
Kara menikmati semua hidangan yang tersaji. Restoran Italia bergaya rumahan dengan hidangan yang nikmat, mungkin hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja, bahkan yang menikmati hidangan di situ merupakan pelanggan loyal yang akan kembali lagi.
Kara melihat sekeliling restoran, tampak pengunjung datang silih berganti, untuk menikmati makanan di restoran maupun dibawa pulang. Kara mempunyai ide ingin menulis tentang restoran ini.
"Kev, apakah tempat ini sudah ada yang mengulasnya?" tanya Kara sambil sedikit berbisik. "Aku kurang tahu," jawab Kevin sambil menaikkan bahunya.
Paman Marco mendekati mereka saat pengunjung sudah sepi, "Bagaimana hidangannya anak anakku?"
"Sangat lezat!" seru Kara sambil mengangkat kedua jempolnya, dibenarkan dengan anggukan Kevin, membuat Paman Marco tertawa senang. Bibi May mendekati mereka juga, "Kapan kapan datanglah kemari lagi! Maaf hari ini tidak bisa melayani dengan baik, karena melayani pelanggan lain."
"Tidak masalah Bibi, saya sangat menikmati semua hidangan ini, saya pasti akan kembali lagi besok. Oya, apakah tempat ini sudah ada yang meliput sebelumnya?" tanya Kara tanpa basa basi lagi. Paman dan Bibi menggelengkan kepala bersama. "Bolehkah saya meliput tempat ini?" lanjut Kara. "Tentu Nak, kamu boleh meliputnya, kami sangat senang bila tempat ini dikenal banyak orang." Jawaban Paman Marco membuat Kara tersenyum lebar. "Baiklah, aku akan menanyakan kepada redaksi, nanti saya akan mengubungi Paman, namun saya tetap akan terus kemari jika merindukan piza," ucap Kara bersemangat. Bibi May tertawa dan mengangguk setuju. Kevin yang melihat wajah Kara yang gembira hatinya semakin berdebar, dia juga merasa gembira melihat senyum tersungging di bibirnya Kara.
Setelah puas mengobrol Kara dan Kevin berpamitan.
Hari sudah semakin larut, Kevin mengantar Kara kembali ke apartemennya, "Terimakasih untuk makan malamnya," kata Kara sambil menoleh ke arah Kevin saat dalam perjalanan. Kevin menggaguk menatap Kara."Aku sangat senang sekali hari ini, terutama bisa bertemu dengan Paman Marco. Sewaktu aku masih kecil, dialah yang sering aku ganggu saat di dapur. Piza buatan nya memang tiada duanya. Bagaimana kamu mengenal nya?"
__ADS_1
"Dia adalah orangtua angkatku," jawab Kevin. Disambut Ohh panjang dari mulut Kara. "Sejak orangtuaku meninggal merekalah yang selalu mengunjungi kami di desa. Saat aku meneruskan kuliah di MIT, aku tinggal di tempat Paman Marco, hingga aku selesai. Beberapa tahun yang lalu Paman Marco menghubungiku, mengatakan bahwa dia akan pindah kemari, karena menemukan tempat yang murah dan ingin membuka restoran di rumahnya. Paman Marco dulu, tinggal dan dibesarkan oleh Kakek nenekku. Lalu melanglang buana belajar kuliner. Selanjutnya seperti yang kamu ketahui, dia mengenal baik papamu." cerita Kevin.
"Ya..ya... Aku tak begitu mengerti masa lalu Paman Marco, yang aku tahu, papa mengajaknya membantu di restoran selama beberapa tahun, kemudian dia menikah, lalu setelah itu aku tak mendengar kabarnya lagi. Meskipun aku tak begitu lama mengenal Bibi May, namun aku sangat menyukainya. Taukah kamu, rahasia kecilku?" Kara berhenti sejenak sambil memelankan suaranya, membuat Kevin melambatkan laju mobilnya, menatap penasaran. "Gara gara pancake buatan Bibi yang lezat, menginspirasiku untuk membuat pancake yang selama ini kulakukan," senyum kara mengembang setelah mengatakan itu. Entahlah dia merasa nyaman menceritakan rahasia kecilnya pada Kevin. Kevin membulatkan matanya tak percaya, "Benarkah?" tanyanya. Kara menggaguk membenarkan ceritanya. "Itulah sebabnya, aku berusaha membuat pancake supaya bisa seenak buatan Bibi May, lalu berkembang belajar membuat waffle."
