
"Kara, papa ingin kamu mengurus tempat ini. Papa lebih mempercayaimu dibandingkan orang lain untuk mengurus tempat ini. Papa yakin tempat ini akan lebih berkembang di tanganmu!"
Kara menatap cangkir kopinya saat papanya berbicara. Dia hanya memainkan sendok kecil di cangkir.
"Papa akan membuka restoran di Las Vegas. Papa sangat membutuhkan bantuanmu Kara." Papa menatap Kara seolah mengharap putrinya yang keras kepala itu membantunya.
"Pa, aku sudah lama tidak memegang urusan restoran. Aku takut tidak bisa membuat restoran berkembang seperti harapan Papa."
"Kara, Papa ada keyakinan kamu mampu membawa bisnis ini jauh lebih berkembang."
"Seyakin itu kah, Pa?"
"Papa sangat yakin! Kamu seorang Jones, darah bisnis ada di dalam tubuhmu, kamu pasti bisa!" Papa memberi semangat dan meyakinkan Kara.
Kara mengambil napas dalam dalam, dan menghembuskan perlahan,
"Aku akan mencobanya, Pa. Tapi, tolong bimbing aku selalu!"
Papa memeluk Kara, dia sangat bahagia, putrinya akhirnya kembali lagi seperti dulu. Membantu bisnis keluarga.
Kara menghubungi Jane, mengatakan bahwa dia akan resign dari pekerjaannya, untuk kembali ke bisnis restoran. Jane sangat gembira mendengar nya. Meski berat melepas Kara, Jane sangat bangga akan prestasi Kara.
Namun, setelah resign, Jane meminta Kara tetap menjadi freelance untuk menulis artikel tentang kuliner di tabloid. Kara menyetujui nya.
Beberapa hari Kara mengurus pekerjaan lamanya, dan melimpahkan stok artikel kepada Jane, untuk ditulis oleh pengganti nya.
Mike dan Nindy sangat terkejut dengan keputusan mendadak Kara. Mereka melakukan video jarak jauh bersama, untuk mengobrol.
"Kau sangat kejam Kara!" teriak Mike.
"Tenang, aku akan mentraktir kalian di restoran ini,"
"Bukan seperti itu caranya!" Mike masih kesal karena keputusan Kara yang mendadak.
"Papaku meminta tolong padaku untuk membantu di sini, aku khawatir, jika dia terlalu lelah akan menggangu kesehatan nya."
"Kapan kau akan ke Washington lagi?" tanya Nindy.
"Iya, kita harus bertemu untuk merayakan farawell party !" Mike tak kalah heboh.
"Ah... kalian... aku masih bekerja di sana, meskipun freelance."
"Tapi, tetap berbeda, kita akan jarang bertemu setelah ini." Ucap Nindy.
"Lalu, pria tampanmu yang pintar itu bagaimana?" tanya Mike.
Kara terdiam sesaat, dia hampir melupakan Kevin selama ini, pekerjaan demi pekerjaan membuatnya lupa, bahwa ada seseorang yang menunggunya.
__ADS_1
"Hmmm.... Aku akan menemuinya pastinya, dan bertemu juga dengan kalian. Aku akan pulang Minggu depan. Sampai jumpa di sana ya, bye!"
Mike dan Nindy melambaikan tangan, membalas lambaian tangan Kara.
Kara menutup laptopnya, dan menatap cangkir kopi di samping laptop, mengambil, lalu menghirup aroma kopi untuk menenangkan pikirannya.
****
Kevin menatap Henry asistennya, "Apa apaan ini?" serunya.
"Kontrak kerja Anda. Saya sudah mengurus semuanya, dan Bapak sudah menandatangani semua perjanjian nya." jelas Henry menatap Kevin bingung.
"Jadi kunjungan ke New York kemarin sambil membahas ini ya?"
"Iya, Pak. Anda terburu-buru, sehingga mungkin tidak membaca kembali berkas yang saya berikan."
Ya, Kevin teringat saat mendapat kabar Kara sakit, dia memang sedang membahas kontrak kerja, tapi dia tidak membaca detailnya. Kevin menutup wajah dengan kedua tangannya, lalu mengambil napas dalam dalam menenangkan pikiran.
"Jadi kapan kita mulai bekerja di sana?" Kevin mulai menguasai dirinya.
"Awal Desember Pak."
"Baiklah, siapkan saja semuanya."
"Baik, Pak!"
