
Aroma kalkun panggang menyebar ke segala ruangan. Kara menuju dapur melihat Mamanya dan chef sedang memasak. Nenek sedang membuat cookies andalannya di sana.
Kara mencium Mama dan Nenek.
Kara keluar dari villa menuju pantai. Kara berlari lari kecil menyusuri sepanjang pantai, hingga akhirnya ia lelah dan terduduk di hamparan pasir.
Langit tampak cerah, namun matahari tampak malu malu, udara terasa dingin menyeruak terasa hingga tulang, Kara mendekap dirinya sendiri dengan kedua tangannya. Hoodie jaket dikenakan pada kepalanya. Kara masih asyik menatap gulungan ombak yang saling kejar-kejaran di laut.
Kara tak menyadari sedari tadi sepasang mata menatapnya dari kejauhan, ia berjalan mendekati Kara perlahan seakan tak ingin mengganggu perempuan yang sedang asyik menatap ombak yang berkejar-kejaran.
"Apa yang kamu pikirkan?" Kevin duduk di samping Kara, membuyarkan lamunannya.
"Sudah lama aku tak menikmati suasana seperti ini, terakhir saat aku patah hati. Saat Josh meninggal aku pun seakan melupakan tempat ini, lebih memilih tenggelam dalam kesedihan." Kara tersenyum miris.
"Aku tidak akan meninggalkanmu, apapun yang terjadi. Aku berjanji!"
"Aku tidak dapat menjanjikan apapun padamu Kev. Aku hanya ingin menjalani semua ini dan menikmati kebersamaan kita."
Kevin merangkul pundak Kara, dan kepala Kara bersandar di pundak Kevin.
Kara ingin menikmati saat saat berdua saja bersama Kevin.
Terbayang di benaknya akan pekerjaan yang akan dilakukan ke depannya. Keduanya menatap matahari yang mulai menampakkan dirinya di kejauhan.
Kara belum bisa menjawab pertanyaan Kevin tentang masa depan bersama, karena masih trauma dengan percintaan nya dengan Josh.
***
Hari sudah mulai sore, suasana villa semakin ramai, keluarga Jones satu per satu berdatangan.
"Karaku sayang, apa kabarmu?" Morgan menyapa Kara dan memeluk sepupunya tersebut.
"Astaga Kara, Kau terlihat sangat kurus dan menyedihkan!" Seru Morgan kembali.
"Aku baik baik saja Morgan, sudahlah, jangan mengkhawatirkan aku. Bagaimana bisnismu?"
"Kau ingat Zoe?" tanya Morgan. Kara mengernyitkan dahinya mengingat nama yang seakan familiar di telinganya.
"Asisten Josh?" Kara mulai mengingat nama Zoe.
"Ya! Dia kini bekerja padaku, kembali lagi menjadi asistenku."
__ADS_1
"Oya! Wow, pasti bisnis mu berkembang pesat ya."
"Kau tahu, Justin sempat bangkrut setelah membuat masalah denganmu saat itu. Sempat mendatangiku meminta bantuan, aku arahkan pada agensi temanku. Kini setelah mulai belajar berprilaku baik, karirnya mulai naik kembali."
Kara mendengarkan Morgan bercerita sambil mengangguk angguk.
Morgan mengalihkan pandangannya pada Kevin yang sedari tadi memperhatikan mereka mengobrol.
"Hai, jika tidak salah Kau kakak Brian?" tanya Morgan sambil menunjuk Kevin.
"Benar. Aku Kevin," jawab Kevin sambil mengulurkan tangannya. Morgan menyambut uluran tangan Kevin, mereka berjabat tangan.
"Morgan."
Mereka menikmati hidangan yang tersaji sambil mengobrol.
"Selama ini kamu di mana?" tanya Morgan pada Kevin.
"Aku di Washington, bekerja di Perusahaan IT."
"Wow!!" Morgan terkagum-kagum menatap Kevin.
"Apakah kamu manager artis?" tanya Kevin.
"Berarti sering ke Hollywood?"
"Ya, tapi saat ini lebih sering ke new York dan Miami untuk mengawasi syuting beberapa artisku."
Kevin dan Morgan saling mengobrol tentang banyak hal. Kara sibuk menyiapkan makan malam keluarga, hanya sekilas melihat ke arah mereka.
