mengetuk pintu kamar Kara. Lama tak ada jawaban, akhirnya ia membuka pintu, dan ternyata tidak di kunci. Kevin menatap sekeliling kamar, kosong, namun dia mendengar sayup sayup suara Kara di kamar mandi sedang bersenandung. Kevin menghampiri kamar mandi, membuka pintu, lalu pelan pelan mendekati Kara yang masih bersenandung sambil berendam di bathtub.
"Boleh aku bergabung?" bisik Kevin tepat di telinga Kara, yang membuat Kara terkejut sambil hampir melempar lilin aromaterapi di sebelahnya.
"Astaga Kev, kamu membuatku hampir kena serangan jantung!" pekik Kara.
"Aku tidak bisa beristirahat!" dengan muka memelas ia menatap Kara.
"Mau bergabung denganku?" goda Kara. Dijawab anggukan kepala Kevin, ia mencopot pakaiannya, lalu celananya. Kevin yang polos tanpa sehelai benangpun masuk ke bathtub berendam bersama Kara.
Kevin duduk di belakang Kara, memijat tengkuk leher dan pundak Kara perlahan.
Kara menikmati setiap pijatan tangan Kevin. Terkadang mulutnya mengeluarkan suara yang menggoda Kevin. Membuat bagian bawah Kevin keras dan hasrat lelakinya memanggil. Kevin mencium leher Kara lembut hingga pundak. Kara hanya mendesah menikmati perlakuan Kevin yang perlahan.
Tiba tiba Kara berbalik, duduk di pangkuan Kevin. Meletakkan kedua tangannya di leher Kevin, memajukan wajahnya perlahan. Mencium mata Kevin, lalu hidung, kedua pipi, lalu ke bibir. Lama keduanya saling beradu bibir, meluapkan hasrat keduanya.
Kara dan Kevin saling beradu desah, mereka perlahan keluar dari bathtub, saling cumbu satu sama lain menikmati indahnya cinta mereka.
Entah siapa membimbing siapa, keduanya sampai di tempat tidur. Kara dan Kevin meluapkan hasrat mereka hingga puncak kenikmatan hingga mereka lelah dan tertidur saling berpelukan.
__ADS_1