Kevin duduk di kursi kerjanya, ditatap layar ponselnya yang ada gambar Kara dan dirinya. Ia merindukannya, bingung akan mengatakan apa, terpisah jauh lagi dengan perempuan itu nyaris membuatnya gila.
Kevin membuka kontak ponselnya dan memencet nama Kara.
"Halo!"
"Hai, Kar, bagaimana pekerjaan di sana?"
"Baik, kamu sendiri bagaimana?"
"Aku baik baik saja, dan pekerjaan seperti biasa."
"Aku Minggu ini kembali ke Washington, menyelesaikan banyak hal, lalu aku akan ke LA, merayakan Thanksgiving. Apakah kamu mau datang merayakan bersama kami?" tanya Kara.
"Tentu, aku akan datang. Aku merindukanmu kembali di dekatku." ucap Kevin dengan lembut.
Kara tersenyum mendengarnya. "Aku merindukanmu juga!"
Mereka saling berbagi cerita untuk beberapa waktu, lalu setelah menutup ponselnya Kevin mulai menatap jalanan lewat jendela ruangannya.
Dia menceritakan banyak hal, namun kebodohan menandatangani surat penting, tidak disampaikan. Kevin menjambak rambutnya sendiri, menelungkup kan kepala ke atas meja kerjanya.
__ADS_1
****
Kara menunggu Kevin di lobby kantornya, ia ingin memberikan kejutan untuk Kevin.
Kara menghubungi Henry sebelumnya, untuk memastikan jadwal Kevin terlebih dahulu.
Kara menatap ruangan lobby yang sederhana, hanya ada kursi tunggu dan layar besar, resepsionis berada agak dalam, sehingga para tamu dapat menyaksikan pemandangan luar ruangan yang berupa taman bunga.
Kara tersenyum menatap bunga yang sedang mekar. Kara keluar dari lobby, dan menuju ke taman, mengeluarkan kamera dari tas dan memotret beberapa objek yang menurutnya menarik.
Kara terlalu asyik dengan kegiatannya, sehingga tak sadar orang yang ditunggu sedang mengamatinya dari jauh dengan perasaan bahagia.
"Sudah lama menungguku?" tanya Kevin, membuat Kara terkejut dan menghentikan kegiatannya.
Kara mendekati Kevin dan memeluk lelaki itu dengan penuh kerinduan.
"Aku tidak tau lama atau tidak, tapi aku mendapat beberapa gambar yang bagus untuk kupasang di blog pribadiku." ujar Kara dengan senang.
"Mengapa kemari mendadak? Tidak mengubungi terlebih dahulu?"
"Apa aku tidak boleh menemuimu secara langsung? Atau kamu mempunyai seseorang yang lain selain aku?" goda Kara sambil menjawil hidung Kevin dengan kesal.
"Aku sangat senang kau kemari menemuiku, sungguh, aku tidak ingin salah paham lagi!" Kevin berkata dengan serius, membuat Kara gemas melihat wajah Kevin yang ketakutan Kara benar benar marah padanya. Akhirnya Kara tertawa terbahak-bahak yang membuat Kevin terlihat bingung.
"Aku telah membuat makan malam untuk kita, dan aku ingin makan malam di rumahmu!" Kara menunjukkan kantong makanan yang ia bawa sejak tadi.
"Tapi peralatan masak di tempatku tidak lengkap."
"Makanya aku telah membawa makanan jadi, tinggal di panaskan saja. Supaya kita tinggal menyantapnya langsung."
Mereka beranjak pergi menuju parkiran, Kevin membukakan pintu untuk Kara dan menutupnya kembali.
Kevin mengemudi mobil dengan perasaan bahagia saat itu, untuk sementara waktu ia dapat melupakan beberapa kepenatan pekerjaannya.
Kara sibuk memencet channel radio, mencari lagu yang bagus untuk dinikmati sepanjang perjalanan mereka.
Mereka tiba di sebuah rumah minimalis. Terlihat sederhana, namun sejuk, karena kanan kirinya banyak pohon.
Kara melayangkan pandangannya ke segala penjuru sambil menganalisis Kevin dari segi tempat tinggalnya.
Sekilas dia merasa dejavu , tempat tinggal Kevin sekilas mirip dengan tempat tinggal Josh.
"Ayo masuk!" Ajakan Kevin menyadarkan lamunan Kara.
Kara menenteng makanan bawaannya masuk, menuju dapur. Ia membongkar bawaannya dan dengan lincah menggunakan peralatan dapur yang ada di rumah Kevin.
Kevin menatap Kara yang sedang sibuk dari meja makan, wajahnya terlihat sangat bahagia.
__ADS_1