"Mari semua kita berkumpul!" Cindy setengah berteriak memanggil seluruh anggota keluarga untuk berkumpul.
Sebelum menikmati makan malam mereka mengucapkan doa dan syukur pada Tuhan dipimpin oleh Papa Kara. Setelah mengucap doa dan di jawab Amin oleh semua keluarga mereka menikmati hidangan thanksgiving dengan penuh sukacita.
Cindy mengumumkan kehamilannya yang memasuki trimester semester ketiga. Sebenarnya Cindy tidak ingin mengadakan baby shower, namun semua keluarganya sangat bahagia mendengar berita kehamilan Cindy dan membawakan kado untuk calon buah hatinya. Cindy dan Brian berulang kali mengucapkan terima kasih pada semua keluarga.
Nenek tersenyum bahagia melihat kedua keluarga bisa berkumpul dan bergembira.
Andy mendekati Kevin yang duduk di teras yang menghadap arah pantai seusai menyantap makan malam.
"Bagaimana hubungan antara kalian?"
__ADS_1
Kevin tersenyum menatap Andy sambil menyodorkan sekotak rokok. Andy menerimanya dan mengambil sebatang lalu menyulut nya.
"Hubungan kami semakin membaik. Kami bisa mengatasi salah paham waktu itu, namun kami akan terpisah lagi untuk waktu yang cukup lama." Kevin menghisap rokoknya perlahan lalu menghembuskan.
"Karena restoran baru itukah?"
"Bukan hanya itu." Kevin terdiam sesaat.
"Lalu?" desak Andy.
"Aku ada kontrak kerja selama dua tahun di new York, bulan depan aku mulai bekerja."
"Kau takut hubungan kalian akan gagal karena berjauhan?"
Kevin menganguk pelan, diikuti tawa oleh Andy.
"Astaga Kevin, di jaman sekarang banyak teknologi dapat kalian pakai untuk berkomunikasi. Kalian dapat menggunakan cara apapun setiap saat. Hei, kau kan ahli IT, kemana saja idemu untuk mendekatkan diri dengan orang terkasihmu saat berjauhan?" Andy menepuk pundak Kevin sambil tertawa.
Kevin tersenyum simpul mendengar ucapan Andy, dalam hatinya membenarkan kata kata Andy.
"Terima Kasih atas saranmu. Jujur, selama ini aku tidak pernah mempunyai teman untuk berbagi saat sedang seperti ini."
"Jangan sungkan, jika kamu butuh bantuan, kamu bisa bercerita padaku. Mungkin tidak dapat langsung aku bantu, tapi aku pasti akan mendengarkan dan sebisa mungkin membantu." ucap Andy tulus.
"Aku tidak tau bagaimana sebenarnya perasaan Kara padaku. Josh adalah sahabatku." Andy terbelalak mendengar ucapan Kevin.
"Tau kah kamu? Sejak kehilangan Josh, dia seolah tidak menghargai dirinya sendiri. Namun, mungkin sejak bertemu denganmu, Kara terlihat menghargai dirinya, bahkan merawat kembali wajahnya."
"Maksudmu?" tanya Kevin belum mengerti.
"Kara mulai menggunakan make up lagi saat ini, bahkan senyum manis sering mengembang di wajahnya."
Kedua lelaki itu saling berbagi cerita dan menghabiskan malam itu bersama.
Andy dan Kevin merasa saling cocok untuk mengobrol. Kara tersenyum melihat Kakaknya dan Kevin terlihat akrab. Dia menghabiskan waktu dengan bersenda gurau bersama Vivian, Nenek, Mamanya dan tantenya.
Cindy yang mulai terlihat lelah sudah pamit untuk beristirahat di kamarnya.
Vivian sangat senang dengan kehangatan dalam keluarga besarnya saat ini. Dia merindukan saat berkumpul bersama orang tuanya.
Morgan merayu Vivian untuk masuk agensinya, dan langsung dilarang keras oleh Kara.
__ADS_1
Vivian harus bersekolah dan mewujudkan mimpinya untuk menjadi seniman. Bukan menjadi artis.
Kehangatan sangat terasa di dalam keluarga itu, meski di luar angin mulai terasa dingin tanda musim dingin akan dimulai.