"Aku belum pernah mencoba pancake dan waffle buatanmu," Kevin berkata sambil melirik Kara sambil fokus menyetir.
"Tenang saja, lain kali akan aku buatkan spesial untukmu!" kata Kara sambil tertawa. "Janji ya, hanya untukku!" tegas Kevin. "Ya!" Kara merasa sangat senang malam itu. Baru kali ini Kara merasa bebas tertawa dan berbagi cerita dengan seseorang, sejak kehilangan Josh.
Kevin mengehentikan mobil tepat di depan pintu masuk apartemen, "Terimakasih untuk malam ini," ucap Kara sambil tersenyum. "Ya. Apakah besok aku boleh menemuimu lagi sepulang kerja atau saat makan siang?" Kevin menatap Kara, dijawab dengan anggukan kepala oleh Kara. Tiba tiba Kara melayangkan ciuman ke pipi Kevin, lalu segera membuka pintu mobil, segera berlalu menuju kamarnya karena malu.
Kevin segera melajukan kendaraannya untuk pulang.
Kara menuju kamar mandi untuk membersihkan diri nya, dan terus menyesali perbuatan spontannya saat mencium Kevin. Selesai mandi, ia mengeringkan rambutnya, sambil menatap wajah di cermin.
Apakah aku terlalu cepat untuk menunjukkan perasaan terhadap lelaki? Bodoh sekali diriku, harusnya aku lebih elegan dan berkelas saat bersamanya tadi.
__ADS_1
Kara menghela nafas panjang menenangkan dirinya, biasanya saat mengalami hal seperti ini ia akan menghubungi Cindy, namun Cindy telah menikah dengan Brian, dan Brian adalah adik Kevin. Kara menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur dan mengambil ponselnya, dia melihat ada pesan masuk dari Kevin.
****
Selesai membersihkan tubuhnya, Kevin mengambil ponselnya sambil duduk di tepi tempat tidur. Bersama Kara waktu terasa berjalan sangat cepat, dan saat ia kembali ke kamarnya sendiri lagi, dia merasa kesepian. Kevin menatap foto Kara, yang tak sengaja ia ambil saat di pesta pernikahan Brian. Kara yang sedang berdiri menyamping, tersenyum melihat Cindy dan Brian saat mengucapkan janji pernikahan. Kara terlihat sangat cantik, membuat Kevin ingin mengabadikan momen tersebut.
Entah sejak kapan perasaan ini timbul, Kevin berusaha mengingat-ingat. Ia membuka pesan dan mengirimkannya pada Kara
Terimakasih untuk malam ini. Aku merindukanmu
Lama pesan belum terbaca, Kevin mulai gelisah. Mungkin Kara sudah tidur pikirnya. Lalu ia meletakkan ponsel ke nakas, dan meletakkan tubuh ke tempat tidur berusaha memejamkan matanya.
****
Kara membaca pesan yang masuk dari Kevin. Senyum mengembang di bibirnya, hatinya terasa berbunga-bunga, sudah lama sekali ia tidak merasakan perasaan seperti ini. Mungkin terakhir saat bersama Josh.
__ADS_1
Kara meletakkan ponsel ke meja kecil di samping tempat tidur. Ia membuka menuju ke dapur, dia ingin menikmati secangkir kopi sambil melihat pandangan dari balkonnya. Kara menikmati setiap aroma kopi, dan menyesapnya. Menatap langit yang dihiasi bintang bintang, Kara menyukai suasana malam sambil menatap bintang. Kara ingin mencoba menjalani hubungan dengan seseorang kembali. Ia tidak mau membandingkan Kevin dengan Josh, namun ada hal yang sedikit mengganjal, saat bertanya soal Josh, mengapa Kevin seolah tidak mau membahasnya. Apakah ada hal yang disembunyikan dari Josh selama ini darinya yang Kevin ketahui. Kara penasaran sedekat apa hubungan pertemanan Kevin dengan Josh. Mengapa Kenny juga tidak pernah mau membahas tentang Kevin.